Thursday, October 30, 2008

Thoughts for the Day - 31st October 2008 (Friday)


Assign to your mind the task of serving the Lord and it will grow tame. You hand over only ornaments that need repair or reshaping to the goldsmith. So too, give the Lord your mind that certainly needs repair, if not complete reconstruction. The blemish that affects the mind is illusion. It is like a fierce dog that will not allow any one to approach the master. Illusion is the Lord's pet and so, it will not harm you if He orders it not to. Hence, the way to avoid the dog is by calling out to the master loudly, so that he comes to welcome you himself, that is to say by praying to the Lord to shower His grace upon you.

Tugaskanlah mind (batin/pikiran) untuk memberikan pelayanan kepada Tuhan; maka dengan demikian, ia akan menjadi jinak. Tentunya engkau hanya menyerahkan perhiasan yang perlu dipermak kepada tukang emas bukan? Nah, demikian pula, engkau perlu menyerahkan mind kepada Tuhan agar dapat diperbaiki atau bila perlu, bahkan untuk direkonstruksi ulang secara total. Penghalang yang sering menjadi penganggu bagi mind adalah illusion (ilusi). Bagaikan anjing galak yang tidak mengizinkan siapapun untuk mendekati tuannya; inilah karakter dari illusion. Namun illusion ini juga merupakan 'hewan' peliharaan Tuhan, dan apabila Beliau memerintahkannya agar tidak menganggumu, maka engkau tak akan terpengaruh lagi oleh jeratan ilusi tersebut. Oleh sebab itu, salah-satu cara untuk menghindari anjing galak tadi adalah dengan jalan memanggil nama tuannya secara lantang agar terdengar oleh-Nya (dengan perkataan lain, kita perlu berdoa kepada Tuhan guna mendapatkan rahmat & karunia-Nya).

-BABA

Wednesday, October 29, 2008

Thoughts for the Day - 30th October 2008 (Thursday)


Love is Divine. To render an act fit to be offered to God and pure enough to win His Grace, it has to be a manifestation of love. Love is not affected or modified by considerations of caste, creed, or religion; it cannot be tarnished by envy, malice or hate. Preserve love from being poisoned by these evils; endeavour to cultivate a broad mind, uncontaminated by feelings of hatred and parochialism. The root of all religions, the substance of all scriptures, the destination of all paths, the inspiration of all individuals is the Principle of Prema (Love). It is the firmest foundation for man's mission of Life. It is the Light that ensures peace and prosperity in the world.

Cinta-kasih bersifat Ilahiah. Agar hasil perbuatanmu layak untuk dipersembahkan kepada-Nya serta memenangkan rahmat karunia-Nya, maka engkau harus memastikan bahwa tindakanmu merupakan salah-satu bentuk manifestasi cinta-kasih. Ketahuilah bahwa cinta-kasih tidak terpengaruhi oleh pertimbangan kasta, ras maupun agama; cinta-kasih tidak dapat dinodai oleh keiri-hatian, keinginan jahat maupun kebencian. Jagalah agar cinta-kasih tidak diracuni oleh kejahatan-kejahatan seperti itu; berupayalah agar engkau mengembangkan wawasan berpikir yang lebih luas dan tidak terkontaminasi oleh perasaan benci maupun kepicikan. Akar dari semua ajaran agama dan inti-sari dari semua kitab suci pada hakekatnya satu adanya, yaitu prinsip Prema (cinta-kasih). Prinsip ini pula yang menjadi tujuan akhir dari setiap perjalanan spiritual dan juga merupakan sumber inspirasi setiap individu. Cinta-kasih merupakan landasan yang paling kokoh dalam misi kehidupan sebagai manusia. Ia merupakan lentera yang memastikan terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan di dunia ini.
-BABA

Tuesday, October 28, 2008

Thoughts for the Day - 29th October 2008 (Wednesday)


The effulgence of Atma is obscured by Ahamkara (ego). Therefore when Ahamkara is destroyed, all troubles end, discontent vanishes and bliss is attained. One should constantly practise the great lesson that the body and the Atma are separate. Such Viveka or discrimination is necessary for all aspects of life, secular as well as spiritual. It is indispensable for realising the Truth, which is God Himself.

Kemuliaan Atma selama ini terhalangi oleh Ahamkara (sang ego). Oleh sebab itu, ketika Ahamkara berhasil diatasi/disingkirkan, maka segala bentuk persoalan dan ketidak-puasan juga akan sirna dan sebagai gantinya, tercapailah bliss. Engkau harus secara kontinu mempraktekkan serta menyadari bahwa badan fisik dan Atma adalah saling terpisah. Viveka atau kemampuan diskriminatif seperti demikian diperlukan dalam setiap aspek kehidupan ini, baik secara sekuler maupun spiritual serta juga dibutuhkan dalam mencapai realisasi atas kebenaran, yaitu Sang Divine sendiri.
-BABA

Monday, October 27, 2008

Thoughts for the Day - 28th October 2008 (Tuesday)


What is the meaning of the word 'Bha-ga-waan'? 'Bha' represents the divine effulgence. 'Ga' represents the quality of spreading and pervading. 'Waan' means the capacity and ability to spread and pervade. Hence, 'Bhagawan' means the only being with the capacity and ability to spread this brilliant effulgence. In fact, the Atma inside us is of this nature. However, man is unaware of this. Hence, the prayer "Thamaso Maa Jyotirgamaya" (lead us from the darkness of ignorance into the light of wisdom). This light of wisdom is essential for all humans.

Apakah yang dimaksud dengan istilah/sebutan 'Bha-ga-waan'? 'Bha' diartikan sebagai kecemerlangan/kemuliaan Ilahiah. 'Ga' artinya kualitas untuk menyebarkan atau memancarkan. Sedangkan 'Waan' artinya Ia yang memiliki kemampuan atau kapabilitas untuk memancarkan atau menyebarkan. Jadi, istilah 'Bhagawan' diartikan sebagai satu-satunya orang yang memiliki kemampuan untuk memancarkan/menyebarkan kecemerlangan Ilahiah. Sebenarnya Atma yang ada di dalam diri kita masing-masing memiliki kemampuan seperti itu. Namun pada umumnya manusia tidak menyadari kekuatannya tersebut. Oleh sebab itulah kita mempunyai doa "Thamaso Maa Jyotirgamaya" (tuntunlah kami dari kegelapan batin menuju kepada cahaya kebijaksanaan). Sinar kebijaksanaan ini penting bagi kita semuanya.

-BABA

Sunday, October 26, 2008

Thoughts for the Day - 27th October 2008 (Monday)


God, who is the embodiment of love, can be attained only through love, just as the effulgent Sun can be seen only through its own light. There is nothing more precious in this world than Divine love. God is Gunaatheetha (beyond all attributes). Hence, His love also is beyond attributes. But, human love governed by Gunas (attributes) results in attachment and aversion. Love should not be based on expectations of reward or return. Love based on such expectations makes it a business deal. Love is not an article of commerce. It is not like a lending a loan and getting it back. It is a spontaneous offering. Pure love of this kind can emanate only from a pure heart.

Tuhan adalah perwujudan cinta-kasih, dan Beliau hanya bisa direalisasikan melalui jalan cinta-kasih; persis seperti halnya matahari hanya bisa terlihat melalui cahayanya sendiri. Tiada yang lebih berharga di dunia ini selain cinta-kasih Ilahi. Tuhan dijuluki sebagai Gunaatheetha (yang attributeless - yang tidak terikat oleh atribut-atribut tertentu). Dengan demikian, maka cinta-kasih-Nya juga bersifat demikian. Lain halnya dengan manusia, cinta-kasihnya terikat atau diatur oleh atribut-atribut tertentu, sehingga hasilnya timbullah kemelekatan dan ketidak-sukaan. Dalam memberikan cinta-kasih, janganlah ada unsur harapan/imbalan. Cinta-kasih seperti itu bagaikan kesepakatan bisnis, dan menjadikannya sebagai barang perdagangan. Cinta-kasih tak ada kaitannya dengan pinjam meminjam, ia adalah pemberian secara spontan. Cinta-kasih murni hanya bisa dicurahkan dari hati yang murni pula.

-BABA

Saturday, October 25, 2008

Thoughts for the Day - 26th October 2008 (Sunday)


The senses have to be controlled, primarily because they pursue deleterious influences that harass man and lead him into ruin. Inner peace is lost when the senses feed man on inciting wants and infructuous desires. For the Sadhaka (spiritual aspirant), what the senses imbibe must always be pure and Sathwic in nature, that which promotes humility, equanimity and simplicity. If the impressions are Rajasic (inducing passion), the mind will get agitated and vengeful. If they are Tamasic (inducing dullness of mind), the mind will not even be aroused into the awareness of its own shortcomings. It is only the Sathwic impulses that will keep the mind on an even keel, fully concentrated on the Atma on which one must contemplate in order to attain peace.

Panca-inderamu hendaknya dikendalikan/dikontrol, sebab indra-indra tersebut cenderung suka membujukmu dan mengarahkanmu menuju kepada kehancuran. Kedamaian batinmu akan terganggu dan rentan sirna apabila panca inderamu terus-menerus merongrongmu dengan keinginannya yang tak berkesudahan. Sebagai aspiran spiritual, seyogyanyalah engkau menjaga agar panca-inderamu senantiasa terekspose dengan hal-hal yang suci atau Sathwic, yaitu yang akan membuahkan kerendahan hati, keseimbangan batin dan kesederhanaan. Jikalau impresi panca inderamu lebih banyak paparan yang bersifat Rajasic, maka pikiranmu akan selalu terangsang dan memiliki sifat dendam. Sebaliknya, jikalau eksposurenya lebih banyak ke sifat Thamasic, maka pikiranmu menjadi kurang waspada dan malas. Hanya Sathwic impuls sajalah sebagai satu-satunya dorongan/impuls yang akan membuat mind senantiasa mawas diri dan penuh konsentrasi terhadap Atma; sehingga dengan melalui kontemplasi terhadapnya, engkau akan memperoleh kedamaian batin.
-BABA

Friday, October 24, 2008

Thoughts for the Day - 25th October 2008 (Saturday)


The relationship between the Jiva (individual) and the Lord can be grasped by any one who acquires three chief characteristics - mind unsullied by attachment and hatred, speech unsullied by falsehood, and body unsullied by violence.

Hubungan antara Jiva (individu) dengan Sang Ilahi akan dapat terjalin secara harmonis bagi siapapun juga yang telah berhasil memupuk tiga jenis karakter utama di dalam dirinya, yaitu mind (batin) yang tidak ternoda oleh kemelekatan dan kebencian, ucapan yang bebas dari ketidak-benaran serta badan jasmani yang jauh dari tindakan kekerasan.
-BABA