Monday, April 20, 2009

Thought for the Day - 20th April 2009 (Monday)


All the myriad differences that one sees in the world are only varying manifestations of the one basic entity - Brahman (Godhead). A man who seeks to enjoy the fruit of a tree cannot be content with nourishing only the flowers. He has also to nourish the roots, the trunk, the branches, the leaves and the flowers. Likewise, the man who seeks the highest Jnana (wisdom) has to nourish the body, the senses and the feelings appropriately. God is the eternal Reality, without birth, growth or death, without a beginning or an end, and who is immutable. It is only bodies that are subject to change. The immutable Divine has to be experienced by making use of the body that is mutable.

Segala ribuan perbedaan yang manusua lihat di dunia hanyalah beragam manifestasi dari satu dasar kesatuan – Brahman (Ketuhanan).  Seseorang yang  mencari nikmatnya buah di pohon tidak bisa puas dengan hanya memelihara bunganya. Dia juga harus memelihara akarnya, batangnya, cabangnya, daunnya dan bunganya. Demikian juga seseorang yang mencari Jnana (kebijaksanaan) tertinggi harus memelihara badan, indera dan perasaan dengan benar. Tuhan adalah kenyataan abadi, tanpa kelahiran, pertumbuhan atau kematian, tanpa awal ataupun akhir dan yang tidak berubah. Hanya badanlah  yang berubah. Ketuhanan yang tidak berubah harus disadari dengan menggunakan badan yang dapat berubah.

-BABA

Sunday, April 19, 2009

Thought for the Day - 19th April 2009 (Sunday)


The sages of India sought to know that knowledge which when gained, everything else becomes known. The expression of that discovery in practical life is Love; for, it is Love that creates, sustains and envelops all. Without Love, no one can claim to have succeeded in comprehending God and His handiwork, the Universe. God is Love, live in Love - that is the teaching of the sages. The heart has to be prepared by means of Namasmarana (constant repeating of the Name). This constitutes a Yoga in itself, 'Chittha shuddhi yoga', the path of Consciousness-cleansing." Charge every second of your time with the powerful Divine current that radiates from the Name.

Para orang bijaksana India telah mencari tahu pengetahuan itu yang mana ketika diperoleh, segala sesuatu yang lainnya menjadi diketahui. Ungkapan penemuan itu dalam kehidupan nyata  adalah Cinta Kasih, karena, Cinta Kasihlah yang menciptakan, mendukung dan meliputi segalanya. Tanpa Cinta Kasih, tidak seorang pun dapat menyatakan telah berhasil dalam memahami Tuhan dan pekerjaan tangan-Nya, alam semesta. Tuhan adalah Cinta Kasih, hiduplah dalam Cinta Kasih – ini adalah ajaran dari orang-orang bijaksana. Hati harus dipersiapkan sebagai alat Namasmarana (pengulangan nama Tuhan).  Hal ini merupakan Yoga dalam diri, ‘Chittha shuddhi yoga’, jalan pemurnian kesadaran. Isilah setiap detik waktumu dengan aliran kekuatan ketuhanan yang terpancar dari Nama-Nya.

 -BABA

Saturday, April 18, 2009

Thought for the Day - 18th April 2009 (Saturday)


The awareness of Swaswaroopa (one's real nature) is true knowledge and devotion is the means to achieve this knowledge. The light of the sun is reflected by the moon. While the light from the sun is warm and bright, when the same light is radiated by the moon, it is cool and soothing. The same light is present in the sun and the moon; the principle that illumines both the sun and the moon is the Spirit (Atma-tatwa). The sun's light has been compared to Jnana (wisdom) and the moon's light to Bhakti (devotion). Jnana is effulgent, while Bhakti is blissful. Thus Bhakti and Jnana are the means to the same end.

Kesadaran dari Swaswaroopa (sifat manusia sejati) adalah pengetahuan sejati dan bhakti adalah cara untuk mencapai pengetahuan ini. Cahaya matahari dipantulkan oleh bulan. Walaupun cahaya dari matahari hangat dan terang, ketika cahaya yang sama dipancarkan oleh bulan, cahaya itu menjadi dingin dan menyejukkan. Cahaya yang berada pada matahari dan bulan sama; sumber yang menerangi kedua-duanya adalah Spirit (Atma-tatwa). Cahaya matahari diibaratkan dengan Jnana (kebijaksanaan) dan  cahaya bulan dengan Bhakti. Jnana bersinar cemerlang, saat Bhakti berbahagia. Dengan demikian, Bhakti dan Jnana merupakan alat untuk tujuan yang sama.

 

-BABA

Friday, April 17, 2009

Thought for the Day - 17th April 2009 (Friday)


While the Divine is thus all-pervasive, the ability to recognise this truth is not present in all. The fact is well known that fire is latent in wood. But on that basis, if one attempts to cook rice in a vessel, placing it on a lorry load of unlit wood, can the rice be cooked? Fire has two states - the inner and the outer. The fire that is invisible and latent is inner fire. This fire, though it is present, cannot burn anything. The external fire manifests its true form and can burn anything and reduce it to ashes. Likewise, the power to experience the omnipresent Divine and envision it internally is possessed by each one, while only some have the capacity to demonstrate it externally.

Walaupun Ketuhanan itu meliputi segalanya, kemampuan untuk menyadari kebenaran ini tidak ada dalam setiap orang. Faktanya diketahui bahwa api tersembunyi di dalam kayu. Tetapi, jika seseorang berusaha memasak beras dalam suatu wadah, menempatkannya pada sebuah truk yang memuat kayu, dapatkah beras itu dimasak? Api mempunyai dua bentuk – bagian dalam (tersembunyi) dan bagian luar (terlihat). Api yang tidak dapat dilihat dan tersembunyi disebut api bagian dalam. Api ini, walaupun ada, tidak dapat membakar apapun. Api yang eksternal (bagian luar) memiliki bentuk nyata dan dapat membakar apapun dan mengubahnya menjadi abu. Demikian pula, kemampuan untuk mengalami sifat Tuhan yang ada dimana-mana dan menggambarkannya secara internal  dimiliki oleh masing-masing orang, walaupun hanya beberapa orang yang mempunyai kemampuan untuk menunjukkannya secara eksternal.

 

-BABA

Thursday, April 16, 2009

Thought for the Day - 16th April 2009


It is the nature of a magnet to attract iron. But, if the iron is covered with rust, it will be unable to get attracted by that magnetic power. In man, greed for sensual pleasure is one of the causes for this harmful 'rust' to accumulate. Hence, care has to be taken to ensure that the rust never forms. Then, the iron piece called man, by contact with the magnet called God takes on the divine magnetic quality and attains the object of its quest. The rust of sensual greed can be kept at bay by keeping good company, and putting into practice the axioms of good conduct that one can imbibe from such sacred company.

Merupakan sifat dari magnet untuk menarik besi. Tetapi, jika besi tersebut ditutupi oleh karat, ia tidak akan mampu menarik daya magnetis itu. Pada manusia, ketamakan untuk kesenangan sensual adalah salah satu penyebab berbahaya ‘karat’ bertambah jumlahnya sedikit demi sedikit. Karenanya, perhatian harus diambil untuk memastikan bahwa karat itu tidak pernah terbentuk. Jadi, besi dianggap manusia, magnetnya adalah Tuhan yang membawa sifat magnetis Ketuhanan dan mencapai objek dari pencarian. Karat dari ketamakan sensual dapat dikendalikan dengan mencari pergaulan yang baik, dan mempraktekkan prinsip-prinsip kebajikan, yang dapat diserap dari pergaulan dengan orang suci.

 

-BABA

Wednesday, April 15, 2009

Thought for the Day - 15th April 2009 (Wednesday)


You should not spend your time in idleness, saying to yourself that the Lord will come to your help when the need arises. You must rise and work. God helps those who help themselves, and He will help no other. Do the work that has fallen to your lot, and do it sincerely and efficiently.

Engkau seharusnya tidak menghabiskan waktumu dalam kemalasan, mengatakan pada dirimu bahwa Tuhan akan datang untuk membantumu jika diperlukan. Engkau harus bangkit dan bekerja.Tuhan membantu orang-orang yang membantu diri mereka sendiri, dan Beliau akan membantu bukan yang lainnya. Lakukan pekerjaan sesuai dengan tugasmu, dan lakukan itu dengan efisien dan tulus.

 

-BABA

Tuesday, April 14, 2009

Thought for the Day - 14th April 2009 (Tuesday)


Every man aspires for happiness and wants to avoid sorrow. But in this world, truth and untruth, righteousness and unrighteousness, joy and sorrow pass and change with time. Man should have faith in the ultimate principle out of which both good and evil arise. True man is the one who treats pain and pleasure equally. You should trust the Divine and experience His love in your hearts. In this world, the gain from sorrow is more than that out of happiness. The saints and sages of yore, who have become immortal in history, aspired for hardships rather than happiness. The joy that arises out of overcoming hardships is more lasting than that gained from happiness. Hence, we should not be averse to sorrow nor should we look for happiness alone.

 

Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan menghindari kesedihan. Tetapi di dunia ini, kebenaran dan ketidakbenaran, kebajikan dan kejahatan, kebahagiaan dan kesedihan berlalu dan berubah seiring waktu. Manusia seharusnya mempunyai keyakinan yang paling prinsip darimana kebaikan dan kejahatan muncul. Manusia sejati adalah seseorang yang memperlakukan kesedihan dan kegembiraan dengan sama. Engkau seharusnya percaya kepada pengalaman Ketuhanan dan kasih-Nya dalam hatimu. Di dunia ini, yang memperoleh kesedihan lebih banyak daripada yang mendapatkan kebahagiaan. Orang-orang suci dan orang-orang bijaksana jaman dulu, yang telah menjadi abadi dalam sejarah, lebih banyak mengalami penderitaan dibandingkan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang timbul dari mengatasi penderitaan lebih kekal daripada yang didapat dari kebahagiaan. Karenanya, kita seharusnya tidak menolak kesedihan begitu juga kebahagiaan.

-BABA