Showing posts with label desires. Show all posts
Showing posts with label desires. Show all posts

Sunday, December 14, 2008

Thoughts for the Day - 15th December 2008 (Monday)


Man thinks that the more he has of worldly goods the happier he will be. But, as desires grow, disappointments and troubles also increase. There should be a limit to our desires, attachments and ambitions. The world is suffering from numerous troubles because people do not keep their desires under check. Nature has prescribed limits for everything - for the temperature of the body, the capacity of the eye to tolerate light or for the ear to listen to sound. When these limits are crossed, harm is caused to the organs concerned. All actions in life should be governed by the limits applicable to each of them. When desires are controlled, genuine happiness is experienced.


Manusia banyak yang beranggapan (salah) bahwa apabila dia semakin banyak memiliki harta-benda duniawi, maka ia akan semakin berbahagia. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa apabila keinginan (duniawi) semakin bertambah banyak, maka yang justru akan semakin meningkat adalah ketidak-puasan dan persoalan-persoalan lainnya. Hendaknya engkau menerapkan batasan terhadap keinginan-keinginanmu, kemelekatan serta ambisimu juga. Dunia mengalami penderitaan dan kekacauan sebagai akibat manusia tidak mengendalikan keinginannya. Alam telah memberikan batasan terhadap segala sesuatu – misalnya: panas/suhu tubuh kita, kapasitas mata untuk melihat intensitas cahaya yang terbatas, kemampuan telinga untuk mendengar frekuensi tertentu, dan sebagainya... Ketika batasan-batasan itu tidak diindahkan, maka yang terjadi adalah kerusakan terhadap organ-organ bersangkutan. Nah, demikian pula, setiap bentuk tindakan dalam kehidupan ini haruslah berada dalam batasan-batasan yang wajar. Apabila engkau sanggup mengendalikan keinginanmu, maka kebahagiaan sejati akan menjadi milikmu.

-BABA

Wednesday, November 19, 2008

Thoughts for the Day - 20th November 2008 (Thursday)


The desires that cling to the mind are the blemishes that tarnish man's inner consciousness. Control the senses, do not yield to their insistent demands for satisfaction. When a corpse is placed on a pyre, and when the pyre is lit, both the corpse and the pyre are reduced to ashes. So too, when the senses are negated, the mind too disappears. When the mind disappears, delusion dies and liberation is achieved.

Keinginan-keinginan (duniawi) adalah bagaikan noda-noda yang mencemari inner consciousness manusia. Kendalikanlah panca inderamu, dan janganlah engkau membiarkan dirimu diseret oleh keinginan-keinginannya. Ketika jenazah diletakkan di atas tempat perabuan dan kemudian api dinyalakan, maka baik kayu bakar maupun jenazah itu akan menjelma menjadi abu. Demikian pula, apabila kita sanggup mengingkari keinginan panca indera, maka mind akan kehilangan taringnya. Dan apabila mind sudah lenyap, maka delusi juga akan sirna dan tercapailah pencerahan (pembebasan/moksha).
-BABA

Saturday, August 16, 2008

Thoughts for the Day - 17th August 2008 (Sunday)

The greater the number of desires, the lesser the happiness you will experience. Be contented. A discontented man loses everything; only a contented man can experience real joy. The happiness in one's life will be in inverse proportion to one's desires. In the journey of life, as in a railway journey, the lesser the luggage (desires) one carries, the greater the comfort.

Semakin banyak keinginanmu, maka akan semakin kecil pula kebahagiaan yang akan engkau rasakan. Puaslah dengan apa yang telah engkau miliki. Manusia yang tidak puas akan kehilangan segala-galanya; kebahagiaan hanya bisa dialami oleh mereka yang tahu berpuas diri. Kebahagiaan dalam kehidupan ini berbanding terbalik dengan keinginanmu. Dalam perjalanan hidup, yang bisa diibaratkan seperti perjalanan kereta api, semakin sedikit koper (keinginan) yang engkau bawa, maka akan semakin nyaman perjalananmu.

-BABA

Saturday, March 1, 2008

Thoughts for the Day - 3rd March 2008 (Monday)



Man can be happy with much less than he seems to think essential. When some article is with you for some time, you feel it is indispensable and you do not know how to live without it. Like the silkworm, you weave a cocoon for yourself, out of your fancy. Do not allow costly habits to grow, costly from the monetary as well as the spiritual point of view. Watch your likes and dislikes with a vigilant eye and discard anything that threatens to encumber your path.
Sebenarnya manusia bisa hidup bahagia dengan kebutuhan yang jauh lebih sedikit. Ketika sebuah benda telah bersamamu untuk sekian lamanya, maka engkau merasa tidak bisa terpisahkan darinya dan engkau mengira bahwa engkau tidak akan bisa hidup tanpanya. Ibarat seperti ulat sutera, akibat angan-anganmu, sebenarnya engkau sedang menganyam kepompong terhadap dirimu sendiri. Janganlah engkau membiarkan dirimu terjerat dalam kebiasaan yang mahal, yaitu mahal baik dari segi keuangan maupun dalam sudut pandang spiritual. Perhatikan hal-hal yang engkau sukai dan tidak sukai dengan mata yang waspada. Buanglah segala sesuatu yang berpotensi untuk menghalangi perjalananmu.
-BABA