Wednesday, November 19, 2025

Thought for the Day - 19th November 2025 (Wednesday)


Embodiments of Love! In this infinite universe, among the myriads of living beings, humanity is eminent. Among human beings, it is a privilege to be born as a woman. There are many examples to demonstrate the preeminence of women. Was not Rama born as a Divine incarnation in Kausalya’s womb? Did not Lava and Kusha (the twins) become great because they were born to Sita? Was it not Jijibai’s loving care which made Shivaji great? Was it not Putlibai’s piety which made Gandhi a Mahatma? All the greater sages and saints, heroes and warriors were born to women who made them great. Woman is the Goddess of Nature. Gayatri, which enshrines the essence of the Vedas, is a goddess, venerated as Veda Mata (the mother of the Vedas). It is obvious that feminine birth is estimable, adorable, and sublime. The Veda also adores the feminine principle in various ways. Vedic rituals and practices accord a high place to women. 


- Divine Discourse, Nov 19, 1995

It is the mother who teaches you the sacred principles like love, compassion, forbearance, tolerance and sacrifice. 


Perwujudan kasih! Dalam alam semesta yang begitu luas dan tidak terbatas ini, di antara begitu banyak makhluk hidup, manusia berada pada posisi yang paling mulia. Dan di antara manusia, terlahir sebagai seorang wanita adalah sebuah kehormatan. Ada banyak contoh yang menunjukkan kedudukan istimewa wanita. Bukankah Rama, sang inkarnasi Ilahi, lahir dari rahim Kausalya? Bukankah Lava dan Kusha menjadi pribadi besar karena mereka adalah putra Sita? Bukankah Shivaji menjadi tokoh besar karena kasih dan didikan Jijibai? Dan bukankah Gandhi menjadi Mahatma berkat kesalehan ibunya, Putlibai? Para rsi agung, guru-guru suci, pahlawan, dan ksatria hebat—semuanya lahir dari rahim wanita yang membentuk mereka menjadi mulia. Perempuan adalah perwujudan dari Ibu Alam. Gayatri, yang memuat inti ajaran Veda, dipersonifikasikan sebagai Dewi dan dihormati sebagai Veda Mata (Ibu Veda). Jelas bahwa kelahiran sebagai perempuan adalah sesuatu yang bernilai, dihormati, dan luhur. Veda pun memuji prinsip feminin dalam berbagai bentuk. Banyak ritual dan praktik Veda menempatkan wanita pada posisi yang sangat penting. 


- Divine Discourse, 19 November 1995

Ibulah yang mengajarkan prinsip-prinsip suci seperti kasih, welas asih, kesabaran, tenggang rasa, dan pengorbanan.

Monday, November 17, 2025

Thought for the Day - 17th November 2025 (Monday)


The blemish that affects the mind is illusion. It is like a fierce dog that will not allow anyone to approach the Master. You can manage to bypass it only by assuming the rupam or form of the Master, which is called sarupyam, or by calling out for the Master so loudly that He comes down and accompanies you into the house, that is to say, by winning His Grace, samipya (proximity). Illusion is His pet, and so, it will not harm you if He orders it to desist from harming you. The Master comes to save not one good man from illusion, but the whole of mankind. Of course, He has to come assuming a form that man can love, revere, and appreciate. He can give joy and courage, only if He speaks the language of human conversation. Many are afraid to approach Me, for they know I am aware of their innermost thoughts and deepest desires. But let Me tell you, only helpless animals have fear. Man, who is the child of immortality, should have no fear. People pray before stone images of the snake god, but when the actual snake appears in answer to their prayers, they run away, terror-stricken from the shrine! The Lord manifests Himself only to shower Grace, never to strike terror. 


- Divine Discourse, Jan 01, 1964

The one who considers that God is far off, He is really distant from him. The one who considers that God is near, for him He is near. 


Noda yang menutupi pikiran adalah khayalan atau ilusi. Khayalan ini seperti seekor anjing yang tidak akan mengijinkan siapapun untuk mendekati majikannya. Satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan mengambil rupa sang majikan - ini disebut sarupyam - atau dengan memanggil nama sang majikan begitu keras sehingga majikan itu turun dan berjalan bersama kita masuk ke dalam rumah. Inilah yang disebut samipya, kedekatan karena anugerah. Khayalan sebenarnya adalah “peliharaan” Tuhan. Ia tidak akan melukai kita jika Tuhan memerintahkannya untuk berhenti. Tuhan datang bukan hanya untuk menyelamatkan satu orang baik dari ilusi, tetapi seluruh umat manusia. Untuk itu, Ia harus mengambil wujud yang bisa dicintai, dihormati, dan dimengerti oleh manusia. Ia bisa memberi sukacita dan keberanian hanya bila Ia berbicara dalam bahasa manusia. Banyak orang takut mendekat kepada-Ku, karena mereka tahu Aku mengetahui pikiran terdalam dan keinginan tersembunyi mereka. Tetapi Aku katakan, hanya binatang yang tidak berdaya yang hidup dalam ketakutan. Manusia, yang sesungguhnya adalah putra keabadian, tidak seharusnya takut. Orang berdoa di depan arca dewa ular. Namun ketika ular sungguhan muncul sebagai jawaban atas doa mereka, mereka malah lari ketakutan dari tempat pemujaan! Tuhan menampakkan diri hanya untuk memberi anugerah, tidak pernah memberikan ketakutan. 


- Divine Discourse, 01 Januari 1964

Mereka yang merasa Tuhan itu jauh, akan benar-benar merasa jauh dari-Nya. Tetapi mereka yang meyakini bahwa Tuhan dekat, akan sungguh-sungguh merasakan kedekatan itu.

Thursday, November 13, 2025

Thought for the Day - 13th November 2025 (Thursday)


Many people who have some questions regarding Swami do not realise the ways of the Divine. They look at all things from the worldly point of view. They should look at things from the Divine point of view. Change the angle of your vision. When you practise seeing the world from the point of view of the omnipresence of the Divine, you will get transformed. You will experience the power of the Divine in everything in creation. You cannot hide anything from God. Many imagine that Swami does not see what they are doing. They do not realise that Swami has a myriad eyes. Even your eyes are divine. But you are not aware of your true nature. When you have faith in yourself, you will have faith in God. Realise that there is nothing beyond the power of God. Love God with that supreme faith. Then you will be drawn towards God. It needs purity. A magnet cannot attract a piece of iron covered with rust. Similarly, God will not draw to Himself an impure person. Hence, change your feelings and thoughts and develop the conviction that God is everything. God will not give you up when you have this conviction. 


- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Consider all work as God’s work and develop love. When love grows, faith will also grow more. 


Banyak orang yang memiliki beberapa pertanyaan terkait Swami dan mereka tidak menyadari cara Ilahi. Mereka melihat segala sesuatu dari sudut pandang duniawi, padahal seharusnya mereka memandang dari sudut pandang Ilahi. Ubah sudut pandangmu. Ketika anda berlatih memandang dunia dari perspektif bahwa Tuhan ada dimana-mana, anda akan mendapatkan perubahan. Anda akan mengalami kekuatan ilahi dalam segala ciptaan. Anda tidak bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan. Banyak yang membayangkan bahwa Swami tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan. Mereka tidak menyadari bahwa Swami memiliki ribuan mata. Bahkan matamu sendiri bersifat ilahi. Namun anda tidak menyadari sifat aslimu. Ketika anda memiliki keyakinan pada dirimu sendiri, anda akan memiliki keyakinan pada Tuhan. Sadarilah bahwa tidak ada apapun yang melampaui kekuatan Tuhan. Cintailah Tuhan dengan keyakinan yang tertinggi. Kemudian anda akan ditarik kearah Tuhan. Hal ini membutuhkan kemurnian. Sebuah magnet tidak bisa menarik besi yang ditutupi oleh karat. Sama halnya, Tuhan tidak akan menarik orang yang tidak murni. Karena itu, ubahlah perasaan dan pemikiranmu serta kembangkan keyakinan bahwa Tuhan adalah segalanya. Tuhan tidak akan melepaskanmu ketika anda memiliki keyakinan ini. 


- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Anggap bahwa semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan dan kembangkan kasih. Ketika kasih bertumbuh, keyakinan juga akan bertumbuh semakin kuat. 

Wednesday, November 12, 2025

Though for the Day - 12th November 2025 (Wednesday)


Understand the true relationship between the external phenomenal world and the world of Spirit inside. The external world is a reflection of the inner being. All happiness that you seek from external objects is within yourself. Take the example of the ocean. The water that turns into vapour from the ocean assumes a different form and quality. It acquires purity and sweetness and returns to the ocean in another form. Look at the changes it goes through in this process. Going up as vapour, becoming a cloud, coming down as rain, flowing as rivulets, it joins the ocean as a river. The change into vapour is Sathya (truth). The formation of the cloud is Dharma (right conduct). Coming down as raindrops corresponds to Prema (drops of love). When the drops join to become a river, there is the flow of Ananda (bliss). This stream of bliss merges in the ocean of Grace. Sometime or other, what has come from the Divine has to merge in the Divine. This is the natural destiny of all living beings - taking birth as a manava (man), leading a life of a jivi (individual being), again returning to the form of Madhava (divine nature), and ultimately merging in the Divine. 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Man should express love more and more to make the inner divine light in the body shine more brilliantly. 


Pahamilah hubungan sejati diantara dunia fenomenal di luar diri dan dunia batin di dalam diri. Dunia di luar diri adalah sebuah pantulan dari keberadaan batin di dalam diri. Semua kebahagiaan yang kita cari dari objek-objek di luar diri sejatinya ada di dalam diri kita sendiri. Ambillah contoh lautan. Air lautan yang menguap berubah menjadi uap air mengambil bentuk dan kualitas yang berbeda. Air ini menjadi murni dan manis serta kembali ke lautan dalam bentuk yang lain. Perhatikan proses perubahan itu. Air lautan menguap menjadi uap air, kemudian menjadi awan, dan jatuh dalam bentuk hujan, mengalir sebagai anak sungai, dan akhirnya mengalir dalam bentuk sungai besar untuk bergabung kembali ke lautan. Perubahan menjadi uap air adalah Sathya (kebenaran). Pembentukan awan adalah Dharma (kebajikan). Jatuh ke bumi sebagai hujan adalah Prema (tetesan kasih). Ketika tetesan air itu bergabung menjadi sungai, maka disana ada aliran kebahagiaan (Ananda). Aliran kebahagiaan ini akhirnya menyatu kembali pada lautan anugerah. Segala yang berasal dari Tuhan harus menyatu kembali pada Tuhan. Ini adalah takdir alami dari semua makhluk hidup – lahir dalam wujud manusia (manava), menjalani hidup sebagai seorang individu (jivi), lalu kembali ke dalam bentuk Madhava (sifat ilahi), dan pada akhirnya menyatu kembali pada sang ilahi. 


- Divine Discourse, 7 Maret 1997

Manusia hendaknya semakin banyak dan lebih banyak lagi mengungkapkan kasih agar cahaya Ilahi dalam dirinya bersinar semakin terang. 

Tuesday, November 11, 2025

Thought for the Day - 11th November 2025 (Tuesday)


Names and forms are momentary. The form of the tiger is momentary. The form of the snake is momentary. As names and forms are momentary, take them as such. However, the principle of non-dualism should not be misconstrued. In your pocket, you have a pen. The other man also has a pen in his pocket. You cannot take another man’s pen from his pocket. Is it proper? No! At the worldly level, your pen belongs to you, My pen belongs to Me. If you slip, you sustain a fracture of your leg. Then you may have a bandage. Your mother has intense love for you. Your mother may feel sad because you are suffering. But it is not possible for her to have the bandage on her leg. Individuals are different, but the pain may be the same for both. You will have the pain of a fracture; your mother will have the pain that you are suffering. But the mother is not having pain of the fractured leg. Mother is feeling sad because of the suffering of the son, not of the fracture. So, you can follow non-dualism in feeling, but not in action. 


- Divine Discourse, Apr 26, 1993.

In this world, you and the world are temporary. But Truth and Love are permanent. 


Nama dan rupa adalah bersifat sementara. Rupa dari harimau adalah sementara. Rupa dari ular juga bersifat sementara. Ketika nama dan rupa adalah sementara, perlakukan keduanya sebagai sesuatu yang sementara. Bagaimanapun juga, prinsip tanpa dualitas jangan disalah artikan. Dalam sakumu, anda memiliki sebuah pena. Orang lain juga memiliki pena di dalam sakunya. Apakah pantas anda mengambil pena dalam sakunya? Tidak! Dalam tataran duniawi, pena anda adalah milik anda, pena-Ku adalah milik-Ku. Jika anda terpeleset dan kaki anda patah maka kaki anda akan dibalut perban. Ibu anda memiliki kasih yang mendalam pada diri anda. Ibu anda akan merasa sedih karena penderitaan yang anda alami. Namun adalah tidak mungkin bagi ibu anda untuk menaruh perban di kakinya. Individu adalah berbeda, namun rasa sakit adalah bisa dirasakan sama. Anda merasakan sakit karena patah tulang; ibu anda merasakan sedih atas penderitaan yang anda alami. Ibu merasa sedih karena penderitaan yang dialami putranya, namun tidak karena patah tulang. Jadi, anda bisa menerapkan tanpa dualitas dalam perasaan namun bukan dalam tindakan. 


- Divine Discourse, 26 April 1993.

Dalam dunia ini, diri anda dan dunia adalah sementara. Namun kebenaran dan kasih adalah bersifat kekal.

Monday, November 10, 2025

Thought for the Day - 10th November 2025 (Monday)



If your thoughts centre round the body, you will have worries about pains and illnesses, real or imaginary; if they are centred on riches, you will be worried about profit and loss, tax and exemptions, investment and insolvency; if they roam round fame, then, you are bound to suffer from the ups and downs of scandal, calumny and jealousy. So, let them centre round the seat of power and love which deserves willing submission and let your whole being surrender to it. Then, you will be happy forever. For the sages of the Vedic culture, the rishis, the Name of the Lord was the very breath; they lived on the sustenance inherent in the contemplation of the glory of the Lord. When the milky ocean of the Vedas was churned with intelligence as the rod and devotion as the rope, the butter of the three great classics - the Ramayana, the Mahabharata, the Srimad Bhagavata emerged, for spreading the message of the Namasmarana (chanting of the divine name) way to peace and joy. It is to revive this message and to restore faith in the Name that this Avatar has come into the world, in the Kali Yuga. 


- Divine Discourse, Oct 3, 1965

Turning the mind towards God, you get liberation. Turning the mind towards the world, you get bondage.


Jika pemikiranmu dipusatkan pada sekitar tubuh jasmani, anda akan memiliki kecemasan tentang rasa sakit dan penyakit, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayanganmu; jika pemikiranmu terpusat pada kekayaan, anda akan cemas terkait pada keuntungan dan kerugian, pajak dan keringanan, investasi dan kebangkrutan; jika pemikiranmu berputar pada ketenaran, maka anda akan terseret naik turun oleh gosip, fitnah dan rasa iri. Jadi, arahkan pemikiranmu terpusat pada sumber kekuatan dan kasih sejati yaitu Tuhan sebagai pusat hidupmu. Serahkan seluruh dirimu kepada-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Kemudian, anda akan bahagia selamanya. Bagi para guru suci dari kebudayaan Weda, para Rsi, nama suci Tuhan adalah nafas hidup mereka; mereka hidup dari kekuatan Rohani yang muncul dari perenungan kemuliaan Tuhan. Ketika lautan susu dari Weda diaduk dengan kecerdasan sebagai tongkat pemutar dan bhakti sebagai tali pengikatnya, maka muncullah mentega suci berupa tiga karya agung yaitu : Ramayana, Mahabharata, dan Srimad Bhagavata. Tiga karya agung ini menyebarkan pesan-pesan tentang Namasmarana (melantunkan nama suci Tuhan) yaitu jalan untuk mendapatkan kedamaian dan suka cita. Dalam upaya menghidupkan kembali pesan-pesan suci ini dan meneguhkan kembali keyakinan pada nama suci Tuhan, inkarnasi Tuhan hadir ke dunia ini di jaman Kali yuga. 


- Divine Discourse, 3 Oktober 1965

Ketika anda mengarahkan pikiran pada Tuhan, anda mendapatkan kebebasan. Ketika pikiran diarahkan pada dunia, anda akan terikat.

Tuesday, October 28, 2025

Thought for the Day - 28th October 2025 (Tuesday)



Peace and bliss are not to be found in external objects. You possess all worldly objects to cater to your needs and to provide all comforts and conveniences to you. Isn’t it? If these external objects could give you peace and bliss, then how is it that you do not experience peace and bliss despite possessing all these? Similarly, all your near and dear ones are with you. But they also do not give you peace and bliss. You should try to understand that bliss is not to be found in persons and material objects. Bliss comes only from within you; you yourself are the source of peace and bliss. Therefore, there is no need for you to make efforts to search for them here and there. Bliss is not to be searched; it has to be manifested from within. It is to be known and not to be looked out. Try to know this eternal principle of truth that is within you. You think that someone or the other will give you bliss. But that is your bhrama (delusion). So long as you have bhrama, you cannot attain Brahma (God). Therefore, get rid of this bhrama. Then Brahma will become manifest from within you. God is no different from you. You and God are one. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996.

You yourself are the embodiment of peace. You are the embodiment of truth. You are the embodiment of God. You should try to know this eternal and sacred truth. 


Kedamaian dan kebahagiaan tidak ditemukan pada objek-objek di luar diri. Kamu memiliki semua objek-objek duniawi untuk memenuhi kebutuhanmu dan menyediakan semua kenyamanan dan kemudahan bagimu. Bukankah begitu? Jika objek-objek di luar diri ini dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan, kemudian bagaimana kamu tidak mengalami kedamaian dan kebahagiaan meskipun memiliki semuanya ini? Sama halnya, semua yang kamu sayangi dan kasihi hadir bersama denganmu. Namun mereka juga tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan pada dirimu. Kamu seharusnya mencoba untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam diri orang dan objek material. Kebahagiaan hanya muncul dari dalam dirimu; dirimu sendiri adalah sumber dari kedamaian dan kebahagiaan. Maka dari itu, tidak perlu bagimu untuk melakukan usaha untuk mencarinya kesana kemari. Kebahagiaan tidak perlu dicari; kebahagiaan harus diwujudkan dari dalam diri. Kebahagiaan harus disadari dan bukan dicari di luar diri. Cobalah untuk mengetahui prinsip kebenaran abadi yang ada di dalam dirimu. Kamu berpikir bahwa seseorang atau yang lainnya akan memberikanmu kebahagiaan. Namun itu adalah khayalanmu (bhrama). Selama kamu masih memiliki bhrama, maka kamu tidak bisa mencapai Tuhan (Brahma). Maka dari itu, lepaskan khayalan ini. Kemudian Brahma akan muncul dari dalam dirimu. Tuhan adalah tidak berbeda dari dirimu. Sejatinya, dirimu dan Tuhan adalah satu. 


- Divine Discourse, 24 Juni 1996.

Dirimu sendiri adalah perwujudan kedamaian. Dirimu adalah perwujudan kebenaran. Dirimu adakah perwujudan Tuhan. Kamu harus mencoba untuk mengetahui kebenaran abadi dan suci ini.