All experiences of pleasure and pain have their origin in the thoughts of man. Thought is like the seed of a tree, which in due course puts forth branches, leaves, flowers, and fruits. All that you see in a tree has come from a small seed. Likewise, although man’s thought is subtle, it contains potentially the entire universe. The atom is the microcosm of the Universe. You are aware of the huge size of the banyan tree. Its seed, however, is very small. The seed and the tree are essentially one. Man has to keep a watch over his thoughts because they form the basis for his actions. When his wishes are fulfilled, he is content. When they are not realised, he feels disappointed. Man does not enquire into the causes of these divergent results. His failures are the result of his own shortcomings. When his heart is pure, his actions yield beneficial results. His thoughts are the cause of the success or failure of his efforts. Hence, man must utilise his thoughts in the proper manner. His vision of the world depends on how he looks at it. “As he feels, so he becomes.” When one’s thoughts are sublime, the results are also sublime.
- Divine Discourse, 10 Mei 1992.
Desire creates a mirage where there was none before. Desire imposes beauty where there was none before; it clothes things with desirability.
Semua bentuk pengalaman kesenangan dan kepedihan bermula dari pemikiran manusia. Pemikiran itu ibarat benih pohon, yang pada waktunya akan menghasilkan cabang, dedaunan, bunga, dan buah. Semua yang engkau lihat pada pohon itu bermula dari sebuah benih yang sangat kecil. Sama halnya, walaupun pemikiran manusia bersifat halus, namun di dalamnya terkandung potensi seluruh alam semesta - seperti atom yang merupakan versi mini dari alam semesta itu sendiri. Misalnya, engkau menyadari betapa besarnya pohon beringin, namun ukuran benihnya sangat kecil; pada dasarnya, benih dan pohon adalah satu. Oleh karena itu, manusia harus mengawasi segala bentuk pemikirannya, sebab semua pemikiran itu menjadi dasar dari tindakannya. Ketika keinginannya terpenuhi, maka ia merasa senang; sebaliknya, ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi, ia merasa kecewa. Sayangnya, manusia sering tidak menyelidiki sebab dari keadaan yang berbeda ini. Kegagalan yang dialami sebenarnya adalah hasil dari kelemahan dirinya sendiri. Ketika hatinya murni, maka tindakannya menghasilkan hasil yang bermanfaat. Pemikirannya pun menjadi penyebab utama keberhasilan atau kegagalan dari usaha yang dilakukannya. Dengan demikian, manusia harus menggunakan pemikirannya dengan cara yang benar. Pandangan seseorang tentang dunia tergantung dari bagaimana ia melihatnya: “Sebagaimana ia merasa, demikianlah ia menjadi.” Ketika pemikiran seseorang luhur, hasilnya juga bersifat luhur.
- Wacana Swami, 10 Mei 1992.
Keinginan menciptakan sebuah fatamorgana yang sebelumnya tidak ada. Selain itu, keinginan meletakkan keindahan yang sebelumnya tidak ada; ia juga membungkus sesuatu dengan daya tarik.
No comments:
Post a Comment