The individual full of Aham (I-ness) loves to exercise authority over others. He will not like listening to others. Even if the others’ counsel is good for him, due to his stubbornness, he will not like it. Such individuals see everything through ‘a jaundiced eye’, coloured by the smoke of self-conceit. “My words are true,” “My opinion is correct,” “My deeds are right,” they feel, and thus they spend their days in such stubbornness! Such behaviour is very harmful for sadhakas (spiritual aspirants). The sadhaka must be eagerly looking forward to any helpful criticism or suggestion, or advice from any quarter. When he makes any mistake, he should not try to justify himself. It can lead to unwarranted argumentations and if he does not succeed in arguments, it will lead to vengeful fighting. Do not struggle to earn the esteem of the world. Do not feel humiliated or angry when the world does not recognise you or your merits. Learn these first and foremost, if you are an aspirant and put them into practice. You should not fall into joy, when you are being praised; therein lies a deadly trap, which might even lead you astray and endanger your progress. Try to learn and absorb things that are good for you from the advice of others and behave accordingly. Train yourself to take insult and criticism as deviations and digressions.
-- Dhyana Vahini, Ch 14
There is no trace of ego in man at the time of birth, but it develops as he grows up. The feelings of ‘I’ and ‘mine’ are responsible for man’s bondage
Seseorang yang dipenuhi oleh aham (rasa keakuan atau ego) selalu ingin menguasai orang lain. Ia tidak suka mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan jika nasihat itu baik baginya, karena keras kepala, ia tetap menolaknya. Orang seperti ini memandang segala sesuatu dengan dengan penuh rasa curiga/sinis, pandangannya telah dikaburkan oleh asap kesombongan diri. Ia merasa: “Perkataanku pasti benar.” “Pendapatku paling tepat.” “Tindakanku selalu benar.” Dengan sikap keras kepala seperti itu, ia menjalani hidupnya. Perilaku semacam ini sangat berbahaya bagi seorang sadhaka (pencari spiritual). Seorang sadhaka seharusnya terbuka menerima kritik, saran, dan nasihat yang bermanfaat dari siapa pun. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak boleh sibuk membenarkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak perlu. Jika gagal dalam perdebatan, hal itu dapat berubah menjadi kebencian dan pertengkaran. Jangan berjuang hanya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari dunia. Jangan merasa hina atau marah ketika dunia tidak mengakui dirimu atau kemampuanmu. Inilah pelajaran yang pertama dan utama yang harus dipahami dan dipraktikkan oleh seorang pencari spiritual. Engkau juga tidak boleh larut dalam kegembiraan ketika dipuji. Di balik pujian tersembunyi jebakan yang berbahaya, yang dapat menyesatkan dan menghambat kemajuan spiritualmu. Belajarlah menerima hal-hal baik dari nasihat orang lain dan terapkan dalam hidupmu. Latih dirimu untuk menerima hinaan dan kritik hanya sebagai gangguan sementara.
-- Dhyana Vahini, Ch 14
Pada saat lahir, manusia tidak memiliki ego. Namun ego berkembang seiring pertumbuhannya. Perasaan “aku” dan “milikku” itulah yang menjadi penyebab keterikatan manusia.
No comments:
Post a Comment