Sunday, June 7, 2009

Thought for the Day - 7th June 2009 (Sunday)


Love should come from within, not enforced from the outside. Love must be spontaneous. The attitude of petitioning God for favours should be given up. Love of God should not be based on seeking favours in exchange for prayers and offerings to God. Love is the most important element. Through love alone can you unify the world. It is the absence of love that is the cause of hatred. It is this hatred that undermines human nature.

Kasih seharusnya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Kasih harus spontan. Perilaku selalu memohon kebaikan dari Tuhan seharusnyalah ditiadakan. Kasih pada Tuhan seharusnya tidak didasarkan pada apa yang engkau dapat sebagai hasil dari doa-doa dan persembahan kepada Tuhan. Kasih adalah elemen yang paling penting. Melalui kasih itu sendiri engkau dapat mempersatukan dunia. Ketiadaan kasih menyebabkan kebencian. Kebencian ini dapat merusak sifat manusia

-BABA

Saturday, June 6, 2009

Thought for the Day - 6th June 2009 (Saturday)


Dhrishti (sight) decides attachment, sorrow, passion, etc. You are the noblest being ever created, and so, you have to develop the vision that sees no high or low, that sees all as suffused with divinity, and therefore, not different from one another. Adi Shankara declared, "Make your Dhrishti charged with Jnana (wisdom); then, the seen will appear in its true light as Brahman". The God in you is in each of them, too. Do not imagine the others to be distinct, they are only you, in so many different forms. The world is filled with your kith and kin; all are sparks from the same flame.

Dhristi (penglihatan) menentukan keterikatan, kesedihan, hawa nafsu, dll. Engkau adalah mahluk paling mulia yang pernah diciptakan, dengan demikian, engkau seharusnya mengembangkan pandangan tidak ada perbedaan dimana-mana, melihat segalanya diliputi oleh Ketuhanan, dan oleh karena itu, tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya. Adi Shankara menyatakan,”Buatlah Dhrishtimu diisi dengan Jnana (kebijaksanaan); kemudian, yang terlihat akan muncul dalam kebenaran yang bercahaya sebagai Brahman”. Tuhan yang juga berada di dalam setiap orang. Jangan membayangkan yang lainnya berbeda, mereka adalah engkau, dalam berbagai wujud yang berbeda. Dunia ini dipenuhi dengan teman dan kaum kerabat; semuanya merupakan percikan dari api yang sama.

-BABA

Friday, June 5, 2009

Thought for the Day - 5th June 2009 (Friday)


Brahman is the immovable Totality, the Eternal, the True, the Pure and the Attributeless. Just as the road, though itself stationary, enables the car to move over it, the Brahman principle is the basis for the existence and activities of Jivis (individual beings). In fact, there is only One that appears as two. Look outward, it is Jivi; look inward, it is God. The outer vision makes you forget; the inner makes you remember. When man seeks to rise to the divinity which is his reality, he struggles to recollect and experience his true nature. When he grovels in the lower levels of consciousness and is enmeshed in the world, he is caught in the coils of forgetfulness. Removing selfish desires and expanding one's urge to love and serve is the most effective way to merge in the Supreme Consciousness.

Brahman itu tidak Bergerak, Abadi, Benar, Murni, dan tanpa Atribut. Sama seperti sebuah jalan, meskipun tidak dapat bergerak dengan sendirinya, jalan ini memungkinkan mobil bergerak melewatinya, prinsip Brahman adalah dasar untuk keberadaan dan aktivitas dari Jivi (mahluk individu). Dalam kenyataannya, hanya ada satu yang muncul sebagai dua. Lihatlah diluar dirimu, itu adalah Jivi; lihatlah dalam dirimu, itu adalah Tuhan. Pandangan seperti ini membuatmu lupa, batinmulah yang membuatmu ingat. Ketika manusia berusaha bangkit menuju sifat Ketuhanan yang merupakan sifat sejatinya, manusia berjuang untuk mengingat kembali dan mengalami kebenaran sejatinya. Ketika manusia merendahkan dirinya pada tingkat yang lebih rendah dari kesadarannya dan terperangkap dalam keduniawian, maka dia menjadi lupa tentang siapa dia yang sebenarnya.Menghilangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri dan mengembangkan keinginan untuk mengasihi dan melayani merupakan cara yang paling efektif untuk menyatu dengan Kesadaran Tertinggi.

-BABA

Thursday, June 4, 2009

Thought for the Day - 4th June 2009 (Thursday)


When you perform any action, you seldom think about the long-term consequences. You are preoccupied with the concerns of the moment. But when you are finally confronted with the results, you become frightened. Whether the results are pleasant or unpleasant, they are inescapable. If sugar is dissolved in water, even if you think it is poison, it will only do you good. But if poison is added to water and you drink it, thinking that it is sugarcane juice, it will be fatal. The results are based on your actions and not on your fancies.

Ketika engkau melaksanakan setiap tindakan, engkau jarang berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari tindakan tersebut. Engkau asyik dengan perhatian yang sesaat. Tetapi ketika akhirnya engkau berhadapan dengan akibatnya, engkau menjadi takut. Apakah akibatnya tersebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, hal itu tidak dapat dielakkan. Jika gula dilarutkan dalam air, sekalipun jika engkau berpikir air gula tersebut racun, maka itu akan tetap menjadi baik untukmu. Tetapi jika racun ditambahkan dalam air dan engkau meminumnya, berpikir bahwa hal tersebut adalah air gula, maka akibatnya akan fatal. Hasil didasarkan pada tindakan-tindakanmu dan bukan pada khayalanmu.

 

-BABA

Thought for the Day - 3rd June 2009


Why does man wail when he arrives into the world, whimper throughout his life and groan out, into the beyond, lamenting that his sojourn here was a waste of years? Man does so, because he is unaware of his glory, of his high destiny! He is the Divine poured into the human mould. It is the privilege of man alone, to be able to become aware of this precious truth! This is the message of the Upanishads to man, echoed in scriptures, and in the declarations of countless saints. Yet, man turns a deaf ear to it, perhaps, due to his own misfortune created by his own misdeeds in past lives. What an inexhaustible source of bliss lies within you! You only have to develop the mind that will respond to the call, that will recognise the Truth.

Mengapa manusia meratap ketika ia lahir di dunia, merengek selama hidupnya dan mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, menyesal dan menganggap persinggahan di dunia merupakan hal yang sia-sia? Manusia berbuat seperti ini, karena ia tidak menyadari keutamaannya, tidak sadar akan takdir mulianya! Manusia adalah unsur-unsur Tuhan yang tertuang dalam bentuk manusia. Merupakan sebuah perjalanan suci dari manusia itu sendiri untuk menyadari kebenaran yang sangat berharga ini. Ini adalah pesan dari Upanishad yang digaungkan oleh kitab-kitab suci, yang di deklarasikan oleh orang-orang suci yang tidak terhitung banyaknya. Namun manusia tidak menghiraukannya, mungkin ini merupakan kemalangan oleh tingkah laku mereka sendiri yang tidak benar yang telah dilakukan di kehidupannya yang lalu. Sadarilah bahwa terdapat sumber abadi yang tiada habis dalam dirimu. Engkau hanya perlu untuk mengembangkan kesadaran untuk menindaklanjuti panggilan ini, kesadaran untuk mengenali kebenaran ini.

 

-BABA

Tuesday, June 2, 2009

Thought for the Day - 2nd June 2009 (Tuesday)


There are three stages of wisdom: Jnana, Sujnana and Vijnana. Knowledge that is gained by the analysis of the objective world is Jnana. When this knowledge is further studied and practised to serve the best interests of the individual society, it becomes Sujnana, or beneficial wisdom. The intentions and urges that arise from the purified consciousness saturated with Divine qualities is Vijnana, the Highest Wisdom. Intelligence, intellect, intuition - these three govern the thoughts and actions of man. One leads to another.

Ada tiga tahapan kebijaksanaan: Jnana, Sujnana dan Vijnana. Pengetahuan yang diperoleh dari proses analisis terhadap aspek duniawi secara objektif adalah Jnana. Ketika pengetahuan ini selanjutnya dipelajari dan dipraktekkan untuk melayani kepentingan masyarakat dengan baik, maka pengetahuan itu menjadi Sujnana, atau kebijaksanaan yang memberi manfaat. Pengetahuan dengan maksud dan keinginan yang kuat yang timbul dari kesadaran murni yang dipenuhi dengan sifat-sifat Ketuhanan adalah Vijnana, Kebijaksanaan tertinggi. Kecerdasan, akal, intuisi – ketiganya ini mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Ketiganya saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya

-BABA

Monday, June 1, 2009

Thought for the Day - 1st June 2009


During summer, the land gets heated up and is rendered uncultivable. As soon as there is rainfall, saplings sprout and the land looks green. From where did the sprouts come? From the seeds sowed in the earth. If there had been no seeds at all, the sprouting would never have occurred. Likewise, Karma (past deeds) is the seed for human birth. Your present life is a reaction, resound and reflection of your past actions. Therefore, you are advised, "Be good, see good and do good."

Selama musim panas, lahan menjadi panas dan tidak digarap. Segera setelah ada hujan, tunas-tunas muda tumbuh dan lahan terlihat hijau. Dari mana datangnya tunas muda  tersebut? Dari benih-benih yang ditaburkan di bumi. Jika tidak ada benih sama sekali, tunas muda tersebut tidak akan pernah tumbuh. Demikian juga, Karma (perbuatan masa lampau) adalah benih untuk kelahiran manusia. Hidupmu di masa kini adalah suatu reaksi, merupakan cerminan tindakanmu sebelumnya. Dengan demikian, engkau disarankan,”Jadilah yang baik, lihatlah hal-hal yang baik, dan berbuatlah yang baik.”

 

-BABA