Saturday, April 7, 2012

Thought for the Day - 7th April 2012 (Saturday)

Your duties have to be done, there is no turning away. Each have their allotted tasks, according to the status, taste, tendency and earned merit. Do it with fear of God and sin deep in your heart. Welcome pain and grief so that you take both success and failure as hammer strokes that shape you into a sturdy aspirant. Inner content is more important than outer prosperity. Dharma is the moral code, the experience of sages, the controlling discipline which checks the mind and senses. The codes of Dharma act as brakes that control and direct human life. They help you progress, each in its own way. March straight on the path of action (Karma) and virtue (Dharma) towards God. This is your destiny.

Tugasmu harus dilaksanakan, janganlah berpaling. Masing-masing memiliki tugas yang telah diberikan, sesuai dengan status, selera, kecenderungan dan pendapatan yang pantas. Lakukanlah tugas itu dengan sungguh-sungguh dengan perasaan takut pada Tuhan serta takut berbuat dosa, dari dalam lubuk hatimu. Terimalah kesedihan dan penderitaan sehingga engkau dapat menerima baik keberhasilan maupun kegagalan sebagai suatu pukulan palu yang dapat  membentukmu menjadi aspiran/ pencari spiritual yang kokoh. Isi dalam batin lebih penting daripada kemampuan yang tampak dari luar. Dharma adalah kode moral, pengalaman dari para orang bijak, yang mengontrol/ mengendalikan disiplin yang memeriksa pikiran dan indera. Kode Dharma bertindak sebagai rem yang mengendalikan kehidupan manusia secara langsung. Dharma membantu kemajuan spiritualmu dengan caranya sendiri. Bergeraklah lurus di jalan tindakan (karma) dan kebajikan (dharma) menuju Tuhan. Inilah takdir yang hendaknya engkau lakukan.


-BABA

Friday, April 6, 2012

Thought for the Day - 6th April 2012 (Friday)

Waves originate in the upper layers of the sea. They are caused by the wind, so the wind can be said to have that power. So too, the mind of the intelligent person is full of thoughts and opinions. When the proper atmosphere is present, these spring up and roll in from all directions. In the same manner, the Lord is manifest in the picture or image that one worships, but is this due to any special excellence of the picture or image? No. The picture or the image remain as they are. The fact is that on account of the intensity of the devotion of the devotee, the Lord cannot desist from manifesting Himself for them. For that reason, He assumes - in stone, wood, or paper - the form that the devotee contemplates and meditates upon and worships. In order to fulfill the yearning of the devotee, the Immanent Basic Being of the Universe, will come in any Form, in anything, at any place.

Gelombang berasal dari lapisan atas laut, yang disebabkan oleh angin, sehingga angin dapat dikatakan memiliki kekuatan itu. Demikian juga, pikiran dari orang-orang yang cerdas penuh dengan pemikiran-pemikiran dan pendapat. Ketika atmosfirnya sesuai, maka gelombang muncul tiba-tiba dan bergulung-gulung dari segala arah. Dengan cara yang sama, seseorang memuja Tuhan yang dimanifestasikan dalam gambar atau foto, tetapi apakah ini disebabkan oleh keunggulan khusus gambar atau foto tersebut? Bukan. Gambar atau foto tetap sebagaimana adanya. Faktanya adalah karena intensitas pengabdian dari bhakta-Nya, Tuhan tidak bisa berhenti untuk memanifestasikan diri-Nya bagi mereka. Untuk itu, Beliau mengasumsikan diri-Nya pada batu, kayu, atau kertas – suatu bentuk dimana para bhakta-Nya merenungkan dan bermeditasi dan memuja-Nya. Untuk memenuhi kerinduan sang bhakta, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini, akan datang dalam Wujud apapun, dalam bentuk apapun, dimanapun tempatnya.

-BABA

Thursday, April 5, 2012

Thought for the Day - 5th April 2012 (Thursday)

Individual reconstruction is the most important need today. Multiply virtues, not buildings. Practise what you preach, that is the real pilgrimage. Cleanse your minds of envy and malice; this is the real bath in holy waters. Of what avail is the Name of the Lord on the tongue, if the heart within is impure? Injustice and discontent are spreading everywhere, due to this one single fault in humans – saying one thing and doing the opposite. You must set yourself right and correct your food, recreation and method of spending your leisure and your thoughts and habits. Remove the vices of lust and hatred, and put out the raging flames of anger and greed. Then, the innate tranquillity and happiness (shantham and soukhyam) within you, will manifest unhindered. You are the embodiment of peace; happiness is your very nature.

Rekonstruksi individu adalah kebutuhan yang paling penting hari ini, bukan pada bangunannya, tetapi mengembangkan kebajikan. Mempraktikkan apa yang telah engkau sampaikan adalah suatu peziarahan yang sesungguhnya. Bersihkan pikiranmu dari iri hati dan kedengkian, inilah sesungguhnya mandi di perairan suci. Apalah manfaatnya menchantingkan Nama Tuhan hanya di lidah, jika didalam hatinya tidak murni? Ketidakadilan dan ketidakpuasan menyebar di mana-mana. Inilah salah satu kesalahan manusia - mengatakan sesuatu hal dan melakukan yang sebaliknya. Engkau harus memperbaiki dirimu dan makananmu, rekreasi dan metode menghabiskan waktu luangmu, serta pikiran dan kebiasaanmu ke hal-hal yang baik. Hilangkan nafsu dan kebencian, dan padamkan amukan api kemarahan dan keserakahan. Maka, ketenangan dan kebahagiaan (shantham dan soukhyam)  dalam dirimu akan terwujud tanpa hambatan. Engkau adalah perwujudan kedamaian dan kebahagiaan adalah sifatmu.

-BABA

Thought for the Day - 4th April 2012 (Wednesday)

When Krishna said, “Remove the defect in vision, then the author of this Universe can be congested,” Arjuna soughtn the cause for this faulty vision. Krishna explained,  "Between Me and this universe, there moves maya (delusion). It is indeed a hard task for one to see beyond maya, for maya too is Mine. It is of the same substance; it is My creation and under My control. It will turn in a trice, even the mightiest among men, head over heels! Do not take maya to mean some ugly thing that has descended from somewhere else; it is an attribute of the mind which makes you ignore the true and the eternal Paramatma (Supreme Self) and instead value the manifold multiplicity of Name and Form. It causes the error of believing the body to be the Self, instead of the embodied (the Deha instead of the Dehi). To overcome maya is surely the most difficult task. Only those who are wholeheartedly attached to Me can conquer My maya.”

Ketika Sri Krishna mengatakan, "Hilangkan kerusakan pada penglihatan (vision), maka pencipta Alam Semesta ini dapat ditemukan,  "Arjuna mencari penyebab pada kerusakan visi ini. Krishna menjelaskan,  "Antara Aku dan alam semesta ini, ada maya (khayalan) yang bergerak. Sungguh suatu tugas yang sulit bagi seseorang untuk melihat melampaui maya, karena Aku sendiri juga adalah maya. Ini adalah substansi yang sama;  ciptaan-Ku dan berada di bawah pengawasan-Ku. Hal itu akan berubah dalam sekejap mata, sepenuhnya, bahkan pada manusia terkuat sekalipun! Janganlah meniru keburukan-keburukan yang telah diturunkan dari tempat lain; itu adalah atribut dari pikiran yang membuatmu mengabaikan kebenaran dan Paramatma yang abadi (Supreme Selft) dan bukannya menghargai keragaman berbagai Nama dan Wujud Tuhan. Hal ini menyebabkan engkau keliru menganggap badan jasmani ini sebagai Self/ Atma (menganggap Deha sebagai Dehi). Untuk mengatasi maya adalah tugas yang paling sulit. Hanya mereka yang sungguh-sungguh dekat pada-Ku, yang dapat menaklukkan maya.

-BABA

Tuesday, April 3, 2012

Thought for the Day - 3rd March 2012 (Tuesday)

As the heart is to the body, so is the place of worship (Temple, Mosque, Church, etc.) to the community. Worship of God through various festivals, construction of places of worship, etc. are all good deeds (Sath Karma). They provide training in service and create opportunities for sacrifice and detachment. However be aware that when there is the anguished cry for food and shelter, money should not be spent on construction of new places of worship; this is not to be encouraged. The same Lord is worshipped everywhere, and you need not build a temple for every new Name or Form. Tell people to see in all Forms and under all Names the same God. That is the training they need.

Seperti halnya hati yang diperuntukkan bagi badan,demikian pula tempat ibadah (Kuil, Masjid, Gereja, dll) diperuntukkan bagi masyarakat. Memuja Tuhan melalui berbagai perayaan, membangun tempat ibadah, dll, semuanya ini adalah perbuatan baik (Sath Karma). Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan praktek melakukan pelayanan dan menciptakan peluang untuk berkorban dan ketidakmelekatan. Namun apabila masyarakat mengalami penderitaan seperti kekurangan makanan dan tidak memiliki tempat tinggal, uang hendaknya tidak digunakan untuk membangun tempat ibadah baru. Tuhan yang sama dapat dipuja di mana-mana, dan engkau tidak perlu membangun sebuah kuil untuk setiap Nama atau Wujud yang baru. Beritahukan pada orang-orang untuk melihat bahwa semua Wujud dan semua Nama adalah Beliau (Tuhan). Itulah praktek yang mereka butuhkan.

-BABA

Monday, April 2, 2012

Thought for the Day - 2nd April 2012 (Monday)

The universe is based on God but He has no need for the universe as base. The pot depends on the clay but the clay is not dependent on the pot. The clay is Brahman (Divinity) and the pot is Prakruti (Creation). Ignore the shape, the form and the name - the pot is just clay. It is truer to say that all is Brahman than to say, ‘Brahman is in everything’. It is nobler to visualize the Divine as the basis of all (Sarva-aadhaara), rather than to conceive It as Inner Reality of all beings. (Sarvabhutha- antharaatma). Without Divinity there can be no Creation; this is the truth.

Alam semesta ini didasarkan pada Tuhan tetapi sesungguhnya Beliau tidak memerlukan alam semesta ini sebagai dasar. Sama halnya dengan jambangan yang terbuat dari tanah liat, jambangan tersebut tergantung pada tanah liat tetapi tanah liat tidak tergantung pada jambangan tersebut. Tanah liat dapat diibaratkan sebagai Brahman (Divinity) dan jambangan dapat diibaratkan sebagai Prakruti (Ciptaan). Dengan mengabaikan bentuk, wujud, dan nama – maka jambangan hanyalah tanah liat belaka. Hal ini benar untuk mengatakan bahwa semua adalah Brahman daripada mengatakan, 'Brahman ada dalam segala hal'. Ini lebih mulia untuk memvisualisasikan Divine sebagai dasar dari semuanya (Sarva-aadhaara), dibandingkan dengan mengatakan Tuhan ada dalam semua makhluk (Sarvabhutha-antharaatma). Tanpa Keilahian/ Divinity, tidak akan ada Penciptaan, inilah kebenarannya.

-BABA

Sunday, April 1, 2012

Thought for the Day - 1st April 2012 (Sunday)

Thousands of years have passed since the Treta Yuga (second quarter of time, the age in which Lord Rama was born), yet even now everyone, right from children to elderly people, remember the name of Rama. The glory of Rama’s name has not diminished even a bit with the passage of time. This truth should be recognised by all. Rama is the name given to a form, but is not limited to a form. Rama is the never changing Divine Principle (Atma). Therefore, wherever and whenever you remember the name of Rama, He is there with you, in you, around you. Rama is the personification of righteousness (Ramo vigrahavan Dharmaha). You should also follow Dharma (righteousness); not the principle of Dharma that comes from the mind but one that originates from your heart.

Ribuan tahun telah berlalu sejak Treta Yuga (zaman di mana Sri Rama lahir), namun bahkan sekarang setiap orang, baik dari anak-anak sampai dengan orang tua, mengingat nama Raama. Kemuliaan nama Rama tidak berkurang sedikitpun bahkan dengan berlalunya waktu. Kebenaran ini harus diakui oleh semuanya. Rama adalah nama yang diberikan untuk wujud Sri Rama, tetapi tidak terbatas pada wujud itu saja. Rama adalah Divine Principle (Atma) yang tidak pernah berubah. Oleh karena itu, dimanapun dan kapanpun engkau mengingat nama Raama, Beliau selalu ada bersama-mu, di dalam dirimumu, dan di sekitarmu. Rama adalah personifikasi dari kebenaran (Ramo vigrahavan Dharmaha). Engkau juga hendaknya mengikuti Dharma (kebajikan), bukan prinsip Dharma yang berasal dari pikiran tetapi yang berasal dari hatimu.

-BABA