Saturday, April 14, 2012

Thought for the Day - 14th April 2012 (Saturday)

Mere external cleanliness is not enough, you must cleanse your mind and develop inner purity. Remember, the all-pervasive God is present within everyone. You must aspire and work for the happiness of others. True celebration lies, in each sharing the happiness of the other. Give happiness to others. Only then you have the right to receive it from others. Always practice “Give and Take”. Strive for the welfare of everyone, not just you and your family.

Hanya kebersihan eksternal belaka tidaklah cukup, engkau harus membersihkan pikiranmu dan mengembangkan kemurnian batin. Ingatlah, Tuhan meresapi semuanya dan hadir dalam semua orang. Engkau harus memiliki keinginan dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain. Suatu perayaan/pesta yang dilakukan hendaknya didasarkan pada berbagi kebahagiaan pada orang lain. Berikanlah kebahagiaan pada orang lain. Baru setelah itu engkau berhak untuk menerima dari orang lain. Selalu praktikkanlah "Memberi baru kemudian Menerima". Upayakan untuk kesejahteraan bagi semua orang, bukan hanya untukmu dan keluargamu.

-BABA

Friday, April 13, 2012

Thought for the Day - 13th April 2012 (Friday)

Right from a young age, children should be taught the greatness of our ancient culture. They should develop humility, love, and reverence toward elders and respect everyone. Children and youth should be moulded into ideal citizens. One can earn the respect of others only when one first respects others. Respect does not mean merely greeting by saying 'hello'. One should offer their respects (namaskara) to the others with humility and reverence. Na-maskara means offering your respects without a trace of ego and attachment (ahamkara and mamakara). For anything, practise is very important. The responsibility lies with the parents and teachers to make the children and youth adhere to our ancient tradition. Then society will certainly progress and enjoy peace and prosperity. If we practise our ancient values, society will attain kshemam (welfare), otherwise it will be afflicted with kshamam (famine). Practising one’s sacred culture is the true sign of education.

Sejak usia muda, anak-anak hendaknya diajarkan kemuliaan budaya kuno kita. Mereka hendaknya mengembangkan kerendahan hati, cinta-kasih, dan rasa hormat terhadap orang tua dan menghargai semuanya. Anak-anak dan pemuda harus dibentuk menjadi warga negara yang ideal. Seseorang dihargai oleh orang lain hanya ketika pertama kali kita dapat menghargai orang lain. Menghargai orang lain tidak hanya dengan sekedar mengucapkan 'halo'. Seseorang harus memberikan penghormatan (Namaskara) ke orang lain dengan kerendahan hati dan penuh hormat. Na-maskara berarti memberikan penghormatan tanpa jejak ego dan keterikatan (ahamkara dan mamakara). Apapun itu yang terpenting adalah praktiknya. Tanggung jawab terletak pada orang tua dan guru untuk membuat anak-anak dan remaja mematuhi tradisi kuno kita. Maka masyarakat pasti akan maju dan memperoleh kedamaian dan kemakmuran. Jika kita mempraktikkan nilai-nilai kuno kita, masyarakat akan mencapai kshemam (kesejahteraan), jika tidak maka akan menderita kshamam (kelaparan). Mempraktikkan budaya suci adalah tanda sejati dari pendidikan.

-BABA

Thursday, April 12, 2012

Thought for the Day - 12th April 2012 (Thursday)

The Gita describes four types of devotees - Jnani (one who has conquered delusion and attained wisdom), Jijnasu (the devotee who is a seeker of wisdom), Aartha and Arth-arthi (those who turn to the Lord to relieve some or the other form of suffering). This classification can be understood by an example: Jnana (wisdom) is like the ‘through train’, the passenger need not detrain and board another train to reach the destination. The Jijnasu is a passenger who has entered the ‘through carriage’ who also does not have to detrain and board another train; but the carriage will be detained and attached to other trains en route. The Aarthas and Arth-arthis board the ordinary train, and will have to alight at a number of places en route and wait until another train comes by; they reach the goal by stages. It is a long and arduous journey. But still it can be accomplished if the devotee persists. Thus the goal is attained by all; only the process and the pace are different. All seek the same high goal. Do not limit your desires to the little. Those who yearn for the Lord are generous and large-hearted.

Gita menjelaskan ada empat jenis bhakta – Jnani (orang yang telah menaklukkan kebodohan batin dan telah mencapai kebijaksanaan), Jijnasu (para bhakta yang mencari kebijaksanaan), Aartha dan Arth-arthi (mereka yang berdoa pada Tuhan karena mengalami penderitaan atau kesedihan dan memohon kepada Tuhan agar beban penderitaannya diringankan). Klasifikasi ini dapat dipahami dengan contoh berikut: Jnana/para Jnani (orang yang telah mencapai kebijaksanaan) dapat diibaratkan seperti 'naik kereta api ekspress’, penumpang tidak perlu melakukan transit untuk mencapai tujuannya. Para Jijnasu dapat diibaratkan ‘naik kereta api ekspress’ , tetapi gerbongnya harus diganti di tengah jalan. Sedangkan para Aarthas dan Arth-arthis dapat diibaratkan naik kereta biasa, yang harus transit di banyak tempat, sehingga mereka mencapai tujuannya secara bertahap. Ini adalah suatu perjalanan panjang dan sulit. Tetapi walaupun demikian, tetap saja dapat dicapai jika para bhakta melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian tujuan dapat dicapai oleh semuanya, hanya proses dan kecepatannya yang berbeda. Semua pencari spiritual mencari tujuan yang sama mulia-nya. Janganlah membatasi keinginanmu pada hal-hal yang picik. Mereka yang memiliki kerinduan pada Tuhan adalah mereka yang murah hati dan memiliki kebesaran hati.

-BABA

Wednesday, April 11, 2012

Thought for the Day - 11th April 2012 (Wednesday)

Everybody aspires for happiness. Where is happiness? Without working hard, you cannot get happiness. During ancient times, people would offer their salutations to action (karma) before undertaking it; they chanted thasmai namah karmane (salutations to action). In India, some people follow this sacred tradition even today. A dancer salutes the anklets before tying them to the feet. Even an uneducated driver offers his obeisance to the steering wheel before driving the vehicle and some cricketers too, pay their respects to the ball before starting to bowl. First and foremost, offer respects and express gratitude to karma before undertaking it. Make it a practice every day. It will then give good results. Understand your duty and perform it to the best of your abilities. Then, you will earn the deservedness to experience happiness. - Divine Discourse, Apr 15, 2003.

Semua orang menginginkan kebahagiaan. Dimanakah letak kebahagiaan? Tanpa bekerja keras, engkau tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan. Sejak zaman kuno, orang-orang memberikan salam hormat mereka pada perbuatan (karma) sebelum melakukan itu, mereka mengatakan thasmai namah karmane (salam hormat pada perbuatan). Di India, beberapa orang mengikuti tradisi suci ini, bahkan sampai dengan hari ini. Seorang penari memberikan salam hormat pada gelang kaki sebelum mengikatnya ke kaki-nya. Bahkan seorang sopir yang tidak berpendidikan memberikan salam hormat pada roda-kemudi sebelum mengemudikan kendaraannya, demikian juga beberapa pemain kriket, memberikan salam hormat pada bola sebelum memulai permainannya. Pertama dan terutama engkau hendaknya memberikan salam hormat dan mengungkapkan rasa syukur pada karma sebelum melakukan perbuatan itu. Praktikkanlah hal ini setiap hari, sehingga akan memberikan hasil yang baik. Pahamilah tugasmu dan lakukanlah hal itu dengan kemampuan terbaik yang engkau miliki. Maka, engkau akan layak mendapatkan penghormatan sehingga engkau bisa mengalami kebahagiaan. – Divine Discourse, 15 Apr 2003.

-BABA

Tuesday, April 10, 2012

Thought for the Day - 10th April 2012

The spiritual aspirants in the midst of their efforts sometimes imagine God to be less glorious than He really is! They feel that the Lord differentiates between sinners and saints or the ignorant and the wise; these are unsound inferences. The Lord does not separate men thus. If He really did so, no sinner can survive His anger on earth for even a minute. This truth is known only to the wise. Ordinary people are unaware of this and suffer under the false belief that the Lord is somewhere far away from them. It is the nature of fire to warm you when you shiver from cold. But how can it help you keep warm if you keep away at a distance! Similarly those who are earnest to remove the chills of worldly ills have to seek the fire of wisdom (Jnana), which is won by the grace of God. And that is how a wise man (Jnani) is declared as dear to the Lord.

Para aspiran/ pencari spiritual di tengah-tengah upaya mereka kadang-kadang membayangkan Tuhan kurang mulia dibandingkan bagaimana Beliau sebenarnya! Mereka menganggap bahwa Tuhan membeda-bedakan antara orang-orang yang berdosa dengan orang suci, atau membedakan antara orang-orang yang bodoh dan bijaksana, ini adalah kesimpulan yang keliru. Tuhan tidaklah memisahkan manusia secara demikian. Jika Beliau benar-benar melakukan hal seperti itu, orang-orang berdosa di bumi ini tidak akan dapat menahan kemarahan-Nya bahkan untuk satu menit. Kebenaran ini hanya diketahui oleh para orang bijak. Orang-orang biasa tidak menyadari kebenaran ini dan menderita di bawah keyakinan yang keliru bahwa Tuhan berada di suatu tempat yang jauh dari mereka. Adalah sifat api untuk menghangatkanmu ketika engkau menggigil kedinginan. Tetapi bagaimana api itu dapat membantumu tetap hangat jika engkau menjauhkan diri dari tempat api tersebut! Demikian pula mereka yang sungguh-sungguh berkeinginan untuk menghilangkan dinginnya penyakit duniawi harus mencari api kebijaksanaan (Jnana), yang didapatkan oleh karena kasih karunia Tuhan. Dan itulah sebabnya kenapa para orang bijak (Jnani) dianggap sangat dekat dengan Tuhan.

-BABA

Monday, April 9, 2012

Thought for the Day - 9th April 2012 (Monday)

The very first thing you must do, to impress upon your mind the reality, is to recite the Name of God and dwell on His Glory in the mind. This will ensure the tongue will not stray into lesser topics and the mind will not drag you into inferior matters. Remember, the journey of everyone is towards the cemetery. Every day brings you nearer to your final moment. So do not delay the duty that you must carry out for your own lasting good. Revere man; that is the first step towards reverence for God, for man is prathyaksha (perceptible) while God is paroksha (imperceptible). Endeavour to see the Lord that resides in the heart of every living being. This will certainly lead you to eternity and save you from births and deaths.

Hal pertama yang harus engkau lakukan adalah mengingatkan pikiranmu pada realitas, yaitu mengucapkan Nama Tuhan dan kemuliaan-Nya dalam pikiran. Ini akan memastikan lidah tidak akan terseret ke topik yang lebih rendah dan pikiran tidak akan menyeretmu ke dalam hal-hal yang rendah. Ingatlah, perjalanan semua orang menuju kuburan. Setiap hari membawamu lebih dekat ke saat-saat terakhirmu. Jadi janganlah menunda tugas yang harus engkau lakukan untuk kebaikanmu sendiri. Menghargai/ menghormati manusia; adalah langkah pertama untuk menghormati Tuhan, karena manusia adalah prathyaksha (yang terlihat), sedangkan Tuhan adalah paroksha (tak terlihat). Berusahalah untuk melihat Tuhan yang bersemayam di hati setiap makhluk hidup. Hal ini tentu akan membawamu pada keabadian dan menyelamatkanmu dari lingkaran kelahiran dan kematian.

-BABA

Sunday, April 8, 2012

Thought for the Day - 8th April 2012 (Sunday)

The inner prompting to conquer illusion (maya), by surrendering to the Lord, comes as a result of merits accumulated from many births. Those with demerits as their earnings will pursue the fleeting pleasure of the senses. Like birds and beasts, they revel in food and frolic as the purpose of life, and do not entertain any thoughts of God. They dislike the company of the virtuous and the good, and stray away from good acts and become outlaws in the realm of God. On the other hand, those who have earned merit strive to grow in virtue, cultivate uplifting thoughts, and contemplate and yearn for the Divine. Such seekers may be drawn to the Lord through suffering or want or the thirst for knowledge or keenness to acquire wisdom. But the fact that they turn towards the Lord for relief shows that they have grown into the higher path through many births.

Batin kita mendorong untuk menaklukkan ilusi (maya), yang merupakan akumulasi dari beberapa kelahiran. Maya (ilusi) ini dapat ditaklukkan dengan berpasrah total pada Tuhan. Mereka yang lemah akan senantiasa memenuhi keinginan indera dan mengejar kesenangan yang bersifat sementara. Seperti burung-burung dan hewan-hewan, mereka bersenang-senang mencari makanan dan bermain-main sebagai tujuan hidupnya, dan tidak sedikitpun memikirkan Tuhan. Mereka juga tidak mengenal pergaulan yang baik serta menyimpang dari perbuatan yang baik. Di sisi lain, mereka yang berada dalam kebaikan berjuang untuk mengembangkan kebajikan, memupuk pikiran-pikiran yang mulia, serta merenungkan dan merindukan Tuhan. Para pencari (spiritual) tersebut dapat ditarik menuju Tuhan melalui penderitaan atau keinginannya pada Tuhan atau kehausan akan pengetahuan atau kemauan untuk memperoleh kebijaksanaan. Tetapi kenyataannya, mereka berpaling pada Tuhan untuk meminta bantuan-Nya yang  menunjukkan bahwa mereka telah menuju ke jalan yang lebih tinggi melalui beberapa kali kelahiran.

-BABA