Friday, September 11, 2015

Thought for the Day - 11th September 2015 (Friday)

There is electromagnetic energy in every body. Nature is the embodiment of the same energy. This energy may assume different forms, but its essential character is one and the same. A lighted bulb, a fan that is revolving, and many other things working through electrical power depend on the same kind of current. The energy may manifest itself in the form of light, heat, or magnetic energy, but it proclaims the power of the Divine, which is the source of all energy. This electromagnetic energy in man expresses itself in the form of radiation. It is also called reflection of the ‘Inner being’. The power of sight, hearing, speech, digestion, and movement of the limbs is derived from this energy. Water also contains this energy. In fact, the entire cosmos is permeated by this divine energy. On the basis of this, Vedanta declares, “Sarvam khalu idam Brahma (verily, every being is Divine).”


Dalam diri semua orang,  terdapat energi elektromagnetik. Alam adalah perwujudan dari energi yang sama. Energi ini mungkin mengambil bentuk yang berbeda, namun pada karakter dasarnya adalah satu dan sama. Sebuah bola lampu yang bersinar, sebuah kipas yang berputar dan banyak hal lainnya yang bekerja dengan tenaga listrik tergantung pada arus listrik yang sama. Energi mungkin mewujudkan dirinya dalam bentuk cahaya, panas atau energi magnetik, namun energi menyatakan tentang kekuatan illahi yang mana merupakan sumber dari seluruh energi. Energi elektromagnetik ini dalam diri manusia mengungkapkan dirinya dalam bentuk radiasi. Hal ini juga disebut dengan pantulan dari ‘kesadaran yang ada di dalam’. Kekuatan untuk melihat, mendengar, berbicara, mencerna, dan gerakan dari organ-organ tubuh dihasilkan dari energi ini. Air juga mengandung energi ini. Sejatinya, seluruh alam semesta diresapi oleh energi illahi ini. Atas dasar ini, Wedanta menyatakan, “Sarvam khalu idam Brahma (sejatinya, setiap makhluk adalah illahi). (Divine Discourse, 25-Aug-1998)

-BABA

Thursday, September 10, 2015

Thought for the Day - 10th September 2015

You should realise that for every action there is a consequence. The results of each action depend on the nature of the action, just as the nature of the tree depends on the seed which is sowed. The consequences of one's actions are inescapable and it is for this reason that the Emperor Manu laid down that all should observe Dharma. The consequences of actions may appear sooner or later but they are bound to occur. When you constantly think of God and perform all actions with Divine feelings, you will experience the full blossoming of the human qualities. Consider every action as dedicated to God. You cannot avoid actions. You must transform work into worship. You have to perform work in this spirit. You cannot substitute prayer for work. You have to combine both work and worship.


Engkau seharusnya menyadari bahwa untuk setiap tindakan ada konsekuensinya. Hasil dari setiap tindakan tergantung pada sifat tindakan, sama halnya seperti sifat pohon tergantung pada benih yang ditanam. Konsekuensi dari tindakan seseorang tidak bisa dihindari dan karena alasan inilah Maharaja Manu menetapkan bahwa semuanya harus memperhatikan Dharma. Konsekuensi dari tindakan mungkin muncul cepat atau lambat tetapi hal tersebut pasti terjadi. Ketika engkau terus-menerus berpikir tentang Tuhan dan melakukan semua tindakan dengan perasaan Ilahi, engkau akan mengalami mekarnya kualitas manusia dengan sempurna. Engkau hendaknya mendedikasikan tindakanmu kepada Tuhan. Engkau tidak dapat menghindari tindakan. Engkau harus mengubah pekerjaan menjadi ibadah. Engkau harus melakukan pekerjaan dalam spirit ini. Engkau tidak dapat mengganti doa untuk bekerja. Engkau harus menggabungkan keduanya yaitu pekerjaan dan ibadah. (Divine Discourse, 31-Aug-1992)

-BABA

Wednesday, September 9, 2015

Thought for the Day - 9th September 2015 (Wednesday)

In this transient world, wading through joy and grief, people have a sore need of someone of their kind with whom they can communicate their feelings, share their discoveries and depressions, their moments of bliss and sorrow;someone to be by their side while trekking the hard road to truth and peace. However, friendship and friends today are far from the ideal. Friends who can confer real counsel, comfort and consolation are rarely found. If friendship must last then heart must understand heart, heart must be drawn to heart. Friendship must bind two hearts and affect both of them beneficially, whatever be the circumstance - loss or gain, pain or pleasure, good fortune or bad. The bond must survive all the blows of fate and be unaffected by time, place and situation. The trust and honour of each is in the safekeeping of the other.


Mengarungi dunia yang sementara ini melalui suka cita dan kesedihan, manusia sangat memerlukan seseorang dimana mereka bisa menyampaikan perasaan mereka, membagi penemuan dan keadaan sulit mereka, saat bahagia dan sedih mereka; seseorang yang ada di samping mereka ketika melakukan perjalanan yang sulit menuju pada kebenaran dan kedamaian. Bagaimanapun juga, persahabatan dan teman pada saat sekarang, jauh dari ideal persahabatan. Teman yang dapat memberikan nasehat nyata, kenyamanan, dan penghiburan, jarang ditemukan. Jika persahabatan harus bertahan maka hati harus mengerti hati, hati harus ditarik ke hati. Persahabatan harus mengikat dua hati dan memberikan pengaruh baik bagi keduanya apapun keadaan yang mungkin terjadi – baik kehilangan atau keuntungan, kepedihan atau kesenangan, keberuntungan atau kesialan. Ikatan ini harus bertahan dari semua bentuk keadaan dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat dan keadaan. Kepercayaan dan saling menghargai satu dengan yang lainnya adalah menjaga dengan aman satu dengan yang lain. (Divine Discourse, 24-May-1973)

-BABA

Thought for the Day - 8th September 2015 (Tuesday)

To every being born on earth, Truth is the visible manifestation of God. The entire cosmos composed of moving and immovable objects has emerged from Truth, is sustained by Truth and merges in Truth. Truth is Divine and eternal (Sathyam-Jnanam-Anantham Brahma). Hence everyone must revere Truth. Sathya and Dharma (truth and righteousness) will not submit to anyone. Every kind of strength, physical or otherwise, will have to come under their sway. Success follows Sathya and Dharma. Whatever be your scholarship or position, you have to cultivate respect for human values. Protect Sathya and Dharma always. What students and people must safeguard is not merely nations, but Sathya and Dharma. In turn these values will protect the Universe. Educated persons, who in the name of countries are giving up truth and right conduct, are actually undermining the human civilization. It is more vital to cultivate virtues than go after scholarship or other worldly riches and possessions of transient nature.


Untuk setiap ciptaan yang lahir ke dunia, kebenaran adalah manisfestasi Tuhan yang bisa terlihat. Seluruh kosmos terdiri atas objek-objek yang bergerak dan tidak bergerak yang muncul dari kebenaran, ditopang oleh kebenaran dan menyatu di dalam kebenaran. Kebenaran adalah illahi dan kekal (Sathyam-Jnanam-Anantham Brahma). Oleh karena itu setiap orang harus menghormati kebenaran. Sathya dan Dharma (kebenaran dan kebajikan) tidak akan tunduk kepada siapapun. Setiap bagian dari kekuatan, fisik atau sebaliknya harus berada di bawah kekuasaan dari Sathya dan Dharma. Keberhasilan mengikuti Sathya dan Dharma. Apapun yang menjadi gelar sarjanamu atau kedudukanmu, engkau harus meningkatkan rasa hormat pada nilai-nilai kemanusiaan. Selalu melindungi Sathya dan Dharma. Apa yang harus dijaga oleh para pelajar dan masyarakat tidak hanya bangsa, namun juga Sathya dan Dharma. Sebagai gantinya nilai-nilai ini akan melindungi alam semesta. Orang-orang yang terpelajar atas nama bangsa sedang melepaskan kebenaran dan kebajikan yang sesungguhnya merongrong peradaban manusia. Adalah sangat penting sekali untuk meningkatkan kebajikan daripada mengejar kesarjanaan atau kekayaan duniawi dan harta benda yang bersifat sementara. (Divine Discourse, 20-May-1990)

-BABA

Monday, September 7, 2015

Thought for the Day - 7th September 2015 (Monday)

What is seen by your eyes, what moves your mind, what awakens your body and what shapes your entire life is the creation around you. Gopala is well versed in tending the cows, caring for them and nurturing them. The word ‘Go’ refers to cow, earth, sensory organs, heaven, speech, etc. So Gopala can play with you and make you sing. He can move you and all others. He can protect you and make you happy. This is the aspect of Gopala, the Divine Incarnate. The act of creation and the creator are permanent and they go on forever. Conditions may change and times may alter but Divinity will never change. The most important aspect of the Divine (Paramatma) is to look after the cows (His creation), protect them and ultimately ensure they merge in Him. Hence make sincere efforts to promote the divinity that is present in you and enjoy bliss. You should persevere to elevate yourself and never let yourself slip down.


Apa yang dapat dilihat oleh mata, apa yang dapat menggerakkan pikiran-mu, apa yang membangkitkan tubuhmu dan apa yang membentuk seluruh hidupmu adalah berasal dari ciptaan yang ada di sekitarmu. Gopala dikenal baik sebagai penggembala sapi-sapi, merawat dan memelihara sapi-sapi tersebut. Kata 'Go' mengacu pada sapi, dunia, organ-organ indria, surga, berbicara, dll. Jadi Gopala dapat bermain denganmu dan membuatmu bernyanyi. Beliau dapat menggerakkanmu dan semua yang lainnya. Beliau dapat melindungimu dan membuatmu bahagia. Inilah aspek Gopala, inkarnasi Tuhan. Tindakan penciptaan dan Sang pencipta bersifat kekal dan selalu bersama selamanya. Keadaan mungkin bisa berubah dan waktu mungkin saja berubah tetapi Divinity tidak akan pernah berubah. Aspek yang paling penting dari Ilahi (Paramatma) adalah untuk menjaga sapi (ciptaan-Nya), melindunginya dan akhirnya memastikan semuanya menyatu dengan-Nya. Oleh karena itu lakukanlah usaha yang tulus untuk meningkatkan keilahian yang ada dalam dirimu dan menikmati kebahagiaan. Engkau seharusnya dengan tekun meningkatkan dirimu dan jangan pernah membiarkan dirimu tergelincir ke bawah. (Summer Showers in Brindavan, 1978 Ch 23)

-BABA

Thought for the Day - 6th September 2015 (Sunday)

The heart must yearn for His voice, His form, His flute, His smile, His sport and His pranks. That is the tapas (penance) which is rewarded by His grace. The yearning must be so deep that all body consciousness is lost, the senses are ineffective, and the mind is inactive, the intelligence is at a standstill, and all ideas of duality disappear. The individual sees before him only step after step of Aananda leading him to the highest bliss of merging in the Lord. The culture of Bharath has marked out the guidelines for achieving this bliss. This bliss is the consummation of all sweetness, all the joy, and all the fulfilment derived from all the highest desires. But yet man is struggling to achieve petty things, paltry joys and low desires. When you seek God, you must not be misled into by-paths and mirages. The seeker after gold must cast away brass and other yellow metals which may distract or at times even destroy him.

Hati harus merindukan suara-Nya, wujud-Nya, seruling-Nya, senyum-Nya, senda gurau-Nya, dan permainan-Nya. Inilah yang disebut dengan tapa (penebusan dosa) yang akan diberkati dengan rahmat-Nya. Kerinduan harusnya begitu mendalam dimana seluruh kesadaran badan hilang, indria menjadi tidak bekerja, dan pikiran menjadi tidak aktif, kecerdasan menjadi berhenti sama sekali, dan semua gagasan dualitas menjadi sirna. Sang diri hanya melihat di depannya adalah langkah demi langkah yang menuntunnya pada kebahagiaan yang tertinggi dalam penyatuan dengan Tuhan. Kebudayaan dari Bharath (India) sudah membatasi tuntunan dalam mencapai kebahagiaan ini. Kebahagiaan ini adalah penyempurnaan dari semua rasa manis, semua suka cita, dan semua pemenuhan yang muncul dari semua keinginan yang tertinggi. Namun manusia masih terus berusaha untuk mendapatkan hal-hal yang remeh seperti: kesenangan yang tidak berharga dan keinginan rendahan. Ketika engkau mencari Tuhan, engkau seharusnya tidak tersesat ke dalam berbagai jalan dan khayalan belaka. Pencari emas harus membuang logam kuningan dan logam lainnya yang berwarna kuning yang mana dapat membingungkan atau pada waktunya bahkan dapat menghancurkannya. (Divine Discourse, 19-Aug-1968)

-BABA

Sunday, September 6, 2015

Thought for the Day - 5th September 2015 (Saturday)

In order to save humanity, the Lord appeared in a most charming form, so that He could draw devotees’ hearts through Love. This is why He is called 'Raso vai sah' (He is sweetness itself). Krishna incarnated to establish Dharma. So what He likes most is Dharma. Walk in the path of Dharma; that is the worship He is pleased with. The Flute is His favourite. So like a flute, become hollow (devoid of desires) and straight (with no crookedness), and He will accept you. Think of the sublime sweetness that Krishna evoked in the hearts of those who had the good fortune to be His contemporaries! Every one, from the unlettered cowherd to the most profound scholar and sage, was drawn to Him; they held on to Him firmly in unshakeable devotion. Whatever be the hardships and troubles, they never gave up His Lotus Feet. Hold on to the Lord; that is the way to peace and joy.


Dalam upaya untuk menyelamatkan umat manusia, Tuhan muncul dengan wujud yang sangat mempesona sehingga Beliau dapat menarik hati para bhakta melalui cinta kasih. Inilah sebabnya mengapa Beliau disebut dengan 'Raso vai sah' (Tuhan adalah rasa manis itu sendiri). Krishna berinkarnasi untuk menegakkan Dharma. Jadi yang Beliau sangat sukai adalah Dharma. Berjalanlah di jalan Dharma; itulah bentuk pemujaan yang Beliau sangat senangi. Seruling adalah kesukaan Beliau. Maka jadilah seperti seruling yaitu berlubang (tanpa adanya keinginan) dan lurus (tidak ada bengkok), dengan demikian Beliau akan menerimamu. Pikirkanlah tentang rasa manis yang sangat indah yang Krishna bangkitkan di dalam hati mereka yang beruntung yang ada se-zaman dengan-Nya! Setiap orang dari pengembala sapi yang tidak berpendidikan sampai pada cendekiawan besar dan para orang suci telah ditarik oleh-Nya; mereka memegang Krishna dengan kuat dalam bhakti yang tidak tergoyahkan. Apapun bentuk kesulitan dan masalah yang ada namun mereka tidak pernah melepaskan kaki Padma-Nya. Berpeganglah kepada Tuhan yang merupakan jalan menuju kedamaian dan suka cita. (Divine Discourse, 19-Aug-1968)

-BABA