Just as removal of weeds, tilling the land, sowing the seeds, and watering them, are required before the crop can be harvested on a plot of land, the field of the human heart has to be cleared of bad thoughts and bad feelings, watered with love, tilled by spiritual practices, and then the seeds of the divine Name needs to be sown. Only then is one entitled to reap the harvest of jnana (Divine Wisdom). Today, spiritual exercises are confined to listening to talks and not to practicing the teachings. Listening has become a kind of disease. Merely after listening, men go about bragging that they know everything. This crazy boastfulness is deepening men’s ignorance. One should ruminate over what has been heard. After rumination, one should do nidhidhyasana (put into practice the lessons). Only then there is the triple purity of thought, word, and deed. Today, people are content with mere listening to discourses. This will not lead to realisation.
- Divine Discourse, Oct 7, 1993
This is the sin of all sins - saying one thing and acting quite the opposite, denying in practice what you assert as precept.
Seperti halnya gulma harus disingkirkan, tanah harus dibajak, benih harus ditabur, dan menyiramnya, semuanya ini adalah tindakan yang harus dilakukan sebelum panen dapat diperoleh pada sebidang tanah. Sama halnya dengan bidang hati manusia harus dibersihkan dari gagasan dan perasaan buruk, menyiramnya dengan kasih, membajak dengan latihan spiritual, dan kemudian menabur benih nama suci Tuhan. Hanya dengan demikian seseorang berhak memanen kebijaksanaan Ilahi (jnana). Hari ini, latihan spiritual terbatas hanya pada mendengarkan ceramah dan tidak menjalankan ajarannya. Mendengarkan telah menjadi sebuah penyakit. Setelah mendengarkan ceramah, orang-orang keluar berjalan dengan bangga bahwa mereka mengetahui semuanya. Kesombongan yang tidak masuk akal ini justru memperdalam kebodohan manusia. Seseorang harus merenungkan apa yang telah di dengarnya. Setelah melakukan perenungan, seseorang harus menerapkan atau mempraktekkan ajaran tersebut (nidhidhyasana). Hanya dengan demikian tercapai tiga bentuk kesucian dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Hari ini, orang-orang merasa cukup hanya dengan mendengar ceramah. Hal ini tidak akan menuntun pada penyadaran diri sejati.
- Divine Discourse, Oct 7, 1993
Ini adalah dosa dari segala dosa – mengatakan sesuatu tetapi bertindak sebaliknya, menyangkal dalam praktik apa yang anda nyatakan sebagai prinsip.
No comments:
Post a Comment