Tuesday, March 10, 2009

Thought for the Day - 10th March 2009 (Tuesday)


Every man should so lead his life that no pain is caused by him to any living being. You must carefully consider the consequences of your speech and action. In whichever way you want others to love and respect you, in the same way you should first love and respect them. Only then will others reciprocate your love and respect. If instead, without loving and respecting others you complain that others are not treating you well, it is a wrong conclusion.


Setiap orang harus menjalani hidupnya sedemikian rupa sehingga tidak menyakiti makhluk lain. Engkau harus berhati-hati mempertimbangkan akibat dari ucapan dan tindakanmu. Sebagaimana engkau ingin orang lain mencintai dan menghormatimu, dengan cara itu pula engkau pertama-tama harus mengasihi dan menghormati mereka. Baru setelah itu orang lain mengasihi dan menghormatimu. Jika itu tidak dilakukan, maka engkau mengeluh bahwa orang lain tidak memperlakukanmu dengan baik, ini adalah salah satu kesimpulan yang salah.

-BABA

Thought for the Day - 9th March 2009 (Monday)


We are unable to comprehend the Atma (spirit) directly. We believe in the existence of the Atma on the strength of the statements made by the great sages who have had the experience of it and who have conveyed it through their teachings. When the Divine is described as One without attributes, eternal, pure, free and self-effulgent, this description will not make the Brahman (God) visible to us. It is only when the state of Brahman is realised by us that its existence is validated to us.


Kita tidak mampu memahami Atma secara langsung. Kita mempercayai keberadaan Atma yang dikuatkan dengan pernyataan para orang suci yang memiliki pengalaman tentang itu dan telah menyampaikannya melalui ajaran-ajaran mereka. Ketika Ketuhanan digambarkan sebagai Yang Tunggal tanpa atribut, abadi, murni, bebas dan bercahaya, penjelasan ini tidak akan membuat Brahman (Tuhan) terlihat oleh kita. Keberadaan Brahman bisa diakui, hanya ketika Brahman itu kita sadari keberadaannya.

-BABA

Thought for the Day - 8th March 2009 (Sunday)


We generally consider Pratyaksha Pramaana (proof of direct perception) as the most important type of evidence. We are able to see our body. Thus we know that it exists. Anumaana or inference is another form of proof. We see smoke on the top of a distant hill. We infer from the smoke that there must be a fire on that hill. Although we see only the smoke, we infer that there is fire. To infer the existence of the 'unseen' from the presence of what is 'seen' is Anumaana Pramaana (inferential proof). But, these methods of determining facts are applicable only to the external universe. For determining the Divine Principle, we must depend only on the Shabdha Pramaana (proof of the words) of the Vedas.


Kita biasanya mempertimbangkan Pratyaksha Pramaana (bukti pandangan langsung) sebagai jenis pembuktian yang paling penting. Kita mampu melihat tubuh kita. Dengan demikian kita tahu bahwa tubuh itu ada. Anumaana atau dugaan adalah bentuk pembuktian yang lain. Kita melihat asap di atas suatu bukit yang jauh. Kita menyimpulkan dari asap tersebut bahwa pasti ada api di bukit itu. Meski kita hanya melihat asap, kita menyimpulkan bahwa disana ada api. Untuk menyimpulkan keberadaan “sesuatu yang tidak terlihat” dari sesuatu yang “terlihat” adalah Anumaana Pramana (bukti yang dapat disimpulkan). Namun, cara-cara menentukan fakta seperti ini hanya berlaku untuk alam semesta yang kasat mata. Untuk menentukan Prinsip Ketuhanan, kita harus bergantung hanya pada Shabdha Pramaana (bukti sabda) dari Veda.

-BABA

Saturday, March 7, 2009

Thought for the Day - 7th March 2009 (Saturday)


Every person is likely to commit mistakes without being aware of it. However bright the fire, black smoke is bound to emanate from it. So also, whatever good deeds a man may perform, there will be mixed with it, a trace of evil. Efforts should be made to minimise the evil so that the good is progressively more.

Setiap orang mungkin melakukan kesalahan tanpa disadarinya. Meski bagaimanapun terangnya api, asap pasti akan muncul darinya. Demikian pula, perbuatan baik apapun yang dapat dilakukan manusia, akan tercampur suatu jejak keburukan di dalamnya,. Upaya-upaya yang dilakukan seharusnya mengurangi keburukan sehingga yang baik menjadi semakin baik.

-BABA

Friday, March 6, 2009

Thought for the Day - 6th March 2009 (Friday)


Dharma and Jnana (right conduct and spiritual wisdom) are two eyes given to man to discover his Divinity. Dharma indicates the right path which every individual, group or society should follow. Dharma destroys the one who violates it, and protects the one who protects it. The scriptures have declared, "Where there is Dharma, there is Victory". There is no Dharma greater than Truth. The edifice of Dharma is erected on the foundation of Truth. Nyaya (justice) is an essential attribute of Dharma. An individual, society or nation shines with glory only when justice is adhered to. Just as one acquires wealth by the pursuit of one's profession, one must acquire merit and Divine Grace by adhering to Neethi (morality) and Dharma.


Dharma dan Jnana adalah dua mata yang diberikan kepada manusia untuk mengetahui keilahian-Nya. Dharma menunjukkan jalan yang harus diikuti oleh setiap individu, kelompok atau masyarakat. Dharma menghancurkan orang yang melawannya, dan melindungi orang yang melindungi Dharma. Kitab suci telah menyatakan, “Dimana ada Dharma, disana ada Kemenangan”. Tidak ada Dharma yang lebih besar daripada kebenaran. Dharma adalah bangunan besar yang berdiri kokoh diatas dasar kebenaran. Nyaya (keadilan) adalah atribut penting dari Dharma. Individu, masyarakat atau bangsa akan bersinar dengan kemuliaannya hanya bila keadilan dipertahankan. Kekayaan dan rahmat Tuhan akan dapat diraih hanya dengan jalan mengerjakan satu profesi dengan baik dan berpegang pada Neethi (moral) dan Dharma

-BABA