Men today are misusing all their knowledge, wealth, energies and talents for purely material ends and wasting their lives. Leading a worldly life is unavoidable. But in doing so, the spiritual goal should be borne in mind. The goal is spiritual; actions are worldly. It is when actions are dedicated to spiritual ends that they become sanctified. Unfortunately, today, even spiritual practices are tainted with mundane motives. It is because of the intensely spiritual life led by kings, sages, scholars and pious men and women in ancient days that even today the spiritual heritage of Bharat has survived the vicissitudes of centuries. Men should realise their inherent divinity and live up to their true nature. If their real nature is forgotten and their behaviour is far from human, they cease to be human beings. For instance, sweetness is the basic quality of jaggery. If it loses its sweetness, it ceases to be jaggery and is just a piece of clod. Likewise, for man to be regarded as man, he has to manifest his humanness by practising Trikarana shuddhi - purity in thought, word and deed. Without this purity, man is merely a lump of clay.
- Divine Discourse, Mar 27, 1990.
Only when there is harmony between one’s words and actions, a man can achieve great things in his life.
Manusia pada hari ini menyalahgunakan semua pengetahuan, kekayaan, energi, dan talenta mereka semata-mata untuk tujuan materi dan menyia-nyiakan hidupnya. Menjalani kehidupan duniawi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Namun dalam menjalani kehidupan duniawi, tujuan spiritual harus selalu diingat. Tujuannya adalah spiritual; tindakannya adalah duniawi. Hanya ketika tindakan didedikasikan pada tujuan akhirnya adalah spiritual, barulah tindakan tersebut menjadi disucikan. Namun sangat disayangkan, bahkan praktek spiritual dinodai dengan motif duniawi. Oleh karena kehidupan spiritual yang begitu mendalam yang dijalankan oleh para raja, guru-guru suci, para cendekiawan dan mereka yang berbudi pekerti luhur di masa lampau sehingga warisan spiritual bharat tetap bertahan hingga hari ini meskipun telah melewati berbagai perubahan zaman selama berabad-abad. Manusia harusnya menyadari keilahian yang melekat di dalam diri mereka dan hidup sesuai dengan sifat sejati mereka. Jika sifat sejati itu dilupakan dan perilaku manusia jauh dari sifat sejati manusia, mereka tidak layak disebut sebagai manusia. Sebagai contoh, rasa manis adalah sifat dasar dari gula merah. Jika gula merah itu kehilangan rasa manisnya, maka gula merah itu tidak bisa disebut gula merah lagi dan hanyalah sebuah gumpalan saja. Sama halnya, agar manusia layak disebut sebagai manusia, maka ia harus mewujudkan kemanusiaannya dengan menjalankan Trikarana shuddhi – kesucian dalam pikiran, perkataan dan tindakan. Tanpa adanya kesucian ini, manusia hanyalah seperti segumpal tanah liat.
- Wacana Swami, 27 Maret 1990.
Hanya ketika terdapat keselarasan diantara perkataan dan tindakannya, maka seseorang dapat mencapai hal-hal hebat dalam hidupnya.
No comments:
Post a Comment