Tuesday, October 6, 2015

Thought for the Day - 6th October 2015 (Tuesday)

Egoism and greed are still rampant; hatred has not abated and envy eats into the vitals of society. There is no dearth of scriptural books telling you how to be free from grief. All sacred and holy books including Gita, Bhagavata and Ramayana are available in all languages at a very low cost and most books are sold in more than thousands of copies per day; but there is nothing to indicate that they have been read and assimilated. The breath of the mouth must give an inkling of the food partaken, is it not? But the habits, the conduct, the character of the readers of these books have not undergone any change for the better. Hence each of you must examine your own mental make-up and evaluate whether you have used your discrimination and worldly knowledge to clothe yourself in detachment (vairagya), so that you do not suffer from attachment to things that will fade away.


Egoisme dan keserakahan masih merajalela; kebencian belum mereda dan iri hati menggerogoti bagian yang paling penting dalam masyarakat. Tidak ada kekurangan dalam naskah-naskah suci yang mengatakan kepadamu bagaimana bisa bebas dari kesedihan. Semua naskah suci termasuk di dalamnya Gita, Bhagavata, dan Ramayana semuanya tersedia dalam semua bahasa dengan harga yang sangat murah dan kebanyakan buku di jual lebih dari ribuan eksemplar per harinya; namun tidak ada yang menunjukkan bahwa semua naskah suci itu telah dibaca dan dimengerti. Nafas dari mulut pastinya memberikan indikasi makanan yang dimakannya, bukan? Namun kebiasaan, tingkah laku, karakter dari pembaca dari naskah suci ini tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu engkau harus memeriksa mentalmu sendiri dan menilai apakah engkau sudah menggunakan kemampuan membedakan dan pengetahuan duniawi untuk memberkatimu dengan tanpa keterikatan (vairagya), sehingga engkau tidak menderita dari keterikatan pada benda-benda yang akan memudar. [Dharma Vahini, Ch. 2]

-BABA

Monday, October 5, 2015

Thought for the Day - 5th October 2015 (Monday)

One cannot escape from disquiet as long as the fundamental ignorance persists; mere change of occupation, prompted by the desire for more comfort or the need for satisfying some passing likes will not give lasting satisfaction. It is like hoping to improve matters in a dark room by a mere readjustment of furniture. Instead if a lamp is lit, passage across the room is rendered easier even without readjusting furniture. There is no need to interfere with the furniture at all. So too, in this world, it is difficult to move about truthfully, correctly, and peacefully without knocking against some obstacle or other. How then are you to succeed? Light the lamp of spiritual wisdom (jnana)! Let it reveal the reality! That will solve all the difficulties. You may claim that you live according to dharma, but have you evaluated if your acts are done in a spirit of dedication to the Divine? If so, they will authentically be stamped as ‘dharmic’.


Seseorang tidak akan bisa melepaskan diri dari kegelisahan selama masih berada dalam kekaburan batin yang mendasar; hanya mengganti pekerjaan karena terdorong oleh keinginan oleh hasrat untuk mencari kesenangan yang lebih besar atau kebutuhan untuk memuaskan keinginan yang cepat berlalu tidak akan memberikanmu kepuasan yang langgeng. Ini seperti seseorang yang berharap membenahi segala sesuatu di ruang yang gelap hanya dengan menata kembali letak perabotannya. Tetapi, jika lampu dihidupkan maka tanpa menata perabotanmu engkau dapat berjalan melintas dengan mudah. Tidak diperlukan untuk merubah letak perabotannya. Begitu juga, di dunia ini adalah sangat sulit untuk berjalan dengan jujur, benar, dan dengan damai tanpa tersandung dengan beberapa halangan atau yang lainnya. Bagaimana caranya supaya engkau berhasil? Nyalakanlah pelita kebijaksanaan spiritual (jnana)! Cahaya lampu ini akan mengungkapkan kenyataan yang sejati! hal itu akan memecahkan semua masalah. Engkau mungkin mengatakan bahwa engkau hidup sesuai dengan dharma, namun sudahkan engkau memeriksa jika perbuatanmu dilaksanakan dengan semangat dedikasi kepada Tuhan? Jika sudah maka perbuatanmu secara otomatis akan ditandai sebagai ciri ‘dharma’.  [Dharma Vahini, Ch. 3]

-BABA

Sunday, October 4, 2015

Thought for the Day - 4th October 2015 (Sunday)

When people complain that they cannot concentrate, I laugh, for even the driver of a car is a master of the art of concentration. The taxi driver does not pay heed to the chatter from the seat behind or to the radio. He is watching the road ahead with single-pointed attention. If you have earnestness and faith (shraddha), more than half the battle is won. That is why, Krishna asks Arjuna, "Have you listened to what I have said with one-pointed attention?" Arjuna, even in the midst of the opposing armies in the battle-field, affirmed he listened to the words of the Lord with keen concentration. Practice concentration and it will stand you in good stead. Also, do not mistake the technique for the goal; do not lose your way in the tangle of scholarship. Scholarship and learning are only the means for the mastery of the Mind, to turn it from the Creation to the Creator.


Ketika orang-orang mengeluh bahwa mereka tidak mampu berkonsentrasi, Aku tertawa karena bahkan sopir adalah sangat jago dalam seni berkonsentrasi. Sopir taxi tidak memberikan perhatian pada obrolan yang ada di kursi belakang atau yang ada di radio. Ia sedang fokus memperhatikan jalanan dengan perhatian yang terpusat. Jika engkau memiliki kesungguhan dan keyakinan (shraddha), lebih dari setengah maka pertempuran dapat dimenangkan. Itulah sebabnya mengapa Krishna meminta Arjuna, "Sudahkah engkau mendengarkan apa yang telah Aku katakan dengan penuh perhatian?" Arjuna, bahkan yang ada diantara begitu banyak pasukan musuh di medan perang, menyatakan bahwa ia mendengarkan Sri Krishna dengan penuh perhatian. Jalankan konsentrasi dan ini akan memberikanmu manfaat yang baik. Juga, jangan keliru mengidentifikasi teknik untuk tujuannya; jangan kehilangan arah dalam kekacauan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan pembelajaran hanyalah sarana untuk bisa menguasai pikiran dan mengarahkan pikiran dari ciptaan ke penciptanya. [Divine Discourse, 22-Jan-1960]

-BABA

Saturday, October 3, 2015

Thought for the Day - 3rd October 2015 (Saturday)

Why complain that the ground cannot be seen when all the while your gaze is fixed on the sky? Watch the ground and look at the sheet of water that reflects the sky —then you can see, at the same time, the sky above and the earth below. So too, to adhere to the law of truth (sathya-dharma), in your every act, you must see the reflection of the glory of the Divine (Atma); then this attachment to the Lord will transmute your attachment to the world into a pure offering. Adherence to the law of truth is in fact the practice of the immanent Atmic principle. The goal of purity should not be altered or lowered; the essentials should be kept intact. Righteousness (Dharma) does not depend on the various names and forms that its application entails; they are not so basic. Dharma depends more on the motives and the feelings that direct and channelise your every act.


Mengapa mengeluh tidak dapat melihat tanah ketika sepanjang waktu engkau menengadah menatap langit? Perhatikan tanah dan lihatlah genangan air yang ada di atas tanah yang memantulkan langit, dengan demikian engkau dapat sekaligus melihat langit di atas dan di bumi. Demikian juga, bila engkau mematuhi hukum kebenaran (satya-dharma), di dalam setiap tindakanmu, maka engkau harus melihat pantulan dari kemuliaan Tuhan (Atma); maka keterikatan kepada Tuhan akan mengubah keterikatanmu pada dunia menjadi sebuah pengorbanan yang murni. Menjunjung tinggi hukum kebenaran dalam kenyataannya adalah menjalankan prinsip Atma yang selalu ada. Tujuan dari kemurnian tidak boleh diubah atau diturunkan; hal yang mendasar harus tetap dipertahankan. Kebajikan (Dharma) tidak tergantung pada berbagai bentuk nama dan wujud penerapannya; nama dan wujud bukanlah hal yang mendasar. Dharma tergantung lebih pada motif dan perasaan yang mengarahkan dan menyalurkannya dalam setiap tindakanmu. [Dharma Vahini, Ch. 2]

-BABA

Friday, October 2, 2015

Thought for the Day - 2nd October 2015 (Friday)

Speaking truth is the foremost quality of a human being. In fact, truth must dance on your tongue. To speak untruth and talk irresponsibly does not behove a human being. If you indulge in useless and indiscriminate talk, how can it be called truth? Before you speak something, you must enquire whether it is truth or not. Speak only truth which emerges from the heart. The entire world has emerged from truth and everything merges into truth. The clouds moving in the sky sometimes obscure the Sun; once the clouds move away, the resplendent Sun is fully visible. Similarly it is only when the dark clouds of resolutions and confusions in our heart are cleared, truth manifests. The five human values are not independent of each other. They closely follow one another. These qualities are God’s gift to humanity. All human beings must manifest these five human values by practicing them.


Berbicara benar adalah sifat yang paling penting dari manusia. Sejatinya, kebenaran harus selalu menari di atas lidahmu. Berbicara kebohongan dan berbicara tidak bertanggung jawab adalah tidak sesuai dengan sifat manusia. Jika engkau terlibat dalam pembicaraan yang tidak berguna dan sembarangan lantas bagaimana bisa disebut dengan kebenaran? Sebelum engkau mengatakan sesuatu maka engkau harus menyelidiki apakah itu adalah kebenaran atau tidak? Berbicaralah hanya kebenaran yang muncul dari dalam hati. Seluruh dunia telah muncul dari kebenaran dan segala sesuatunya menyatu ke dalam kebenaran. Awan bergerak di atas langit dan kadang-kadang menutupi matahari; sekali awan berlalu maka gemerlap dari cahaya matahari sepenuhnya terlihat. Sama halnya hanya ketika awan gelap dari resolusi dan kebingungan dihilangkan dari hati kita maka kebenaran dapat terwujud. Lima nilai-nilai kemanusiaan bukanlah berdiri sendiri satu dengan yang lainnya. Kelimanya sangat saling mengikuti satu dengan yang lainnya. Sifat-sifat ini adalah pemberian Tuhan kepada manusia. Semua uamt manusia harus mewujudkan kelima nilai-nilai kemanusiaan dengan menjalankannya. [Divine Discourse, Sep 29, 2006]
-BABA

Thursday, October 1, 2015

Thought for the Day - 1st October 2015 (Thursday)

When the waves of egotist fear or greed drives one into the privacy of the home, the loneliness of the forest, or anywhere else, it is impossible to escape suffering. However in daily practice, when one’s acts are motivated by the basic principle of the reality of the Atma, every act becomes stamped with the seal of dharma (righteousness). On the other hand, when acts are motivated by convenience and selfish interest, the dharma becomes pseudo-dharma. Why, even the feeling ‘he is a friend’ or ‘she is an enemy’ is an error. This delusion has to be given up. The Lord, the embodiment of love, is the only constant friend, relative, companion, guide, and protector. Know this and live in that knowledge. This is dharma built on the bedrock of understanding, this is life built on the bedrock of dharma.


Ketika gelombang ketakutan egoisme atau keserakahan membawa seseorang menyepi di dalam rumah, kesunyian di dalam hutan, atau di mana pun, adalah mustahil untuk melarikan diri dari penderitaan. Namun dalam praktik sehari-hari, ketika tindakan seseorang termotivasi oleh prinsip dasar realitas Atma, setiap tindakan menjadi dicap dengan segel dari dharma (kebenaran). Di sisi lain, ketika tindakan termotivasi oleh kenyamanan dan kepentingan egois, dharma menjadi dharma yang semu. Mengapa, bahkan perasaan 'dia adalah teman' atau 'dia adalah musuh' adalah merupakan suatu kekeliruan. Khayalan ini harus ditinggalkan. Tuhan, perwujudan cinta-kasih, adalah satu-satunya teman, kerabat, pendamping, panduan, dan pelindung yang selalu ada. Sadarilah hal ini dan hiduplah dalam pengetahuan itu. Dharma ini dibangun di atas landasan pemahaman, inilah kehidupan yang dibangun di atas landasan dharma. [Dharma Vahini, Ch. 2]

-BABA

Thought for the Day - 30th September 2015 (Wednesday)

You are unnecessarily struggling and planning several schemes, thinking about them day and night. In spite of all your struggles, what has to go out of your hands will go. The body is like a water bubble. The mind is like a mad monkey. If you follow this mad monkey, you will get into trouble. In the same manner, if you believe in the body, you do not know when this body, which is like a water bubble, will burst. Nothing is permanent. Only the Atma (Self) is eternal and immortal. ‘I’, ‘Self’, ‘God’ are all different names by which the Atmaswarupa is called. God incarnated as Rama, Krishna, and the like, and underwent several difficulties to demonstrate great ideals. Finally, they too left the mortal coil. The physical bodies of the Avatars undergo changes, but the Divine Atma in their bodies remains the same. It is omnipresent, eternal and changeless. Divinity in all the human beings is one and the same.


Engkau tidak perlu berjuang dan merencanakan beberapa skema, dan memikirkan hal tersebut siang dan malam. Lepaskanlah semua perjuanganmu, apa yang seharusnya menjadi suratan tanganmu, itu akan terjadi. Badan jasmani dapat diibaratkan seperti gelembung air. Pikiran dapat diibaratkan seperti monyet gila. Jika engkau mengikuti monyet gila ini, engkau akan mendapatkan masalah. Dengan cara yang sama, jika engkau percaya pada badan jasmani, engkau tidak mengenali kapan badan jasmani ini, yang seperti gelembung air, akan meledak. Tidak ada yang permanen. Hanya Atma yang kekal dan abadi. 'Aku', 'Atma', 'Tuhan' semuanya adalah Nama yang berbeda untuk penyebutan Atmaswarupa. Tuhan berinkarnasi sebagai Rama, Krishna, dan sejenisnya, dan menjalani beberapa kesulitan untuk menunjukkan ideal yang mulia. Akhirnya, mereka juga meninggalkan kumparan fana ini. Badan fisik Avatar mengalami perubahan, tetapi Atma yang ada pada badan mereka tetap sama, ada di mana-mana, kekal, dan tidak berubah. Divinity yang ada pada semua manusia adalah satu dan sama. (Divine Discourse, Jan 1 2009)
-BABA