Tuesday, July 8, 2025

Thought for the Day - 8th July 2025 (Tuesday)



A happy atmosphere should prevail in the home at all times for children to grow healthy and intelligently. Long drawn faces are not conducive to healthy growth. Why should you have a sorrowful demeanour? Difficulties do come often, be it anybody. But, you should know that they are like passing clouds. Why should you lose cheer at each and every incident? It is only a state of mind. There is nothing that remains permanent in this life. Let us think only of joyful moments of the past. Never brood over sorrowful events. Be cheerful in the present, filling the mind always with noble thoughts. Start the day with love, spend the day with love, fill the day with love, and end the day with love. You should never forget this most important aspect of love. Right from dawn to dusk, you must maintain a cheerful disposition. Take your fill of happiness and make others happy with a virtuous demeanour. 


- Divine Discourse, Jan 21, 1988.

The mind that is morose harbours nothing but malice and jealousy. Divinity cannot reside in such unholy minds. 


Sebuah suasana yang bahagia harus meliputi seisi rumah sepanjang waktu untuk pertumbuhan anak-anak yang sehat dan cerdas. Raut wajah yang patah semangat dan sedih adalah tidak bersifat kondusif bagi pertumbuhan yang sehat. Mengapa engkau memiliki sikap yang penuh kesedihan? Kesulitan sering datang kepada siapapun juga. Namun, engkau harus mengetahui bahwa semua kesedihan itu adalah awan-awan yang berlalu. Mengapa engkau sampai harus kehilangan kegembiraan dalam setiap kejadian? Hal ini hanyalah keadaan pikiran. Tidak ada satupun yang tetap kekal di dalam hidup ini. Marilah kita memikirkan hanya momen-momen indah di masa lalu. Jangan pernah tenggelam dalam merenungkan keadaan yang menyedihkan. Jadilah penuh suka cita di masa sekarang, selalu isilah pikiran dengan gagasan-gagasan yang mulia. Awali hari dengan kasih, jalani hari dengan kasih, isilah hari dengan kasih dan akhiri hari dengan kasih. Engkau tidak boleh melupakan aspek yang paling penting ini dari kasih. Mulai dari fajar menyingsing sampai matahari terbenam, engkau harus tetap menjaga karakter yang ceria. Raihlah kebahagiaanmu dan buatlah orang lain bahagia dengan perilaku yang berbudi luhur. 


- Divine Discourse, 21 Januari 1988.

Pikiran yang murung tidak mengandung apapun kecuali kedengkian dan kecemburuan. Keilahian tidak bisa bersemayam dalam pikiran yang tidak suci seperti itu.  

Sunday, July 6, 2025

Thought for the Day - 6th July 2025 (Sunday)



Every human being is an embodiment, repository, and vehicle of ananda (bliss). The awareness of this ananda is the goal of man, the consummation of human life. But, man seeks pleasure and happiness from objects through the senses and attains the low material ananda, not the supreme ananda he ought to win. It must be said that the ananda attained through the objective world or through subjective means is only a fractional expression of the ananda which the mergence in Brahman (Supreme Reality) grants. We speak of hot water, though heat is not a quality of water; fire has given it the heat. So too, objective ananda or subjective ananda is rendered so, through the grace of Brahmanandam (Supreme Divine Bliss). Man prides himself that he has earned ananda himself by his effort. It is sugar that makes the bland globules of flour into sweet laddus. The stars are proud that they shed light on a darkened world but the bright moonlight renders starlight too faint to be noticed. The moon’s pride too, is humbled when the sun illumines the sky. Brahmananda is the Sun. This does not mean that one should ignore starlight and moonlight or Vishaya ananda and Vidya ananda — the bliss derived from nature and from spiritual experiential knowledge. They are steps, stages, samples. While valuing them as such, the goal of Brahmananda has to be relentlessly pursued. 


- Divine Discourse, Jul 25, 1983.

Ananda is the innate nature of Man. But, the pity is, he is searching for it everywhere except where it is available. 


Setiap manusia adalah perwujudan, tempat penyimpanan, wahana dari ananda (kebahagiaan). Kesadaran pada ananda ini adalah tujuan dari manusia dan merupakan penyempurnaan dari hidup manusia. Namun, manusia mencari kesenangan dan kenikmatan dari objek-objek melalui indria serta meraih ananda material rendahan, dan bukan ananda tertinggi yang harusnya manusia dapatkan. Harus dikatakan bahwa ananda yang didapat melalui dunia objektif atau melalui sarana subjektif hanyalah merupakan sebagian kecil dari ungkapan ananda yang diberikan dari penyatuan dengan Brahman (Kenyataan sejati yang tertinggi). Saat kita berbicara tentang air panas, walaupun panas itu bukanlah kualitas dari air; namun api telah memberikan air itu panas. Demikian pula, jenis ananda yang bersifat objektif dan subjektif, adalah berasal dari Brahmanandam (kebahagiaan Ilahi tertinggi). Manusia bangga pada dirinya sendiri bahwa dia telah mendapatkan ananda dengan usahanya sendiri. Adalah gula yang membuat tepung yang hambar menjadi laddu yang manis. Bintang-bintang merasa bangga ketika memberikan cahaya dan bersinar saat dunia gelap, namun cahaya terang dari bulan menjadikan cahaya bintang tidak terlihat. Kebanggaan bulan juga menjadi redup ketika cahaya matahari menerangi dunia. Brahmananda adalah matahari. Hal ini bukan berarti bahwa seseorang boleh mengabaikan cahaya bintang dan cahaya rembulan atau Vishaya ananda dan Vidya ananda -- kebahagiaan yang didapat berasal dari alam dan dari pengalaman pengetahuan spiritual. Itu semuanya adalah langkah-langkah, tahapan-tahapan, contoh-contoh. Sambil menghargai semuanya itu, tujuan akhir dari Brahmananda harus dikejar tanpa henti. 


- Divine Discourse, 25 Juli 1983.

Ananda adalah sifat alami bawaan manusia. Namun, sangat disayangkan manusia mencarinya kemana-mana kecuali di tempat yang tersedia. 

Saturday, July 5, 2025

Thought for the Day - 5th July 2025 (Saturday)



Dedication or Prapatti means total surrender. There is a formidable force that stands between man and God like a limiting wall. This power that is separating the devotee from God is the ‘ego’. Only when we succeed in destroying the ego can we merge into Divinity. First, we must be able to surrender this ego to God. Prapatti means surrendering of body, mind, intellect, awareness, and senses, they being dependent on the ego. Money, might, caste, education, beauty, kingdom, penance, and arrogance are all related to ego. Together or individually, they are comprised of ego. Among them, pride in wealth and education are much worse. There are medicines for all kinds of diseases. But the disease of ego cannot be cured by any kind of medicine. There is only one medicine that is capable of subduing this disease of ego; that is Divinity. No other medicine except Divinity is capable of curing this formidable disease. 


- Divine Discourse, Jan 21, 1988.

The vision of the inner Atma will not be revealed to the spiritual aspirant as long as one’s ego continues to exist 


Dedikasi atau Prapatti mengandung makna berserah diri sepenuhnya. Ada sebuah kekuatan besar yang berdiri diantara manusia dan Tuhan seperti sebuah tembok pembatas. Kekuatan ini yang memisahkan bhakta dari Tuhan yang disebut dengan ‘ego’. Hanya ketika kita berhasil menghancurkan ego ini maka kita dapat menyatu ke dalam keilahian. Pertama-tama, kita harus mampu untuk menyerahkan ego kita pada Tuhan. Prapatti berarti menyerahkan tubuh, pikiran dan kecerdasan, kesadaran dan indra, yang semuanya ini bergantung pada ego. Uang, kekuasaan, kasta, pendidikan, kecantikan, kerajaan, penebusan dosa, dan arogansi semuanya terkait dengan ego. Baik secara bersama-sama atau secara terpisah semuanya terdiri dari ego. Diantara semuanya itu, kesombongan pada kekayaan dan pendidikan adalah yang paling buruk. Ada obat untuk segala jenis penyakit. Namun untuk penyakit ego tidak bisa disembuhkan oleh obat jenis apapun. Hanya ada satu obat yang mampu untuk menaklukkan penyakit ego ini; itu adalah keilahian. Tidak ada obat lain kecuali keilahian yang mampu menyembuhkan penyakit yang dashyat ini. 


- Divine Discourse, 21 Januari 1988.

Penglihatan terhadap Atma di dalam diri tidak akan terungkapkan pada peminat spiritual selama egonya masih ada. 

Friday, July 4, 2025

Thought for the Day - 4th July 2025 (Friday)



God is present in all human beings. All heads of all human beings in this world are God’s own heads, verily. Hence, God is described as Viratasvarupa (embodiment of cosmic Divinity). His is the cosmic form. Each one in that cosmic form has a different form. However, God is immanent in every form. Krishna declared in the Bhagavad Gita, Mamaivamsho Jivaloke Jivabhutah Sanatanah (the eternal Atma in all beings is a part of My Being). I alone am present in each one of you. You are not different from Me. Do not entertain any doubts or differences of opinion in this regard. Strengthen your love, that is the proper Sadhana. If only the fruit of love in your heart is ripened, the juice of that fruit can be shared with one and all. Hence, let that fruit of love ripen in your heart first. If only you fill your heart with pure love, that love can be shared with all. All people then will become embodiments of love. Then, there will be no scope at all for hatred and violence in the world. 


- Divine Discourse, Jul 28, 2007.

People admire the beauty of Nature, but are not aware of the beauty in their hearts. 


Tuhan bersemayam di dalam semua umat manusia. Sejatinya, semua kepala dari setiap manusia di dunia adalah kepala Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Tuhan disebutkan sebagai Viratasvarupa (perwujudan keilahian kosmik). Wujud-Nya adalah wujud kosmik. Setiap orang yang dalam wujud kosmik itu memiliki wujud yang berbeda. Bagaimanapun juga, Tuhan meresapi dalam setiap wujud. Sri Krishna menyatakan dalam Bhagavad Gita, Mamaivamsho Jivaloke Jivabhutah Sanatanah (Atma yang bersifat abadi ada dalam semua makhluk adalah bagian dari diri-Ku). Aku sendiri yang ada dalam dirimu semuanya. Engkau tidaklah berbeda dari diri-Ku. Jangan memberikan ruang bagi keraguan atau perbedaan pendapat dalam hal ini. Perkuat kasihmu, itu adalah Sadhana sesungguhnya. Jika buah kasih di dalam hatimu sudah matang maka sari buah itu dapat dibagi dengan semuanya. Karena itu, jaga agar buah kasih itu matang terlebih dahulu di dalam hatimu. Apabila engkau mengisi hatimu dengan kasih yang murni, maka kasih itu dapat dibagi dengan semuanya. Semua orang kemudian akan menjadi perwujudan kasih. Kemudian, tidak akan ada lagi ruang bagi kebencian dan kekerasan di dunia. 


- Divine Discourse, 28 Juli 2007.

Manusia mengagumi keindahan alam, namun manusia tidak menyadari keindahan dalam hati mereka. 

Thursday, July 3, 2025

Thought for the Day - 3rd July 2025 (Thursday)



As soon as we wake up in the morning, we should cleanse our mouth. The inner and outer sides of the teeth should be brushed well. The surface of the tongue should be cleaned thoroughly. For the mouth is the entrance for all diseases. While talking to each other, we should be cautious of unpleasant odours. Health should thus be protected through hygiene. Not only this, each working part of the body should be fit and robust. We should always be aware of the truth that Divinity is inherent in each limb and organ of the body. That is why the Vedas extol God as Angirasa, the essence in the limbs. Each part of the body has its intrinsic characteristic goodness. You should learn from the Mahabharata about the strength of the Indians, who protected their health in this manner. At the time of the great war, Bhishma’s age was 115 years, and he was the commander-in-chief. Similarly, Krishna was 86 and Arjuna was 84. Such were the mighty warriors of those days who lived with health and happiness. Thus, by preserving health, the men and women of those times were able to be exemplars of many ideals to the nation. They ate and slept on time. Ate lightly; never partook of anything out of schedule. 


- Divine Discourse, May 27, 2002

Wealth does not consist of only money; it consists of good health, good qualities, purity and cleanliness also.


Saat kita bangun di pagi hari, kita harus membersihkan mulut kita. Bagian dalam dan luar gigi harus digosok dengan baik. Permukaan dari lidah harus dibersihkan secara menyeluruh. Karena mulut adalah pintu masuk dari semua penyakit. Pada saat lagi berbicara dengan orang lain, kita harus berhati-hati dengan bau mulut yang tidak sedap. Maka dari itu kesehatan harus dilindungi melalui kebersihan. Tidak hanya ini, setiap bagian tubuh yang bekerja harus dalam keadaan sehat dan kuat. Kita harus selalu sadar pada kebenaran bahwa keilahian melekat pada setiap bagian anggota tubuh. Itulah sebabnya mengapa anggota tubuh dalam Weda disebut dengan Angirasa, esensi dari anggota tubuh. Setiap bagian dari tubuh memiliki karakteristik kebaikan yang hakiki. Engkau harus belajar dari epos Mahabharata tentang kekuatan dari masyarakat India yang melindungi kesehatan mereka dengan cara ini. Pada saat perang besar berlangsung, usia dari Bhishma adalah 115 tahun dan dia adalah panglima perang. Sama halnya dengan Sri Krishna yang berusia 86 tahun dan Arjuna yang berusia 84 tahun. Mereka semuanya adalah prajurit gagah perkasa pada waktu itu yang hidup dengan kesehatan dan kebahagiaan. Jadi, dengan menjaga kesehatan maka masyarakat pada waktu itu mampu menjadi teladan bagi banyak bangsa. Mereka makan dan tidur tepat waktu. Makan sedikit-sedikit; tidak pernah makan sesuatu yang tidak sesuai dengan jadwal. 


- Divine Discourse, 27 Mei 2002

Kekayaan tidak hanya terkait dengan uang; kekayaan juga terkait dengan kesehatan yang baik, sifat yang baik, dan juga kesucian serta kebersihan.

Wednesday, July 2, 2025

Thought for the Day - 2nd July 2025 (Wednesday)



All people in this world love someone or the other. However, there are differences in such love. The students love their fellow students. The bodies love other bodies. God is present in this body as well as the other body. Both are embodiments of divinity. The one God is present in all bodies. We must love every human being. Love all, Serve all, since God is present in all human beings. There is no place in this universe where God is not present. God is present in the sky, in the water, in the sound and in the light. Thus, everything in this universe is the embodiment of divinity. We forsake such omnipresent divinity and worship God in the form of some idol in a temple. No doubt, you can worship those idols. Nothing wrong in that. But, you must realise the truth that the same God in that idol is present in every human being, nay, in every living being. I don’t say it is wrong to worship those idols. But you are yourself God. Consider yourself as God first, and then begin to see the same God in every living being.


- Divine Discourse, Jul 28, 2007.

If you can penetrate behind the stone (idol) and see the divine basis, how much easier it is to see the Lord who resides in the heart of every living being? 


Semua orang di dunia ini mengasihi seseorang atau yang lainnya. Bagaimanapun juga, ada perbedaan dalam bentuk kasih seperti itu. Para pelajar mengasihi teman mereka. Tubuh mengasihi tubuh yang lainnya. Tuhan bersemayam dalam tubuh ini dan juga dalam tubuh yang lainnya. Keduanya adalah perwujudan dari keilahian. Satu Tuhan ada di dalam semua tubuh. Kita harus mengasihi setiap manusia. Kasihi semuanya, layani semuanya, karena Tuhan bersemayam di dalam semua manusia. Tidak ada tempat di semesta ini yang tidak dipenuhi oleh Tuhan. Tuhan ada di langit, di dalam air, dalam suara dan dalam cahaya. Jadi, segala sesuatu di semesta ini adalah perwujudan dari keilahian. Kita meninggalkan keilahian yang ada dimana-mana dan memuja Tuhan dalam wujud beberapa arca di tempat suci. Tidak diragukan, engkau boleh memuja arca-arca suci tersebut. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, engkau harus menyadari kebenaran bahwa Tuhan yang sama dalam arca suci itu juga ada dalam diri setiap manusia, bahkan dalam setiap makhluk hidup. Aku tidak mengatakan bahwa memuja arca suci itu adalah salah. Namun dirimu sendiri adalah Tuhan. Sadari dirimu sendiri adalah Tuhan terlebih dahulu, dan kemudian mulai melihat Tuhan yang sama dalam setiap makhluk hidup. 


- Divine Discourse, 28 Juli 2007.

Jika engkau dapat menembus batu (arca) dan melihat dasar keilahiannya, alangkah lebih mudahnya untuk melihat Tuhan yang bersemayam dalam hati setiap makhluk hidup? 

Tuesday, July 1, 2025

Thought for the Day - 1st July 2025 (Tuesday)



The sun shines brilliantly when there is no obstruction, but when we build a house and fit it with doors and windows and close all of them, there is only darkness, but no light inside that house. When we want the Sun’s light to penetrate into the house, either of two things must be done by us. We must remove the top, that is, we must get rid of deha bhranti (the illusion that one is the body). We demolish the top, which is made of ahamkara or ego and mamakara or attachment. Alternatively, we can fit a mirror and see that the Sun is reflected into the house. It is then possible to spread light in the dark interior of the house by moving the mirror. But, does light come from the Sun or the mirror? The mirror is inert and not luminous by nature. The moon is also like a mirror, it has no brightness of its own. The light of the sun is reflected on the surface of the moon, and therefore, the light of the moon is also cool and pleasant. Our Vedas teach that the moon is like the mind, which reflects the glory of the soul! If the light of Atma is reflected in the mirror of intelligence, then the entire dark mind may shine with light!


- The Path of Devotion, Summer Showers 1972

Acting under the dictates of the mind brings disaster; acting under the instructions of the illumined buddhi (intellect) is desirable.


Matahari bersinar dengan cemerlang ketika tidak ada halangan, namun ketika kita membangun rumah dan memasang pintu serta jendela lalu menutup semuanya, maka hanya ada kegelapan dalam rumah itu, tanpa ada cahaya sama sekali. Ketika kita ingin cahaya matahari untuk bisa masuk ke dalam rumah, kita harus melakukan salah satu dari dua hal. Kita harus melepaskan atap rumahnya, yaitu kita harus melenyapkan deha bhranti (khayalan bahwa seseorang adalah tubuh). Kita menghilangkan atap yang mana terbuat dari ahamkara atau ego serta mamakara atau keterikatan. Sebagai alternatif, kita dapat memasang sebuah cermin dan melihat cahaya matahari terpantul lewat cermin ke dalam rumah. Dengan demikian kita dapat menyebarkan cahaya pada bagian gelap yang ada di rumah dengan menggerakkan cermin tersebut. Namun pertanyaannya adalah apakah cahaya itu berasal dari cermin atau dari matahari? Cermin adalah tidak aktif dan tidak memiliki cahaya secara alami. Bulan juga seperti halnya cermin dimana tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya dari matahari dipantulkan pada permukaan bulan, dan maka dari itu, cahaya bulan juga sejuk dan menyenangkan. Dalam Weda mengajarkan bahwa bulan adalah seperti pikiran, yang mana memantulkan kemuliaan dari jiwa! Jika cahaya Atma dipantulkan pada cermin kecerdasan, kemudian seluruh pikiran gelap dapat diterangi dengan cahaya!


- The Path of Devotion, Summer Showers 1972

Bertindak dibawah kendali pikiran akan membawa malapetaka; bertindak dibawah tuntunan buddhi (kecerdasan) yang bersinar adalah hal yang patut diinginkan.