Monday, April 13, 2009

Thought for the Day 13th April 2009 (Monday)


What is 'Moksha'? It is giving up of the 'Anatma', the unreal. Suppose you want a glass of fruit juice, unless you throw away the water already in the glass, you cannot pour juice in to the glass. Similarly, unless you give up worldly desires, 'Atmabhava' (spirituality) cannot take root in you. When you spend your hours immersed in thoughts about God, you become free from evil ways. You will not be tempted to abuse others or harm them in any way. You begin to live in Love, accepting all events as His gifts. Then your home verily becomes heaven on Earth; the joy that bubbles in your heart is the symbol of Vaikunta (abode of Lord Vishnu); the earnestness and care that you evince in your work will symbolize Kailasa (the abode of Lord Shiva).

Apakah ‘Moksha’? Moksha adalah menyerahkan ‘Anatma’, khayal. Misalnya engkau menghendaki segelas jus buah,  jika engkau tidak membuang  air yang sudah ada di dalam gelas, engkau tidak dapat menuangkan jus ke dalam gelas. Demikian juga, jika engkau tidak menyerahkan keinginan-keinginan duniawi, ‘Atmabhava’ (spiritualitas) tidak dapat berakar padamu. Ketika engkau menghabiskan harimu tenggelam dalam pemikiran tentang Tuhan, engkau menjadi terbebas dari hal-hal yang buruk. Engkau tidak akan tertarik pada perlakuan buruk yang lain atau merugikan mereka dengan cara apapun. Engkau mulai hidup dalam Cinta Kasih, menerima semua kejadian-kejadian sebagai hadiah-hadiah-Nya. Kemudian rumahmu benar-benar menjadi sorga di dunia; kegembiraan meluap dihatimu yang merupakan lambang dari Vaikunta (tempat kediaman Vishnu); dengan kesungguhan dan kepedulianmu menunjukkan bahwa engkau akan bekerja melambangkan Kailasa (tempat kediaman Shiva). 

-BABA

Sunday, April 12, 2009

Thought for the Day - 12th April 2009 (Sunday)


All cravings and impulses rise up with overpowering strength like waves from the sea, roar in fury, and then subside in to calm waters. They do not confer peace. Wisdom lies in forgetting these waves and directing one's attention to the calm depths within. You can attain Shanti (peace) only if you dive in to the deep and undisturbed depths of the sea within, not by swimming around on the surface.

Segala keinginan dan hasrat bangkit dengan kekuatan yang sangat dahsyat seperti ombak-ombak laut yang mengamuk dalam kemurkaan yang kemudian mereda oleh adanya air yang tenang. Hal ini tidak menganugerahkan kedamaian. Kebijaksanaan dapat dicapai dengan melupakan ombak-ombak ini dengan memusatkan perhatianmu pada ketenangan sejati yang ada di dalam dirimu. Engkau dapat memperoleh kedamaian (Shanti) hanya jika engkau mampu menyelami kedalaman lautan yang ada dirimu yang tidak tercemari, bukan dengan berenang di sekitar permukaan.

 

-BABA

Saturday, April 11, 2009

Thought for the Day - 11th April 2009 (Saturday)


God is love incarnate. This love shines equally in every human being. The fragrance of a flower remains the same whether it is held in the right hand or the left. Likewise God has no distinctions such as the favoured and the excluded. But narrow-minded persons cannot easily grasp the Divine's equal-mindedness. Everyone apprehends God's powers and attributes according to his own limited conceptions and experiences. Different people, depending on their own likes and dislikes, attribute the differences existing in their own minds to the Divine. God does not make distinctions such as the good and the bad, the desirable and the unwanted, the wicked and the virtuous. The sandalwood tree imparts its fragrance even to the axe that fells it. Likewise, God is ever prepared to love, foster and protect everyone equally.

Tuhan adalah perwujudan kasih. Kasih ini bersinar sama dalam setiap manusia. Keharuman bunga tetap sama apakah itu di tangan kanan atau di tangan kiri. Demikian juga, Tuhan tidak mempunyai perbedaan sebagaimana kebaikan dan tanpa kecuali. Tetapi orang-orang yang berpikiran sempit tidak dapat memahami dengan mudah sifat Ketuhanan yang sama itu. Setiap orang  memahami kekuatan dan sifat Tuhan berdasarkan pemikiran-pemikiran dan pengalaman-pengalamannya sendiri yang terbatas. Orang yang berbeda, tergantung pada hal-hal yang mereka sendiri suka dan tidak suka, perbedaan yang ada di pikiran mereka sendiri tentang Ketuhanan. Tuhan tidak membuat perbedaan-perbedaan seperti  baik dan  buruk, yang diinginkan dan tidak diinginkan, kejahatan dan kebaikan. Pohon cendana memberikan keharumannya bahkan kepada yang menebangnya. Demikian juga, Tuhan selalu siap untuk mengasihi, memelihara dan melindungi setiap orang dengan sama.

-BABA

Friday, April 10, 2009

Thought for the Day - 10th April 2009 (Friday)


Shanti (peace) is the honey of Prema (love) in the enchanting flower of life. It is the prime need of the Yogi (spiritual master) and the Sadhaka (spiritual aspirant). Having acquired it, they can realize the Reality tomorrow, if not today. They should put up with all the obstacles in the way, and Shanti will give them the strength needed for this. Through Shanti alone can Bhakti (devotion) and Jnana (wisdom) strike root.

Kedamaian (Shanti) adalah madu dari cinta kasih (Prema) yang memikat bunga kehidupan. Hal  ini merupakan kebutuhan utama dari guru spiritual (Yogi) dan pencari spiritual (Sadhaka). Setelah memperolehnya, mereka dapat menyadari Kebenaran esok, jika tidak hari ini. Mereka seharusnya menerima tanpa mengeluh segala rintangan di jalan itu, dan Shanti akan memberikan mereka kekuatan yang diperlukan untuk ini. Melalui Shanti, Bhakti dan Jnana dapat mulai berakar.

 -BABA

Thursday, April 9, 2009

Thought for the Day - 9th April 2009 (Thursday)


You have today in the world, men of wealth, strength, scholarship and virtue. But there are few who have realized the Self. Ignoring the Self, of what avail are all other possessions, which are temporary and evanescent? Of what use is the knowledge about the world, when you are not aware of yourself? That is why Vedanta (Vedic Philosophy) calls upon each one to discover the truth about himself. Self-knowledge is the key to all knowledge. For this, you must approach the right person to teach you the means to discover your true Self. If you are not prepared to undertake this self-enquiry, cultivate faith, if not in God, at least in your own Self. The man who has no faith in himself can have no faith in anybody; he cannot have faith in God. Make Vishwasa (faith) your Shwasa (life breath).

Engkau melihat di dunia saat ini, kekayaan orang-orang, kekuatan, kesarjanaan dan kebaikan. Tetapi sedikit yang telah menyadari jati diri. Mengabaikan jati diri, maka apa gunanya semua harta milik, yang sementara dan mudah hilang? Apa gunanya pengetahuan duniawi ketika engkau tidak menyadari jati dirimu? Itulah mengapa filsafat Veda (Vedanta) menyerukan kepada setiap orang untuk menemukan kebenaran tentang dirinya. Pengetahuan Jati diri adalah kunci untuk semua pengetahuan. Karena hal ini, engkau harus mendekati orang yang tepat untuk mengajarimu caranya. Jika engkau tidak siap untuk melakukan penyelidikan jati diri,  tanamkan keyakinan, jika tidak kepada Tuhan, setidaknya kepada dirimu sendiri. Orang yang tidak memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri tidak bisa memiliki kepercayaan orang lain, dia tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan. Jadikan kepercayaan (Vishwasa) nafas kehidupanmu (Shwasa).

 

-BABA

Wednesday, April 8, 2009

Thought for the Day - 8th April 2009 (Wednesday)


To earn Shanti (peace), its inveterate foe, anger, must be laid low. Anger enslaves man and befogs his understanding. When you are full of Bhakti (devotion), understanding becomes easy. The form of Bhakti known as Shanta Bhakti is the best path leading to eternal, everlasting Ananda (bliss). Live a life of high ideals; be always happy and contented.

Untuk mendapatkan kedamaian (Shanti), kemarahan, sifat  yang sudah berurat akar dalam diri,  harus dikalahkan. Kemarahan memperbudak manusia dan mengaburkan pemahamannya. Jika engkau penuh dengan Bhakti, pemahaman menjadi mudah. Wujud dari Bhakti yang dikenal sebagai Shanta Bhakti adalah jalan terbaik untuk mencapai kebahagiaan (Ananda). Hiduplah dengan cita-cita yang tinggi; jadilah selalu berbahagia dan menyenangkan.

 

-BABA

Tuesday, April 7, 2009

Thought for the Day - 7th March 2009 (Tuesday)


The Vedas have taught the means to make life in the world pure and meaningful. They have declared: " Na karmanaa na prajayaa dhane na, thyaagenaike amrutatwamaanashuhu" (not through rituals, progeny or wealth, but only through sacrifice can immortality be achieved). A Thyagi (renunciant) does not hesitate even to sacrifice his body for others welfare. Sacrifice means something more than giving up of wealth, gold and material objects. Evil qualities like hatred, jealousy, wrath and malice which have become ingrained in man over many lifetimes should be discarded.

Weda telah mengajarkan cara untuk membuat hidup di dunia murni dan bermakna. Weda telah mengatakan:” Na karmanaa na prajayaa dhane na, thyaagenaike amrutatwamaanashuhu" (bukan melalui upacara agama, keturunan atau kekayaan, tetapi hanya melalui pengorbanan keabadian dapat dicapai). Seorang Thyagi (orang yang sudah melepaskan diri dari ikatan duniawi) bahkan tidak ragu-ragu untuk mengorbankan dirinya untuk kesejahteraan orang lain. Pengorbanan berarti memberi sesuatu yang lebih dari harta, emas dan benda lain. Sifat buruk seperti kebencian, kecemburuan, kemarahan dan kedengkian yang sudah berurat akar pada manusia sepanjang hidupnya, harus dilenyapkan.

 

-BABA