Tuesday, August 4, 2009

Thought for the Day - 4th August 2009 (Tuesday)


The Upanishads declare that immortality can be experienced only through Thyaga (renunciation or sacrifice). This renunciation does not mean giving up hearth and home, kith and kin. It means giving up the transient and impermanent things of the world. This calls for discrimination between what is permanent and what is perishable, what is good and what is bad. Only then can man discover the Divine principle within him.

Dalam Upanishads dinyatakan bahwa kehidupan yang kekal hanya dapat dialami melalui Thyaga (tidak mementingkan diri sendiri atau pengorbanan). Pengorbanan ini tidak berarti meninggalkan keluarga dan rumah, serta teman-teman dan sanak saudara. Ini artinya meninggalkan kefanaan dan sesuatu yang bersifat sementara di dunia ini. Panggilan ini untuk membedakan antara apa yang kekal dan apa yang fana, serta apa yang baik dan apa yang buruk. Baru setelah itu manusia dapat menemukan prinsip Ketuhanan dalam dirinya.

-BABA

Monday, August 3, 2009

Thought for the Day - 3rd August 2009 (Monday)


The ultimate purpose of all spiritual exercises is to realize the love of the Divine. To foster love is the purpose of all spiritual endeavour. Under no circumstances should love be given up or ignored. Where there is love, there can be no hatred, grief or want. See that your love for God does not fluctuate according to whether your wishes are fulfilled or not. Love of God alone can confer enduring bliss. There is nothing greater than love in this world. Everything has a price. The price to be paid for everlasting happiness is Divine love.

Tujuan utama dari seluruh latihan spiritual adalah untuk menyadari kasih Tuhan. Mengembangkan kasih adalah tujuan dari seluruh usaha spiritual. Bagaimanapun juga tidak seharusnya kasih ditinggalkan atau diabaikan. Dimana ada kasih, disana tidak ada kebencian, kesedihan, atau keinginan. Engkau seharusnya mengusahakan agar kasihmu kepada Tuhan tidak berubah apakah keinginanmu sudah terpenuhi atau tidak. Kasih Tuhan akan menganugerahkan kebahagiaan abadi. Tidak ada sesuatu yang lebih agung dari kasih di dunia ini. Segala sesuatu mempunyai harga. Harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan abadi adalah kasih Tuhan.

-BABA

Sunday, August 2, 2009

Thought for the Day - 2nd August 2009 (Sunday)


Jnana in Vedantic parlance has been defined as "Advaita Darshanam". That is to see the One in the many, unity in diversity. There may be many names and forms, but you have to recognise that the Atma Principle in all of them is one and the same. It is not enough to say this in words. You must make it a living experience. Only then can one experience enduring Ananda (bliss). Such a person alone can be called a true Jnani (Knower of the Supreme).

Jnana dalam Kitab Veda telah dinyatakan sebagai “Advaita Darshanam”. Itu berarti melihat yang Esa (Tuhan) di dalam banyak hal, kesatuan dalam keberagaman. Mungkin ada banyak nama dan bentuk (Tuhan), tetapi engkau harus menyadari bahwa Prinsip Atma dalam semua itu adalah satu dan sama. Adalah tidak cukup untuk mengatakan hal ini dalam kata-kata. Engkau harus menjadikan hal itu sebuah pengalaman hidup. Baru setelah itu seseorang dapat merasakan kebahagiaan abadi (Ananda). Orang yang semacam itu disebut Jnani sejati (Orang yang memiliki pengetahuan tertinggi).

-BABA

Saturday, August 1, 2009

Thought for the Day - 1st August 2009 (Saturday)


Truth and Righteousness alone are lasting and all other things, including this body, wealth and kinsfolk are impermanent. Manifest the truth within you and put that truth into practice. What you need for spiritual progress are three things: a heart free from attachment and hatred, a tongue that is not tainted by untruth, a body not polluted by violence. Without these three, all penance and religious practice is of no use. You have to pray incessantly to the Divine to confer these qualities on you. Realise that the Divine is within you. Life is given to you to realise lasting bliss by the right use of the body, the mind and the intellect. You have to acquire the wisdom to lead such a life based on the love of God.

Kebenaran dan kebajikan bersifat abadi dan semua hal, termasuk badan ini, kekayaan dan sanak saudara bersifat sementara. Wujudkan kebenaran dalam dirimu dan praktekkan kebenaran. Apa yang engkau perlukan untuk kemajuan spiritual adalah tiga hal: hati yang bebas dari keterikatan dan kebencian, lidah yang tidak tercemari dengan kebohongan, badan yang tidak dikotori dengan kekerasan. Tanpa ketiga hal ini, penebusan dosa dan praktek spiritual tidak berguna. Engkau harus berdoa secara terus-menerus kepada Tuhan untuk menganugerahkan sifat-sifat ini padamu. Sadarilah bahwa Tuhan berada dalam dirimu. Hidup ini diberikan kepadamu untuk menyadari kebahagiaan abadi dengan menggunakan badan, pikiran, dan akal budi dengan baik. Engkau harus memperoleh kebijaksanaan untuk menjalankan kehidupan berdasarkan kasih Tuhan.

-BABA

Friday, July 31, 2009

Thought for the Day - 31st July 2009 (Friday)


God is ready to grant you happiness. Are you prepared to receive what He wishes to offer? Banish all worries. They are temporary like passing clouds. Happiness is union with God. God is eternal bliss. Get rid of your evil tendencies and fill your hearts with love of God. You will then become one with God. Do not allow anyone to come between you and your duty to God. Your allegiance to the Lord should transcend all other obligations. God takes care of such devotees. Surrender yourselves to God and dedicate yourselves to the service of mankind.

Tuhan bersedia untuk memenuhi kebahagiaanmu. Apakah engkau siap untuk menerima apa yang Beliau berikan? Hapuskan semua kekhawatiran. Itu bersifat sementara seperti awan-awan yang berlalu. Kebahagiaan adalah penyatuan dengan Tuhan. Tuhan adalah kebahagiaan abadi. Bebaskan hatimu dari kecenderungan-kecenderungan buruk dan isilah hatimu dengan kasih Tuhan. Engkau akan menyatu dengan Tuhan. Jangan biarkan seseorang datang diantara engkau dan kewajibanmu kepada Tuhan. Kesetiaanmu kepada Tuhan seharusnya melebihi semua kewajiban lainnya. Tuhan menjaga bhaktanya. Pasrahkan dirimu kepada Tuhan dan abdikan dirimu untuk melayani umat manusia.

-BABA

Thursday, July 30, 2009

Thought for the Day - 30th July 2009 (Thursday)


Brahman (God) is full of love and, in fact, is the embodiment of love. Your love should merge with this love. In fact, there is only one and no second; it is the non-dual state. The essential nature of love is sacrifice. Under any circumstance, it does not give room for hatred. It is love that drives away the feeling of separateness and promotes the feeling of oneness. Love also raises a person from the animal to the human. Prema (Love) is the Prana (Life Force) of man, and the Prana itself is Prema. One without love is like a lifeless corpse. Love and life are therefore inter-related and intimately connected.

Brahman (Tuhan) adalah penuh kasih dan sesungguhnya merupakan perwujudan kasih. Kasih yang ada padamu seharusnya menyatu dengan kasihTuhan ini. Sebenarnya, hanya ada satu dan tidak ada yang kedua; itulah keadaan yang tidak mendua. Sifat sejati dari kasih adalah pengorbanan. Dalam keadaan apapun, jangan memberikan ruang bagi kebencian. Kasihlah yang menghapuskan rasa keterpisahan dan meningkatkan rasa kesatuan. Kasih juga yang mengangkat seseorang dari sifat kebinatangan ke sifat manusia. Prema (kasih) adalah Prana (Kekuatan Hidup) dari manusia, dan Prana sendiri adalah Prema. Seseorang tanpa kasih seperti mayat tak bernyawa. Kasih dan hidup saling terkait dan berhubungan.

-BABA

Wednesday, July 29, 2009

Thought for the Day - 29th July 2009 (Wednesday)


The body is made up of five elements and is bound to perish one day or the other. But in such a transient body there exists the eternal divinity in the form of the Atma (Self). The all-pervasive divinity is known as consciousness, the limited form of which exists in the body as conscience. Consciousness and conscience are the same in terms of quality, only the quantity differs. You may collect water from the ocean in a cup, pot and a big tank. The water in these three differs only in quantity, the salinity is the same in all of them. The body may be compared to a pot. The all-pervasive consciousness exists in it as conscience.

Badan ini terdiri dari lima unsur dan pasti akan musnah suatu hari atau lain hari. Namun dalam badan yang sementara ini, ada ketuhanan yang kekal dalam wujud Atma. Ketuhanan yang meresapi semuanya dikenal sebagai kesadaran, bentuk terbatasnya ada dalam badan sebagai suara hati. Kesadaran dan suara hati adalah sama dalam hal kualitas, hanya kuantitasnya yang berbeda. Engkau dapat mengumpulkan air dari laut dan menempatkannya dalam cangkir, kendi, dan tangki besar. Air pada ketiga tempat tersebut berbeda hanya dalam jumlah, sedangkan kadar garamnya sama. Badan dapat disamakan dengan sebuah kendi. Segala kesadaran yang meresapi ada di dalamnya sebagai suara hati.

-BABA