Tuesday, August 11, 2009

Thought for the Day - 11th August 2009 (Tuesday)


Deha Vasana (attachment to the body) impels one to seek physical strength and health and an attractive physique. All the efforts to make up one's face will not serve to alter its natural features. Only that which has been given by the Lord will be enduring. You must be content with that. While taking as much care of the body as is essential, you should not have excessive attachment to that which is inherently perishable and temporary. The body must be taken care of only for realizing the Divinity within. It is no doubt necessary to maintain good health as long as one lives, but obsessive concern for the body is misconceived.

Deha Vasana (keterikatan terhadap badan) mendorong seseorang untuk memperoleh kekuatan fisik dan kesehatan serta bentuk badan yang menarik. Segala usaha untuk merias wajah seseorang tidak akan membantu mengubah wajah aslinya. Hanya apa yang telah diberikan oleh Tuhan akan kekal. Engkau harus puas dengan hal tersebut. Walaupun melakukan perawatan terhadap badan adalah penting, engkau seharusnya jangan berlebihan terhadap keterikatan yang fana dan sementara ini. Badan harus dirawat hanya untuk mewujudkan keilahian di dalamnya. Tidak perlu keraguan untuk memelihara kesehatan semasa hidup, tetapi perhatian yang berlebihan terhadap badan adalah keliru.

-BABA

Monday, August 10, 2009

Thought for the Day - 10th August 2009 (Monday)


When the obstacles in the path of truth are laid low, deliverance is achieved. That is why Moksha (liberation) is something that can be won, here and now; one need not wait for the dissolution of the physical body for that. Action must not be felt as a burden, for that feeling is a sure sign that the particular action is ill-advised. No deed that helps your progress will weigh heavily on you. It is only when you go counter to your innermost nature that you feel it a burden. A time comes when you look back on your achievement and sigh at the futility of it all. Entrust your mind to the Lord, before it is too late, and let Him shape it as He thinks best.

Ketika halangan dan rintangan di jalan musnah, maka akan dicapai pembebasan. Itulah mengapa Moksha (pembebasan) merupakan sesuatu yang harus dicapai, disini dan sekarang; seseorang tidak perlu menunggu kematian untuk hal ini. Perbuatan mestinya jangan dirasakan sebagai suatu beban, karena perasaan tersebut adalah tanda pasti bahwa perbuatan itu keliru. Tidak ada perbuatan berat yang membantu kemajuanmu. Hanya ketika engkau bertentangan dengan sifat batinmu, engkau akan merasakannya sebagai beban. Ketika waktunya tiba engkau melihat kembali keberhasilanmu dan menyesali kegagalan dari semuanya. Serahkan pikiranmu kepada Tuhan, sebelum itu terlambat, dan biarlah Beliau menentukan hasil yang terbaik.

-BABA

Sunday, August 9, 2009

Thought for the Day - 9th August 2009 (Sunday)


To be established in Dhyana (meditation), a spiritual aspirant should control his senses and passions, and perform action without any desire for the fruit of the action. Whoever is adept in this can easily see with the mind's eye the form of Brahman (Divinity) as soon as he hears the exposition of its nature. When Vairagya (detachment) is rooted deep, the heart becomes pure and withdrawal of the senses from the objective world becomes possible.

Untuk tetap mantap dalam Dhyana (meditasi), seorang peminat spiritual seharusnya mengendalikan indera dan nafsunya, serta melakukan kegiatan tanpa adanya keinginan akan buah dari tindakan itu. Bagi siapapun yang ahli dalam melakukan hal ini maka dia akan mampu melihat Brahman (Tuhan) dengan mata pikirannya segera setelah dia mengetahui kemuliaan-Nya. Ketika Vairagya (tanpa kelekatan) benar-benar menyatu dalam diri, maka hati kita menjadi murni dan memungkinkan untuk menarik semua indria dari dunia ini.

-BABA

Saturday, August 8, 2009

Thought for the Day - 8th August 2009 (Saturday)


There are different kinds of Jnana (knowledge). What is implied by the 'Jnana' is the knowledge of the Atma. It is not concerned with the physical, sensory or worldly knowledge. Atma Jnana (knowledge of the Atma) can be got only by enquiring into the nature of the Atma and not by any other means. It cannot be taught by preceptors or learnt by studying texts. It cannot be received from anyone or offered to anyone. It has to emerge from the inner consciousness. Preceptors and texts can only help to some extent. The aspirant who seeks Atma Jnana has to embark on self-enquiry to experience this Self-awareness. He should explore and investigate the whole gamut of spiritual experience and arrive at the Ultimate Reality.

Ada berbagai jenis Jnana (pengetahuan). Apa yang disiratkan oleh ‘Jnana’ adalah pengetahuan tentang Atma. Hal itu tidak berhubungan dengan fisik, inderawi atau pengetahuan duniawi. Atma Jnana (pengRata Penuhetahuan tentang Atma) hanya dapat diperoleh dengan penyelidikan sifat Atma dan bukan dengan cara lainnya. Hal ini tidak diperoleh dari pengajaran oleh seorang guru atau dipelajari dari naskah-naskah. Tidak dapat diterima dari siapapun atau diberikan kepada siapapun. Pengetahuan ini harus muncul dari kesadaran batin. Guru dan naskah-naskah hanya dapat membantu dengan batasan tertentu. Pencari spiritual yang mencari Atma Jnana (pengetahuan tentang Atma) harus memulai penyelidikan diri untuk mengalami kesadaran Atma. Dia seharusnya mencari dan menyelidiki keseluruhan dari semua pengalaman spiritual dan sampai pada tujuan akhir.

-BABA

Friday, August 7, 2009

Thought for the Day - 7th August 2009 (Friday)


Considering the material world as the only reality, man loses himself in the pursuit of material objects. But, if the truth about these material objects is fully explored, it will be found that they have no reality at all. They are temporary and ephemeral. They do not have the stamp of permanent reality. They do not confer enduring bliss. Every human being seeks to enjoy bliss. To realize everlasting bliss, man has to make the requisite effort. He should find out - "Who am I?" When he has found the answer to this question, there will be no need for him to understand what is Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness-Bliss). He will realize that he is the very embodiment of Sath-Chith-Ananda.

Menganggap benda-benda duniawi sebagai satu-satunya yang nyata, manusia kehilangan dirinya dalam pencarian objek-objek duniawi. Tetapi, jika kebenaran tentang objek-objek duniawi ini sepenuhnya diselidiki, maka akan ditemukan bahwa hal tersebut tidak memiliki realitas sama sekali. Hal itu bersifat sementara dan tidak kekal. Objek-objek duniawi tersebut tidak mempunyai sifat yang kekal dan tidak menganugerahkan kebahagiaan abadi. Setiap manusia berusaha mencari kebahagiaan. Untuk mewujudkan kebahagiaan abadi, manusia harus melakukan upaya-upaya yang diperlukan. Manusia seharusnya mengetahui – “Siapa saya?” Ketika manusia telah menemukan jawaban atas pertanyaan ini, tidak ada keharusan untuk memahami apa itu Sath-Chith-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan). Dia akan menyadari bahwa dia juga perwujudan Sath-Chith-Ananda.

-BABA

Thursday, August 6, 2009

Thought for the Day - 6th August 2009 (Thursday)


A 'Manishi' (ordinary man) gets transformed into a 'Maharishi' by engaging in selfless service. Truly speaking, the merit that can be obtained from service cannot be acquired even by the practice of rigorous austerities. Service brings human beings closer to each other and promotes affection and friendship. Without this feeling of friendship and love towards one's fellowmen, one cannot attain intimacy with the Lord. Install in your heart the feeling that the service you render to your fellowmen is service to God.

‘Manishi (manusia biasa) dapat menjadi seorang ‘Maharishi’ dengan melibatkan diri dalam pelayanan. Berbicara yang sebenarnya, nilai yang dapat dicapai dari pelayanan tidak dapat diperoleh bahkan dengan latihan yang keras. Pelayanan membawa manusia lebih dekat satu dengan yang lainnya dan meningkatkan kasih dan persahabatan. Tanpa rasa persahabatan dan kasih terhadap orang lain, seseorang tidak dapat mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tanamkan di dalam hatimu perasaan bahwa pelayanan yang engkau berikan kepada orang lain adalah pelayanan terhadap Tuhan.

-BABA

Wednesday, August 5, 2009

Thought for the Day - 5th August 2009 (Wednesday)


Most people in the world do not understand the purpose of life. Preoccupied with the pursuit of external objects, men do not strive to explore the inner realms of the Atma. Standing on the seashore, one can see only the waves on the surface and not the pearls lying in the depths below. Only the brave man who can dive deep into the ocean will be able to gather the pearls and not others. Likewise, Atma Jnana (knowledge of the Atma) can be gained only by those who turn away from the exploration of the phenomenal world to inquire into the truth of the Spirit.

Sebagian besar orang-orang di dunia ini tidak memahami tujuan hidupnya. Asyik dengan pengejaran objek-objek duniawi, orang-orang tidak berusaha untuk mempelajari pengetahuan tentang Atma. Ketika seseorang berdiri di pantai, seseorang hanya dapat melihat gelombang pada permukaan dan tidak melihat mutiara yang berada di kedalaman laut. Hanya orang yang berani yang dapat menyelam ke dalam laut dan dapat mengumpulkan mutiara tersebut dan bukan yang lainnya. Demikian pula, Atma Jnana (pengetahuan tentang Atma) hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang berpaling dari penjelajahan duniawi untuk menyelidiki kebenaran Atma.

-BABA