Friday, March 20, 2026

Thought for the Day - 20th March 2026 (Friday)



People in the world attach value to all kinds of objects, ideals and personalities. God, however, is not attracted by external appearances but values only the inner spiritual urges. Parvati was the most beautiful woman in the world. Conscious of her charms, she wished to wed the Lord Himself. But the Lord does not succumb to external attraction. Disappointed by her failures, Parvati embarked on a very severe penance. Indifferent to sun and rain, wind and weather, Parvati concentrated her thoughts on the Lord, wearing out her body in her tapas. Because of the penance, she lost all her beauty. All her physical powers were gone. At that moment, the Lord accepted her as one half of His body. What is the inner meaning of this episode? Prakriti (Nature) is Parvati. This Prakriti is filled with various kinds of pride: the pride of wealth, strength, beauty, knowledge, virtues, power and penance. It is only when man gets rid of these eight categories of pride will he become acceptable to God. So long as ego prevails, the power of the Spirit will not be cognised. Without realising the power of the Spirit, man cannot experience the bliss of the Divine.


- Divine Discourse, Mar 27, 1990

So long as your heart is not clean, God will have no place in your heart. 


Manusia di dunia memberikan nilai pada semua jenis objek, nilai-nilai yang dianggap ideal, serta kepribadian. Tetapi Tuhan tidak melihat semua itu. Tuhan hanya melihat dorongan ketulusan batin. Parvati merupakan perempuan yang paling cantik di dunia. Menyadari kecantikannya, ia ingin mendekati dan mendapatkan Tuhan sendiri. Tetapi Tuhan tidak terpengaruh oleh daya tarik lahiriah. Karena kecewa atas kegagalannya, Parvati menjalani tapa yang sangat berat. Parvati tidak menghiraukan panas, hujan, angin, dan cuaca. Ia memusatkan seluruh pikirannya kepada Tuhan, hingga tubuhnya menjadi lemah karena pertapaannya. Karena tapa brata yang dilakukannya, Parvati kehilangan semua kecantikan dan kekuatan fisiknya. Pada saat itulah, Tuhan menerimanya sebagai separuh dari diri-Nya. Apa makna yang ada dibalik kisah ini? Prakriti (alam) adalah simbol dari Parvati. Prakriti ini diliputi dengan berbagai jenis kesombongan seperti: kesombongan karena kekayaan, kekuatan, kecantikan, pengetahuan, kebajikan, kekuasaan dan tapa brata. Hanya ketika manusia melepaskan kedelapan bentuk kesombongan ini maka barulah ia dapat diterima oleh Tuhan. Selama masih ada ego, kekuatan dari Atma tidak dapat disadari. Tanpa menyadari kekuatan dari Atma, manusia tidak bisa mengalami kebahagiaan Tuhan.


- Divine Discourse, 27 Maret 1990

Selama hatimu tidak bersih maka Tuhan tidak memiliki tempat di dalam hatimu.

Tuesday, March 17, 2026

Thought for the Day - 17th March 2026 (Tuesday)



If a sculptor could create out of an inanimate piece of stone a living image of God, cannot human beings, vibrant with life, manifest the living Divinity that resides in them? What is the reason for this incapacity to realise the Divinity within? It is because we do not realise the soiled cover in which it is wrapped up. If our clothes get dirty, we change them because we are ashamed to appear in dirty garments. If our house is dirty, we try to clean it so that visitors may not get a bad impression. But when our minds and our hearts are polluted, we do not feel ashamed. Is it not strange that we should be so much concerned about the cleanliness of our clothes or our homes, but are not concerned about the purity of our hearts and minds, which affect our entire life? To purify our hearts and minds, the first thing is that we have to lead a righteous life. Our actions must be based on morality. Indulging in abusing others or inflicting pain on others is not a sign of human nature. The evil that we do to others ultimately recoils on us.


- Divine Discourse, Apr 2, 1984

True spirituality lies in removing bad and animal qualities and developing virtues. 


Jika seorang pemahat dapat membuat arca Tuhan yang hidup dari sebongkah batu yang tidak bernyawa, tidakkah manusia yang diliputi getaran kehidupan dapat mewujudkan kualitas keilahian yang terpendam dalam dirinya? Apa alasan dibalik ketidakmampuan manusia dalam menyadari keilahian di dalam dirinya? Ini karena kita tidak menyadari lapisan kotor yang menyelimuti keilahian itu. Ambilah contoh, jika pakaian kita kotor, kita menggantinya segera karena kita merasa malu tampil dengan pakaian yang kotor. Jika rumah kita kotor, kita segera berusaha membersihkannya sehingga tamu yang datang tidak mendapatkan kesan yang buruk. Namun ketika pikiran dan hati kita tercemar, kita tidak merasa malu. Bukankah hal yang aneh ketika kita begitu peduli dengan kebersihan pakaian dan rumah kita, namun kita tidak memberikan perhatian dan kepedulian pada kesucian hati dan pikiran kita, yang mana mempengaruhi seluruh hidup kita? Untuk memurnikan hati dan pikiran kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup yang benar. Tindakan kita harus berdasarkan pada moralitas. Terlibat dalam menghina atau menyakiti orang lain bukanlah tanda dari sifat manusia. Kejahatan yang kita lakukan pada orang lain pada akhirnya nanti akan kembali pada diri kita sendiri.


- Divine Discourse, 2 April 1984

Spiritualitas yang sejati terletak pada menghilangkan sifat-sifat buruk dan kebinatangan serta mengembangkan kebajikan.

Monday, March 16, 2026

Thought for the Day - 16th March 2026 (Monday)



Thoughts are the very vital breath of man. It is by harbouring the evil thoughts of hatred, envy, anger and ego that man brings his own downfall. Man harbours evil thoughts to harm his fellow men. But the harm that these thoughts cause to his fellow man boomerangs on himself with ten times its strength. By abusing, criticising, hunting and scandalising his fellow men, man in fact is abusing, criticising, hunting and scandalising the Lord Himself. Utterly ignorant of the presence of Divinity in others, man indulges in such heinous conduct. The man who takes the sword shall perish by it; the man who wounds another will be wounded in turn; the man who abuses another will be abused in return. As is the thought, so is the consequence. As is the feeling, so is the result. Utterly ignorant of the power of the mind and its might, we underestimate the supreme importance of the mind. Our whole life rests on the mind. We should make earnest efforts to understand the power of the mind.


- Divine Discourse, May 23, 1993

What man sees is like seeds sown in the heart. Evil scenes give rise to evil thoughts. Good scenes evoke good thoughts.


Pemikiran adalah nafas vital yang sangat penting bagi manusia. Dengan memelihara pemikiran-pemikiran yang jahat seperti kebencian, iri hati, kemarahan dan ego manusia sejatinya membawakan kehancuran bagi dirinya sendiri. Manusia memelihara pemikiran jahat untuk menyakiti sesamanya. Namun, rasa sakit yang ditimbulkan oleh pemikiran tersebut kepada orang lain pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Dengan mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan sesamanya, sebenarnya ia sedang mencela, mengkritik, gemar mencari-cari kesalahan, menjatuhkan, atau mempermalukan Tuhan itu sendiri. Karena tidak menyadari bahwa Keilahian hadir dalam diri setiap orang, manusia melakukan tindakan yang demikian buruk. Orang yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang itu sendiri; orang yang melukai orang lain akan terluka pada gilirannya; orang yang menghina orang lain akan dihina kembali. Sebagaimana pemikirannya, maka begitulah akibatnya. Sebagaimana perasaannya maka begitulah hasilnya. Karena tidak memahami kekuatan dan kedahsyatan pikiran, kita sering meremehkan betapa pentingnya pikiran dalam kehidupan. Seluruh hidup kita tergantung pada pikiran. Kita harus melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami kekuatan dari pikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Apa yang dilihat manusia bagaikan benih yang ditanam di dalam hati. Hal-hal buruk yang kita lihat menimbulkan pemikiran buruk, sedangkan hal-hal baik yang kita lihat menumbuhkan pemikiran yang baik.

Sunday, March 15, 2026

Thought for the Day - 15th March 2026 (Sunday)


 

A Gopika once asked Radha how she felt when she saw Krishna, how her heart responded, what transformation occurred in her and what joy she experienced. Radha replied: “The moment I hear the melodious flute of Krishna, my heart becomes still, and I forget myself when I learn that Krishna is coming. I am lost in the music of His flute, and I am aware of nothing else. How can I describe to you my feelings when I am intoxicated by the magic of His melody?” The God-intoxicated devotees cannot describe their blissful experience in words. One who attempts to express it has no real experience of it at all. Those who regard themselves as devotees should recognise the vast difference between their narrow-minded attitude and the ineffable character of true devotion. They should resolve to shed petty attachments and develop steadfast devotion to God as the main object of their life. For this purpose, the company of the good is essential. Good thoughts are promoted only through association with the good.


- Divine Discourse, Jan 19, 1986

One who is filled with love of the Divine will not be attracted by anything else in the world.


Suatu hari seorang gadis pengembala sapi bertanya pada Radha tentang bagaimana perasaanya ketika melihat Sri Krishna, bagaimana hati menanggapinya, apa perubahan yang terjadi dalam diri dan apa bentuk suka cita yang terasa. Mendengar pertanyaan itu Radha memberikan jawaban: “Pada saat saya mendengar kemerduan alunan suara seruling Sri Krishna, hatiku menjadi tenang, dan saya lupa pada diriku sendiri ketika saya mengetahui bahwa Sri Krishna akan datang. Saya tenggelam dalam alunan musik seruling-Nya, dan saya tidak menyadari hal lainnya. Bagaimana saya dapat menggambarkan kepadamu tentang perasanku ketika saya begitu terpesona dengan keajaiban dari melodi-Nya?” Bhakta yang begitu larut tenggelam pada Tuhan tidak bisa menjabarkan kebahagiaan yang mereka rasakan dalam kata-kata. Seseorang yang berusaha untuk mengungkapkannya sesungguhnya sama sekali belum memiliki pengalaman nyata tentang hal itu. Mereka yang menganggap diri mereka sebagai bhakta seharusnya menyadari perbedaan yang begitu luas antara sikap mereka yang berpikiran sempit dan karakter yang tidak bisa dibayangkan dari bhakta sejati. Mereka harus memiliki tekad untuk melepaskan keterikatan yang bersifat remeh dan sepele untuk mengembangkan bhakti yang teguh pada Tuhan sebagai tujuan utama hidup mereka. Untuk tujuan ini, pergaulan dengan orang-orang yang baik adalah bersifat mendasar. Pemikiran baik yang dapat dipupuk hanya melalui pergaulan dengan orang-orang yang baik.


- Divine Discourse, 19 Januari 1986

Seseorang yang diliputi dengan kasih Tuhan tidak akan tertarik dengan apapun atau hal yang lainnya di dunia.  

Saturday, March 14, 2026

Thought for the Day - 14th March 2026 (Saturday)



If a man has a Champaka flower in his hand, the fragrance of that flower is carried by him wherever he goes. Likewise, he will be carrying a foul smell too, wherever he goes. It is the same with good or bad thoughts. They radiate their good or bad vibrations around them. Thoughts have so much power that when they are directed towards great objectives, they can be used to influence the world. When the mind is filled with good thoughts, such as truth, love, forbearance, and compassion, one’s life is filled with peace and serenity. If, on the other hand, one allows thoughts of hatred, envy, anger, and conceit to grow, life becomes perpetual misery. The face is the index of the mind. When you bear ill will towards anyone, your enmity alters your face and manners. When you entertain good and loving thoughts, your heart is filled with joy, and you experience an upsurge of happiness. If you fill your heart with love, your entire life becomes a saga of love.


- Divine Discourse, Jul 31, 1986

Bad thoughts make the willpower weak. Decline in willpower makes the desires stronger.


Jika seseorang memegang sekuntum bunga cempaka di tangannya, wangi bunga cempaka itu akan terus tercium di tangannya kemanapun dia pergi. Demikian juga, jika dia membawa bau busuk maka bau busuk itu akan tercium kemanapun dia pergi. Hal yang sama berlaku dengan pemikiran yang baik atau buruk. Pemikiran memancarkan getaran baik atau buruk di sekelilingnya. Pemikiran memiliki kekuatan yang besar sehingga ketika diarahkan pada tujuan yang mulia, maka pemikiran dapat digunakan untuk mempengaruhi dunia. Ketika pikiran diliputi dengan pemikiran yang baik seperti kebenaran, kasih, ketabahan, dan welas asih, maka hidup seseorang diliputi dengan kedamaian dan ketenangan. Sebaliknya, jika seseorang membiarkan pemikiran yang buruk seperti kebencian, iri hati, kemarahan, dan kesombongan tumbuh berkembang maka hidupnya menjadi terus menerus dalam penderitaan. Wajah adalah cerminan dari pikiran. Ketika engkau menyimpan kebencian terhadap seseorang, perasaan permusuhan akan tercermin pada wajah dan perilakumu. Sebaliknya, ketika engkau memiliki pemikiran yang baik dan penuh kasih, hatimu diliputi dengan suka cita, dan engkau mengalami peningkatan kebahagiaan. Jika engkau mengisi hatimu dengan kasih, seluruh hidupmu menjadi kisah kasih yang panjang.


- Divine Discourse, 31 Juli 1986

Pemikiran yang buruk dapat melemahkan kekuatan kehendak. Ketika kekuatan kehendak melemah maka keinginan menjadi semakin kuat.  

Friday, March 13, 2026

Thought for the Day - 13th March 2026 (Friday)



In the journey to the Divine, man has to reduce progressively his desires, which are the cause of all his difficulties. It is true that man cannot exist without desires. But they should be within reasonable limits. There can be no happiness without control of desires. Among the senses, two are most important: the eyes and the tongue. Because of their exceptional importance, the Lord has provided them with the means of restraining their activities. The Lord points out: “You silly man! Take note that I have provided natural means for closing the eyes and the mouth.” If you do not want to see anything undesirable, you can close your eyes with the eyelids. The ears and the nose have no such devices for closing them. The mouth has lips which can seal the tongue. Observe, therefore, restraint in speech and control the tongue. When the eyes roam freely, the tongue begins to wag without restraint. When the tongue is engaged in endless talking, the eyes want to look at every conceivable thing. When both these organs combine without restraint, life can become a calamity. Therefore, direct your eyes to good things alone.


- Divine Discourse, Mar 13, 1988

One way to reduce desires is to get absorbed in activity. Idleness encourages the mind to indulge in all kinds of thoughts.

 

Dalam perjalanan menuju pada Tuhan, manusia harus mengurangi secara bertahap keinginan-keinginannya, yang mana keinginan ini merupakan penyebab dari semua kesulitan yang dialaminya. Adalah benar bahwa manusia tidak bisa ada tanpa keinginan. Namun keinginan tersebut harusnya ada dalam batas tertentu yang wajar. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengendalian pada keinginan. Diantara indra, ada dua indra yang paling penting: mata dan lidah. Karena begitu pentingnya keberadaan dua indra ini, maka Tuhan telah menyediakan bagi keduanya sarana dalam membatasi kegiatannya. Tuhan menyampaikan: “Wahai manusia! Perhatikan bahwa Aku telah menyediakan sarana alami untuk menutup mata dan mulutmu.” Jika engkau tidak ingin melihat apapun yang tidak engkau inginkan, engkau dapat memejamkan matamu dengan kelopak mata. Indra yang lain seperti telinga dan hidung tidak memiliki sarana tersebut untuk menutup dirinya. Mulut memiliki bibir yang dapat menutup lidah. Karenanya perhatikan sikap menahan diri dalam berbicara dan kendalikan lidah. Ketika mata dibiarkan melihat kemana-mana dengan bebas maka lidah mulai berbicara tanpa terkendali. Ketika lidah terlibat dalam pembicaraan yang tanpa henti, mata ingin melihat setiap hal yang bisa dibayangkan. Ketika kedua Indera ini bergabung tanpa pembatasan maka hidup dapat berubah menjadi malapetaka. Maka dari itu, arahkan matamu hanya pada hal-hal yang baik.


- Divine Discourse, 13 Maret 1988

Salah satu cara mengurangi keinginan adalah dengan menyibukkan diri. Kemalasan mendorong pikiran untuk larut dalam berbagai macam pemikiran. 

Thursday, March 12, 2026

Thought for the Day - 12th March 2026 (Thursday)


 

The thought vibrations are the cause for man’s joy and sorrow, health and disease, woe and adversity, birth and death. Man’s life becomes meaningful if he conducts himself fully aware of the power of the thought vibrations. The entire world is suffused with mental vibrations. In fact, the whole world is the very manifestation of mental vibrations. Hence, it is necessary to direct our thoughts on noble paths. Man’s mind shines with resplendent purity if he cultivates noble thoughts, ideas and feelings. It is only by developing the purity of mind that we can ensure the purity of action. Only pure deeds can yield pure results. We sow the seed of thought and reap the fruit of action; we sow the seed of action and reap the fruit of nature; we sow the seed of nature, we reap the fruit of character; we sow the seed of character and reap the fruit of destiny. It is evident from this that our destiny rests on our thoughts. For man’s rise and for man’s fall, the thoughts are the cause.


- Divine Discourse, May 23, 1993

Man will be able to fulfil himself if he realises the subtle and mysterious workings of the mind.


Vibrasi atau getaran dari pemikiran adalah penyebab dari suka dan duka cita, kesehatan dan penyakit, kesengsaraan dan kesulitan, kelahiran dan kematian. Hidup manusia menjadi berguna jika tindakannya sendiri menyadari sepenuhnya kekuatan vibrasi dari pemikiran. Seluruh dunia diliputi dengan getaran batin. Sesungguhnya, seluruh dunia adalah perwujudan dari getaran batin. Oleh karena itu, adalah perlu untuk mengarahkan pemikiran kita pada jalan-jalan yang luhur dan mulia. Pikiran manusia bersinar dengan gemerlap kemurnian jika manusia memupuk pemikiran, ide, gagasan dan perasaan yang mulia. Hanya dengan memupuk kemurnian pikiran maka kita bisa memastikan adanya kemurnian dalam tindakan. Hanya dengan kemurnian tindakan maka kita bisa mendapatkan hasil yang murni. Saat kita menabur benih pemikiran maka kita akan menuai hasil berupa tindakan; saat kita menabur benih tindakan maka kita akan menuai hasil berupa sifat atau watak; saat kita menabur benih sifat atau watak maka kita akan menuai hasil berupa karakter; saat kita menabur benih karakter maka kita akan menuai hasil berupa takdir. Dari rangkaian ini jelas terlihat bahwa takdir kita tergantung dari pemikiran yang kita miliki. Bagi kebangkitan dan kejatuhan manusia, penyebabnya adalah pemikiran.


- Divine Discourse, 23 Mei 1993

Manusia akan mampu mencapai potensi diri sepenuhnya jika manusia menyadari cara kerja pikirna yang halus dan misterius

Tuesday, March 10, 2026

Thought for the Day - 10th March 2026 (Tuesday)



There was once an old woman who lost her needle when she was mending clothes in her hut. As there was no lamp in her hut and she had cataracts in her eyes, she could not find the needle. She went out and started searching for the needle under a streetlight. A student who was passing in the street asked the old woman, “Grandmother, what are you searching for?” The woman replied that she was searching for a needle. The student said, “Tell me where you lost it; I will help you in searching for it”. She replied, “I lost it when I was doing stitching work with it in my hut”. The boy asked, “Why are you searching for the needle in the street which you have lost in your hut”? The old woman said, “There is no lamp in my hut. There is light in the street. Therefore, I am searching here.” See! Lost in the house and searching in the street! This is what man is doing today. All bliss and love is within, but he foolishly searches for it outside. External love and happiness are transient. The relationship with God is eternal. The human body is impermanent. How can one derive permanent happiness from the temporary body? We do spiritual practices like yoga, meditation, and japa. They also give only temporary satisfaction. Only love for God gives eternal bliss.


- Divine Discourse, Apr 25, 1996

Take the mind off the sensory pleasures and fix it upon God; then the feeling becomes pure; whatever you think or say or feel will be for the good of yourself and others. 


Suatu hari ada seorang nenek yang kehilangan jarumnya ketika nenek tersebut sedang menjarit pakaian di dalam gubuknya. Karena di dalam gubuknya tidak ada lampu dan juga menderita katarak pada matanya, maka nenek itu tidak bisa menemukan jarumnya yang hilang. Jadi nenek itu memutuskan untuk mulai mencari jarumnya di bawah lampu jalanan. Seorang pelajar sedang melewati jalan tersebut dan menanyakan nenek itu, “Nenek, apa yang sedang nenek cari” Nenek itu menjawab bahwa ia sedang mencari sebuah jarum. Pelajar itu berkata, “katakan padaku dimana nenek kehilangan jarum itu; saya akan bantu nenek mencarinya”. Nenek itu menjawab, “Nenek kehilangan jarum ketika nenek sedang menjarit pakaian di dalam gubuk”. Pelajar itu lanjut bertanya, “Lantas mengapa nenek mencari jarum itu di jalan dimana nenek kehilangan jarum itu di dalam gubuk”? Nenek itu menjawab, “Tidak ada cahaya lampu di dalam gubuk nenek. Sedangkan cahaya hanya ada di jalan ini. Maka dari itu, nenek mencari jarum itu disini.” Lihatlah! Kehilangan di dalam rumah dan mencarinya di jalan! Ini adalah bentuk yang sedang dilakukan manusia hari ini. Semua kebahagiaan dan kasih ada di dalam diri, namun manusia karena ketidaktahuannya mencari semuanya itu di luar diri. Kasih eksternal dan kesenangan adalah bersifat sementara. Hubungan dengan Tuhan adalah bersifat kekal. Tubuh manusia adalah tidak kekal. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan yang kekal dari tubuh yang bersifat sementara? Kita melakukan latihan spiritual seperti yoga, meditasi dan japa. Semua latihan spiritual itu hanya memberikan kepuasan sementara. Hanya kasih untuk Tuhan memberikan kebahagiaan kekal.


- Divine Discourse, 25 April 1996

Alihkan pikiran dari kesenangan Indera dan fokuskan pada Tuhan; kemudian perasaan menjadi murni; apapun yang engkau pikirkan atau katakan atau rasakan menjadi baik untuk dirimu dan orang lain.

Monday, March 9, 2026

Thought for the Day - 9th March 2026 (Monday)



The universe is subject to three processes: creation, sustenance, and destruction or dissolution. None can deny this truth; scientists also cannot negate it. This is a universal truth perceived by everybody. That which is born is sustained and is eventually destroyed. This is the direct proof of Divinity. When you enquire into these three fundamental facts, the existence of Divinity becomes evident. In daily life also, this divinity is experienced. For example, you have seen the dancing lions from Malaysia. However, these are not real lions. But, on seeing them, you can surmise that there are real creatures called lions. In a similar manner, almost every object of daily life points towards Divinity. The sweetness in sugarcane or hot taste of chillies, sour taste in tamarind or the bitter taste of neem, all are indicators of Divinity. The stars in the sky, the brightness of the sun, the coolness of the moon, rise and fall of sea waves are also pointers towards the Divine Principle. Though all these do not directly show you, God per se, they produce positive evidence of the existence of the Divine Principle.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

You are experiencing Divinity in Nature, yet you want to see God! 


Alam semesta tunduk pada tiga proses yaitu : penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Tidak ada seorangpun yang dapat menyangkal kebenaran ini; para ilmuwan juga tidak bisa menolak ini. Ini adalah kebenaran universal yang disadari oleh setiap orang. Apapun yang dilahirkan akan dipelihara dan pada akhirnya akan hancur. Ini adalah bukti langsung dari keilahian. Ketika engkau menyelidiki pada ketiga fakta-fakta mendasar ini, maka keberadaan Tuhan akan menjadi jelas. Dalam hidup sehari-hari juga, keilahian ini dapat dialami. Sebagai contoh, engkau telah menyaksikan tarian singa dari Malaysia. Bagaimanapun juga, singa-singa itu bukanlah singa sungguhan. Namun, dengan menyaksikan singa-singa tersebut, engkau dapat menyimpulkan bahwa memang ada makhluk nyata yang disebut singa. Sama halnya, hampir setiap objek dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan pada keilahian. Rasa manis yang ada tebu atau rasa pedas yang ada pada cabai, rasa asam yang ada pada asam jawa atau rasa pahit yang ada pada daun neem, semuanya itu menandakan keilahian. Bintang-bintang yang ada di langit, kecermelangan cahaya matahari, kesejukkan cahaya rembulan, pasang dan surutnya gelombang lautan juga menjadi penanda prinsip Tuhan. Walaupun semua ini tidak secara langsung menunjukkan Tuhan itu sendiri, semuanya memberikan bukti nyata tentang keberadaan Prinsip Ilahi.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Engkau sedang mengalami keberadaan Tuhan di alam, namun engkau masih ingin melihat Tuhan!

Saturday, March 7, 2026

Thought for the Day - 7th March 2026 (Saturday)



You cannot attain God by your wealth. He is to be attained only through devotion. Satyabhama, in her pride, hoped to possess Krishna all for herself by her wealth. She wanted to weigh Him against the huge amount of gold she possessed. But, she failed. Narada made her realise her folly by showing that a single leaf of Tulasi (basil) offered by Rukmini with real devotion exceeded all the wealth of Satyabhama. Satyabhama symbolises desire, while Rukmini represents devotion. Krishna says that He is pleased with the offering of a leaf, a flower, a fruit, or water. Do not take this literally. The body is the leaf, the flower is the flower of your heart, your mind is the fruit, and the tears of joy constitute the water which is the acceptable offering to God. Embodiments of Love! You will have everything in life if you have love in you. Do not hate anybody. This should be the main ideal of your life. This is My message for you.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Without resorting to extravagant adulation of God, not seeking petty favours from God, yearn for God alone, and you will get everything


Engkau tidak bisa mencapai Tuhan dengan kekayaanmu. Tuhan hanya bisa dicapai melalui bhakti. Satyabhama dalam kesombongannya berharap dapat memiliki Krishna sepenuhnya bagi dirinya sendiri dengan kekayaannya. Ia ingin menimbang Krishna dengan jumlah emas yang sangat banyak yang ia miliki. Namun, Sathyabhama gagal. Guru suci Narada membuatnya menyadari kesalahannya dengan menunjukkan bahwa sehelai daun Tulasi yang dipersembahkan oleh Rukmini dengan bhakti yang tulus lebih bernilai daripada seluruh kekayaan Satyabhama. Dalam hal ini, Satyabhama melambangkan keinginan sedangkan Rukmini melambangkan bhakti. Krishna berkata bahwa Beliau berkenan dengan persembahan berupa sehelai daun, setangkai bunga, sebutir buah dan air. Jangan memahami ini secara harfiah. Tubuh ini sendiri adalah daun, bunga adalah bunga dari hatimu, pikiranmu adalah buah, dan air mata suka cita adalah air yang menjadi persembahan yang diterima Tuhan. Perwujudan kasih! Engkau akan memiliki segalanya dalam hidup jika engkau memiliki kasih di dalam dirimu. Jangan membenci siapapun. Hal ini harus menjadi ideal dalam hidupmu. Ini adalah pesan-Ku untukmu.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Tanpa berlebihan memuji Tuhan dan tanpa mencari pertolongan kecil dari Tuhan, rindukanlah hanya Tuhan dan engkau akan mendapatkan segalanya

Friday, March 6, 2026

Thought for the Day - 6th March 2026 (Friday)



The senses should not be allowed to override man. They must be instruments within the control of man. They are mere servants, orderlies, helpers. The knife is best used to cut fruits or vegetables; you should not use it for cutting your throat. The senses have to be trained to be free from tamas (inertia) and rajas (passion); they must be neither dull nor dragging, neither dormant nor dangerously diverting. The gunas (qualities) must be overcome. A student approached a guru and asked for the road for shanti (peace). He replied that he must develop sahana (tolerance) towards all men and all things and all events. Nothing should arouse an interested reaction, disgust or desire. The highest alone must be sought; God alone must be desired. Steady, unchanging, undiminishable Prema can only be Vishweshwaraprema - Love towards the Lord of all the worlds.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Let not your faith in the goal or the path quake before trouble or trial, toil or travail, distress or despair.

 

Indera seharusnya tidak dibiarkan mengalahkan manusia. Indera harus menjadi alat dibawah kendali manusia karena indera hanyalah pelayan, sarana dan pembantu. Pisau adalah alat terbaik yang digunakan untuk memotong buah dan sayuran; engkau tidak boleh menggunakan pisau untuk melukai lehermu sendiri. Indera harus dilatih untuk bebas dari sifat malas (tamas) dan nafsu (rajas); serta tidak boleh menjadi tumpul atau lamban, juga tidak boleh pasif mengalihkan perhatian secara berbahaya. Sifat atau kualitas yang disebut dengan guna harus dapat diatasi. Seorang murid mendekati gurunya dan menanyakan jalan menuju pada kedamaian (shanti). Guru tersebut menjawab bahwa ia harus mengembangkan toleransi atau kesabaran (sahana) kepada semua manusia dan semua hal serta semua kejadian. Tidak ada sesuatupun yang boleh menimbulkan reaksi ketertarikan, rasa jijik atau keinginan. Hanya yang tertinggi saja yang harus dicari; hanya Tuhan yang harus diinginkan. Prema yang bersifat teguh, tidak berubah, tidak berkurang hanya bisa berupa Vishweshwaraprema – kasih kepada Tuhan semesta alam.


- Divine Discourse, 23 Oktober 1966

Jangan biarkan keyakinan pada tujuan atau jalan yang ditempuh menjadi goyah dihadapan masalah atau cobaan, pergumulan, penderitaan atau keputusasaan.

Thursday, March 5, 2026

Thought for the Day - 5th March 2026 (Thursday)



Karma (action) and upasana (contemplation), the two stages of sadhana devoted to the attainment of God-realisation, can be noted and seen; but jnana (wisdom), the stage of ripeness, cannot be seen. The karma symbolised by the Yamuna, and bhakti (devotion) symbolised by the Ganga, meet at the point where the jnana or Saraswati flows unseen. But today, people have lost the enthusiasm for karma, the exultation for bhakti, and the eagerness for jnana. The true learning is that which reveals the Atma (the true self) to man. When these facts are neglected, the Avatar (Divine Incarnation) takes place to re-teach the duty of man, the Dharma. What is the Dharma (the moral code) that has to be re-established today? It is Sanathana Dharma (the eternal law), nothing less. Not that there are no sages even now on earth. Great kavis (poets), noble beings and great scholars are with us even today. But, in the mad pursuit after pomp and pageantry, the feverish struggle to defy and defeat others, there is no time to imbibe their messages and taste the sweetness of the sadhana they prescribe.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

The goal of karma (action) is jnana (wisdom), and for jnana, karma is the base. To combine the two in practice constitutes Seva (Selfless Service). 


Ada dua tahapan dalam sadhana yang ditujukan untuk mencapai kesadaran Tuhan yang dapat dilihat dan diperhatikan yaitu karma (perbuatan) dan upasana (perenungan); namun jnana (kebijaksanaan) yang merupakan tahap kematangan spiritual tidak bisa dilihat. Karma dapat dilambangkan dengan sungai Yamuna, dan bhakti dapat dilambangkan dengan sungai Ganga, dimana keduanya bertemu pada titik disebut dengan jnana yang dilambangkan dengan sungai Saraswati yang mengalir tidak terlihat. Namun hari ini, orang-orang telah kehilangan antusias dalam melakukan karma, kehilangan kegembiraan dalam bhakti, dan kerinduan untuk mendapatkan jnana. Pembelajaran yang sesungguhnya terdapat dalam mengungkapkan Diri Sejati (Atma) pada manusia. Ketika bagian-bagian ini diabaikan maka inkarnasi Tuhan atau Avatar hadir untuk mengajarkan kembali kewajiban manusia yaitu Dharma. Apa bentuk dari tuntunan moral (Dharma) yang harus ditegakkan kembali hari ini? Tiada lain adalah hukum abadi yaitu Sanathana Dharma. Bukan berarti tidak ada orang bijak di dunia saat sekarang. Para penyair-penyair besar (kavi), pribadi-pribadi mulia dan cendekiawan agung masih ada bersama kita hari ini. Namun, dalam pengejaran yang gila terhadap kemegahan dan kemewahan, dan perjuangan yang penuh ambisi untuk menantang dan mengalahkan orang lain, tidak ada waktu untuk menyerap pesan-pesan mereka dan merasakan manisnya sadhana yang mereka ajarkan.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Tujuan dari karma (perbuatan) adalah jnana (kebijaksanaan), dan untuk jnana, karma adalah mendasar. Untuk menggabungkan keduanya dalam praktek disebut dengan Seva (pelayanan tanpa pamrih).

Wednesday, March 4, 2026

Thought for the Day - 4th March 2026 (Wednesday)



Each individual’s conscience is his own witness. Do not waste your energy on negative criticism. You should never abandon your faith and your self-confidence. Some people become jealous of the growth and prosperity of others. Jealousy is a dangerous pest. If a pest enters the root of a tree full of leaves, fruits and flowers, the entire tree dies quickly. The pest is not visible to the eye and works insidiously. A jealous person conceals his jealousy and harms others like a pest. These are evil ways. However, in My view, there are no evil persons. All evil behaviour changes sooner or later. My truth is one. All belong to Me, and I belong to all. My only wealth is love. I embrace all with love. Even people who come to Me with hatred in their hearts are dear to Me. I do not search for your faults. I go by the principle of love. Take note of My equanimity and follow this principle of unity. Purity follows unity, and from purity, Divinity is attained.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Only love can win people’s hearts. If you have love within, the whole world will be with you. 


Hati Nurani setiap orang merupakan saksi bagi dirinya sendiri. Jangan membuang energi pada kritikan yang bersifat negatif. Engkau seharusnya tidak pernah melepaskan keyakinan dan rasa percaya dirimu. Beberapa orang menjadi iri hati pada perkembangan dan kesejahtraan orang lain. Sifat iri hati ini adalah hama yang berbahaya. Jika hama ini sampai memasuki akar sebuah pohon yang penuh dengan dedaunan, buah, dan bunga, maka seluruh pohon itu akan segera mati. Hama adalah tidak terlihat oleh mata dan bekerja secara tersembunyi. Seseorang yang iri hati menyembunyikan sifat iri hatinya dan menyakiti orang lain seperti halnya hama. Ini adalah cara-cara yang jahat. Bagaimanapun juga, menurut pandangan-Ku bahwa tidak ada orang yang jahat. Semua perilaku jahat dapat berubah cepat atau lambat. Kebenaran-Ku adalah satu. Semuanya adalah milik-Ku, dan Aku adalah milik semuanya. Satu-satunya kekayaan-Ku adalah kasih. Aku merangkul semua dengan kasih. Bahkan mereka yang datang pada-Ku dengan kebencian dalam hati mereka adalah tetap berharga bagi-Ku. Aku tidak mencari-cari kesalahanmu. Aku berpegang pada prinsip kasih. Perhatikan keseimbangan batin-Ku dan ikutilah prinsip kesatuan ini. Kemurnian mengikuti kesatuan, dan dari kemurnian tercapailah keilahian.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Hanya kasih yang dapat memenangkan hati manusia. Jika engkau memiliki kasih dalam hatimu, seluruh dunia akan bersamamu. 

Tuesday, March 3, 2026

Thought for the Day - 3rd March 2026 (Tuesday)



Sage Narada declared, Prema amritasya swarupah (Love is the embodiment of ambrosia). In the mundane world, man keeps the four Purusharthas (goals of life) alone in view as the path for an aspirant of liberation. This is not correct. Dharma (Righteousness), artha (material wealth), kama (the satisfaction of desire) and moksha (Liberation) alone are not the aims of human existence. There is a fifth aim for mankind which transcends even moksha. This is Paramaprema (Supreme Love). This Love Principle is Divinity. Love and God are not distinct from each other. God is love and love is God. It is only when the truth of this Love Principle is understood that the meaning of human existence can be realised. “He who teaches the principle of Love, instils affection and equality of all beings, and reveals the Human Values - that Embodiment of Love is Lord Sai. That Embodiment of Love is the Divine Atma.” (Telugu poem). Therefore, Love itself is the Atma, Atma is verily Love.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

In what form is God present in all? He is present in all in the form of love.

 

Guru suci Narada menyatakan, Prema amritasya swarupah (Kasih adalah perwujudan dari keabadian). Dalam kehidupan duniawi, manusia hanya memandang bahwa empat tujuan hidup (purushartha) sebagai jalan bagi seseorang untuk mendapatkan pembebasan. Hal ini adalah tidak benar. Dharma (kebajikan), artha (kekayaan material), kama (kepuasan keinginan) dan moksha (kebebasan) saja bukanlah tujuan dari keberadaan manusia. Ada tujuan kelima bagi umat manusia yang bahkan melampaui moksha. Tujuan kelima itu adalah Paramaprema (kasih tertinggi). Prinsip kasih ini adalah keilahian. Kasih dan Tuhan tidaklah berbeda satu dengan yang lainnya. Tuhan adalah kasih dan kasih adalah Tuhan. Hanya ketika kebenaran dari prinsip kasih ini dipahami maka makna dari keberadaan manusia dapat disadari. “Dia yang mengajarkan prinsip kasih, menanamkan kasih dan kesetaraan bagi semua makhluk, dan mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan – perwujudan kasih itu adalah Sai. Perwujudan kasih itu adalah Atma ilahi.” (puisi Telugu). Maka dari itu, kasih sendiri adalah Atma, Atma sejatinya adalah kasih.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

Dalam wujud apakah Tuhan hadir dalam semuanya? Tuhan hadir dalam semuanya dalam wujud kasih.

Monday, March 2, 2026

Thought for the Day - 2nd March 2026 (Monday)



The body has no power of discrimination or knowledge; Only the mind and intellect have discrimination (viveka), knowledge, and power. People today do not exercise fundamental discrimination. They have only selfishness, selfishness, and selfishness. They use their intelligence to obtain what is good for themselves alone, without giving attention to the good of society. In this way, they use the body in wrong ways. They do not use it to follow the path that leads to enlightenment. If you put wheat in the flour mill, you will get wheat flour. If you put rice, you will get rice flour. But if you put food in the body, only faecal matter comes out. If you keep pickle in a jar, it remains intact for one year. If you put pickle in the body, it will rot in a short time. The nature of the body is such. But the body is necessary for one to attain high ideals. So, in order to attain the goal of life, one should dedicate the body to God. One should put the body on the right path and shine as an exemplary human being.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Sharpness of intellect and high learning are valuable. But good conduct is of highest importance.

 

Tubuh tidak memiliki kemampuan dalam membedakan atau pengetahuan; hanya pikiran dan intelek yang memiliki kemampuan membedakan (viveka), pengetahuan, dan kekuatan. Orang-orang pada hari ini tidak menjalankan kemampuan memilah atau membedakan yang mendasar. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk mendapatkan apa yang baik bagi diri mereka saja, tanpa memberikan perhatian pada kebaikan masyarakat. Dengan cara ini, mereka menggunakan tubuh dengan cara yang salah. Mereka tidak menggunakan tubuh untuk mengikuti jalan yang menuntun pada pencerahan. Jika engkau memasukkan gandum ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung gandum. Jika engkau memasukkan beras ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung beras. Namun jika engkau memasukkan makanan ke dalam tubuh, hanya kotoran yang keluar. Jika engkau menyimpan acar di dalam toples, maka acar itu tetap akan awet selama satu tahun. Jika engkau memasukkan acar ke dalam tubuhmu, maka acar itu akan segera membusuk. Begitulah sifat alami dari tubuh. Namun tubuh diperlukan bagi seseorang untuk mencapai cita-cita yang luhur. Jadi, dalam upaya untuk mencapai tujuan hidup, seseorang harus mendedikasikan tubuh untuk Tuhan. seseorang harus menempatkan tubuh pada jalan yang benar serta bersinar sebagai manusia teladan.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketajaman intelektual dan pendidikan tinggi adalah berguna. Namun perilaku baik adalah yang terpenting.

Sunday, March 1, 2026

Thought for the Day - 1st March 2026 (Sunday)



Mind, by nature, is absolutely pure. It is only due to the influence of bad company that it becomes wicked! For example, if you wrap jasmine flowers in newspaper, it will acquire the fragrance of jasmine flowers. Similarly, if you wrap pakodas (Indian savoury) in it, it will emit the smell of pakodas. The newspaper on its own does not have any smell. Whatever item is wrapped in it, it will acquire its smell. Similarly, if the mind follows the noble path and you associate the mind with everything good, then the mind will also become good. What is the noble path? How noble would the mind become when it is associated with sacred feelings, good thoughts, noble behaviour, good company, spiritual activities, moral values and righteous actions? On the other hand, when it is associated with wicked qualities, wicked thoughts, evil company and bad behaviour, it becomes extremely wicked. In fact, it becomes demonic! There is nothing good or bad in the mind itself. Only due to good or bad influences, it becomes good or bad. If you want your mind to be good, you should associate yourself with good company!


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

Good habits, good speech, good conduct and good behaviour will ultimately make us good. 


Pikiran secara alami adalah benar-benar murni. Ini hanya karena pengaruh dari pergaulan yang buruk yang menyebabkan pikiran menjadi jahat! Ambillah contoh, jika engkau membungkus bunga Melati di dalam kertas surat kabar, maka kertas itu akan tercium bunga melati. Sama halnya, jika engkau membungkus pakoda (makanan khas India) di dalamnya maka kertas akan mengeluarkan aroma pakoda. Kertas koran pada hakikatnya tidak memiliki bau apapun. Apapun benda yang dibungkus di dalamnya, maka kertas itu akan menyerap bau tersebut. Sama halnya, jika pikiran mengikuti jalan yang luhur dan engkau mengaitkan pikiran dengan segala sesuatu yang baik, maka pikiran juga akan menjadi baik. Apa jalan yang luhur itu? Betapa luhurnya jadinya pikiran ketika pikiran dikaitkan dengan perasaan yang suci, pikiran yang baik, tingkah laku yang mulia, pergaulan yang baik, aktifitas spiritual, nilai moral dan tindakan yang baik? Sebaliknya, ketika pikiran dikaitkan dengan sifat-sifat yang buruk, pikiran yang jahat, pergaulan yang jahat dan tingkah laku yang buruk, maka pikiran menjadi benar-benar jahat. Bahkan, pikiran benar-benar menjadi iblis! Tidak ada hal yang baik dan buruk dalam pikiran itu sendiri. Hanya karena pengaruh yang baik atau buruk, pikiran menjadi baik atau buruk. Jika engkau ingin pikiranmu menjadi baik, maka engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik!


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Kebiasaan baik, perkataan baik, tingkah laku baik dan perilaku baik pada akhirnya akan menjadikan kita orang baik.

Saturday, February 28, 2026

Thought for the Day - 28th February 2026 (Saturday)




Man performs all activities due to sunlight. But there is no connection between the activities and the Sun. Similarly, the mind and intellect work due to the light of the Atma. Without the light of the Atma, the mind and intellect cannot function. Like the Sun, Atma has no attachment to duties and activities. Just as man gets sunlight from the Sun, he gets strength from the Atma. Atma is the witness. The results of good and bad deeds do not affect the Atma. When the water is flowing, the image of the Moon in it appears to move. But the Moon does not move. What is the cause of man’s troubles, sorrows and worries? Ego and attachment are the cause. Attachments, happiness, sadness - all of these arise in the mind. Mind and intellect are the instruments. It is through these instruments that we get the experience of everything. The instruments are the cause of our problems. If we remove these instruments, we can experience the bliss of the Atma.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Man is unable to go up spiritually because he allows himself to be weighed down by the heavy loads of his Mamakara and Ahamkara (possessiveness and ego). 


Manusia melakukan semua aktifitas karena sinar matahari. Namun tidak ada hubungan antara aktifitas manusia dan matahari. Sama halnya, pikiran dan kecerdasan bisa bekerja karena adanya cahaya Atma. Tanpa adanya cahaya Atma, maka pikiran dan kecerdasan tidak bisa berfungsi. Seperti halnya matahari, Atma tidak memiliki keterikatan pada kewajiban dan aktifitas yang dilakukan manusia. Sama halnya manusia mendapatkan cahaya Mentari dari matahari, manusia mendapatkan kekuatan dari Atma. Atma adalah sebagai saksi abadi. Hasil dari perbuatan baik atau buruk tidak mempengaruhi Atma. Ketika air sedang mengalir, bayangan bulan yang terpantul pada air juga ikut bergerak. Namun bulan yang ada di langit tidak bergerak. Apa yang menjadi penyebab dari penderitaan, masalah dan kecemasan dari manusia? Jawabannya adalah Ego dan keterikatan sebagai penyebabnya. Keterikatan, kesenangan, kesedihan – semuanya ini muncul dari pikiran. Pikiran dan kecerdasan adalah sebagai sarana saja. Melalui sarana-sarana ini kita mendapatkan pengalaman dari segala sesuatu. Sarana ini adalah penyebab dari masalah yang kita alami. Jika kita melenyapkan sarana-sarana ini maka kita bisa mengalami kebahagiaan Atma.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Manusia tidak mampu melangkah maju dalam spiritual karena manusia mengijinkan dirinya terbebani oleh beban berat miliknya yaitu Mamakara dan Ahamkara (kepemilikan dan ego).


Friday, February 27, 2026

Thought for the Day - 27th February 2026 (Friday)



Mind has both animality and humanness. You should try to understand what is meant by animality and humanness. When the mind is overpowered by the six inner enemies of man, viz., kama, krodha, lobha, moha, mada and matsarya (desire, anger, greed, delusion, pride and jealousy), man forgets his humanness, takes to the path of animality and degenerates to the level of an animal. On the other hand, when the mind follows the path of humanness and makes proper use of mati (mind), gati (destiny), sthiti (position) and sampatti (wealth) given by God, man can rise to the level of divinity and do great good to his country and society at large. Mind is the root cause of good and bad. The nobility that is there in the mind cannot be found anywhere else. Similarly, wickedness found in the mind cannot be found anywhere else. Mind is as much good as it is wicked.


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

To get close to God you have to go beyond the mind.

 

Pikiran memiliki dua sifat sekaligus yaitu sifat kebinatangan dan kemanusiaan. Engkau harus mencoba untuk memahami apa arti dari sifat kebinatangan dan kemanusiaan. Ketika pikiran dikuasai oleh enam kekaburan batin manusia yaitu: kama, krodha, lobha, moha, mada dan matsarya (keinginan, kemarahan, ketamakan, khayalan, kesombongan dan iri hati), manusia lupa pada sifat kemanusiaannya dan mengambil jalan kebinatangan yang mengakibatkan manusia jatuh pada level binatang. Sebaliknya, ketika pikiran mengikuti jalan kemanusiaan dan menggunakan dengan benar mati (pikiran), gati (takdir), sthiti (kedudukan) dan sampatti (kekayaan) yang dianugerahkan oleh Tuhan, manusia dapat naik ke level keilahian dan melakukan kebaikan yang luar biasa bagi negerinya dan masyarakat luas. Pikiran adalah akar penyebab dari baik dan buruk. Kemuliaan yang ada dalam pikiran tidak bisa ditemukan dimanapun juga. Sama halnya, kejahatan yang terdapat dalam pikiran tidak bisa ditemukan di tempat lain. Pikiran adalah kebaikan dan sekaligus juga kejahatan.


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Untuk bisa mendekati Tuhan maka engkau harus melampaui pikiran.

Wednesday, February 25, 2026

Thought for the Day - 25th February 2026 (Wednesday)




Just ponder for a moment: how many millions of men have died so far? Have any of them taken from here anything to the realm into which they have disappeared? A man was dragged to court; he asked three comrades of his to come and bear witness to his innocence. One friend said, “I shall not move out of the house; let them who want my statement come here”; the second said, “I shall come up to the doors of the court; but, I dare not get in”; the third said, “Come on! I will be ever with you.” The first is the wealth one has accumulated; the second is his kith and kin who will come as far as the cemetery; the third is the name, the honour, he has earned. When a person dies, his property and things remain at home; they do not go with him into the beyond. His relatives cannot also go; only the good or the bad name he has earned will last. So, he has to live in such a way that posterity will remember him with gratitude and joy. To lead the good life, constant prompting from the Lord within is a great help. That inspiration can be got only by constantly reciting the Lord’s Name and calling on the inner springs of Divinity. 


- Divine Discourse 1966

The lamp of the Name, when it is lit, will illumine the household and make it a home, instead of just a dwelling place.

 

Cobalah renungkan sejenak: berapa juta manusia yang telah meninggal sejauh ini? Apakah ada diantara mereka yang membawa sesuatu dari dunia ini menuju alam tempat mereka menghilang? Seorang laki-laki sedang dibawa ke pengadilan; ia meminta agar tiga temannya untuk dapat dihadirkan menjadi saksi atas ketidakbersalahannya. Satu temannya berkata, “saya tidak akan keluar rumah; jika mereka memerlukan pernyataanku biarkan mereka yang datang kesini”; temannya kedua berkata, “saya akan datang hanya di depan pintu pengadilan; namun saya tidak akan masuk ke dalam sidang”; temannya yang ketiga berkata, “ayo, saya akan selalu ada bersamamu.” Teman yang pertama adalah kekayaan yang seseorang telah kumpulkan; teman yang kedua adalah kerabat dan keluarga yang mengantar hanya sampai tempat pemakaman; teman yang ketiga adalah nama baik, rasa hormat yang telah ia dapatkan selama hidupnya. Ketika seseorang meninggal dunia, harta dan benda miliknya akan tetap ada di rumah dan tidak ikut bersamanya. Sedangkan para kerabatanya juga tidak bisa ikut menyertainya; hanya nama baik dan nama buruk yang telah ia dapatkan yang tetap bertahan. Jadi, ia harus hidup sedemian rupa sehingga generasi mendatang mengingatnya dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Untuk menjalani hidup yang baik, dorongan terus menerus dari Tuhan yang bersemayam di dalam diri adalah sangatlah membantu. Inspirasi itu hanya bisa diperoleh dengan melantunkan nama suci Tuhan dan mengunjungi sumber keilahian di dalam diri. 


- Divine Discourse 1966

Lentera nama suci Tuhan ketika dinyalakan, akan menerangi rumah tangga dan menjadikannya sebuah rumah, dan tidak hanya sebatas tempat tinggal.

Tuesday, February 24, 2026

Thought for the Day - 24th February 2026 (Tuesday)



Mergence in the Cosmic Consciousness (Brahman), of which each one is an expression, is not a novel achievement gained by effort. It is only the awareness of an existing fact, in a flash. One is Brahman already, inherently, inseparably so. Salt, which is an expression of the nature of the ocean, might be noticed in many lands, on many occasions, in many forms and many compounds. But it retains its truth, which is cognisable in its taste. Originating from the sea, salt lends the quality of the sea to every article with which it is associated, whether it be milk, syrup or clear tasteless water. So too, though the individualised spark of consciousness has woven a cocoon around itself and assumed a form and a name, it—that is to say, man—can never give up its essential Atmic nature. As the ocean announces that the salt crystal is its own, itself, in the same way the Lord announces in the Gita: Mamaivamsho jeevaloke jeeva bhutah Sanatanah— “A unit of Mine, which is eternal, has become life, in this world of Life.” No wonder the Veda addresses living beings as “Children of the Immortal One” and “Inheritors of Immortal Bliss”. 


- Divine Discourse, Oct 21, 1982

The body, mind, and senses are your instruments. You are the Master. 


Penyatuan ke dalam kesadaran Kosmik (Brahman), yang mana setiap orang adalah ekspresi dari Brahman, bukanlah suatu pencapaian baru yang diperoleh melalui usaha. Penyatuan ini hanyalah kesadaran akan fakta yang telah ada, yang tersadari dalam sekejap. Sesungguhnya, setiap orang adalah Brahman secara hakiki dan tak terpisahkan. Garam yang merupakan ekpresi dari sifat alami lautan, dapat ditemukan di berbagai tempat, dalam berbagai keadaan, dalam berbagai bentuk dan berbagai campuran. Namun kebenaran dari sifat alami garam tetap sama dan dapat dikenali melalui rasanya. Berasal dari laut, garam memberikan kualitas dari laut pada setiap bagian yang terhubung dengannya, entah itu adalah susu, sirup atau air tawar yang jernih. Begitu juga, walaupun percikan kesadaran individu telah membungkus dirinya dalam bentuk kepompong wujud dan nama, manusia tidak akan pernah bisa melepaskan sifat Atmiknya yang mendasar. Sebagaimana lautan menyatakan bahwa kristal garam adalah milknya sendiri, sama halnya dengan Tuhan menyatakan dalam Bhagavad Gita: Mamaivamsho jeevaloke jeeva bhutah Sanatanah - “Bagian-Ku yang abadi telah menjadi makhluk hidup di dunia ini.” Tidak mengherankan bila Veda menyatakan makhluk hidup sebagai “Anak-anak keabadian” dan “Pewaris kebahagiaan abadi”. 


- Divine Discourse, Oct 21, 1982

Tubuh, pikiran dan Indera adalah saranamu. Engkau adalah sang majikan.

Monday, February 23, 2026

Thought for the Day - 23rd February 2026 (Monday)




Just as removal of weeds, tilling the land, sowing the seeds, and watering them, are required before the crop can be harvested on a plot of land, the field of the human heart has to be cleared of bad thoughts and bad feelings, watered with love, tilled by spiritual practices, and then the seeds of the divine Name needs to be sown. Only then is one entitled to reap the harvest of jnana (Divine Wisdom). Today, spiritual exercises are confined to listening to talks and not to practicing the teachings. Listening has become a kind of disease. Merely after listening, men go about bragging that they know everything. This crazy boastfulness is deepening men’s ignorance. One should ruminate over what has been heard. After rumination, one should do nidhidhyasana (put into practice the lessons). Only then there is the triple purity of thought, word, and deed. Today, people are content with mere listening to discourses. This will not lead to realisation. 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

This is the sin of all sins - saying one thing and acting quite the opposite, denying in practice what you assert as precept. 


Seperti halnya gulma harus disingkirkan, tanah harus dibajak, benih harus ditabur, dan menyiramnya, semuanya ini adalah tindakan yang harus dilakukan sebelum panen dapat diperoleh pada sebidang tanah. Sama halnya dengan bidang hati manusia harus dibersihkan dari gagasan dan perasaan buruk, menyiramnya dengan kasih, membajak dengan latihan spiritual, dan kemudian menabur benih nama suci Tuhan. Hanya dengan demikian seseorang berhak memanen kebijaksanaan Ilahi (jnana). Hari ini, latihan spiritual terbatas hanya pada mendengarkan ceramah dan tidak menjalankan ajarannya. Mendengarkan telah menjadi sebuah penyakit. Setelah mendengarkan ceramah, orang-orang keluar berjalan dengan bangga bahwa mereka mengetahui semuanya. Kesombongan yang tidak masuk akal ini justru memperdalam kebodohan manusia. Seseorang harus merenungkan apa yang telah di dengarnya. Setelah melakukan perenungan, seseorang harus menerapkan atau mempraktekkan ajaran tersebut (nidhidhyasana). Hanya dengan demikian tercapai tiga bentuk kesucian dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Hari ini, orang-orang merasa cukup hanya dengan mendengar ceramah. Hal ini tidak akan menuntun pada penyadaran diri sejati. 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

Ini adalah dosa dari segala dosa – mengatakan sesuatu tetapi bertindak sebaliknya, menyangkal dalam praktik apa yang anda nyatakan sebagai prinsip.

Sunday, February 22, 2026

Thought for the Day - 22nd February 2026 (Sunday)

 


The Organisations named after Me are not to be used for publicising My Name or creating a new cult around My worship. They must try to spread interest in japam (recitation of God’s Name), dhyanam (meditation) and other spiritual practices that lead man Godward; they must demonstrate the joy derivable from bhajan (devotional group singing) and namasmarana (remembering God’s Name), and the shanti (peace) that one can draw from satsang (good company). They must render seva or selfless service to the helpless, the sick, the distressed, the illiterate and the needy. Their seva should not be exhibitionistic; it must seek no reward, not even gratitude or thanks from the recipients. Seva is sadhana (a spiritual practice), not a pastime of the rich and well-placed. Each one must realise his own truth. That is the purpose of all the teaching, all the curing, all the counselling, all the organising, and all the advising that I do. 


- Divine Discourse, Feb 23, 1968

Unless you sing Bhajans for your own joy, you cannot bring joy to others.


Organisasi yang menggunakan nama-Ku adalah tidak digunakan untuk mempublikasikan nama-Ku atau menciptakan sebuah aliran baru yang berpusat pada pemujaan diri-Ku. Organisasi ini harus mencoba menumbuhkan minat dalam melakukan japam (pengulangan nama suci Tuhan), dhyanam (meditasi) dan latihan spiritual lainnya yang menuntun manusia pada Tuhan; organisasi ini harus menunjukkan suka cita yang diperoleh dari bhajan (kelompok kidung suci) dan namasmarana (mengingat nama suci Tuhan), dan shanti (kedamaian) yang seseorang dapat rasakan dari satsang (pergaulan yang baik). Organisasi ini harus melakukan seva atau pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri pada mereka yang tidak berdaya, sakit, menderita, tidak berpendidikan dan yang membutuhkan. Kegiatan seva tersebut tidak boleh bersifat pamer; tidak boleh mengharapkan imbalan apapun, bahkan tidak mengharapkan rasa terima kasih dari penerima layanan. Seva adalah sadhana (sebuah latihan spiritual), bukan sekedar pengisi waktu luang bagi mereka yang kaya dan memiliki kedudukan. Setiap orang harus menyadari kebenaran dirinya sendiri. Itu adalah tujuan dari semua ajaran, semua penyembuhan, semua bimbingan, semua pengorganisasian, dan semua nasihat yang Aku lakukan. 


- Divine Discourse, Feb 23, 1968

Jika anda tidak bisa melantunkan Bhajan bagi suka citamu, maka anda tidak bisa membawa suka cita bagi yang lainnya.

Saturday, February 21, 2026

Thought for the Day - 21st February 2026 (Saturday)




Embodiments of the Divine Atma! Wetness is the natural trait of water. Hardness is the attribute of stone. Sweetness is natural to sugar. Heat is the quality of fire. These are the Dharma (natural behaviour) of substances. For the individual, vancha (desire) is natural. Because man is sustained by desire, it is considered a dharma (natural trait) of man. Dharayati iti Dharmah (Dharma is that which sustains). Man is sustained by desire. Man’s primary duty is to offer all his desires to God. This means that the practice of dharma calls for the offering of all worldly desires to God and developing inward vision. Sarvadharman parityajya mamekam sharanam vraja— Renouncing all dharmas, take refuge in Me alone, says Krishna in the Gita. This implies that man must make it his primary aim to offer to God all external sensory, physical desires and cultivate spiritual thoughts centred on the eternal. To develop such a spiritual outlook and to inspire it in others, one must possess chitta suddhi (purity of heart). 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

Spiritual wisdom can dawn only when there is purity of heart. 


Perwujudan dari Atma ilahi! Basah adalah sifat alami dari air. Keras adalah sifat dari batu. Manis adalah sifat alami dari gula. Panas adalah kualitas dari api. Semua sifat alami ini adalah Dharma (hakikat perilaku alami) dari benda. Sedangkan bagi manusia, vancha (keinginan) adalah bersifat alami. Karena manusia ditopang oleh keinginan, maka dari itu dianggap sebagai dharma (sifat alami) bagi manusia. Dharayati iti Dharmah (Dharma adalah yang bersifat menopang). Manusia ditopang oleh keinginan maka dari itu kewajiban utama dari manusia adalah mempersembahkan semua keinginannya pada Tuhan. Hal ini berarti bahwa praktek dharma menuntut manusia untuk mempersembahkan semua keinginan duniawinya pada Tuhan dan memupuk pandangan ke dalam diri. Sarvadharman parityajya mamekam sharanam vraja – tinggalkan semua dharma, dan berlindunglah hanya pada-Ku, kata Sri Krishna di dalam Bhagavad Gita. Ini mengandung makna bahwa manusia harus menjadikan tujuan utamanya adalah mempersembahkan pada Tuhan semua indria yang mengarah keluar diri, keinginan fisik dan memupuk pemikiran spiritual yang terpusat pada yang bersifat abadi. Untuk memupuk pandangan spiritual yang seperti itu dan menginspirasi orang lain maka seseorang harus memiliki kemurnian hati (chitta suddhi). 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

Kebijaksanaan spiritual hanya dapat muncul ketika ada kemurnian di dalam hati.

Friday, February 20, 2026

Thought for the Day - 20th February 2026 (Friday)




There are many sadhakas (spiritual aspirants) who enjoy perfect calmness and equanimity while sitting in meditation or while in the Puja room before the shrine. But once they rise and come out into the open, they behave like demons. The Gita says, Satatam yoginah—Be in Yoga, always. Be immersed in love, with no trace of pride or envy. This is the highest Sadhana. At the present day, all grades and groups of people all over the world resort to violence and hatred in order to satisfy their desires and demands, bringing about fear, anxiety, panic and revolution. The gains through such tactics are not much; the gains will be greater and more lasting if the path of love, tolerance and peace is followed. Love brings people together; hatred drives them apart. You cannot be happy when you cause misery to others. God showers grace when the nine steps of bhakti (devotion) are observed. Masters or rulers can be won over by the same means—sacrifice, love, devotion, and dedication in the path of duty. When success is achieved by means of unrest and violence, it has to be preserved and prolonged only by further unrest and violence. 


- Divine Discourse, Feb 20, 1974

When there is no desire to warp the mind, Love could be true and full. 


Ada banyak sadhaka (peminat spiritual) yang menikmati ketenangan dan keseimbangan batin ketika sedang duduk meditasi atau sedang berada di ruang puja depan altar. Namun sekali mereka bangkit dan keluar, mereka justru berperilaku seperti iblis. Bhagavad Gita mengatakan, Satatam yoginah -  selalulah dalam keadaan yoga yang berarti selalu tenggelam dalam kasih, tanpa adanya jejak kesombongan atau iri hati. Hal ini adalah latihan spiritual (sadhana) yang tertinggi. Namun pada saat sekarang, semua golongan dan kelompok manusia di seluruh dunia mengambil jalan kekerasan dan kebencian untuk memuaskan keinginan dan tuntutan mereka, sehingga menyebabkan timbulnya ketakutan, kecemasan, kepanikan dan pemberontakan. Keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan cara seperti ini sangatlah kecil; keuntungan akan menjadi lebih besar dan lebih tahan lama jika jalan kasih, toleransi dan kedamaian diikuti. Kasih bersifat menyatukan manusia; sedangkan kebencian bersifat memisahkan manusia. Anda tidak bisa menjadi bahagia ketika anda menyebabkan penderitaan pada orang lain. Tuhan mencurahkan Rahmat-Nya ketika sembilan jalan bhakti diterapkan. Dan Tuhan dapat dicapai dengan sarana yang sama yaitu : pengorbanan, kasih, bhakti dan dedikasi di jalan kewajiban. Ketika kesuksesan dicapai dengan sarana kekacauan dan kekerasan, maka kesuksesan itu harus dipertahakan hanya dengan kekacauan dan kekerasan yang lebih besar lagi. 


- Divine Discourse, Feb 20, 1974

Ketika tidak ada keinginan yang membengkokkan pikiran, kasih dapat menjadi sejati dan penuh.

Thursday, February 19, 2026

Thought for the Day - 19th February 2026 (Thursday)




Daily from morning till night, you must think of the three essential things: (1) Do not forget God, (2) Do not believe in the world & (3) Do not be afraid of death. These three are essential in your life. You must forget any harm done to you by others. So also, you must forget any good you may do to others. If you keep on thinking about the harm done to you by others, you will, in return, attempt to harm them. To harm them, in return, is a sin. You should not undertake to commit such a sin. By forgetting the good that you may have done to others, you will not be expecting them to do good to you in return. If you are expecting to get something in return and do not get it, you must take birth again. Strive not to participate in transactions connected with the cycle of birth and death. Unfortunately, today, several people take to the spiritual path as if it were a business. I am hoping that you will not do that. Then, you will recognise the truth and make your lives fruitful and purposeful. 


- Summer Showers 1977, Ch 27

Millions all over the land recite the Name of God, but few have steady faith.

 

Setiap hari mulai dari pagi hari sampai malam, anda harus memikirkan tiga hal yang mendasar: (1) Jangan lupa pada Tuhan, (2) Jangan percaya pada dunia (3) Jangan takut pada kematian. Ketiga hal ini adalah bersifat mendasar dalam hidup anda. Anda harus melupakan setiap tindakan buruk yang dilakukan orang lain padamu. Begitu juga, anda harus melupakan kebaikan apapun yang anda lakukan pada orang lain. Jika anda tetap memikirkan tentang tindakan buruk yang dilakukan orang lain padamu, maka anda akan berusaha untuk membalasnya kembali. Dengan membalas keburukan kembali adalah sebuah dosa. Anda seharusnya tidak melakukan dosa seperti itu. Dengan melupakan tindakan baik yang anda lakukan pada orang lain, anda tidak akan mengharapkan balasan kebaikan dari mereka. Jika anda mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasan atas kebaikan yang telah lakukan dan anda tidak mendapatkannya, maka dari itu anda harus lahir kembali. Berusahalah untuk tidak ikut serta dalam transaksi yang terhubung dengan siklus kelahiran dan kematian. Namun sangat disayangkan, hari ini beberapa orang mengambil jalan spiritual seolah-olah itu adalah sebuah bisnis. Aku berharap bahwa anda tidak akan melakukan hal itu. Dengan demikian, anda akan menyadari kebanaran dan membuat hidup anda menjadi bermakna serta penuh tujuan. 


- Wacana Musim Panas 1977, Ch 27

Jutaan orang di seluruh negeri melantunkan nama suci Tuhan, namun hanya sedikit yang memiliki keyakinan yang teguh.

Wednesday, February 18, 2026

Thought for the Day - 18th February 2026 (Wednesday)



The very first step in the endeavour to realise Unity (Advaita) is, according to Shankaracharya, Upasana or Worship of the concrete symbol of God, which gives one the experience of the ecstasy of Union. One day, Shankaracharya was meditating on the banks of the River Ganga. Suddenly, he exclaimed, “Lord! I am Yours; but, surely, you are not mine!” His pupil, Totakacharya, was by his side and was astonished at this statement, which, according to him, went against the Advaitic stand. He asked his Guru how he could declare any distinction between I and You! Shankaracharya replied, “The waves belong to the Ocean; but, Ocean does not belong to the wave! The wave is the Ocean, but Ocean is not the wave.” The main point to be attended to is the elimination of ego, the elimination of the identification with the body and its needs, satisfiable through the senses! For you get joy when these needs are fulfilled; grief when they are not, anger when something comes in the way, pride when you win over that opposition! To eliminate ego, strengthen the belief that all objects belong to God, and that you are holding them on trust! This would prevent pride; it’s also the truth! Then, when you lose, you would not grieve. God gave; God took away! 


- Divine Discourse, Feb 20, 1974

Pray to God for God; do not use Truth to achieve Untruth. 


Langkah pertama dalam upaya untuk menyadari kesatuan (Advaita), menurut Shankaracharya, adalah melalui Upasana atau pemujaan terhadap simbol konkret Tuhan yang memberikan seseorang pengalaman kebahagiaan penyatuan. Pada suatu hari, Shankaracharya sedang meditasi di tepi sungai Ganga. Secara tiba-tiba, Shankaracharya berseru, “Tuhan! aku adalah milik-Mu; namun, tentunya Engkau bukan milik-ku!” salah seorang murid Shankaracharya yaitu Totakacharya yang sedang berada di sampingnya dan merasa heran mendengar pernyataan itu, yang mana menurutnya pernyataan itu bertentangan dengan pandangan Advaita. Totakarcharya menanyakan gurunya bagaimana mungkin ada perbedaan diantara aku dan diri-Mu! Shankaracharya menjawab, “Ombak adalah milik lautan; namun, lautan bukanlah milik dari gelombang! Gelombang adalah lautan, namun lautan bukanlah gelombang.” Poin utama yang harus diperhatikan adalah pelenyapan ego, menghilangkan identifikasi diri dengan tubuh fisik dan kebutuhan-kebutuhannya yang dipuaskan melalui indera! Anda merasakan suka cita ketika kebutuhan-kebutuhan tubuh fisik ini terpenuhi; anda merasakan kesedihan ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anda merasakan kemarahan ketika sesuatu menghalangi kebutuhan tersebut untuk terpenuhi, anda merasakan kesombongan ketika anda berhasil mengatasi halangan tersebut! Untuk melenyapkan ego, perkuatlah keyakinan bahwa semua objek adalah milik Tuhan, dan anda memegangnya sekarang sebagai titipan! Hal ini untuk mencegah kesombongan; hal ini juga adalah kebenaran! Kemudian, ketika anda kehilangan sesuatu maka anda tidak akan menderita. Tuhan yang memberi maka Tuhan juga yang akan mengambilnya kembali! 


- Divine Discourse, Feb 20, 1974

Berdoalah pada Tuhan demi Tuhan sendiri; jangan menggunakan kebenaran untuk mendapatkan ketidakbenaran.