Wednesday, January 2, 2019

Thought for the Day - 1st January 2019 (Tuesday)

Every year, since the beginning of history of mankind, people bid grand farewell to the old year and welcome the new year! What happens during the year? Only despair and distress, anxiety and insane fear, isn’t it? Use this year to enquire and discover how you can earn everlasting peace! You can earn it only through Love! Peace is the fruit of the tree of life! Without the fruit, the tree is a barren stump with no value or validity. This fruit is encased in a bitter skin, so that the sweet juice is preserved and guarded! Remove the skin and you can taste the sweetness within and strengthen yourself. The thick rind is symbolic of the six evil passions that encase the loving heart of every human - lust, anger, greed, attachment, pride and hate. Those who remove the rind and contact the sweetness within through hard and consistent discipline, attain the peace we all desire; that peace is everlasting, unchanging, and overwhelming!


Setiap tahun, sejak dari awal sejarah manusia, orang-orang melakukan usaha yang besar untuk mengucapkan selamat tinggal tahun yang lama dan selamat datang tahun yang baru! Apa yang terjadi selama satu tahun? Hanya rasa putus asa dan penderitaan, rasa cemas, dan ketakutan yang menggila, bukan? Gunakan tahun ini untuk mencari dan menemukan bagaimana engkau bisa memperoleh kedamaian yang kekal! Engkau bisa mendapatkannya hanya melalui cinta kasih! Kedamaian adalah buah dari pohon kehidupan! Tanpa buah, pohon itu menjadi tunggul tanpa nilai atau keaslian. Buah ini terbungkus dengan kulit yang pahit, sehingga rasa daging yang manis terlindungi dan terjaga di dalamnya! Buang kulitnya dan engkau dapat merasakan rasa manis di dalam dan menguatkan dirimu sendiri. Kulit yang tebal adalah simbol dari enam sifat jahat yang menutupi hati yang penuh kasih dari setiap manusia – nafsu, amarah, tamak, kesombongan, dan kebencian. Mereka yang membuang kulit dan terhubung dengan rasa manis di dalam melalui disiplin yang keras dan konsisten, mencapai kedamaian yang kita semua inginkan; kedamaian itu yang kekal, tidak berubah, dan berlimpah! (Divine Discourse, Jan 1, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 31st December 2018 (Monday)

Under any and all circumstances, let your feelings and actions be pure, noble and ideal. Let all your actions be for the highest good of all. Your heart is the centre of sacred feelings. It is filled with compassion. It is compassion that gives rise to sacred feelings. You must develop compassion, spread the light of love and cultivate Divine feelings. Without doing so, how can you expect time to confer happiness on you? If you expect good results, you must cultivate good feelings. With purity of heart, steadiness of mind and selfless actions, you can become the recipient of Divine grace, which will remove any amount of suffering in a trice. Hence always discriminate and undertake such activities which will confer Divine grace, which will in turn, bless you with peace and happiness!


Dalam berbagai jenis keadaan, jaga agar perasaan dan tindakanmu tetap suci, mulia, dan ideal. Tetap jaga agar semua perbuatanmu adalah untuk kebaikan yang tertinggi bagi semuanya. Hatimu adalah pusat dari perasaan yang suci. Hati diliputi dengan welas asih. Adalah welas asih yang memunculkan perasaan yang suci. Engkau harus mengembangkan welas asih, menyebarkan lentera kasih dan meningkatkan perasaan keilahian. Tanpa menjalankan hal ini, bagaimana engkau dapat mengharapkan waktu untuk memberikanmu kebahagiaan? Jika engkau mengharapkan hasil yang baik, engkau harus meningkatkan perasaan yang baik. Dengan hati yang suci, kemantapan dalam pikiran, dan tindakan tanpa mementingkan diri sendiri, engkau dapat menjadi penerima karunia Tuhan, yang mana akan menghilangkan berapapun jumlah penderitaan dalam sekejap. Oleh karena itu selalulah membedakan dan melakukan tindakan yang akan memberikan karunia Tuhan, yang mana sebagai balasannya akan memberkatimu dengan kedamaian dan kebahagiaan! (Divine Discourse, Jan 1, 2001)

-BABA

Thought for the Day - 30th December 2018 (Sunday)

You are not born in this world to strut about for a while on the stage, consuming food and making merry. You came into the world so that you may bask in the presence of God, through the exercise of love and the cultivation of love. If you deny God angrily, you are drying up the strings of love in your heart. The earth is a great enterprise, a busy factory, where the product is love. By means of Sadhana (spiritual practice), it is possible to produce love and export it to millions and millions of people in need of it. The more it is shared the deeper it becomes, the sweeter it tastes and the greater is the joy. One can approach God and stay in His presence by means of love, for God is love, and when one lives in love, one lives in God and with God.


Engkau tidak lahir ke dunia ini untuk menyombongkan diri sebentar di atas panggung kehidupan, makan, dan menikah. Engkau datang ke dunia ini sehingga engkau dapat bersuka ria dihadapan Tuhan, melalui latihan cinta kasih dan meningkatkan kasih itu sendiri. Jika engkau menyangkal Tuhan dengan marah, engkau sedang mengeringkan untaian kasih di dalam hatimu. Bumi adalah sebuah perusahaan yang sangat besar, pabrik yang sibuk yang menghasilkan cinta kasih. Dengan sarana Sadhana (latihan spiritual), adalah memungkinkan untuk menghasilkan cinta kasih dan mengirimkan kasih itu kepada jutaan dan jutaan orang yang memerlukannya. Semakin banyak kasih itu dibagi maka semakin dalam jadinya, semakin manis rasanya dan semakin besar suka citanya. Seseorang dapat mendekati Tuhan dan tinggal dalam kehadiran-Nya dengan sarana cinta kasih, karena Tuhan adalah cinta kasih, dan ketika seseorang hidup dalam kasih, itu berarti dia hidup dalam Tuhan dan dengan Tuhan. (Divine Discourse, Jan 1, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 29th December 2018 (Saturday)

Embodiments of the Divine! Do not fritter your days in attaining affluence with material possessions, which are often impediments in the journey of life. Money comes and goes; morality comes and grows! Money is not true wealth; it loses value, it bloats the ego and hardens the heart. If you do not allow money to circulate, it will destroy your health, as surely as bad blood will! Do not take it amiss, for, I am telling this only out of the fullness of My love for you! Worldly achievements develop conceit, separate one human from another! Your heart contracts and shrinks your sphere of awareness of the Divine! Love is expansion and expansion is Divine Life. God can be realised only through love. Without love in the heart, your heart is a desert; God will not reside therein. Sow pure Love; it will blossom as compassion and tolerance, and yield the fruit of everlasting peace (shanti).



Perwujudan ilahi! Jangan membuang-buang harimu dalam mencapai kekayaan dengan kepemilikan materi, yang sering menjadi penghalang dalam perjalanan hidup. Uang datang dan pergi; moralitas datang dan tumbuh! Uang bukanlah kekayaan yang sejati; uang menghilangkan nilai, uang membesarkan ego dan memperkeras hati. Jika engkau tidak mengizinkan uang berputar maka akan dapat merusak kesehatanmu! Jangan salah paham, karena Aku sedang mengatakan hal ini hanya karena kasih sayang-Ku untukmu! Pencapaian duniawi mengembangkan kesombongan, memisahkan satu manusia dari yang lainnya! Hatimu mengecilkan ruang lingkup kesadaran ilahi! Kasih yang mengembang dan meluas adalah kehidupan ilahi. Tuhan hanya dapat disadari melalui kasih. Tanpa kasih di hatimu, hatimu adalah sebuah padang pasir; Tuhan tidak akan tinggal disana. Taburlah benih kasih yang suci; dan akan mekar dalam welas asih dan toleransi, serta menghasilkan buah kedamaian yang kekal (shanti). (Divine Discourse, Dec 25, 1970)

-BABA

Thought for the Day - 28th December 2018 (Friday)

The Nature around us and with us is the vesture of God. We have evidence of His beauty, goodness, wisdom and power all around us, wherever we turn our eyes. But the art of recognising Him is strange to us and so, we deny Him and live in darkness. We have all around us the music emanating from all the broadcasting stations of the world, but they do not assail your ear at any time. But have a receiver and tune in to the correct wavelength, you will hear the broadcast! If you fail to tune it correctly, you will get nuisance instead of news! So too, the Divine is everywhere - above, around, below, beside, near as well as far. For cognising Him, you require not a machine (yantra) but a mystical formula (mantra). Meditation (Dhyana) is the fixing the exact location of the station in the band, love is the correct tuning in, and realising the reality and the bliss it confers is the happy clear listening!



Alam di sekitar kita dan dengan kita adalah pakaian dari Tuhan. Kita memiliki bukti akan keindahan, kebaikan, kebijaksanaan, dan kekuatan di sekitar kita kemanapun kita memandang. Namun seni dalam memahami-Nya adalah aneh bagi kita, sehingga kita menyangkal-Nya dan hidup di dalam kegelapan. Kita bisa mendengarkan semua jenis musik yang berasal dari semua stasiun penyiaran dunia, namun semuanya itu tidak mengganggu telingamu kapanpun juga. Engkau tidak menyadari stasiun yang ada. Namun, jika engkau memiliki sebuah pemancar penerima dan menyesuaikannya dengan panjang gelombang dengan tepat maka engkau dapat mendengar siaran itu! Jika engkau gagal untuk menyesuaikannya dengan benar, engkau akan mendengarkan suara bising dan bukannya siaran berita! Begitu juga, keilahian ada dimana-mana – diatas, disekitar, dibawah, disamping, sama dekat dan juga jauhnya. Untuk menyadari keilahian itu, engkau tidak memerlukan sebuah mesin (yantra) namun sebuah formula yang ampuh (mantra). Meditasi (Dhyana) adalah menentukan tempat dari stasiun penyiaran dengan tepat, cinta kasih adalah pencarian gelombang dengan benar, dan menyadari kenyataan sejati dan kebahagiaan adalah seperti mendengarkan siaran dengan jelas dan jernih serta menyenangkan! (Divine Discourse, Jan 1, 1971)

-BABA

Thought for the Day - 27th December 2018 (Thursday)

Everyone has faith in the power of love. When people ask, "How can we develop our love for the Lord?" The answer is: "There is only one way - to put into practice the love in which you have faith, then that love will grow." Because you do not practice what you profess, your faith gets weakened. A plant will grow only when it is watered regularly. When you plant the seed of love, you can make it grow only by watering it with love every day. The tree of love will grow and yield the fruits of love. Men and women today do not perform those acts which will promote love. When you wish to develop love for the Lord, you must continually practice loving devotion to the Lord. Devotion should flow from the heart, as was the case with the Gopikas. Much of what passes for devotion nowadays is artificial. Develop pure and sincere devotion, and sanctify your lives.


Setiap orang memiliki keyakinan pada kekuatan kasih. Ketika orang-orang bertanya, "Bagaimana kami dapat mengembangkan kasih kami kepada Tuhan?" Jawabannya adalah: "Hanya ada satu jalan saja – mempraktikkan kasih yang engkau yakini, kemudian kasih itu akan berkembang." Karena engkau tidak mempraktikkan apa yang engkau yakini maka keyakinanmu menjadi semakin lemah. Sebuah tanaman akan tumbuh hanya ketika disirami secara teratur. Ketika engkau menanam benih kasih, engkau dapat membuatnya menjadi tumbuh hanya dengan menyiraminya dengan kasih setiap hari. Pohon kasih akan tumbuh dan menghasilkan buah kasih. Manusia saat sekarang tidak menjalankan tindakan tersebut yang dapat mengembangkan kasih. Ketika engkau berharap kasih untuk Tuhan, engkau harus secara terus menerus mempraktikkan bhakti dengan kasih kepada Tuhan. Bhakti seharusnya mengalir dari hati, seperti halnya para Gopika. Banyak sekali bhakti yang disampaikan saat sekarang bersifat palsu. Kembangkan bhakti yang murni dan tulus serta sucikan hidupmu. (Divine Discourse, 2 Sep 2, 1991)

-BABA

Thought for the Day - 26th December 2018 (Wednesday)

Embodiments of Divine Love! When the mind is turned towards things of the world, it is called Anuraga (affection or attachment) and if it is turned towards God, it is called Prema (Love or devotion). Love is the fruit of love. Love is comparable only with love. Love can offer only love. Love cannot be described by poetry. It cannot be proved by the mind or the spoken word. Hence the Vedas declare that pure love transcends mind and speech. Love is priceless and indescribably precious. Its sweetness is unexcelled. Scriptures describe nectar (Amrit) as indescribably sweet. But Love is far sweeter than nectar. Love can be got only through love. Love is a precious diamond which can be got only in the realm of love and nowhere else. The kingdom of Love is located in a heart filled with love. Love can be experienced only in a mind flowing with love and a heart filled with love.


Perwujudan kasih ilahi! Ketika pikiran diarahkan pada benda-benda di dunia, ini disebut dengan Anuraga (keterikatan) dan saat pikiran diarahkan pada Tuhan, ini disebut dengan Prema (bhakti atau kasih). Kasih adalah buah dari kasih. Kasih hanya sebanding dengan kasih. Kasih hanya dapat memberikan kasih. Kasih tidak dapat dijelaskan dengan puisi. Kasih tidak dapat dibuktikan dengan pikiran atau dibicarakan melalui kata-kata. Oleh karena itu Weda menyatakan bahwa kasih yang murni melebihi pikiran dan perkataan. Kasih adalah tak ternilai dan mulia tidak terlukiskan. Rasa manis dari kasih adalah tak terkalahkan. Naskah suci menjelaskan nektar (Amrit) sebagai rasa manis yang tidak terlukiskan. Namun kasih adalah jauh lebih manis daripada nektar. Kasih hanya bisa diperoleh melalui kasih. Kasih adalah sebuah permata yang berharga yang hanya bisa didapat dalam genggaman kasih dan tidak di tempat lain. Kerajaan kasih terletak di dalam hati yang diliputi kasih. Kasih dapat dialami hanya dalam pikiran mengalir dengan kasih dan hati diliputi dengan kasih. (Divine Discourse, Sep 2, 1991)

-BABA