Friday, October 18, 2013

Thought for the Day - 18th October 2013 (Friday)


Every being seeks rest, but the dust of sense-craving accumulates on the mind producing rust and threatening to ‘burst’ it! To remove the rust in your mind, listen to soulful compositions from great saints like Tyagaraja. Lay aside your cynicism for a while and listen to the captivating tunes and imbibe their essence. The science of spiritual culture and of the control of the mind has been developed, practised and perfected by thousands, for over thousands of years. The culture of India has stood the shock of ages and the fury of typhoons, using these methods. Sing and listen to the compositions of great saints in their traditional forms. Do not consider these divine compositions as mere paatalu (songs), they are truly mootalu (bundles) of precious gems, that will lead you on the baatalu (path) to the Divine. (Divine Discourse, July 11, 1957)

Setiap makhluk berusaha untuk mencari ketenangan, tetapi debu keinginan yang terakumulasi dalam pikiran menghasilkan karat dan mengancam untuk 'meledak'! Untuk menghilangkan karat dalam pikiranmu, dengarkanlah nyanyian dari orang-orang suci seperti Tyagaraja. Engkau hendaknya mengesampingkan sinisme untuk sementara waktu dan mendengarkan lagu-lagu menawan dan menyerap esensinya. Ilmu budaya spiritual dan pengendalian pikiran telah dikembangkan, dipraktikkan dan disempurnakan oleh ribuan orang, lebih dari ribuan tahun. Budaya India telah berdiri kokoh, menggunakan metode ini. Bernyanyilah dan dengarkanlah nyanyian dari para orang suci dalam bentuk tradisionalnya. Janganlah menganggap nyanyian ilahi ini hanya sebagai paatalu (lagu), ia benar-benar merupakan mootalu (bundel) dari permata, yang akan membawamu pada baatalu (jalan) menuju Tuhan.
-BABA

Thursday, October 17, 2013

Thought for the Day - 17th October 2013 (Thursday)

Just as underground water is the sustenance of all trees, the Atma is the underlying source of all the bliss that the individual experiences. The process of digging a borewell to bring the underground water to surface level involves steady hitting, digging, and thumping through a pipe which holds and directs the drill. The people who do the boring take a lot of care to ensure that air does not go into the pipe, for then the drilling process becomes unsuccessful. FInally through a lot of effort, you bring the subterranean water to the surface level for human consumption. So too, you must undertake the repetition of the Lord’s Name (Japam) very intensely taking care that you do not allow the attachment to worldly objects (Vishaya vasana) to enter and interfere with the process. (Divine Discourse, Oct 16, 1964)

Sama seperti air bawah tanah yang memberi makanan pada semua pohon, Atma adalah sumber yang mendasari semua kebahagiaan yang merupakan pengalaman individu. Proses menggali sumur bor untuk membawa air bawah tanah ke permukaan dengan proses penggalian yang terus-menerus, melalui pipa, yang memegang dan langsung mengarah pada bor. Orang-orang yang melakukan pengeboran melakukan pekerjaannya dengan hati-hati untuk memastikan udara tidak masuk ke dalam pipa, karena jika demikian, proses pengeboran menjadi tidak berhasil. Akhirnya melalui banyak usaha, engkau membawa air bawah tanah ke tingkat permukaan untuk konsumsi manusia. Demikian juga, engkau harus melakukan pengulangan Nama Tuhan (Japam) dengan sangat intens, berhati-hati untuk tidak memperbolehkan keterikatan pada benda-benda duniawi (Vishaya Vasana) untuk masuk dan mengganggu proses tersebut.

-BABA

Wednesday, October 16, 2013

Thought for the Day - 16th October 2013 (Wednesday)

Prayer and contrition are the two disciplines by which the mind can be cleansed of egoism and hatred; Saint Tyagaraja was a fine example of how this can be done. His songs are pure fragrant blossoms of devotion. He sang soulfully the glory of Rama, with the welfare of the individual as well as the world in view. He was ever engaged in the process of examining his words and deeds, and evaluating them on the touchstone of devotion. As the bee in quest of honey wanders in search of the flowers, as the creeper clings fast and fondly to the tree lest it may fall, as the stream runs to the river and the river rushes to the sea, Saint Thyagaraja pined for Lord Rama. Lord Rama had to give him personal audience (Darshan) and come to his rescue several times. Through devotion,Tyagaraja ensured he experienced the Lord’s constant presence and always remained in peace and joy. (Divine Discourse, July 11, 1957)

Doa dan penyesalan yang mendalam adalah dua disiplin dimana pikiran dapat dimurnikan dari egoisme dan kebencian, Tyagaraja adalah salah satu contoh yang baik tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan. Lagu-lagunya merupakan bunga murni pengabdian. Beliau menyanyikan kemuliaan Sri Rama dengan penuh perasaan, menggambarkan kesejahteraan individu dan dunia. Beliau senantiasa memeriksa kata-kata dan perbuatannya, dan mengevaluasinya sebagai batu ujian dalam pengabdian. Seperti lebah dalam mencari madu mengembara untuk mencari bunga-bunga, seperti tumbuhan menjalar melekat erat pada pohon supaya tidak jatuh, seperti air mengalir ke sungai dan sungai menuju ke laut, demikian Thyagaraja merindukan Sri Rama. Sri Rama memberikan Darshan dan datang untuk menyelamatkannya beberapa kali. Melalui pengabdian, Tyagaraja memastikan ia mengalami kehadiran Tuhan secara terus-menerus dan selalu tetap dalam kedamaian dan sukacita.

-BABA

Tuesday, October 15, 2013

Thought for the Day - 15th October 2013 (Tuesday)

Every one of you must fit in with the Divine Plan. Strive to know its main principles and be equipped for the tasks He allots to you. Give your heart completely to the duty assigned to you in life. Be ever vigilant of your own nature and duty (swadharma) and engage in the tasks that your role demands. To attain the Divine, you have to climb from the animal state to the human state and from human level to Divinity. This climb is hard given the several forces that are always around you, ready to pull you downward. The engine in the car if clogged and worn out, will whine and groan when it has to ascend a steep hill. On the other hand if it is well-maintained, free from the dust and dirt of sensory yearning, then it will ascend heights very easily. (Divine Discourse, Oct 15, 1964)

Setiap orang hendaknya siap dengan Rencana Ilahi. Engkau hendaknya berupaya untuk mengetahui prinsip-prinsip utama dan dilengkapi dengan tugas-tugas yang Beliau berikan kepadamu. Berikan hatimu sepenuhnya untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadamu dalam kehidupan ini. Berhati-hatilah pada sifat dasarmu dan kewajibanmu (Swadharma) dan lakukan tugasmu sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Untuk mencapai Divine, engkau harus mendaki dari tingkat hewan menuju ke tingkat manusia dan dari tingkat manusia menuju Divinity. Pendakian ini sangat sulit mengingat beberapa kekuatan yang selalu ada di sekitarmu, siap untuk menarikmu ke bawah. Mesin dalam mobil jika tersumbat dan usang, akan berat jika harus naik ke bukit yang curam. Di sisi lain jika mesin terpelihara dengan baik, bebas dari debu dan kotoran, maka mobil akan naik dengan sangat mudah. (Divine Discourse, Oct 15, 1964)

-BABA

Monday, October 14, 2013

Thought for the Day - 13th & 14th October 2013

Date: Sunday, October 13, 2013

Udhaseena (detachment marked by renunciation) is a state that is neither complaisance nor indifference. It means detachment from good as well as bad. I will explain this with an illustration: When a thorn gets into your foot, you use another thorn to remove the first one. After this you will have to discard both the thorns. You should not keep with you the second thorn though it has helped you in removing the first thorn. This is how you must gradually renounce the good and the bad. We should gradually cut down our relationship with the world. Most importantly do not enter into activities that induce unnecessary relationships, for that will prove detrimental to one’s welfare. (Divine Discourse, Oct 10, 1997)

Udhaseena (tanpa kemelekatan yang ditandai dengan melepaskan kehidupan duniawi)  bukanlah suatu keadaan untuk menyenangkan orang lain atau tidak memperhatikan orang lain. Ini juga berarti tidak melekat pada kebaikan ataupun keburukan. Aku akan menjelaskan hal ini dengan sebuah ilustrasi: Ketika duri masuk ke kaki-mu, engkau menggunakan duri lain untuk mencabut duri tersebut. Setelah itu, engkau harus membuang kedua duri tersebut. Engkau tidak menyimpan duri yang kedua meskipun telah membantumu untuk mencabut duri yang pertama. Inilah bagaimana engkau harus secara bertahap meninggalkan yang baik dan yang buruk. Kita seharusnya secara bertahap mengurangi keterikatan kita pada dunia. Yang paling penting, janganlah masuk ke dalam aktivitas yang menyebabkan hubungan yang tidak perlu, karena hal itu dapat mengganggu kesejahteraan. (Divine Discourse, Oct 10, 1997)
-BABA


Date: Monday, October 14, 2013

You must renounce attachment, hatred and ego. It is these qualities of attachment and ego that play havoc with a person and cast them into the mire of delusion. Ego leads to ostentatiousness and ostentatiousness strengthens the ego. A person can never experience divine bliss as long as one is swayed by the ego. Lord Krishna reveals to Arjuna in the Gita, “Ego, attachment and ostentatiousness are Rajasik qualities (passionate temperaments). These three are very dangerous and they bring on disaster! If anyone cultivates these habits, knowingly or unknowingly, they are not betraying others, but are deceiving themselves!” Resolve and achieve victory over your ego. With firm faith, make an intense effort to rid yourself of evil qualities. I bless you to carry out your convictions successfully and accomplish this victory with utmost ease! (Divine Discourse, Oct 10, 1997)

Engkau harus meninggalkan keterikatan, kebencian, dan ego. Sifat-sifat seperti ini, yaitu keterikatan dan ego, dapat merusak seseorang dan melemparkannya ke lumpur delusion (khayalan). Ego dapat mengarahkan orang-orang untuk suka pamer dan tindakan ini memperkuat ego. Seseorang tidak akan pernah bisa mengalami kebahagiaan Ilahi sepanjang terpengaruh oleh ego. Sri Krishna mengungkapkan kepada Arjuna dalam Gita, "Ego, keterikatan, dan suka pamer, adalah kualitas Rajasik. Ketiganya sangat berbahaya dan dapat membawa bencana! Jika ada yang memupuk kebiasaan ini, sadar atau tidak sadar, mereka tidak mengkhianati orang lain, tetapi menipu diri mereka sendiri! "Engkau hendaknya memiliki keteguhan hati dan memenangkan ego-mu. Dengan keyakinan yang mantap, buatlah upaya yang intens untuk membersihkan dirimu dari sifat-sifat yang buruk. Aku memberkatimu untuk menjalankan ini dan mencapai kemenangan ini dengan sangat mudah! (Divine Discourse, Oct 10, 1997)

-BABA

Saturday, October 12, 2013

Thought for the Day - 12th October 2013 (Saturday)


The subtle effect of mantras (mystic formulae) mentioned in the Vedas cannot be seen or heard by the senses; they have to be experienced in and through the inner consciousness, the Anthahkarana. The sound of these mantras has the power to transform the impulses and tendencies. The word mantra means ‘that which saves when turned over in the mind’. Repeating the mantra constantly in the mind will keep off wild talk, purposeless conversation, aimless gossip and scandal. Talk only when the talk is most essential and talk only as little as is necessary. Talk sweetly and without any reservations or circumvention. I want all to be convinced of the excellence of these teachings of the Vedas and Shasthras (scriptures). (Divine Discourse, Mar 21, 1967)

Efek dari mantra yang disebutkan dalam Veda tidak dapat dilihat atau didengar oleh indera, itu harus dialami dan melalui kesadaran batin, Anthahkarana. Suara mantra ini memiliki kekuatan untuk mengubah dorongan dan kecenderungan. Kata mantra berarti 'yang menyelamatkan ketika mantra tersebut diulang-ulang dalam pikiran'. Mengulang-ulang mantra secara terus-menerus dalam pikiran akan menghindari pembicaraan yang tidak benar, percakapan yang tanpa tujuan, gosip dan skandal tanpa arah. Berbicaralah hanya untuk hal-hal yang penting dan hanya berbicara sesedikit yang diperlukan. Berbicaralah yang manis dan tanpa syarat atau tipu daya. Aku ingin semuanya yakin dengan keunggulan dari ajaran Weda dan Shasthras (kitab suci). (Divine Discourse, Mar 21, 1967)

-BABA

Friday, October 11, 2013

Thought for the Day - 11th October 2013 (Friday)


External cleanliness, devoid of internal cleanliness is nothing short of deceitfulness. Internal cleanliness is more essential than external cleanliness. Though a cup may be clean and attractive outside, we cannot drink water from it, if it is unclean inside. Food cooked in copper vessels turns poisonous, if the vessel does not have a silver coating inside. Hence, observe internal cleanliness with meticulous care. Strive to remain free from the diseases of hatred, bad thoughts and vicious practices. God has gifted you this human body for achieving excellence in your daily life and attaining proximity with Divinity. Cultivate spirituality, acquire spiritual traits, attain proximity to the Divine and merge in Him. This must be your firm resolve. You can achieve this by sanctifying your body with sacred actions, until your last breath. (Divine Discourse, Oct 10, 1997)

Kebersihan eksternal hendaknya diikuti dengan kebersihan internal.  Kebersihan internal lebih penting daripada kebersihan eksternal. Walaupun cangkir mungkin bersih dan menarik di luarnya, kita tidak bisa minum air dari cangkir itu, jika di dalamnya airnya tidak bersih. Makanan yang dimasak dengan menggunakan wadah yang terbuat dari tembaga akan beracun, jika tembaga tidak dilapisi dengan lapisan perak di dalamnya. Oleh karena itu, perhatikanlah kebersihan internal dengan melakukan perawatan yang teliti. Berusahalah untuk membebaskan diri dari penyakit kebencian, pikiran yang buruk, dan praktik perbuatan yang buruk. Tuhan telah memberikan badan jasmani ini pada manusia untuk mencapai keunggulan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan. Pupuklah spiritualitas, engkau hendaknya mengembangkan sifat spiritual, mencapai kedekatan dengan Tuhan dan menyatu dengan-Nya. Ini hendaknya menjadi ketetapan hatimu yang teguh. Engkau dapat mencapai hal ini dengan menyucikan badan jasmani-mu dengan tindakan suci, sampai napas terakhir-mu. (Divine Discourse, Oct 10, 1997)
-BABA