Wednesday, May 27, 2026

Thought for the Day - 27th May 2026 (Wednesday)



If the mind concerns itself with worldliness, then it is separated from the light of the atma and this separation causes mental perturbation. In order to have a vision of God you have to purify the inner instruments and conduct a virtuous life. We should keep our intelligence disengaged from worldly issues. Intelligence should not be made a tool to satiate physical and mental obsessions. On the other hand, it should be used for the revelation of Atma. It should only be a witness and remain unaffected by the surroundings. Then it is in a state of nivritti (inward path of renunciation). In this context, the sacrifice of work cannot be something which relates to nivritti. Sacrifice of one’s desires alone can be associated with nivritti. People sometimes refer to karma-phala-tyaga (renunciation of fruits of action) and say one must sacrifice the results of whatever work one does. If this is so, they argue no work needs to be done at all and they assert this is what the Bhagavad Gita teaches us. Nothing can be farther from truth. No one can sacrifice all work and yet live! The body is created for doing work. So everyone must perform work. But in doing such work, if your thoughts are sacred, you will do good work without seeking fruit thereof.


-- Summer Showers, Jun 11, 1973

It is only when the thoughts are good that the actions will be pure. When man’s actions are pure, society will be healthy and peaceful.

 

Jika pikiran terus dipenuhi urusan duniawi, maka ia akan terpisah dari cahaya Atma dan keterpisahan inilah yang menimbulkan kegelisahan batin. Untuk memperoleh pandangan terhadap Tuhan, seseorang harus menyucikan alat-alat batinnya dan menjalani kehidupan yang bajik. Kecerdasan manusia seharusnya tidak terus-menerus dipakai untuk urusan duniawi semata. Kecerdasan tidak boleh dijadikan alat untuk memuaskan obsesi fisik dan mental. Sebaliknya, kecerdasan harus digunakan untuk menyadari Atma. Ia harus menjadi saksi yang tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Keadaan seperti inilah yang disebut nivritti, yaitu jalan batin menuju pelepasan. Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan meninggalkan semua pekerjaan atau berhenti bertindak. Yang benar-benar harus dilepaskan adalah keinginan seseorang. Banyak orang memahami karma-phala-tyaga (melepaskan buah dari tindakan) secara keliru dan berkata bahwa seseorang harus melepaskan hasil dari apapun pekerjaan yang dilakoninya. Mereka berpikir bahwa ajaran itu berarti seseorang tidak perlu bekerja sama sekali, dan mereka menganggap itulah ajaran Bhagavad Gita. Pemahaman seperti itu sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada seorang pun yang dapat meninggalkan semua pekerjaan namun tetap bisa hidup! Tubuh manusia memang diciptakan untuk bekerja. Karena itu, setiap orang harus melakukan tugas dan pekerjaannya. Namun ketika bekerja, jika pikiran dan niatnya suci, maka ia akan melakukan pekerjaan yang baik tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.


-- Wacana Musim Panas, 11 Juni 1973

Hanya ketika pikiran seseorang baik, tindakannya akan menjadi murni. Dan ketika tindakan manusia menjadi murni, masyarakat akan hidup sehat dan damai.

No comments: