Thursday, May 7, 2009

Thought for the Day - 7th May 2009 (Thursday)


Love God and you see God in every creature. Another way is to start with those around you, and then widen the circle of love till it envelops all creation. Let the mind dwell ever on God; let it see everything as Divine. That is what is described as one-pointedness. When the mind is so fixed, it will give up its tendency to search for faults and foibles in others; it will not run after the foul and the frivolous and it will not accumulate the trivial and the transient. The body is like the container of the torch, the senses, the bulb and the mind is the battery. But if you use your intellect as the switch, then, the mind will not be turned towards the undesirable. It will be used only to help the individual's progress towards his/her Divine destiny.

Cintai Tuhan dan engkau akan melihat Tuhan dalam setiap mahluk hidup. Cara yang dapat dilakukan adalah mulai dengan orang-orang disekitarmu, dan kemudian memperluas lingkaran kasih ini sehingga meliputi semua ciptaan. Biarkan pikiran selalu pada Tuhan; biarkan melihat semuanya sebagai Ketuhanan (Sang Illahi). Hal itu digambarkan sebagai seseorang yang memiliki tujuan yang jelas. Ketika pikiran sudah tidak mudah tergoyahkan, hal itu akan menghentikan kecenderungan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan yang lainnya; tidak akan mencari hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak berguna dan tidak akan menumpuk hal-hal yang tidak penting dan sementara. Tubuh bagaikan tempat penyimpanan dari cahaya, indera, dimana bohlam dan pikiran adalah baterainya. Tetapi jika engkau menggunakan akalmu seperti saklar, pikiran tidak akan diputar kearah yang tidak diinginkan. Ia hanya akan digunakan untuk membantu kemajuan setiap individu kearah Ketuhanan-nya.

 

-BABA

Wednesday, May 6, 2009

Thought for the Day - 6th May 2009 (Wednesday)


At this critical hour in the history of the world, when the demoniac forces of fear and anxiety, injustice and inequity are raging in wild fury, it is the duty of every human being to be equipped with spiritual strength so that he may not be overwhelmed by the storm. This is an urgent and essential task and I must say that the women of India have a contribution to render service and a role to play. They must bring God into the hearts of the child and help it to keep Him there. For, Faith in God is the tonic that men needs to get back health and happiness.

Saat ini merupakan hari yang penting dalam sejarah dunia, ketika kekuatan buruk yang disebabkan oleh ketakutan, kegelisahan, ketidakadilan dan kecurangan sedang merajalela dengan dahsyatnya, dan setiap manusia dibekali kekuatan spiritual sehingga memungkinkan ia untuk tidak tenggelam oleh badai tersebut. Ini adalah tugas penting dan mendesak dan Aku harus mengatakan bahwa wanita-wanita India mempunyai kontribusi untuk memberikan pelayanan dan memainkan perannya dalam hal (spirtual) tersebut . Mereka harus membawa Tuhan ke dalam hati anak-anak dan membantunya untuk menjaga-Nya disana. Karena, keyakinan pada Tuhan adalah obat yang menjadikan manusia  mendapatkan kembali kesehatan dan kebahagiaannya.

-BABA

Tuesday, May 5, 2009

Thought for the Day - 5th April 2009 (Tuesday)


It is only by the cultivation of detachment, by denying the senses the thrills they thirst for, and by diving into the depths of one's being with the firm belief that there is an immense inner realm that rewards exploration, that one can capture the bliss of the supreme tranquility. This is the highest morality, for, when this is done, man is saturated with love and has no trace of malice, hate, greed or lust left in him. Man's vision is purified by the ideal of the unity of all in One and the proliferation of One as all.

Hanya dengan menanamkan tanpa keterikatan, dengan menyangkal kesenangan-kesenangan yang diinginkan indera, dan dengan menyelam ke dalam batin dengan keyakinan yang kuat akan adanya  kerajaan batin yang luar biasa sebagai hasil penyelidikan, manusia mampu meraih kebahagiaan dari ketenangan yang agung. Ini adalah moralitas tertinggi , karena ketika ini dilakukan, manusia diliputi kasih dan tidak memiliki jejak kebencian, dengki, iri hati atau nafsu yang tertinggal dalam dirinya. Pandangan manusia dimurnikan dengan teladan kesatuan semua dalam satu dan berkembang menjadi satu sebagai semua.

-BABA

Monday, May 4, 2009

Thought for the Day - 4th May 2009 (Monday)


To attain the attitude of surrender, of dedication, you must have Faith in God. This world is His play; it is not an empty dream; it has its own purpose and use. It is the means by which one can discover God; see Him in the beauty, the grandeur, the order, the majesty of Nature. These are but shadows of His Glory and His Splendour. Upasana (adoration of God), leads to the knowledge that He is all; when you experience that there is no Second, that is Jnana (Spiritual Wisdom)!

Untuk mencapai sikap penyerahan, didasari oleh bhakti, engkau harus memiliki keyakinan pada Tuhan. Dunia ini adalah permainan-Nya; hal ini bukanlah suatu mimpi yang kosong; hal ini memiliki tujuan dan penggunaannya sendiri. Ini merupakan salah satu cara yang dapat menemukan Tuhan, melihat-Nya dalam keindahan, kemegahan, keteraturan, keagungan. Ini tidak lain merupakan bayangan-bayangan dari Kemuliaan-Nya dan Kecemerlangan-Nya. Upasana (pemujaan terhadap Tuhan), mengarah pada pengetahuan bahwa Beliau (Tuhan) adalah segalanya; ketika engkau mengalami bahwa tidak ada yang Kedua, ini adalah Jnana (Kebijaksanaan Spiritual)

 

-BABA

Thought for the Day - 3rd May 2009 (Sunday)


Do not serve for the sake of rewards, attracting attention, or earning gratitude, or from a sense of pride at your own superiority in skill, wealth, status or authority. Serve because you are urged by love. When you succeed, ascribe the success to the Grace of God, who inspired you as the Love principle within you. When you fail, ascribe the failure to your own inadequacy, insincerity or ignorance. Examine the springs of action, disinfect them from all traces of ego. Do not blame the recipient of the Seva (service), or your collaborators and co-workers, or God.

Jangan melayani demi pahala, menarik perhatian, atau demi mendapatkan terima kasih, atau dari rasa bangga atas keunggulanmu sendiri dalam keahlian, kekayaan, status atau kekuasaan. Layanilah karena dorongan kasih. Ketika engkau mengalami kesuksesan, anggaplah kesuksesan itu berasal dari rahmat Tuhan, yang telah menginspirasimu seperti prinsip Kasih yang ada dalam dirimu. Ketika engkau mengalami kegagalan, anggaplah kegagalan itu berasal dari kekuranganmu sendiri, ketidaktulusan atau ketidaktahuan. Mempelajari munculnya tindakan, basmi hal tersebut dari semua jejak ego. Jangan menyalahkan penerima seva, atau orang yang bekerja sama denganmu dan rekan kerja, atau Tuhan.

 

-BABA

Saturday, May 2, 2009

Thought for the Day - 2nd May 2009 (Saturday)


Man's foremost duty is to make right use of the time through the bodily vesture given to him. Man is bound by actions in this phenomenal world. While the Divine is all-pervasive, man fails to recognise it. He is unable to see the light that is within him. The Reality which you seek everywhere in the outside world is within you. Man today looks only at the outside world; this is an animal quality. To look inward is the mark of the true human being. Obsessed with the external and ignoring his inner vision, man has forfeited his power of discrimination.

Tugas utama seorang manusia adalah memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya melalui organ-organ tubuh yang telah diberikan kepadanya. Walaupun Ketuhanan itu meliputi segalanya, manusia tidak menyadarinya. Manusia tidak mampu untuk melihat cahaya yang ada di dalam dirinya. Kebenaran yang engkau cari dimana-mana di dalam dunia luar itu ada dalam dirimu. Saat ini manusia cenderung hanya melihat ke dunia eksternal saja; yang mana ini merupakan kualitas hewaniah. Melihat ke dalam atau introspeksi diri adalah pertanda kualitas manusia sejati. Mereka yang terobsesi dengan dunia eksternal dan sebaliknya malah mengabaikan perenungan terhadap dirinya sendiri, maka itu adalah pertanda bahwa yang bersangkutan telah menyia-nyiakan kemampuan diskriminatifnya.

-BABA

Friday, May 1, 2009

Thought for the Day - 1st May 2009 (Friday)


Life is a long pilgrimage along the rough and torturous road of this world. But, with the Name of God on his lips, the pilgrim will know no thirst; with the Form of God in his heart, he will feel no exhaustion. The company of the holy will inspire him to travel in hope and faith. The assurance that God is ever near will lend strength to his limbs. Remember that with every step, you are nearing God; and God too, takes ten steps towards you when you take one step towards Him. This journey does not have any halts; it is one continuous journey, through tears and smiles, through birth and death. When the road ends, and the Goal is attained, the pilgrim finds that he has travelled only from himself to himself, that the God he sought was all the while in him, around him, with him, and beside him! He himself was always Divine.

Hidup adalah suatu pengembaraan yang panjang dan jalan yang penuh tantangan dari dunia ini. Namun, dengan mengucapkan Nama Tuhan, peziarah itu akan mengalaminya tanpa dahaga; dengan Bentuk Tuhan dalam hatinya, ia tidak akan merasa kelelahan. Pergaulan dengan orang suci akan menginspirasinya dalam perjalanan dengan harapan dan keyakinan. Dengan jaminan bahwa Tuhan selalu dekat akan menambah kekuatannya. Ingatlah bahwa dalam setiap langkah, engkau sedang mendekati Tuhan, dan Tuhan juga mengambil sepuluh langkah ke arahmu ketika engkau mengambil satu langkah menuju-Nya. Perjalanan ini tidak mempunyai pemberhentian, ini adalah suatu perjalanan yang berkelanjutan, melalui air mata dan senyuman, melalui kelahiran dan kematian. Ketika perjalanan berakhir, dan tujuan itu tercapai, peziarah menemukan bahwa ia telah melakukan perjalanan dari dirinya hanya untuk dirinya sendiri, bahwa Tuhan yang telah ia cari terus-menerus ada pada dirinya, disekitarnya, dengannya, dan disampingnya. Pada hakekatnya ia sendiri adalah Divine (Sang Illahi).

 

-BABA