Thursday, May 14, 2009

Thought for the Day - 14th May 2009 (Thursday)


The mansion called life must be built on strong foundations, the pursuit of artha (wealth) and kama (fulfillment of desires) must be regulated by the yardstick of Dharma. Dharma fosters those who foster it. The strongest foundation is ever-present Faith in the Almighty. Some may ask, "If He is Almighty, why then is he not patent?" Well, He reveals Himself only to the person who has the yearning, not the one who puts questions out of impudence or ignorance. He will be patent only in the pure heart that is not clouded by egoism or attachment to worldly objects.
 
Rumah besar yang disebut kehidupan harus dibangun dengan pondasi yang kuat, pencarian artha (kekayaan) dan kama (pemenuhan keinginan) harus diatur sesuai dengan ketentuan Dharma. Dharma membantu perkembangan mereka yang membantu perkembangannya. Pondasi yang paling kuat adalah Keyakinan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Beberapa orang mungkin bertanya,”Jika Beliau Maha Kuasa, mengapa Beliau tidak nyata?’ Beliau menampakkan diri-Nya hanya untuk orang-orang yang mempunyai kerinduan, dan bukan terhadap mereka yang - oleh karena kebodohan batinnya - masih bersikap ragu-ragu. Beliau akan nyata hanya dalam hati yang murni yang tidak ditutupi oleh keakuan atau keterikatan akan objek-objek duniawi.
 
-BABA

Wednesday, May 13, 2009

Thought for the Day - 13th May 2009 (Wednesday)


You have no need to run about in search of God, for, you are yourself God. God resides in your heart. He is the All-pervasive motive force. Have firm faith in this truth. Like fire in the matchstick, divinity is latent in man. The fire in the stick becomes manifest when it is struck against the side of the box. So too, when the Jivi (individual) Deva (God), the flame of Jnana (Wisdom) shines brilliantly.

Engkau tidak perlu melakukan pencarian Tuhan kemana-mana, sebab, engkau sendiri adalah Tuhan. Tuhan berada dalam hatimu. Beliau adalah kekuatan yang meresapi segalanya. Milikilah keyakinan yang kuat dalam kebenaran ini. Seperti api dalam batang korek api,  Ketuhanan terpendam pada manusia. Api  di dalam batang korek api menunjukkan sifatnya ketika batang tersebut tergores pada tepi dari kotak korek api tersebut. Demikian pula, ketika Jivi (individu) bersentuhan dengan Dewa (Tuhan), nyala api dari Jnana (kebijaksanaan) bersinar dengan cemerlang.

 

-BABA

Tuesday, May 12, 2009

Thought for the Day - 12th May 2009 (Tuesday)


In the Bhagavad Gita, Lord Krishna calls upon Arjuna to regard himself as an instrument of the Divine. Every human being is indeed an instrument of God. As such, he should carry out his duties, leaving the results to God. Men have to do their duties; success or failure is determined by the Divine. Do not esteem yourself as the doer. Develop the conviction that the Indwelling Spirit in you is directing you and enabling you to act.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna mengatakan kepada Arjuna untuk menganggap dirinya sebagai instrument dari Tuhan. Setiap manusia merupakan instrument dari Tuhan. Karena itu, dia seharusnya menyelesaikan tugas-tugasnya, menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Manusia harus melaksanakan tugas-tugasnya; keberhasilan atau kegagalan ditentukan oleh Tuhan. Jangan menganggap dirimu sebagai pelaku. Kembangkanlah keyakinan bahwa Atma yang berada dalam dirimu mengarahkanmu dan memungkinkanmu untuk bertindak.

 

-BABA

Monday, May 11, 2009

Thought for the Day - 11th May 2009 (Monday)


Morality does not merely mean the observance of certain rules in the work-a-day world. Morality means adherence to the straight and sacred path of right conduct. The honour of the community rests upon morality. Without morals, a community decays. Only in an individual who is morally strong does the human personality find its best expression. The term 'personality' can be applied only to one who manifests the hidden unmanifested divinity within him by his conduct. Mere human form does not make one a human personality. It is the behaviour that counts. Only those who lead well-regulated lives and manifest their true divine nature can be regarded as real human beings.

Moralitas tidak hanya berarti pada ketaatan dari aturan-aturan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Moralitas berarti kepatuhan yang sebenar-benarnya dan jalan suci dari perilaku yang benar. Kehormatan di masyarakat terletak pada moralitas. Tanpa moral, masyarakat mengalami kehancuran.  Hanya di dalam individu yang moralnya kuat lah kepribadian manusia mendapat ungkapan terbaik. Istilah ‘kepribadian’ dapat diterapkan hanya untuk seseorang yang menunjukkan sifat ketuhanan dan bukan sebaliknya.  Wujud manusia belaka tidak membentuk suatu kepribadian manusia. Tingkah laku lah yang terpenting. Hanya mereka yang menjalankan kehidupannya dengan baik dan menunjukkan sifat ketuhanan yang sejati dapat diperlakukan sebagai manusia yang sesungguhnya.

-BABA

Sunday, May 10, 2009

Thought for the Day - 10th May 2009 (Sunday)


Man's duty is to sanctify his days and nights with the unbroken smarana (recollection) of the Name. Recollect with joy and with true yearning. If you do so, God is bound to appear before you in the Form and with the Name you have adored Him. God is all Names and all forms, the blending of all these in harmonious beauty! The Gods worshipped in different faiths, adored by different human communities, are all various manifestations of the one Divine principle that really is. Just as the body is the harmonious blending of the senses and the limbs, God is the harmony of all the forms and names that mankind worships.

Kewajiban manusia adalah untuk menyucikan hidupnya dengan smarana (mengingat) Nama Tuhan secara terus-menerus. Mengingat Nama Tuhan dengan kegembiraan  dan kerinduan sejati. Jika engkau melakukannya, Tuhan pasti akan muncul dalam Bentuk dan dengan Nama seperti yang engkau puja. Semua Nama dan Bentuk adalah Beliau (Tuhan),  padukan semua ini dalam keindahan yang harmonis! Tuhan dipuja dalam berbagai kepercayaan, dipuja oleh masyarakat yang berbeda, semuanya adalah berbagai manifestasi dari prinsip Ketuhanan yang sebenarnya. Sama seperti tubuh yang merupakan perpaduan yang harmonis dari indera dan anggota badan lainnya, Tuhan adalah keselarasan dari semua wujud dan nama yang dipuja umat manusia.

-BABA

Saturday, May 9, 2009

Thought for the Day - 9th May 2009 (Saturday)


The Divine is present in man like the unseen thread which holds a garland together. The entire cosmos is permeated by the Divine and is the visible manifestation of the Divine. Consider yourselves the children of one mother and belonging to the family of humanity. Do not give room for differences of race, creed and nationality. Believe firmly that all belong to the caste of humanity, follow the religion of love and speak the language of the heart. Water is called by different names in different languages. Likewise God is one, whatever name you call Him by, be it Allah, Jesus, Buddha or Rama - have that faith. Develop this universal outlook and don't criticize any religion.

Ketuhanan hadir pada manusia seperti benang yang tidak terlihat yang memegang garland bersama-sama. Seluruh alam semesta tersebar ke seluruh bagian Ketuhanan dan merupakan manifestasi dari illahi. Anggaplah diri kalian dari satu ibu dan merupakan bagian keluarga dari umat manusia. Jangan memberikan ruang bagi perbedaan ras, kepercayaan dan kebangsaan. Percayalah dengan kuat bahwa semua kasta adalah kemanusiaan, ikuti agama kasih dan bicaralah dengan bahasa hati. Air disebut dengan berbagai nama dalam bahasa yang berbeda. Demikian pula Tuhan adalah satu, apapun nama yang engkau sebut, apakah itu Allah, Jesus, Buddha atau Rama – miliki keyakinan ini. Kembangkan pandangan universal ini dan jangan mengkritik agama apapun.

Thought for the Day - 8th May 2009 (Friday)


The body is a chariot. The charioteer is the principle of Buddhi (intellect). The senses are the horses. The reins that regulate and restrain the horses is the Manas (mind). When the mind wavers and wanders, not having stability of purpose, the horses run helter-skelter, endangering even the charioteer, Buddhi (intellect). So, one has to control the mind and not pollute it with greed for sense pleasures. The mind has to act as the associate of Buddhi. Speech subserving the mind and mind subserving the intellect - this is the way to bring about Prashanthi, the Supreme Peace. And, slowly and steadily, instruct the intellect to turn towards the Atma. Speech guided by a mind, which is in tune with an intellect illumined by the Atma - this will lead to us the ultimate goal.

Tubuh adalah kereta. Sais keretanya adalah prinsip dari Buddhi (akal). Inderanya adalah kuda-kudanya. Tali kekang yang mengatur dan mengendalikan kuda-kuda itu adalah Manas (pikiran).  Ketika pikiran goyah dan tersesat, tidak memiliki tujuan,  maka kuda akan pontang-panting, ini bahkan membahayakan  pengendara kereta, Buddhi (akal). Jadi, seseorang harus mengendalikan pikiran dan tidak mengotorinya dengan ketamakan untuk kesenangan-kesenangan duniawi. Pikiran harus bertindak sesuai dengan Buddhi.  Ucapan dihubungkan dengan pikiran dan pikiran dihubungkan dengan akal – ini adalah cara untuk mendapatkan Prashanti, Kedamaian tertinggi. Dan perlahan dan terus-menerus, menginstruksikan akal   menuju kearah Atma. Ucapan yang dipandu oleh pikiran, yang selaras dengan akal yang diterangi oleh Atma – ini akan membawa kita ke tujuan akhir.

 

-BABA