Friday, May 29, 2026

Thought for the Day - 29th May 2026 (Friday)



In this world of sensory objects, the one who grieves when he is in the midst of troubles and exults when he is joyous can be compared to a piece of iron. If you put a piece of iron in the fire, it becomes soft and red, and loses its intrinsic characteristics. When you take it out, it becomes hard and black, and gets back its original form. Such people can be said to be of the lowest type. On the other hand, if one feels happy in the midst of sorrow, such an individual can be compared to gold. If you take a piece of gold and put it in the fire, it gets rid of its impurities. In the same manner, the one who finds the bliss within when subjected to sorrow can be said to be like gold. An individual who remains equal-minded in the midst of joy or grief can be compared to a diamond. This means that this individual, whatever sorrows he may face, whatever troubles or difficulties may come to him, he considers it his duty to develop equal-mindedness and bliss. In the case of a diamond, you may try to cut it in many ways, but with each cut, its value only increases. The fourth kind of individual is well above sorrows and pleasures, transcends the Gunas and experiences Brahmananda as one's very nature. Of these four types, only the Atmic nature is true and eternal, while the other three relate to the world and are subject to change. The individual who wishes to experience this nature of the Atma should not be bound by worldly fears and attachments.


- Summer Showers, Jun 11, 1973

Our body is like sugarcane. Troubles are the process of refinement, which produces the sweet juice of Divinity within us.


Di dunia yang penuh dengan objek-objek indrawi ini, seseorang yang dirundung duka saat didera kesulitan dan bersukaria secara berlebihan saat dilingkupi kegembiraan, dapat diibaratkan seperti sebatang besi. Jika engkau memasukkan sebatang besi ke dalam kobaran api, ia akan menjadi lunak, memerah, dan kehilangan sifat aslinya. Namun, ketika engkau mengeluarkannya dari api, ia kembali menjadi keras, hitam, dan kembali ke wujudnya semula. Orang-orang dengan kondisi seperti ini dapat diibaratkan berada pada tingkatan yang paling dasar. Di sisi lain, jika seseorang mampu tetap merasakan kebahagiaan di tengah pusaran kesedihan, jiwa seperti itu dapat diibaratkan seperti emas. Jika engkau mengambil sebongkah emas dan meleburnya di dalam api, ia justru akan membersihkan dirinya dari segala kotoran yang melekat. Dengan cara yang sama, ia yang mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati di dalam batinnya  saat dihadapkan pada penderitaan, adalah jiwa yang laksana emas. Sementara itu, seorang individu yang mampu menjaga ketenangan batin yang seimbang baik di tengah suka maupun duka, dapat diibaratkan seperti berlian. Ini berarti, apa pun kesedihan yang ia hadapi, apa pun cobaan atau kesulitan yang mendatangi hidupnya, ia memandang hal tersebut sebagai sarana untuk menempa keseimbangan batin dan kebahagiaan sejati. Dalam hal berlian, bagaimanapun engkau mencoba memotong dan mengasahnya, setiap sayatan justru hanya akan meningkatkan nilai kemilau dan keindahannya. Tingkatan manusia yang keempat adalah mereka yang telah berada jauh di atas dualitas suka dan duka; mereka yang telah melampaui ketiga guna dan mengalami kebahagiaan tertinggi sebagai sifat sejatinya. Di antara keempat jenis ini, hanya sifat Atma yang sejati dan abadi, sedangkan ketiga tingkatan lainnya masih terikat dengan duniawi dan tunduk pada perubahan. Seseorang yang ingin mengalami sifat Atma ini, tidak boleh lagi terbelenggu oleh ketakutan dan keterikatan duniawi.


- Summer Showers, Jun 11, 1973

Tubuh kita laksana batang tebu. Segala ujian dan penderitaan hidup hanyalah proses penyaringan, yang sarinya akan memeras keluar air manis kesucian Ilahi dari dalam diri kita.

No comments: