Thursday, September 19, 2013

Thought for the Day- 19th September 2013 (Thursday)

A devotee of Hanuman was once driving a cartload of grain to the market. On the way, one wheel got stuck and the cart could not be drawn forward. The cart slanted too, and a few bags fell on the ground. The devotee sat on the cart and started praying to Hanuman. He completed chanting the 108 names and even the 1008 names. When nothing happened, he started blaming the Lord and reviling Him for not rescuing him. Hanuman then appeared and took him to task! “Young man, instead of doing your duty by applying your strength on the job, you sat there, prayed and started reviling Me!” Come on, put your shoulder to the wheel and lift it up chanting My name! First contribute self-effort,” said the Lord. You must use all the talents awarded to you in a prayerful and humble mood. Until then, you have no right to seek the help and intervention of the Lord.

Suatu ketika, seorang pemuja/bhakta Hanuman membawa segerobak penuh gandum ke pasar. Dalam perjalanan, salah satu roda tidak bisa bergerak dan gerobak tidak bisa ditarik maju. Gerobakpun miring, dan beberapa kantong gandum jatuh di tanah. Bhakta tersebut duduk di gerobak dan mulai berdoa kepada Hanuman. Ia melantunkan 108 nama dan bahkan 1008 nama. Ketika tidak terjadi apapun, ia mulai menyalahkan Tuhan dan mencaci-Nya karena tidak menyelamatkannya. Hanuman kemudian muncul dan memberitahukan tugasnya! "Anak muda, bukannya melakukan tugasmu dengan menggunakan kekuatanmu untuk bekerja, engkau duduk, berdoa dan mulai mencaci Aku!" Ayolah, angkatlah roda tersebut dan chantingkan nama-Ku! Pertama-tama engkau menggunakan usahamu sendiri. Engkau harus menggunakan semua bakat yang telah diberikan kepadamu dalam suasana hati yang penuh doa, dan rendah hati. Saat itu, engkau tidak memiliki hak untuk mencari bantuan dan meng-intervensi Tuhan.

-BABA

Wednesday, September 18, 2013

Thought for the Day - 18th September 2013 (Wednesday)


Your duty (Karma) has to be done righteously (in dharma). Those dominated by ignorance (Thamas) do their duty solely for the sake of the fruits thereof and they resort to all sorts of subterfuges in order to gain the results they desire. For this category of people, the end justifies the means. Those dominated by passion (Rajas) are proud and pompous, and boast that they are the doers, the benefactors and the experiencers. Those dominated by qualities of calm serenity (Sathwa) do their duties regardless of the fruits thereof and leave the result to the Lord. They will not worry whether it leads to success or failure, ever conscious of their duties and never of their rights. As a matter of fact, there is more joy in the actual doing, than in the result that accrues. This attitude must be the experience of every true seeker.

Kewajibanmu (karma) ini harus dilakukan dengan benar (dalam dharma). Mereka yang didominasi oleh ketidaktahuan (Thamas) melakukan tugas mereka semata-mata demi buah/hasil perbuatannya dan mereka menggunakan segala macam dalih untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Untuk kategori ini, hasil akhir yang berarti. Mereka yang didominasi oleh gairah (Rajas), bangga dan sombong, serta membanggakan diri bahwa mereka adalah pelaku, orang bajik, dan berpengalaman. Mereka yang didominasi ketenangan (Sathwa) melakukan tugas mereka tanpa memperhatikan buah/hasilnya dan menyerahkan hasil-nya kepada Tuhan. Mereka tidak akan cemas apakah itu akan mengarah pada keberhasilan atau kegagalan, selalu menyadari tugasnya dan tidak menuntut hak-haknya. Sesungguhnya, ada kebahagiaan ketika melakukannya, daripada hasil yang ditimbulkannya. Setiap pencari spiritual hendaknya mengalami sikap seperti ini.

-BABA

Tuesday, September 17, 2013

Thought for the Day - 17th September 2013 (Tuesday)


Look at Arjuna! When the choice was placed before him to decide which he should receive – the entire army of redoubtable Yadhava war heroes or Lord Krishna alone, unarmed and refusing to fight – without any hesitation, he chose Krishna alone! He knew; he believed; and so, he was saved. What profit will an individual or country make if it accumulates money, gold and grain? The bliss derived from the worship of the Lord which arouses spiritual joy is, any day, far more desirable than the above. Want of faith is a source of true weakness. Love (Prema) is the seed, the overpowering experience of merging with the Divine is the tree (thanmayathwam), and inexhaustible bliss (Anandam) is the fruit. Achieve this consummation with firm faith in the Divine.

Lihatlah Arjuna! Ketika dihadapannya ditempatkan pilihan  untuk memutuskan antara - seluruh tentara perang Yadhava yang dahsyat  atau Sri Krishna sendiri yang tanpa senjata dan menolak untuk bertempur - tanpa ragu-ragu, ia memilih Krishna sendiri! Dia tahu, dia percaya, dia pasti diselamatkan. Apa keuntungan seorang individu atau suatu negara jika mengumpulkan uang, emas, dan biji-bijian? Kebahagiaan yang berasal dari pemujaan terhadap Tuhan yang membangkitkan kebahagiaan spiritual, setiap hari, jauh lebih diinginkan daripada yang tersebut di atas. Menginginkan keyakinan adalah sumber kelemahan sejati. Cinta-kasih (Prema) dapat diibaratkan sebagai benih, mengalami penyatuan dengan Tuhan dapat diibaratkan sebagai pohon (thanmayathwam), dan kebahagiaan yang tiada habis-habisnya (Anandam) adalah buahnya. Capailah kesempurnaan ini dengan keyakinan yang teguh pada Tuhan.

-BABA

Monday, September 16, 2013

Thought for the Day - 15th September & 16th September 2013

Date: Sunday, September 15, 2013

Devotion (Bhakthi) is the continuous flow of love which is unchanging, sincere and pure (Nithya, Sathya, Nirmalam). There is no one who is devoid of devotion; deep within the core, everyone has the feeling of kinship with all creatures. If you have no love, you are like the lamp without the flame. The presence or absence of the feeling makes a lonely man miserable or makes one likeable to many. Love of the pure type is like a bright light. It is not polluted by hate nor is contaminated with greed. Faith in God and faith in doing good is very essential. Also you must have faith in the concept of merit and sin (punya and papa). This will help you examine each act and consider its consequences before taking the action. Devotion makes you aware of the Lord, who sustains and supports every being and brings you nearer and dearer to Him.

Pengabdian (Bhakthi) adalah aliran kontinu cinta-kasih yang tidak berubah, tulus, dan murni (Nithya, Sathya, Nirmalam). Tidak ada orang yang tanpa cinta-kasih, jauh di dalam dasar hati, setiap orang memiliki perasaan kekeluargaan/kekerabatan dengan semua makhluk. Jika engkau tidak memiliki cinta-kasih, engkau dapat diibaratkan seperti lentera tanpa cahaya. Ada atau tidak adanya perasaan akan membuat manusia menderita kesepian atau membuat orang menyenangkan bagi banyak orang. Cinta-kasih yang murni seperti cahaya terang, tidak tercemar oleh kebencian atau terkontaminasi dengan keserakahan. Keyakinan kepada Tuhan dan selalu melakukan yang baik adalah sangat penting. Engkau juga harus memiliki keyakinan dalam konsep pahala dan dosa (punya dan papa). Hal ini akan membantumu memeriksa setiap tindakan dan mempertimbangkan konsekuensinya sebelum bertindak. Pengabdian membuatmu menyadari Tuhan, yang menopang dan mendukung setiap makhluk dan membawamu lebih dekat dan lebih disayang oleh-Nya.
-BABA

Date: Monday, September 16, 2013

The love of the Gopis towards Krishna has led many ignorant people enmeshed in worldly attachments and physical attractions, to turn their faces away from God. Before passing judgement on any subject, you must investigate closely. The love of the Gopis towards Krishna was super-physical, the love of the soul for the Over-soul, of the river for the sea. Their joy when they feel His presence is as supreme as their grief when they feel they are deprived of it. That is why among the songs of the saints, you have Nindhaasthuthi also; that is to say, songs, which blame Him for being cruel, partial, negligent, etc.! Persons deep in this type of love see nothing else, hear nothing else; they behave like mad persons in the world’s view.

Cinta-kasih para gopi kepada Sri Krishna telah menyebabkan banyak orang-orang terjebak dalam keterikatan duniawi dan daya tarik fisik, yang mengalihkan pandangan mereka jauh dari Tuhan. Sebelum menilai masalah apapun, engkau harus menyelidikinya dengan teliti. Cinta-kasih para gopi pada Sri Krishna adalah super-fisik, cinta kasih dari soul ‘jiwa’ untuk over-soul, dari sungai untuk laut. Kebahagiaan mereka ketika mereka merasakan kehadiran-Nya demikian pula kesedihan mereka ketika mereka merasakan kehilangan. Itulah sebabnya di antara nyanyian dari para orang suci, engkau juga menemukan Nindhaasthuthi; artinya, nyanyian yang mencela atau mengeritik Tuhan! Orang-orang yang memiliki jenis cinta-kasih yang mendalam seperti ini,  tidak akan melihat dan mendengar yang lainnya (selain Tuhan); mereka berperilaku seperti orang gila dalam pandangan duniawi.
-BABA

Saturday, September 14, 2013

Thought for the Day - 14th September 2013 (Saturday)


Divinity is above and beyond the intellect and unreachable through the senses. It is its own law; it is independent of all restrictions and modes. Each of the senses can perform only one operation to contribute to gathering knowledge. The ear can inform you of sound; the eyes can speak of colour, the tongue of taste, etc. Know that the Divine is beyond all sensations and systems. Creation, Sustenance and Dissolution (Srishti, Sthithi and Laya) are three expressions of the Divine will. You must penetrate the inner meaning of Creation (Srishti) by performing your duty as worship (Karma Yoga), you must grasp the significance of Sustenance (Sthithi) through Devotion to the Lord (Bhakthi Yoga), and when you attain wisdom (through Jnana Yoga), you arrive at the experience of Laya, Union with Divine.

Keilahian berada diatas dan di luar intelek dan tidak terjangkau melalui indera. Inilah hukumnya sendiri; bebas dari semua pembatasan dan mode. Masing-masing indera hanya dapat melakukan satu pekerjaan kemudian bergabung untuk menghasilkan suatu informasi. Telinga dapat menginformasikan tentang suara, mata tentang warna, lidah mengenai rasa, dll. Ketahuilah bahwa Tuhan berada di luar semua sensasi dan sistem. Penciptaan, Pemeliharaan, dan Peleburan (Srishti, Sthithi, dan Laya) merupakan tiga ekspresi dari kehendak Ilahi. Engkau harus meresapi makna batin Penciptaan (Srishti) dengan melakukan kewajibanmu sebagai ibadah (Karma Yoga), engkau harus memahami pentingnya Sthithi melalui Pengabdian/Bhakti pada Tuhan (Bhakthi Yoga), dan ketika engkau mencapai kebijaksanaan (Jnana melalui yoga), engkau tiba pada pengalaman Laya, menyatu dengan Tuhan.
-BABA

Friday, September 13, 2013

Thought for the Day - 13th September 2013 (Friday)


Treading the Spiritual Path (Sadhana) is very essential because the effects of karma have to be removed by karma alone, as a thorn can be removed only by another thorn. You cannot remove a thorn by a knife, or a hammer or even a sword. The knowledge that the world is unreal was spread by great saints and noble souls, who realised the Divine. But great saints like Shankaracharya persisted in activity in the unreal world, through the establishments of mutts, writing of books and participating in difficult debates. This is to illustrate that you cannot desist from doing karma. However, you must take care that it is saturated with love and promotes the welfare of the world. Soak yourself in Love and purify your thoughts and deeds with Love, then the Lord Himself will awaken your higher consciousness!

Menapaki jalan Spiritual (Sadhana) sangat esensial karena efek dari karma harus dihapus hanya dengan karma itu sendiri, seperti duri yang hanya dapat dicabut dengan duri lainnya. Engkau tidak dapat mencabut duri dengan menggunakan pisau atau palu atau bahkan pedang. Pengetahuan bahwa dunia ini tidak nyata telah disebarkan oleh orang-orang suci dan berjiwa mulia, yang telah menyadari Ilahi. Tetapi orang suci seperti Shankaracharya tetap melakukan kegiatan di dunia yang tidak nyata ini, dengan menulis buku dan berpartisipasi dalam diskusi/pembahasan yang berat. Hal ini untuk menggambarkan bahwa engkau tidak bisa berhenti dari melakukan karma. Namun, engkau harus menjaganya bahwa aktivitas itu dipenuhi dengan cinta-kasih dan untuk meningkatkan kesejahteraan dunia. Resapilah dirimu dalam Cinta-kasih dan murnikan pikiran dan perbuatan dengan Cinta-kasih, maka Tuhan sendiri akan membangkitkan kesadaranmu lebih tinggi!
-BABA

Thursday, September 12, 2013

Thought for the Day - 12th September 2013 (Thursday)


Intellectual scholarship is not very essential for a spiritual aspirant. Develop bliss not by merely mastering difficult scriptures but by cultivating love which begins in your very own home and family, and spreads to all creatures in the Universe. Put down the sharp edged weapon that seeks to analyse and chop the arguments of the opponent, cutting the other’s point of view to pieces. Take the delicacy of love and distribute it to one and all; win over recalcitrant hearts and give joy to all. That is the path of love, along which I shall lead you and guide you. God knows your name, your degrees, profession, status and past, and reveals Himself to you many times, only to satisfy you and give you a glimpse of His love, so that you can mix it with a little of your own and make your life joyful.

Pengetahuan intelektual bukanlah merupakan sesuatu yang esensial bagi para peminat spiritual. Mengembangkan bliss ‘kebahagiaan abadi’ tidak hanya dengan menguasai kitab suci yang sulit tetapi dengan menanamkan cinta kasih yang dimulai dari rumahmu  dan keluargamu sendiri, dan menyebarkannya ke semua makhluk di alam semesta. Singkirkanlah pedangmu yang cenderung suka menganalisa serta memotong argumentasi dari lawan-lawanmu. Ambillah cinta-kasih yang mampu melembutkan hati dan sebarkanlah untuk semuanya; menangkanlah hati yang  keras dan berikanlah sukacita bagi semuanya. Itulah jalan cinta-kasih, sepanjang jalan dimana Aku akan menuntunmu dan membimbingmu. Tuhan mengetahui namamu, gelarmu, profesimu, statusmu dan masa lalu-mu, dan menampakkan diri-Nya padamu berkali-kali, hanya untuk memuaskan engkau dan memberikan sekilas dari cinta kasih-Nya, sehingga engkau dapat membaurkannya dengan dirimu sendiri dan membuat kehidupanmu penuh dengan sukacita.

-BABA