Saturday, October 6, 2007

Thoughts for the Day - 7th October 2007 (Sunday)




The One is the basis of the many. To recognize this unity, one needs practice and effort. For weeds to grow, no effort is required on our part. But, if grain is to be harvested, the field must be ploughed, weeded, watered, applied manure and fenced. So also, to get a harvest of virtue, intense Sadhana (spiritual practice) is needed, though no such effort is necessary to contract vices. Man has to struggle hard in order to attain the higher stages of spiritual development. He has to overcome many hurdles and put up with many difficulties and disappointments.

Dasar dari keaneka-ragaman (eksistensi kehidupan) adalah satu adanya. Untuk mengenali unity tersebut, engkau perlu melaksanakan praktek dan berupaya. Rumput liar tumbuh dengan sendirinya (tidak perlu usaha). Tetapi, bila engkau hendak memanen padi, maka ladangmu haruslah terlebih dahulu di-bajak, di-siangi, di-airi, diberi pupuk dan diberi perlindungan (dipagari). Nah, demikian pula, untuk dapat memanen nilai-nilai luhur, maka diperlukan Sadhana (praktek spritual) yang intensif. Sebaliknya kita begitu mudah terjerumus dalam sifat-sifat yang jelek & buruk. Manusia harus berusaha keras agar dapat mencapai perkembangan spiritual tingkat yang lebih tinggi. Ia harus dapat mengatasi banyak rintangan dan berhadapan dengan banyak kesulitan dan kekecewaan.

-BABA

Friday, October 5, 2007

Thoughts for the Day - 6th October 2007 (Saturday)



Everyday when you sleep, where are you? Who are you? Your senses are inoperative; your intelligence is in abeyance; your mind creates a world of its own and, after playing in it for some time, it lapses into inactivity. This state of deep sleep is the nearest you reach in your journey to Samadhi. Live in the 'Atma Tathwam' (spiritual consciousness), that will ensure Shanti (peace). With the poison of Raaga (attachment) and Dwesha (hatred) inside you, how can you be pronounced healthy? If you experience the 'Atma Tathwam', you become one with Bhagawan (God) Himself.

Setiap hari ketika sedang tertidur, dimanakah engkau berada? Siapakah dirimu? Panca inderamu menjadi tidak berfungsi; intelligencemu juga non-aktif; hanya batinmu saja yang sedang bekerja dengan menciptakan dunianya sendiri dimana setelah bermain-main sebentar di dunia khayal tersebut, batinmu juga akan masuk ke dalam keadaan tanpa aktivitas. Inilah yang dinamakan sebagai kondisi deep sleep, yang merupakan kondisi terdekat yang engkau capai dalam perjalananmu menuju Samadhi. Hiduplah di dalam ‘Atma Tathwam’ (kesadaran spiritual), maka hal itu akan memberimu Shanti (kedamaian). Apabila di dalam dirimu masih terdapat racun Raaga (kemelekatan) dan Dwesha (kebencian), bagaimana mungkin engkau bisa dicap sebagai manusia sehat? Jikalau engkau sudah mengalami ‘Atma Tathwam’, maka engkau sudah menjadi satu dengan Bhagawan (Tuhan).

-BABA

Thursday, October 4, 2007

Thoughts for the Day - 5th October 2007 (Friday)




Man today fails to recognise the power of the Divine because of his selfishness and self-centredness. Only when he gets rid of the impurities encrusted in his heart, will he be able to experience Divinity. Man and God are like the iron filing and the magnet. God by His very nature attracts man to Himself, for in man there is the Divine. Often we feel that God has forsaken us and we rush to blame Him, failing to realise our own defects. When the iron filing is too thickly covered by rust and dust, can it get attracted to the magnet?

Kegagalan manusia dalam menyadari kekuatan Divine adalah disebabkan oleh karena sikapnya yang congkak dan mementingkan diri sendiri. Apabila ia sanggup untuk menyingkirkan noda-noda yang terdapat di dalam hatinya, maka ia akan sanggup untuk experience Divinity. Manusia dan Tuhan adalah ibarat batangan besi dan magnet. Salah-satu sifat Tuhan adalah menarik manusia kepada diri-Nya, sebab di dalam diri setiap umat manusia terdapat percikan Ilahi. Namun kadang kala kita merasa seolah-olah Tuhan telah melupakan kita, sehingga kita cenderung suka menyalahkan-Nya tanpa terlebih dahulu merenungkan kekurangan yang ada pada diri kita sendiri. Apabila batangan besi itu sedang tertutup oleh lapisan debu dan karat yang tebal, bagaimanakah mungkin ia bisa ditarik oleh magnet?

-BABA

Wednesday, October 3, 2007

Thoughts for the Day - 4th October 2007 (Thursday)




Whoever comes seeking service from you is the one you must attend to at that time. It is your duty to satisfy the need of that person through your service, and that will be the best work that you can do that moment. The present, when you can do something, that is the most sacred time. You do not see the future, for your eyes cannot perceive it. The past has gone and there is nothing you can do about it. Thus, the present is the best time in which you can discharge your duty and be of service to the person who comes seeking your help.

Siapapun juga yang datang kepadamu untuk meminta pertolongan, maka pastikanlah engkau menanggapinya. Adalah merupakan tugas & kewajibanmu untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan orang-orang tersebut melalui tindakan pelayananmu, dan itulah seva terbaik yang dapat engkau lakukan pada momen tersebut. Apabila engkau sanggup untuk melakukan sesuatu di saat ini, maka itulah waktu yang paling berharga. Masa depan masih tidak pasti dan berada di luar jangkauan pemahaman kita. Sedangkan masa lalu sudah lewat dan kita tidak akan bisa merubahnya. Oleh sebab itu, masa kini merupakan waktu yang terbaik dimana engkau bisa melaksanakan tugas-tugasmu serta memberikan pelayanan kepada setiap orang yang datang untuk meminta bantuanmu.

-BABA

Tuesday, October 2, 2007

Thoughts for the Day - 3rd October 2007 (Wednesday)



The mind is sometimes characterized as a snake. This is because it doesn't move straight. It delights in crooked stratagems and clever contrivances. It avoids the straight path of sincerity and veracity. But, the snake mind can be charmed into innocence. When the snake charmer plays on his instrument, the snake sways its hood entranced; so, too the mind will sway with the music that emanates from the recitation of the Name of God!

Batin (pikiran) kita kadang kala sering dianalogikan sebagai seekor ular, yang tidak suka berjalan lurus. Ia lebih memilih untuk mengadopsi tipu-daya yang berkelok-kelok serta taktik-taktik yang licik. Ia (batin/pikiran) enggan mengikuti jalan yang tulus dan jujur. Namun walaupun begitu, sang ular masih tetap bisa dijinakkan. Ketika seorang pawang ular memainkan serulingnya, maka kepala sang ular akan mengayun-ayun sambil terpesona oleh alunan musik. Demikian pula, batin/pikiran manusia akan terpesona dan dapat dijinakkan oleh alunan musik yang dihasilkan oleh praktek pengulangan nama-nama Tuhan!

-BABA

Monday, October 1, 2007

Thoughts for the Day - 2nd October 2007 (Tuesday)



We speak of the sky and the ocean as being blue in colour, but this is incorrect. Neither the sky nor the ocean are actually blue themselves. It is the vastness of space and the depth of the ocean that produces this illusion of blueness. If you take some seawater in your palm, you will see that it is actually colourless. Likewise, good and evil depend on our own thoughts and feelings.

Kita mengatakan bahwa langit dan samudera berwarna biru, padahal sebenarnya ungkapan ini tidaklah benar. Baik langit maupun lautan tidaklah berwarna biru. Yang menjadi penyebab nuansa biru adalah dikarenakan oleh ruangan maha luas di langit serta kedalaman samudera. Apabila engkau mengambil segenggam air laut di telapak tanganmu, maka engkau tidak akan melihat warna pada air tersebut. Nah, perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa kebaikan dan keburukan adalah tergantung pada pikiran dan perasaanmu sendiri.

-BABA

Thoughts for the Day - 1st October 2007



Giving up the little “I” is what renunciation really means. It means sublimating every thought, word and deed into an offering to God, saturating all acts with divine intent. To cultivate love is the best spiritual discipline. Love gives itself forever; it never asks another to give. Shower it on others and you will be showered in return. Stop sharing love and there will be no more to share. Love thrives on renunciation – indeed, they are inseparable.

Pengertian sebenarnya dari renunciation (praktek meninggalkan kehidupan duniawi) adalah praktek-praktek dimana kita bisa semakin memperkecil dominasi ‘sang aku’ (I). Dengan perkataan lain, renunciation adalah praktek sublimasi (penghalusan) setiap bentuk-bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan; dan menjadikannya sebagai persembahan kepada Tuhan. Disiplin spiritual yang terbaik adalah mengembangkan cinta-kasih; dimana cinta-kasih senantiasa memberi dan tidak pernah meminta-meminta dari orang lain. Curahkanlah cinta-kasihmu kepada orang lain, maka engkau juga akan menerima curahan cinta-kasih yang setimpal. Sebaliknya, bila engkau berhenti mencintai, maka tiada hal lain yang bisa dicurahkan kepadamu. Cinta-kasih hidup dari renunciation – kedua-duanya sungguh tidak dapat dipisahkan.

-BABA