Tuesday, October 14, 2008

Thoughts for the Day - 15th October (Wednesday)


Man has been engaged in exploring the infinite, wonderful secrets of nature in this marvellous creation in all possible ways. But, due to the vagaries of his mind, intellect and ego, man has failed to understand the true, eternal and spiritual basis underlying everything in the Universe and has lost himself in the pursuit of the external phenomenal world as if it were the only reality. In the process, he has failed to realize his own true nature and has totally perverted his mind. The simple truth that everything is permeated by the One has been lost sight of.

Melalui berbagai macam cara, manusia telah melakukan eksplorasi terhadap alam semesta yang maha luas dan luar biasa ini. Namun oleh karena sifat 'kebinalan' dari mind, intellect dan egonya, ia belum memahami landasan spiritual yang mendasari segala sesuatu yang eksis di alam semesta ini. Sebagai akibatnya, eksplorasi yang dilakukan olehnya masih hanya sebatas fenomena eksternal dan ironisnya ia menganggapnya sebagai realitas sebenarnya. Manusia masih belum juga berhasil menyadari jati dirinya yang sebenarnya. (Pada intinya, kita perlu melatih diri (mind) untuk menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan fondasi dari segala sesuatu yang termanifestasi di alam semesta ini - penterj.).
-BABA

Monday, October 13, 2008

Thoughts for the Day - 14th October 2008 (Tuesday)



It is not the nature of an aspirant to search for faults in others and hide his own. If your faults are pointed out by anyone, do not try to argue and prove that you are right. Do not bear a grudge against that person for it. Instead, reason out within yourself how you are at fault, and set right your own behaviour.

Seorang aspiran (spiritual) yang sejati tidak mungkin mencari-cari kesalahan orang lain dan sebaliknya malah menyembunyikan kesalahannya sendiri. Apabila kesalahanmu diungkapkan oleh orang lain, janganlah engkau mencoba untuk berargumentasi maupun mencoba membuktikan bahwa dirimu benar. Janganlah engkau menjadi kesal terhadap orang tersebut. Sebaliknya, cobalah untuk merenungkan sendiri jenis kesalahanmu dan mencoba untuk mengoreksinya.
-BABA

Sunday, October 12, 2008

Thoughts for the Day - 13th October 2008 (Monday)

Of what use are wealth and position if one has no peace of mind? A quiet conscience is man's most precious possession. To achieve inner peace, desires have to be subdued and all thoughts should be centred on God. Engage yourselves in service activities in a spirit of dedication. True service consists in helping the poor and the forlorn in the society with humility and dedication. This is service to the Divine. Practise the saying - "Dil me Ram, Hath me Kaam." (Serve with your hands having installed God in the heart). Do not hanker after power and pelf.


Apalah gunanya memiliki kekayaan dan kedudukan tinggi jikalau engkau tak memiliki batin yang damai? Hati yang tenang dan tenteram adalah harta milik manusia yang paling berharga. Untuk memperolehnya, maka terlebih dahulu engkau harus bisa mengendalikan keinginan serta gejolak pikiranmu. Pusatkanlah perhatianmu kepada Tuhan dan libatkanlah dirimu dalam aktivitas-aktivitas pelayanan disertai oleh semangat dedikasi. Adapun bentuk pelayanan sejati diantaranya adalah - secara rendah hati dan penuh dedikasi - memberikan pertolongan /bantuan bagi mereka yang miskin dan melarat. Inilah pelayanan kepada Divine. Praktekkanlah slogan - “Dil me Ram, Hath me Kaam.” (Berikanlah pelayanan sembari mengingat Tuhan di dalam hatimu). Janganlah hanya mengejar kedudukan dan kekayaan.

-BABA




Saturday, October 11, 2008

Thoughts for the Day - 12th October 2008 (Sunday)


The essence of Bhakti (devotion) as well as Jnana (wisdom) is Prasanthi, supreme and unruffled peace. As the sky's clear blue is not affected by the clouds or rainstorms, lightning or thunder, but, remains the same in spite of these temporary disturbances, the mind of man too must be clear and calm, in spite of all the storms and stress of life.


Dasar utama Bhakti (devotion) dan Jnana (kebijaksanaan) adalah Prasanthi, yaitu kedamaian yang tertinggi. Seperti halnya langit biru yang sama sekali tidak terpengaruh oleh gumpalan awan, hujan badai, kilat maupun guntur; maka demikian pula seharusnya dengan batinmu. Jagalah agar mind tetap jernih dan tenang walaupun engkau menjalani kehidupan yang penuh dengan dinamika (stress).

-BABA

Friday, October 10, 2008

Thoughts for the Day - 11th October 2008 (Saturday)


Man can achieve Shanti (peace) only through Love. Shanti is the fruit of the tree of life without which the tree is but a barren stump; it has no value or validity. The fruit is encased in a bitter skin so that the sweet juice may be preserved and guarded against marauders. One has to remove the skin before tasting the sweetness within. The thick rind is symbolic of the six evil qualities that enshroud the loving heart of man: lust, anger, greed, attachment, pride and hate. Those who can remove the rind and experience the sweetness within through rigorous and consistent discipline, attain everlasting peace that everyone aspires for.

Shanti (kedamaian) hanya bisa tercapai melalui cinta-kasih. Shanti adalah bagaikan buah pohon kehidupan. Kehidupan tanpa rasa damai adalah bagikan sebatang pohon kering yang tak ada nilainya. Buah-buahan memiliki kulit yang pahit agar sari buah manis yang ada di dalamnya tetap terpelihara dan terlindungi dari serangan hama/serangga. Untuk mencicipi manisnya sari buah itu, maka terlebih dahulu engkau harus mengupas kulitnya. Selanjutnya (pada buah-buah tertentu) juga terdapat lapisan tebal yang menyelimuti sari di bagian dalamnya; dimana lapisan ini merupakan representasi dari keenam sifat jelek yang membungkusi hati manusia, yakni: nafsu, kemarahan, keserakahan, kemelekatan, kesombongan dan kebencian. Melalui disiplin yang ketat dan konsisten, engkau akan mampu untuk menyingkirkan kualitas negatif itu dan akhirnya berhasil merasakan manisnya sari buah yang manis (tercapailah kedamaian abadi yang merupakan aspirasi setiap insan).
-BABA

Thursday, October 9, 2008

Thoughts for the Day - 10th October 2008 (Friday)


Joy in times of good fortune and sorrow in times of bad, mistaking the pain of the body and senses as one's own, such a dualistic attitude and feeling must be overcome. Gradually, the identification with the body has to be given up. This is the very foundation of Jnana Yoga (path of wisdom).

Perasaan senang pada saat sedang menikmati keberuntungan dan sebaliknya perasaan sedih di kala sedang dirundung kemalangan. Sikap dan perasaan dualistik yang menganggap rasa senang dan sedih itu sebagai hal yang realistik (nyata/milikmu) haruslah bisa engkau atasi. Secara perlahan-lahan, identifikasi terhadap badan jasmani ini akan kita tinggalkan. Sebab inilah landasan utama bagi Jnana Yoga (jalan spiritual yang berazaskan kebijaksanaan).
-BABA

Wednesday, October 8, 2008

Thoughts for the Day - 9th October 2008 (Thursday)


Bharatiyas have been celebrating the Navarathri festival from ancient times as a mode of worship of Devi, the Divine as mother. They worship the goddesses Durga, Lakshmi, and Saraswati during these nine days. The significance of Durga, Lakshmi, and Saraswati has to be rightly understood. The three goddesses represent the three kinds of potencies in man: Ichchaa Shakti (will power), Kriya Shakti (the power of purposeful action), and Jnana Shakti (the power of discernment). Saraswati is manifest in man as Vaak (the power of speech). Durga is present in the form of energy and dynamism. Lakshmi is manifest in the form of will power. The body indicates purposeful action - Kriya Shakti. The mind is the repository of will power - Ichchaa Shakti. The Atma is the power of discernment - Jnana Shakti.


Bharatiyas telah merayakan festival Navarathri dari sejak zaman dahulu sebagai salah satu bentuk ibadah terhadap Dewi, the Divine mother. Mereka menghormati dewi Durga, Lakshmi dan Saraswati selama sembilan hari. Engkau harus memiliki pemahaman yang benar tentang Dewi Durga, Lakshmi dan Saraswati. Ketiga dewi tersebut merupakan representasi dari ketiga jenis potensi yang ada di dalam diri manusia, yaitu: Ichchaa Shakti (will power/kekuatan kehendak), Kriya Shakti (kekuatan perbuatan bajik), dan Jnana Shakti (kekuatan pemahaman). Saraswati termanifestasikan di dalam diri manusia sebagai Vaak (kekuatan ucapan/power of speech). Durga dalam wujud sebagai energi dan dinamika, sedangkan Lakshmi termanifestasi sebagai kekuatan kehendak (will power). Badan fisik/badan jasmani ini merupakan representasi Kriya Shakti, mind (batin) merupakan tempat terdapatnya will power (Ichchaa Shakti) sedangkan Jnana Shakti mewakili kekuatan pemahaman (Jnana Shakti).

-BABA