Saturday, January 12, 2019

Thought for the Day - 8th January 2019 (Tuesday)

In order to live up to the high standards of morality which Indian culture exhorts, you must cultivate love, nonviolence, fortitude and equanimity. The last three guard and foster the first. Many people have succeeded with the help of the latter three qualities, to get their minds established in Universal love! Indeed, quite a large number of spiritual aspirants have also given up their spiritual ascent midway because they lose confidence in their true selves. The first faint whisper of doubt disheartens them and they slide back into a life of sensual satisfactions. They lose faith in God who is the Embodiment of Love and is their real sustenance. Sadhana alone can steel people to forge ahead on the spiritual path. The wise are buoyed up by the bliss of their genuine awareness. Hang on, persist in your sadhana, have faith in yourself and derive strength and joy only from God!


Untuk memenuhi standar moralitas yang tinggi yang dianjurkan budaya India, engkau harus memupuk cinta-kasih, tanpa-kekerasan, ketabahan, dan keseimbangan batin. Tiga penjaga terakhir dan membina yang pertama. Banyak orang telah berhasil dengan bantuan tiga kualitas terakhir, untuk membuat pikiran mereka mapan dalam cinta Universal! Memang, cukup banyak calon spiritual yang juga telah meninggalkan pendakian spiritual mereka di tengah jalan karena mereka kehilangan kepercayaan pada diri sejati mereka. Bisikan samar pertama dari keraguan membuat mereka kecewa dan mereka kembali ke kehidupan kepuasan sensual. Mereka kehilangan iman kepada Tuhan yang merupakan Perwujudan Cinta dan merupakan rezeki nyata mereka. Sadhana sendiri dapat menguatkan orang untuk terus maju di jalan spiritual. Orang bijak didukung oleh kebahagiaan kesadaran sejati mereka. Bertahanlah, bertahanlah dalam sadhanamu, percayalah pada diri sendiri dan dapatkan kekuatan dan sukacita hanya dari Tuhan! (Divine Discourse, Jun 6, 1978) (SSS Vol 14, Ch 4)

-BABA

Thought for the Day - 7th January 2019 (Monday)

Balvikas Gurus should keep their emotions under control and not exhibit depression, dejection or wavering will. Your quality of work is more important than quantity, so don’t undertake to do more than what you can render satisfactorily. Let your own conscience be the judge and decide whether you discharge your duty sufficiently to the children and society. You may face various problems while conducting the classes - solve them with discrimination and deep love. Meet these problems with a desire to serve the children better and you will be able to overcome them easily. Gradually you will realise that Balvikas is devised not merely for education of children but also for gurus. Balvikas duties will elevate and sublimate the guru’s thoughts and emotions far better than any other spiritual discipline. Remember that as gurus, you too have a guru guiding you and overseeing your Seva. Gurus are pupils too, learning lessons of equality, equanimity and selfless love with your Omniscient Guru.


Para guru Balvikas seharusnya menjaga emosi mereka terkendali dan tidak menunjukkan depresi, kesedihan, atau kegoyahan. Kualitas kerjamu adalah lebih penting daripada kuantitas, jadi jangan melakukan lebih daripada apa yang dapat engkau berikan dengan memuaskan. Biarkan suara hatimu menilai dan memutuskan apakah engkau menjalankan kewajibanmu dengan memadai untuk anak-anak dan masyarakat. Engkau mungkin menghadapi berbagai jenis masalah ketika sedang mengajar di kelas – pecahkan masalah itu dengan kemampuan membedakan dan kembangkan cinta kasih. Hadapi masalah-masalah dengan sebuah keinginan untuk melayani anak-anak dengan lebih baik dan engkau akan mampu mengatasi semuanya itu dengan mudah. Secara perlahan engkau akan menyadari bahwa Balvikas dirancang tidak hanya untuk Pendidikan bagi anak-anak namun juga untuk para guru. Kewajiban dalam Balvikas akan mengangkat dan menghaluskan pikiran serta emosi dari para guru jauh lebih baik daripada disiplin spiritual yang lainnya. Ingatlah bahwa sebagai guru, engkau juga memiliki seorang Guru yang menuntunmu dan mengawasi Sevamu. Para guru adalah murid juga, belajar pelajaran kesetaraan, ketenangan dan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri dengan Guru yang Maha tahu. (Divine Discourse, Jun 6, 1978)

-BABA

Thought for the Day - 6th January 2019 (Sunday)

The Vedas teach that you should adore and worship God in gratitude for His benedictions. The Bible teaches that one should pray for peace and practice charity. Quran impresses upon you to show mercy to the suffering and to surrender your will to the All High. Buddhist texts teach the lesson of detachment and sense-control. The Zend-Avesta exhorts you to get rid of evil propensities and shine in your own innate glory. Hence all of you must realise that the teachings of all religions are One and that prayer in any language and addressed to any Name reaches the same God. Understand that God can be invoked through a picture or an idol to fulfil your sincere desire, provided it is helpful to others as well as to yourself. The Balvikas Guru has to imbibe all these qualities and then teach them to the Balvikas children by precept and example.



Veda mengajarkan bahwa engkau harus memuja dan menyembah Tuhan dengan rasa terima kasih atas berkat-Nya. Alkitab mengajarkan bahwa seseorang harus berdoa untuk kedamaian dan mempraktikkan amal. Quran menekankan kepadamu untuk menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita dan untuk memasrahkan keinginanmu kepada Yang Maha Besar. Teks-teks Buddhis mengajarkan pelajaran tanpa kemelekatan dan pengendalian indera. Zend-Avesta menganjurkan kepadamu untuk menyingkirkan kecenderungan buruk dan memancarkan kemuliaan bawaanmu sendiri. Oleh karena itu, kalian semua harus menyadari bahwa ajaran semua agama adalah Satu dan bahwa doa dalam bahasa apa pun dan ditujukan kepada Nama apa pun mencapai Tuhan yang sama. Pahamilah bahwa Tuhan dapat dipanggil melalui gambar atau patung untuk memenuhi keinginanmu yang tulus, asalkan itu membantu orang lain dan dirimu sendiri. Guru Balvikas harus menyerap semua sifat-sifat ini dan kemudian mengajarkannya kepada anak-anak Balvikas dengan pedoman dan contoh. (Divine Discourse, Jun 6, 1978) (SSS Vol 14, Ch 3)

-BABA

Saturday, January 5, 2019

Thought for the Day - 5th January 2019 (Saturday)

All of you must possess these four important qualities: Peace (Shanti), Truth (Satya), absence of egoism (Nirahankara) and absence of envy (Anasuya). Suffusing all the four is the quality of pure love. These qualities cannot be obtained from the market, through studies, from a teacher or as a gift from someone. You can acquire them only through your own effort. Cultivate and develop these noble qualities from childhood. Out of fear of punishment by parents or teachers, children indulge in falsehood and avoid speaking the complete truth. This tendency in due course results in vitiating their entire life by making them lead double lives. From childhood, children should be taught to speak truth and admit their mistakes. There is nothing wrong in being corrected for misdeeds; these corrections will help them to learn to behave well as adults. Speaking truth, irrespective of any difficulty that may come, must be imprinted firmly and deeply in young minds and hearts which are pure and untainted.


Engkau sekalian harus memiliki empat kualitas penting ini: Kedamaian (Shanti), Kebenaran (Satya), tidak ada egoisme (Nirahankara), dan tidak ada iri hati (Anasuya). Keempatnya merupakan kualitas cinta-kasih yang murni. Kualitas-kualitas ini tidak dapat diperoleh dari pasar, melalui studi, dari seorang guru, atau sebagai hadiah dari seseorang. Engkau bisa mendapatkannya hanya melalui usahamu sendiri. Tanamkan dan kembangkanlah kualitas mulia ini sejak kecil. Karena takut akan hukuman oleh orang tua atau guru, anak-anak menikmati kebohongan dan menghindari berbicara kebenaran. Kecenderungan ini pada akhirnya melemahkan seluruh hidup mereka dengan membuat mereka menjalani kehidupan ganda. Sejak kecil, anak-anak harus diajari berbicara kebenaran dan mengakui kesalahan mereka. Tidak ada salahnya diperbaiki ketika anak-anak melakukan kesalahan; perbaikan ini akan membantu mereka belajar berperilaku baik ketika mereka dewasa. Berbicara kebenaran, terlepas dari kesulitan apa pun yang mungkin datang, harus ditanamkan dengan kuat dan mendalam dalam pikiran dan hati anak-anak yang murni dan tidak ternoda. (Divine Discourse, Dec 30, 1983)

-BABA

Thought for the Day - 4th January 2019 (Friday)

Balvikas is the primary basis of the great movement to restore righteousness (dharma) in the world. The ideal of the Balvikas is to raise a generation of boys and girls who have a clean and clear conscience. Children must be led into good ways of living, into simplicity, humility and discipline. As you know, you cannot draw children to your side if you hold a stick in your hand; you will have to hold some sweets instead. So the gurus have to be embodiments of love and patience. The actual syllabus is not so important as the creation of an atmosphere where noble habits and ideals can grow and fructify. The pupils follow Balvikas discipline and curriculum only for one day in the week and attend their usual schools on the other days. So the impact of the guru has got to be extra strong if it has to act as a catalyst in the process of modification of the behaviour patterns of these children.


Balvikas merupakan dasar utama dari gerakan besar untuk memulihkan kebajikan (dharma) di dunia. Ideal dari Balvikas adalah membangkitkan generasi anak-anak yang memiliki hati nurani yang bersih dan jernih. Anak-anak harus dituntun dalam cara-cara hidup yang baik, ke dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan disiplin. Seperti yang engkau ketahui, engkau tidak dapat menarik anak-anak ke sisimu jika engkau memegang tongkat di tanganmu; engkau harus menggenggam beberapa permen sebagai gantinya. Jadi, para guru Balvikas harus menjadi perwujudan cinta-kasih dan kesabaran. Silabus sesungguhnya tidak begitu penting karena penciptaan suasana di mana kebiasaan dan cita-cita luhur dapat tumbuh dan membuahkan hasil. Anak-anak Balvikas mengikuti pelajaran dan kurikulum Balvikas hanya untuk satu hari dalam seminggu dan mengikuti sekolah umum pada hari-hari lainnya. Jadi guru Balvikas harus memberikan dampak yang sangat kuat agar mampu bertindak sebagai katalis dalam proses perubahan pola perilaku anak-anak ini. (Divine Discourse, Jun 6, 1978)

-BABA

Thursday, January 3, 2019

Thought for the Day - 3rd January 2019 (Thursday)

The industrial, agricultural, mercantile, political and administrative - these are like the five vital airs that sustain our activities. These must work in unison, prompted by love and mutual respect. Then alone can the community have peace, security and happiness. This cooperation is unfortunately not visible at the present time. Factional interests, on the other hand, are predominant and the competitive struggle is on in all fields. Excitement blinds reasoning. Passion, violence and cruelty create more problems without solving any. These are now flooding as a deluge. Individuals with no training and no sincere yearning to bear responsibility and discharge the obligations of office are raised to positions of authority. Ability, willingness to discharge duties and to bear burdens - these alone entitle one to hold authority over others. The power that office confers must be handled with gratefulness and reverence. If this is remembered and practised by every worker and officer, their work will give happiness, contentment and peace, both to themselves and to the society of which they are a limb.


Industri, pertanian, perdagangan, politik, dan administrasi – semuanya ini adalah seperti lima udara vital yang menopang kegiatan kita. Semuanya ini harus bekerja serentak, didorong oleh cinta kasih dan saling menghormati. Hanya dengan demikian maka masyarakat bisa mendapatkan kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan. Kerja sama ini sangat disayangkan tidak terlihat pada saat sekarang. Kepentingan golongan atau sebaliknya bersifat utama dan persaingan ada di semua bidang. Kegembiraan membutakan kemampuan memberikan alasan.  Gairah, kekerasan, dan kekejaman menciptakan lebih banyak masalah tanpa adanya jalan keluar. Hal ini sekarang semakin banyak sebagai sebuah banjir besar. Para individu tanpa adanya pelatihan dan tanpa keinginan yang tulus untuk memikul tanggung jawab dan melaksanakan kewajiban di kantor diangkat pada jabatan yang memiliki kewenangan. Kemampuan, keinginan untuk melaksanakan kewajiban dan menanggung beban – sifat-sifat ini saja yang berhak untuk memiliki kewenangan pada yang lain. Kekuasaan yang diberikan di kantor harus ditangani dengan penuh syukur dan rasa hormat. Jika hal diingat dan dijalankan oleh setiap pekerja dan pegawai kantor, pekerjaan mereka akan memberikan kebahagiaan, rasa syukur, dan kedamaian, baik untuk diri mereka sendiri dan juga masyarakat yang merupakan bagian dari diri mereka. (Divine Discourse, Jan 1, 1971)

-BABA

Wednesday, January 2, 2019

Thought for the Day - 2nd January 2019 (Wednesday)

Whether you see God or not, He is omnipresent; He is in the past, the present, and the future! God is and can be, only one, not many! "There is only One God and He is Omnipresent! There is only one religion, the Religion of Love. There is only one language, the Language of the Heart." This God must be visualized through constant spiritual discipline. Do not involve yourself in doubt and hesitation. If only you observe spiritual discipline and purify your consciousness, you will see God installed in your heart. There is sugar in the cup, but the water is insipid, for you have not stirred it well. There is God in the world, and by stirring the Divine well into every drop or atom thereof, you can make your world very sweet to live by. Intelligence is the spoon; sadhana is the process of stirring. Saturate every moment of your life with God; your daily life will taste sweeter!


Apakah engkau melihat Tuhan atau tidak, namun Tuhan bersifat ada dimana-mana; Tuhan ada di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang! Tuhan adalah satu (Esa) dan tidak banyak! "Hanya ada satu Tuhan dan Tuhan yang ada dimana-mana! Hanya ada satu agama, agama cinta kasih. Hanya ada satu bahasa, Bahasa hati." Tuhan harus dapat dibayangkan melalui displin spiritual yang terus menerus. Jangan liputi dirimu sendiri dalam keraguan. Hanya saja engkau menjalankan latihan spiritual dan menyucikan kesadaranmu, engkau akan melihat Tuhan yang bersemayam di dalam hatimu. Ada gula di dalam cangkir, namun airnya terasa hambar, itu disebabkan karena engkau tidak mengaduk gulanya dengan baik. Ada Tuhan di dunia ini dan hanya dengan menggerakkan Tuhan ke dalam setiap titik atau atom, engkau dapat membuat duniamu menjadi tempat yang indah untuk ditempati. Kecerdasan adalah seperti sendok; sadhana adalah proses dalam pengadukan. Penuhi setiap momen dalam hidupmu dengan Tuhan; hidupmu sehari-hari akan terasa lebih manis! (Divine Discourse, Dec 25, 1970)

-BABA