Friday, February 7, 2025

Thought for the Day - 7th February 2025 (Friday)



The see-er should not attach oneself to the seen; that is the way to get free. The contact of senses with objects arouses desire and attachment; this leads to effort and either elation or despair; then, there is fear of loss or grief at failure and the train of reactions lengthens! With many doors and windows kept open to all the winds that blow, how can the flame of the lamp within survive? That lamp is the mind, which must burn steadily unaffected by the dual demands of the world outside! Complete surrender to the Lord is one way of closing the windows and doors, for then, in that stance of Sharanagati (complete surrender to God), you are bereft of "ego" and so, you are not buffeted by joy or grief. Complete surrender makes you draw upon the grace of the Lord for meeting all the crises in your career and so, it renders you heroic, more stalwart, and better prepared for the battle.


- Divine Discourse, 13 Januari 1965.

The control of the senses is itself a form of Tyaga (sacrifice) which leads to Immortality.

 

Orang yang melihat seharusnya tidak menjadi terikat dengan objek yang dilihatnya; itu adalah cara untuk mendapatkan kebebasan. Kontak antara indera dengan objek memunculkan keinginan dan keterikatan; hal ini menuntun pada usaha dan juga kegembiraan atau keputusasaan; kemudian, muncul ketakutan akan kehilangan atau kesedihan pada kegagalan dan rangkaian reaksi memanjang! Dengan adanya banyak pintu dan jendela yang dibiarkan terbuka bagi angin berhembus, bagaimana bisa nyala api pada lentera di dalam bisa bertahan? Lentera itu adalah pikiran, yang mana harus terus menyala tanpa terpengaruh oleh tuntunan ganda dari dunia luar! Berserah diri sepenuhnya pada Tuhan adalah satu cara untuk menutup jendela dan pintu, karena dengan sikap Sharanagati (berserah sepenuhnya pada Tuhan), engkau menjadi tanpa "ego" sehingga engkau tidak akan diguncang oleh suka dan duka cita. Berserah diri sepenuhnya membuatmu bersandar pada karunia Tuhan untuk menghadapi semua krisis dalam perjalanan hidupmu dan dengan demikian menjadikanmu lebih pemberani, lebih teguh pendirian dan lebih siap untuk menghadapi perjuangan.


- Divine Discourse, 13 Januari 1965.

Pengendalian Indera itu sendiri adalah wujud dari Tyaga (berkorban) yang menuntun pada keabadian.

Thursday, February 6, 2025

Thought for the Day - 6th February 2025 (Thursday)



You may doubt whether such a small word like Rama or Sai or Krishna can take you across the boundless sea of worldly life. People cross vast oceans on a tiny raft; they are able to walk through dark jungles with a tiny lamp in their hands. The Name, even the Pranava (Om) which is smaller, has vast potentialities. The raft need not be as big as the sea. The recitation of the Name is like the operation of boring to tap underground water; it is like the chisel-stroke that will release the image of God imprisoned in the marble. Break the encasement and the Lord will appear; cleave the pillar, as Prahlada asked his father to do, and the Lord who is ever present will manifest Himself. Churn and you bring the butter, latent in the milk, into view. That is the experience of every mother which every daughter learns. In the spiritual field, you learn that spiritual practice from yogis, who have gained and offered that navanitam (fresh butter) to Krishna.


- Divine Discourse, Jan 13, 1965.

Remembrance of the Lord's name is the method of crossing over the ocean of worldly life.

 


Engkau mungkin ragu apakah sebuah kata sederhana seperti Rama atau Sai atau Krishna dapat membawamu menyebrangi lautan tidak bertepi dari kehidupan duniawi. Orang-orang menyebrangi lautan luas dengan sebuah rakit kecil; mereka juga mampu menembus gelapnya hutan dengan sebuah lampu kecil di tangan mereka. Nama, bahkan Pranava (Om) yang mana lebih kecil, memiliki potensi yang sangat luas. Rakit yang dibutuhkan tidak perlu sebesar lautan. Pengulangan nama suci Tuhan adalah seperti pengeboran untuk mendapatkan air bawah tanah; ini seperti pukulan pahat yang akan melepaskan gambar Tuhan yang tersembunyi pada batu marmer. Pecahkan bungkusan itu dan Tuhan akan muncul; belah pilar itu seperti halnya yang diminta Prahlada kepada ayahnya, dan Tuhan yang Maha ada akan mewujudkan diri-Nya. Lakukan pengadukan maka engkau akan mendapatkan mentega yang terdapat dalam susu. Itu adalah pengalaman dari setiap ibu yang dipelajari oleh setiap anak perempuan. Dalam bidang spiritual, engkau belajar bahwa praktek spiritual dari para yogi yang telah mendapatkan dan mempersembahkan navanitam (mentega segar) kepada Krishna.


- Divine Discourse, 13 Januari 1965.

Mengingat nama suci Tuhan adalah metode untuk menyebrangi lautan kehidupan duniawi.

Wednesday, February 5, 2025

Thought for the Day - 5th February 2025 (Wednesday)



The universe is full of many powers. An omniscient, omnipotent and omnipresent power pervades all of creation. This divine Force is immanent in every atom, like sugar in syrup. The Upanishads call this Raso Vai Sah or all-pervading sweetness. God is an embodiment of sweetness. Although this sweetness is everywhere, it is not possible to recognise its omnipresence. However, it is possible for all to observe the existence of Divinity. Sweetness in sugarcane, bitterness in neem leaves, burning in chilli, acerbity in lemon and fire in wood - all these are direct proofs of God’s existence. A plant germinates from a seed. A bird emerges from an egg. The newborn infant becomes a mother one day. These are all living proofs of the existence of Divinity. Man experiences exhilaration upon seeing majestic peaks, gurgling rivers, the deep ocean, lush forests and colourful gardens. What is the basis of these phenomena? It is God’s existence alone. It is not given to everyone to grasp the omnipresence of God, but all have the capacity to identify His presence.


- Divine Discourse, May 30, 1995.

Only when you become the embodiment of love can your love comprehend all. Only then will you realise that it is the same God who is the Indweller in all beings.

 

Alam semesta ini penuh dengan berbagai kekuatan. Ada satu kekuatan yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha Hadir yang meresapi seluruh ciptaan. Kekuatan Tuhan ini hadir dalam setiap atom, seperti gula dalam sirup. Upanishad menyebutnya Raso Vai Sah, atau rasa manis yang meresapi segala sesuatu. Tuhan adalah perwujudan dari rasa manis itu. Meskipun rasa manis itu ada di mana-mana, kita tidak selalu bisa mengenali keberadaannya. Namun, kita semua dapat mengamati keberadaan Tuhan. Rasa manis dalam tebu, rasa pahit dalam daun neem, rasa pedas dalam cabai, rasa asam dalam lemon, dan api dalam kayu - semua ini adalah bukti langsung dari keberadaan Tuhan. Sebuah tanaman tumbuh dari benih. Seekor burung muncul dari telur. Seorang bayi yang baru lahir suatu hari akan menjadi seorang ibu. Semua ini adalah bukti nyata dari keberadaan Tuhan. Manusia merasakan kekaguman saat melihat puncak gunung yang menjulang, sungai yang mengalir deras, lautan yang dalam, hutan yang rimbun, dan taman yang penuh warna. Apa dasar dari semua fenomena ini? Tidak lain adalah keberadaan Tuhan. Tidak semua orang dapat memahami kehadiran-Nya yang meliputi segalanya, tetapi setiap orang memiliki kemampuan untuk mengenali keberadaan-Nya.


- Divine Discourse, 30 Mei 1995.

Hanya ketika engkau menjadi perwujudan kasih, barulah kasihmu mampu memahami segalanya. Saat itulah engkau akan menyadari bahwa Tuhan yang sama bersemayam dalam setiap makhluk.

Tuesday, February 4, 2025

Thought for the Day - 4th February 2025 (Tuesday)



It is a hard job to know about your own Self. Take the case of the food that you eat with your own mouth. You feel it in your stomach and after that, you do not experience what happens to it at each stage. How then can you know, without acquiring the special knowledge about it, the Truth that lies behind the sheaths that encase and enclose you - the Annamaya, Pranamaya, Manomaya, Vijnanamaya and Anandamaya - (sheaths of material, vital energy, mind, intelligence and bliss)? Clear your intellect or intellectual power (dheeshakti) of the cobwebs of ego, the dust of desire, the soot of greed and envy, and it becomes a fit instrument for revealing the Swarupa - the Inner Truth. "Know yourself, know the Inner Motivator, the Antaryamin" - that is the exhortation of the scriptures of all faiths. For, unless you are armed with spiritual knowledge, you are like a ship without a compass, sailing on a stormy sea!


- Divine Discourse, Apr 16, 1964.

Just as the army becomes dispirited and surrenders when the commander falls, so the army of evil qualities will surrender its arms as soon as egotism (ahamkara) is


Merupakan sebuah pekerjaan yang sulit untuk dapat mengetahui tentang Diri Sejati. Ambilah contoh makanan yang engkau makan dengan mulutmu sendiri. Engkau merasakannya dalam perutmu dan setelah itu, engkau tidak mengalami apa yang terjadi pada makanan itu pada tahap selanjutnya. Bagaimana kemudian engkau bisa mengetahui kebenaran yang tersembunyi pada lapisan yang membungkus dirimu - Annamaya, Pranamaya, Manomaya, Vijnanamaya and Anandamaya - (lapisan material, energi vital, pikiran, kecerdasan dan kebahagiaan) - tanpa mendapatkan pengetahun khusus tentang itu? Bersihkan kecerdasan atau kekuatan kecerdasan (dheeshakti) dari jaring-jaring ego, debu keinginan, jelaga ketamakan dan iri hati dan kemudian kecerdasan itu menjadi alat untuk mengungkapkan Swarupa – kebenaran batin. "Kenalilah Dirimu Sejati, kenalilah motivator dalam diri yaitu Antaryamin" – itu adalah seruan dari naskah suci dari semua keyakinan. Karena, tanpa adanya pengetahuan spiritual maka engkau seperti kapal laut yang berlayar di lautan badai tanpa adanya kompas!


- Divine Discourse, 16 April 1964.

Seperti halnya pasukan yang kehilangan semangat dan menyerah ketika komandannya gugur, jadi pasukan dari sifat-sifat buruk akan menyerahkan senjatanya segera saat egoisme (ahamkara) dihancurkan.  


Monday, February 3, 2025

Thought for the Day - 3rd February 2025 (Monday)



That Thou Art. Be firm in that faith. Ponder on a river merging in the ocean. The waters of the ocean rise up as vapour when warmed by the Sun and form clouds, which drop down as drops of rain. Each drop has inside it the yearning to return to the ocean from which it has been exiled. But, the feeling of individuality overcomes the yearning. The raindrops accumulate and flow as brooks and streams which swell into tributaries of rivers, flooding the plains. At last, the river merges into the ocean and loses its name, form and attributes. In spite of all the modifications undergone in the journey from ocean to ocean, water remains as water in vapour, cloud, rain and river. Names and forms and qualities do change but the core remains unchanged. Man too emerges from the ocean of Divinity and his destiny is to merge in it. This is the Truth. This is the Reality.


- Divine Discourse, Jan 02, 1987.

For individuals who have liberated themselves from the narrowness of individuality, the only task is the uplift of humanity, the welfare of the world and the showering of love.



Engkau adalah Aku (Tuhan). Jadilah mantap pada keyakinan itu. Renungkan pada sungai yang menyatu dengan lautan. Air yang ada pada lautan menguap sebagai uap dan ketika dihangatkan oleh matahari dan membentuk awan, yang mana awan jatuh menjadi hujan. Setiap tetes air hujan memiliki kerinduan untuk kembali pada lautan yang mana merupakan tempat asalnya sebelum terpisah. Namun, perasaan keakuan mengalahkan kerinduan itu. Tetesan air hujan berkumpul dan mengalir menjadi anak sungai dan akhirnya menyatu dalam aliran sungai yang lebih besar, membanjiri daratan. Pada akhirnya, Sungai menyatu dengan lautan dan kehilangan identitas nama, wujud dan sifat. Meskipun mengalami berbagai bentuk perubahan dalam perjalanan dari lautan menuju ke lautan – dengan menjadi uap, awan, hujan dan sungai – air tetaplah air. Nama dan wujud dan kualitas dapat berubah namun inti yang sama tidak mengalami perubahan. Manusia juga muncul dari lautan keilahian dan takdirnya adalah menyatu kembali padanya. Ini adalah kebenaran. Ini adalah kenyataan.


- Divine Discourse, 02 Januari 1987.

Bagi individu yang telah membebaskan dirinya dari keterbatasan keakuan, satu-satunya tugas adalah mengangkat derajat kamnusiaan, kesejahtraan dunia dan mencurahkan kasih. 

Sunday, February 2, 2025

Thought for the Day - 2nd February 2025 (Sunday)



Love, adore, serve the Sarveshwara (Almighty Lord) who is resident in all mankind; through that Love, adoration and service, realise Him. That is the highest sadhana (spiritual practice). Serve man as God. Give food to the hunry, food that is the gift of Goddess Nature; give it with love and humility. Give it, sweetened with the name of the Lord. Celestial spheres are revolving and disintegrating; time is fleeting; age follows age; era succeeds era; bodies that have taken birth, grow and end; but, the urge to sanctify life with good works and good thoughts is nowhere evident; the fragrance of sincere sadhana is not traceable anywhere. Through the process of 'giving up’, great things can be achieved. Cultivate detachment, and the Lord will attach Himself to you. The past is beyond recovery; those days are gone. But, tomorrow is coming towards you. Resolve to sanctify it with Love, Service and Sadhana.


- Divine Discourse, Mar 29, 1968.

Man has been endowed with a body for performing actions. Right action renders Time itself holy.



Kasihi, hargai, layani Sarveshwara (Tuhan yang Mahakuasa) yang bersemayam dalam diri semua umat manusia; sadarilah Tuhan melalui kasih, penghargaan dan pelayanan itu. Itu adalah sadhana (latihan spiritual) tertinggi. Layani manusia seperti melayani Tuhan. Berikan makanan pada mereka yang kelaparan, makanan itu yang merupakan anugerah dari Dewi alam; berikan makanan itu dengan kasih dan kerendahan hati. Berikan itu ditambahkan dengan rasa manis nama suci Tuhan. Benda-benda langit berputar dan hancur; waktu berlalu dengan cepat; jaman berganti jaman; era datang silih berganti; tubuh yang lahir tumbuh dan akhirnya musnah; namun, dorongan untuk menyucikan hidup dengan kerja dan pikiran yang baik jarang ditemukan; harum wangi dari sadhana yang tulus sulit terlacak. Melalui proses 'melepaskan’, hal-hal besar dapat dicapai. Kembangkan tanpa keterikatan, dan Tuhan akan melekatkan diri-Nya pada dirimu. Masa lalu tidak bisa diulang; hari-hari itu telah berlalu. Namun, hari esok sedang datang menuju dirimu. Miliki tekad untuk menyucikannya dengan kasih, pelayanan dan Sadhana.


- Divine Discourse, 29 Maret 1968.

Manusia telah diberkati dengan tubuh untuk melakukan perbuatan. Perbuatan baik menjadikan waktu itu sendiri menjadi suci. 

Saturday, February 1, 2025

Thought for the Day - 1st February 2025 (Saturday)



Activity finds fulfillment when wisdom dawns. Karma ( sanctified activity) is the path by which Jnana (spiritual wisdom) is attained. And, wisdom in action is the highest Karma. Worthwhile activity must result in purifying the mind. Therefore, no one, not even a recluse or monk can desist from engaging in good deeds. These deeds must originate spontaneously and should not leave any trace of pride in the mind. Nor should any attachment to the result of the deed lead to a craving for claiming it for one self. Renunciation must be the only source of joy. Tyaga (self sacrifice) is the truest bhoga (enjoyment) for the sanyasi (ascetic). The Gita recommends 'inaction in action' and asserts that 'inaction is the most rewarding action for those who strive for supreme peace’. This attitude is named karma sanyasa (non-attachment to action). Action or activity is generally associated with the body only, but the mind is also busy with the world. The Atma alone is the unaffected witness. So, the secret of 'inaction in action' lies in taking refuge in the Atma and in recognising all living beings as fundamentally Atma.


- Divine Discourse, Jan 02, 1987.

Proper use of time, right action and the performance of one's duties together constitute the primary goal of human life. 



Aktifitas mencapai pemenuhan ketika kebijaksanaan muncul. Karma (aktifitas suci) adalah jalan yang melaluinya Jnana (kebijaksanaan spiritual) dicapai. Dan, kebijaksanaan dalam tindakan adalah karma yang tertinggi. Aktifitas yang berguna harus memberikan hasil pada pemurnian pikiran. Maka dari itu, tidak ada seorangpun, tidak bahkan pertapa atau pendeta dapat berhenti dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan-perbuatan baik ini harus muncul secara spontan dan seharusnya tidak meninggalkan jejak kesombongan dalam pikiran. Tidak juga meninggalkan keterikatan pada hasil atau buah dari perbuatan yang menuntun pada keinginan untuk mengklaim untuk dirinya sendiri. Penyangkalan diri harus menjadi satu-satunya sumber suka cita. Tyaga (pengorbanan diri) adalah kenikmatan (bhoga) yang sesungguhnya bagi sanyasi (pertapa). Dalam Bhagavad Gita mengajarkan konsep 'tidak bertindak dalam tindakan' dan menegaskan bahwa 'tidak bertindak adalah tindakan yang paling berharga bagi mereka yang berusaha untuk mendapatkan kedamaian tertinggi’. Sikap ini disebut dengan karma sanyasa (tanpa keterikatan pada tindakan). Tindakan atau aktifitas pada umumnya hanya dihubungkan dengan tubuh, namun pikiran juga sibuk dengan dunia. Hanya Atma yang menjadi saksi yang tidak terpengaruh. Jadi, rahasia dari 'tidak bertindak dalam tindakan' terdapat pada berlindung dalam Atma dan dalam menyadari semua makhluk hidup pada dasarnya adalah Atma.


- Divine Discourse, 2 Januari 1987.

Pemanfaatan waktu dengan tepat, perbuatan benar dan pelaksanaan kewajiban masing-masing bersama-sama membentuk tujuan utama dari hidup manusia.