Saturday, January 11, 2025

Thought for the Day - 11th January 2025 (Saturday)



Although there may be differences among nations in their food and recreational habits, the spirit of harmony and unity displayed in sports is a gratifying example to all. It is a distinctive quality of sports that differences are forgotten and persons engage themselves in games in a divine spirit of friendliness and camaraderie. Sports help the players not only to improve their health but also to experience joy. Students, however, should not be content with realising these benefits. Man has another body besides the physical. It is the subtle body, otherwise known as the mind. It is equally essential to promote purity of the mind and develop large-heartedness. True humanness blossoms only when the body, the mind and the spirit are developed harmoniously. The enthusiasm and effort which you display in sports should also be manifested in the spheres of morality and spirituality. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1990.

The aim of sports and games is not to produce a decisive result but to inculcate the spirit of sportsmanship in the participants. 



Walaupun ada perbedaan diantara bangsa-bangsa terkait makanan dan kebiasaan rekreasi mereka, namun jiwa dari keharmonisan dan persatuan yang ditunjukkan dalam olahraga adalah sebuah contoh yang memuaskan bagi semuanya. Ini merupakan sebuah kualitas yang khusus dari olahraga dimana perbedaan dilupakan dan orang-orang yang terlibat dalam permainan dengan semangat keilahian berupa keakraban dan persahabatan. Olahraga membantu para pemain tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan mereka namun juga untuk mengalami suka cita. Para pelajar, bagaimanapun juga seharusnya tidak merasa puas dengan menyadari manfaat-manfaat ini saja. Manusia memiliki badan lain selain badan fisik. Ini adalah badan halus, atau dikenal juga dengan nama pikiran. Merupakan hal yang sama-sama mendasar untuk memupuk kemurnian pikiran dan mengembangkan kelapangan hati. Kualitas kemanusiaan yang sejati hanya dapat mekar ketika badan, pikiran dan jiwa dirawat secara harmonis. Semangat dan usaha yang engkau tunjukkan dalam olahraga seharusnya juga diwujudkan dalam bidang moralitas dan spiritual. 


- Divine Discourse, 14 Januari 1990.

Tujuan dari olahraga dan permainan adalah bukan untuk memperoleh hasil yang menentukan namun untuk menanamkan jiwa sportivitas dalam diri peserta. 

Friday, January 10, 2025

Thought for the Day - 10th January 2025 (Friday)



All that you see outside is a reflection of the inner being. Good and bad do not exist outside; they are mere reflections of what is within you. No one has the right to judge others. Give up all that is bad in you and you will find goodness all around. As the colour of glasses you put on, so is the colour of the world you visualise. The defect lies in your vision, not in the creation. Heart is the dwelling place of God. So, only noble feelings should emerge out of it. If there are any evil qualities like lust, greed, and anger in it, then it ceases to be a human heart. It is verily the heart of an animal. If your conduct is devoid of humanness, then you are not a human being. Act in a manner that befits your human birth. When you are angry, remind yourself, “I am not a dog, I am man.” When your mind wavers, tell yourself repeatedly, “I am not a monkey, I am man.” Patiently think about your real nature. Never act in haste. Haste makes waste. Waste makes worry. So, do not be in a hurry. Take time and think calmly. All these evil qualities can be eliminated by developing good thoughts and feelings. The remedy for all your mental ailments lies within you! 


- Divine Discourse, Nov 18, 1999.

When divine feelings do not surge in the heart, Man becomes infected with two flaws. He conceals his countless blunders, and He criticises even minor mistakes of others.


Semua yang engkau lihat di luar adalah sebuah pantulan dari yang di dalam diri. Kebaikan dan keburukan tidak ada di luar diri; keduanya hanyalah pantulan dari apa yang ada di dalam dirimu. Tidak ada seorangpun yang berhak untuk menghakimi yang lainnya. Buang jauh-jauh semua keburukan di dalam dirimu dan engkau akan menemukan kebaikan di sekitarmu. Sebagaimana warna kaca mata yang engkau pakai, maka begitulah warna dunia yang engkau lihat. Kesalahan ada pada pandanganmu dan bukan pada ciptaan. Hati adalah tempat bersemayam dari Tuhan. Jadi, hanya perasaan-perasaan luhur yang harus muncul dari hati. Jika ada sifat-sifat yang jahat seperti nafsu, ketamakan, dan amarah di dalamnya, maka itu bukan lagi hati manusia. Ini sesungguhnya adalah hati dari binatang. Jika tingkah lakumu tanpa adanya nilai kemanusiaan, maka engkau bukanlah manusia. Berbuatlah sesuai dengan kelahiranmu sebagai manusia. Ketika engkau marah maka ingatkan dirimu kembali, “aku bukanlah anjing, aku adalah manusia.” Ketika pikiranmu bimbang, katakan pada dirimu sendiri berulang kali, “aku bukanlah monyet, aku adalah manusia.” Secara sabar pikirkan sifat dirimu yang sejati. Jangan pernah bertindak secara terburu-buru. Melakukan sesuatu secara terburu-buru membawa pada kehancuran. Kehancuran menimbulkan kecemasan. Jadi, jangan terburu-buru. Ambillah waktu dan berpikirlah dengan tenang. Semua sifat-sifat jahat ini dapat dihancurkan dengan mengembangkan gagasan dan perasaan baik. Obat untuk semua penyakit mental ada di dalam dirimu! 


- Divine Discourse, 18 November 1999.

Ketika perasaan Ilahi tidak muncul di dalam hati, manusia menjadi terjangkit dengan dua kelemahan. Dia menyembunyikan kesalahannya yang tidak terhitung jumlahnya dan dia mengkritik bahkan kesalahan kecil orang lain. 




Thursday, January 9, 2025

Thought for the Day - 9th January 2025 (Thursday)



Real sadhana consists in transforming bad into good, converting sorrow into joy. There can be no happiness without sorrow, no good without the bad. There is a continuous conflict between good and evil, between happiness and sorrow. Happiness and misery are inseparable twins which are inextricably linked to each other. One is the beginning and the other is the culmination. The beginning and end go together. Only the Divine is free from a beginning, a middle or an end, but in worldly affairs, everything that has a beginning has an end. Grief is not something which someone thrusts on you from outside. Troubles and difficulties are not imposed on you from outside. Grief and trouble arise in the natural course of things. The refinement of life calls for continuous sadhana. Without such practice, life gets degraded. For instance, a diamond gets enhanced in value when it goes through the process of cutting and faceting. Likewise, gold, taken out as ore from the earth, becomes pure and valuable after refinement. In the same manner, sadhana is necessary to elevate life from the trivial to the sublime. 


- Divine Discourse, Jun 01, 1991.

Not to know who one is - this is the biggest handicap. Until this is overcome, grief is inevitable.


Sadhana yang sesungguhnya adalah mengubah keburukan menjadi kebaikan, mengubah penderitaan menjadi suka cita. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa adanya penderitaan, tidak ada kebaikan tanpa keburukan. Terus ada konflik diantara kebaikan dan kejahatan, diantara kebahagiaan dan penderitaan. Kebahagiaan dan penderitaan adalah saudara kembar yang tidak terpisahkan yang mana saling terkait erat satu dengan lainnya. Yang satu adalah awal dan yang lainnya adalah puncak. Awal dan akhir berjalan beriringan. Hanya Tuhan yang bebas dari awal, pertengahan dan akhir, namun dalam urusan duniawi segala sesuatu yang memiliki awal pasti memiliki akhir. Duka cita bukanlah sesuatu yang mana seseorang berikan padamu dari luar. Masalah dan kesulitan juga bukan dikenakan padamu dari luar. Kesedihan dan masalah muncul sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar. Pemurnian hidup membutuhkan sadhana yang berkesinambungan. Tanpa latihan seperti itu, hidup akan terdegradasi. Sebagai contoh, sebuah permata akan mendapatkan peningkatan nilai ketika permata itu mengalami proses pemotongan dan pemahatan. Sama halnya emas yang diambil dari bijih bumi, menjadi murni dan bernilai setelah mengalami pemurnian. Dengan cara yang sama, _sadhana_ adalah perlu untuk meningkatkan hidup dari hal-hal yang sepele menuju pada hal-hal yang mulia. 


- Divine Discourse, 01 Juni 1991.

Tidak mengetahui siapa diri kita sebenarnya – hal ini adalah hambatan terbesar. Sampai hambatan ini diatasi maka duka cita tidak bisa dihindari. 

Wednesday, January 8, 2025

Thought for the Day - 8th January 2025 (Wednesday)



Who are our friends and who are our enemies? Our own good thoughts are our friends. Our evil thoughts accompany us like shadows. When our thoughts are purified, our lives will be transformed into ideal ones. The mind is a bundle of thoughts. Actions ensue from thoughts. From actions flow the fruits thereof. Hence thoughts are the seeds which ultimately yield fruits in the form of good fortune and misfortune. Man is thus the architect of his own life. As thoughts determine actions, it is essential to cultivate good thoughts. Even bad men have been transformed by the influence of good and godly men. Ratnakara is an example of such transformation. Contact with sages turned him into the immortal author of the Ramayana. When the mind is turned towards God the entire life becomes purified. What is needed is control over the senses through devotion and steadfastness. 


- Divine Discourse, Feb 13, 1991.

Sanctify the time given to you by good thoughts and good actions. For this, you need to cultivate the company of the good, which will in due course lead you to liberation.



Siapakah teman kita dan siapakah musuh kita? Gagasan atau ide baik kita sendiri adalah teman kita. Gagasan atau ide jahat kita sendiri menyertai kita seperti bayangan. Ketika gagasan itu disucikan, maka hidup kita akan berubah menjadi hidup yang ideal. Pikiran adalah Kumpulan dari gagasan-gagasan yang ada. Perbuatan terjadi dari gagasan. Dari perbuatan tersebut menghasilkan buah dari perbuatan itu. Oleh karena itu gagasan dalam pikiran kita adalah benih yang pada akhirnya menghasilkan buah dalam bentuk keberuntungan dan kemalangan. Manusia adalah arsitek dari hidupnya sendiri. Sebagaimana gagasannya akan menentukan jenis perbuatan, maka dari itu bersifat mendasar untuk memupuk gagasan-gagasan yang baik. Bahkan manusia yang jahat mengalami perubahan akibat pengaruh dari orang-orang baik dan saleh. Ratnakara adalah sebuah contoh dari perubahan seperti itu. Berhubungan dengan guru-guru suci merubah Ratnakara menjadi penyusun Ramayana yang abadi. Ketika pikiran diarahkan pada Tuhan maka seluruh hidup menjadi tersucikan. Apa yang dibutuhkan adalah pengendalian indria melalui bhakti dan keteguhan. 


- Divine Discourse, 13 Februari 1991.

Sucikan waktu yang diberikan kepadamu dengan gagasan-gagasan yang baik serta perbuatan yang baik. Untuk itu, engkau perlu mengembangkan pergaulan baik yang akan menuntunmu pada pembebasan. 

Tuesday, January 7, 2025

Thought for the Day - 7th January 2025 (Tuesday)



When Pandavas were traversing the Himalayas toward the end of their careers, Dharmaraja was still affected by mental anxieties, so he prayed to Krishna to spend some time with them. On His departure from their dwelling, Krishna gave Dharmaraja a note, which he was to read to himself whenever he was affected by joy or grief. The note read: “This will not last”. That is one method by which mental agitations can be calmed. Take life in the world as a compulsory duty imposed on you. You are now in jail under sentence for crimes committed in a previous birth. The superintendent assigns various duties — cooking, drawing water, cutting wood, etc. You must do the work assigned to the best of your ability, without any expectation of reward. If you behave well, cause no trouble, and do assigned duties without demur, then you may be released sooner, with a certificate that you are reliable and good. This attitude will give you practice in selfless action without expecting a reward (nishkama karma), which is very valuable for curbing the senses. 


•⁠  ⁠Divine Discourse, Oct 26, 1963.

To discharge faithfully one's duties and responsibilities is an imperative act of worship.



Ketika para Pandawa melintasi Himalaya di penghujung hidup mereka, Dharmaraja masih sering dilanda kecemasan batin, jadi Dharmaraja memohon kepada Krishna untuk meluangkan waktu dengan mereka. Pada saat Krishna akan meninggalkan tempat tinggal Pandawa, Krishna memberikan sebuah catatan kepada Dharmaraja yang harus dibacanya setiap kali dia merasa diliputi suka atau duka cita. Isi dari catatan itu adalah: “Hal ini tidak akan bertahan lama”. Itu adalah satu metode yang bisa digunakan dalam menenangkan kegelisahan batin. Jadikan hidup di dunia sebagai tugas wajib diberikan padamu yang harus dilaksanakan. Engkau sekarang ada di dalam penjara menerima hukuman untuk kejahatan yang dilakukan pada kelahiran sebelumnya. Sipir di penjara memberikanmu berbagai tugas – memasak, menimba air, memotong kayu, dsb. Engkau harus melakukan pekerjaan yang diberikan dengan kemampuanmu yang terbaik, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Jika engkau bertingkah laku baik, tidak menyebabkan masalah, dan menjalankan kewajiban tanpa keluhan, kemudian engkau dapat dibebaskan lebih cepat dengan sebuah sertifikat bahwa engkau adalah orang yang dapat dipercaya dan baik. Sikap ini melatih kita dalam mempraktekkan perbuatan tanpa mementingkan diri sendiri serta tanpa mengharapkan imbalan (nishkama karma), yang mana sangat berharga untuk mengekang indria. 


•⁠  ⁠Divine Discourse, 26 Oktober 1963.

Menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh adalah bentuk ibadah yang sangat penting. 


Monday, January 6, 2025

Thought for the Day - 6th January 2026 (Monday)



The head has its value while there is life. Hence, the head should be used while you are alive to acquire merit by placing it at the feet of holy ones. This is the value of prostrating before noble souls. While one is alive, one should engage in good deeds and lead a sacred and meaningful life. All relationships are confined to the living. God alone is the only unfailing kinsman throughout life and beyond it. He is the only constant companion wherever you may be. Realise that life is impermanent. Only your good deeds will protect you. Peace, truth and virtue have to be acquired only through your actions. Achieve proximity to God and then become one with God. Today you call yourself human. If you develop your devotion to God, you can divinise yourself. Divinity is your real nature. This has been proclaimed by the Upanishads in the famous declarations Aham Brahmasmi (I am Brahman), Ayam Atma Brahma (This Atma is Brahman), and Tat-Tvam-Asi (That thou art). Develop this conviction, with confidence and courage. 


•⁠  ⁠Divine Discourse, Apr 07, 1997.

When man respects his human character and realises his obligation to discover his divine nature, the divine in him will manifest itself.



Kepala memiliki nilainya semasih ada kehidupan. Oleh karena itu, kepala seharusnya digunakan selama masih hidup untuk mendapatkan kebajikan dengan meletakkannya di kaki seseorang yang suci. Ini adalah nilai dari bersujud dihadapan jiwa-jiwa yang mulia. Selama seseorang masih hidup, seseorang harus terlibat dalam perbuatan-perbuatan baik dan menjalani hidup yang suci dan bermakna. Semua hubungan hanya terbatas pada yang hidup. Tuhan adalah satu-satunya kerabat yang tidak pernah mengecewakan, baik selama hidup maupun setelahnya. Tuhan adalah satu-satunya sahabat sejati yang selalu ada dimanapun engkau berada. Sadarilah bahwa hidup ini adalah tidak kekal. Hanya perbuatan-perbuatan baik yang akan melindungimu. Kedamaian, kebenaran dan kebajikan hanya dapat diperoleh melalui perbuatanmu. Dekatkan dirimu pada Tuhan dan kemudian engkau menjadi satu dengan-Nya. Hari ini engkau menyebut dirimu sebagai manusia. Jika engkau mengembangkan rasa bhaktimu pada Tuhan, maka engkau dapat menyucikan dirimu. Keilahian adalah sifat sejatimu. Hal ini telah dinyatakan dalam Upanishad dengan ajaran terkenal yaitu : Aham Brahmasmi (aku adalah Brahman), Ayam Atma Brahma (Atma ini adalah Brahman), dan Tat-Tvam-Asi (Tuhan adalah kamu). Kembangkan keyakinan ini dengan kepercayaan dan keberanian. 

•⁠  ⁠Divine Discourse, 07 April 1997.
Ketika manusia menghormati nilai-nilai kemanusiannya dan menyadari kewajibannya untuk mengungkapkan sifat keilahiannya, maka keilahian dalam dirinya akan terwujud. 

Sunday, January 5, 2025

Thought for the Day - 5th January 2025 (Sunday)



The Bal Vikas is the primary basis of the great movement to restore dharma (righteousness) in the world. The elders are far gone in their ways, and it is difficult to expect a change in their habits and attitudes. Children have to be led into good ways of living, into simplicity, humility and discipline. As you know, you cannot draw children to your side if you hold a stick in your hand; you will have to hold some sweets instead. So the Gurus have to be embodiments of love and patience. The ideal of the Bal Vikas is to raise a generation of boys and girls who have a clean and clear conscience. The actual syllabus is not so important as the creation of an atmosphere where noble habits and ideals can grow and fructify. The Bal Vikas pupils follow Bal Vikas discipline and curriculum only for one day in the week and attend their usual schools on the other days. So the impact of the Guru has to be extra strong if it has to act as a catalyst in the process of modification of the behaviour patterns of these pupils. 


•⁠  ⁠Divine Discourse, Jun 06, 1978.

Education must train children to love, to co-operate, to be brave in the cause of truth, to be helpful, to be sympathetic and to be grateful.



Bal Vikas adalah dasar utama dari gerakan yang luar biasa untuk memulihkan dharma (kebajikan) di dunia. Para orang tua yang telah terlalu jauh dari jalan mereka, dalah sulit untuk berharap ada perubahan dalam kebiasaan dan tingkah laku mereka. Maka dari itu, anak-anak yang harus dituntun dalam jalan hidup yang baik, ke dalam kesederhanaan, kerendahan hati dan disiplin. Seperti yang engkau ketahui, engkau tidak bisa menarik anak-anak ke sisimu jika engkau memegang sebuah tongkat di tanganmu; engkau harus memegang beberapa manisan sebagai gantinya. Jadi, Guru harus menjadi perwujudan dari kasih dan kesabaran. Idealisme dari Bal Vikas adalah untuk mengangkat generasi dari anak-anak yang memiliki hati nurani yang bersih dan jernih. Silabus sesungguhnya adalah tidak sepenting dalam menciptakan suasana dimana kebiasaan dan idealisme luhur dapat tumbuh dan berkembang. Anak-anak Bal Vikas mengikuti disiplin dan kurikulum Bal Vikas hanya untuk satu hari dalam seminggu dan mengikuti kegiatan sekolah mereka pada hari-hari lainnya. Jadi dampak dari Guru haruslah sangat kuat agar dapat menjadi katalis dalam proses perubahan dalam pola perilaku dari anak-anak ini. 


•⁠  ⁠Divine Discourse, 06 Juni 1978.

Pendidikan harus melatih anak-anak untuk mengasihi, bekerjasama, untuk menjadi berani dalam membela kebenaran, menjadi penolong, penuh simpati dan penuh rasa syukur.