Friday, September 4, 2009

Thought for the Day - 3rd September 2009 (Thursday)


Devotion to the Lord is really a form of discipline for reaching the goal. The seeker should not stop with the acquisition of devotion, nor pay so much attention to the love he has for the Lord, but rather to the love and grace the Lord bestows on him. One should always be eager to find out what behaviour and what actions will be most pleasing to the Lord. Inquire about that, yearn for that, and carry out the things that will secure that objective. Whatever a devotee undertakes, plans or observes should draw down the grace of God. The devotee should test every thought and feeling on the touchstone of the Lord’s declared preferences.

Bhakti kepada Tuhan benar-benar merupakan suatu bentuk disiplin untuk mencapai suatu tujuan. Si pencari Tuhan seharusnya tidak boleh berhenti dengan sesuatu yang diperolehnya, maupun memberikan perhatian yang banyak pada kasih yang dimilikinya pada Tuhan, melainkan juga untuk kasih dan berkat Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Seseorang seharusnya selalu berusaha untuk menemukan apa perilaku dan tindakan yang dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Menanyakan hal tersebut, merindukan hal tersebut, melaksanakan hal–hal yang berkenaan untuk tujuan tersebut. Apapun juga yang dilakukan oleh para Bhakta (devotee), rencana-rencana atau pengamatan, seharusnya didasarkan pada berkat Tuhan. Bhakta (devotee) seharusnya menguji setiap pikiran dan perasaan pada batu ujian dari Tuhan.

-BABA

Thought for the Day - 2nd September 2009 (Wednesday)


The grace of God cannot be won through the gymnastics of reason, the contortions of yoga, or the denials of asceticism. Love alone can win it; love that needs no requital; love that knows no bargaining; love that is paid gladly to the All-Loving; and love that is unwavering. Love alone can overcome obstacles however many and mighty. There is no strength more effective than purity; no bliss more satisfying than Love; no joy more restoring than Bhakti (devotion to God) and no triumph more praiseworthy than surrender.

Rahmat Tuhan tidak dapat dicapai melalui olah tubuh, gerakan-gerakan yoga, atau penyangkalan tapa brata. Kasih sendirilah yang dapat memenangkannya; kasih tidak memerlukan balasan; kasih juga tidak mengenal tawar-menawar; kasih yang diberikan dengan senang hati pada semuanya; dan kasih yang teguh tidak tergoyahkan. Kasih itu sendiri dapat mengatasi hambatan bagaimanapun besarnya hambatan tersebut. Tidak ada kekuatan yang lebih efektif daripada kemurnian; tidak ada suka cita yang lebih memuaskan daripada Kasih; tidak ada kesenangan yang lebih memulihkan daripada Bhakti dan tidak ada kemenangan yang lebih patut dipuji daripada penyerahan total (surrender).

-BABA

Tuesday, September 1, 2009

Thought for the Day - 1st September 2009 (Tuesday)


There is no being without a trace of love. Love leads to Ananda (Supreme bliss), pure and lasting. Many seek this Ananda through their relationships with other individuals, others try to attain it by amassing fame, power and riches and a few others attempt to gain it by renunciation of material possessions and desire for worldly pleasures. Detachment alone can confer Ananda. The Upanishads proclaim that Thyaga (sacrifice) alone can grant Amrithathwa (Bliss of Immortality). One must give up all attachment and affection and, in the heart thus liberated, install God in all His glory. This is the only means to earn everlasting, undiminished Ananda.

Semua mahluk hidup pasti dilandasi oleh cinta kasih. Cinta kasih ini akan menuntun kita menuju Ananda (Kebahagiaan tertinggi) yang murni dan abadi. Kebanyakan orang mencari Ananda ini dengan kegiatan duniawi seperti: mencari teman sebanyak-banyaknya, berusaha untuk menjadi terkenal, berusaha untuk mencari kekayaan sedangkan sisanya berusaha untuk mencapainya melalui pengekangan diri terhadap harta dan kesenangan duniawi. Ketidakterikatanlah yang sebenarnya dapat menuntun kita menuju Ananda. Di dalam Upanisad dinyatakan bahwa Thyaga (pengorbanan) dapat membimbing kita menuju Amrithathwa (Kebahagiaan yang kekal). Kita harus melepaskan semua keterikatan dan di hati yang bebas dari keterikatan itu kita semayamkan Tuhan dengan segala kemuliaannya. Inilah satu-satunya jalan untuk meraih Ananda

-BABA

Monday, August 31, 2009

Thought for the Day - 31st August 2009 (Monday)


As a preliminary to Seva (selfless service) you have to attain purity of heart. You must examine your motives and skills, your intentions and qualifications, and discover for yourself what you hope to achieve through Seva. You should ferret out any trace of egoism, and also the desire for fame. You have to get rid of all sense of mine and thine and burn to ashes the pride that comes from the feeling that you are offering service to someone poorer and less fortunate. Give up pride of status, wealth, scholarship and position, and practise humility, obedience, discipline and compassion.

Sebagai langkah awal untuk melakukan Seva (pelayanan tanpa pamrih), engkau harus memurnikan hatimu terlebih dahulu. Engkau harus mempelajari motifmu melakukan seva dan kemampuanmu, tujuanmu melakukan seva serta kualifikasi (kecakapan) yang engkau miliki, dan temukan sendiri apa yang engkau harapkan untuk dicapai melalui Seva. Engkau seharusnya menghapus setiap jejak egoisme, dan juga keinginan untuk kemasyuran. Engkau harus menyingkirkan semua perasaan “milikku” dan “kepunyaanmu” dan membakar kebanggaanmu menjadi abu yang berasal dari perasaan bahwa engkau memberikan pelayanan kepada orang miskin dan orang yang kurang beruntung. Serahkanlah kebanggaan, kekayaan, kesarjanaan dan jabatan ini, dan sebagai gantinya, praktekkanlah sifat rendah hati, ketaatan, disiplin dan kasih sayang.

-BABA

Sunday, August 30, 2009

Thought for the Day - 30th August 2009 (Sunday)


Giving up narrow ideas and feelings, people should show compassion towards their fellow-beings. Compassion is the hallmark of Bhakthi (devotion). No one can hope to please God without showing Daya (compassion) towards his fellow-men. A loving heart is the temple of God. God cannot dwell in a heart without compassion. There is nothing greater in the world than Prema-drishti (vision imbued with universal love). They alone are good who see the unity in the apparent diversity. Men have to realize that they are sparks of the Divine. They have to develop sacred thoughts and lead ideal lives. They must seek to promote the welfare of society.

Serahkan gagasan-gagasan dan perasaan yang sempit, orang-orang haruslah menunjukkan kasih kepada sesamanya. Kasih adalah tanda Bhakti (devotion). Siapapun juga tidak dapat berharap menyenangkan Tuhan tanpa menunjukkan Daya (Kasih) kepada sesamanya. Hati yang dipenuhi kasih adalah kuil Tuhan. Tuhan tidak bisa menghuni hati yang kering kasih sayang. Tiada sesuatupun di dunia ini yang lebih agung daripada Prema drishti (pandangan penuh kasih universal). Mereka dengan sifat seperti itu sudah baik; yang melihat kesatuan dalam keberagaman Manusia harus menyadari bahwa mereka adalah percikan Tuhan. Mereka harus mengembangkan pikiran suci dan menjalankan hidup yang ideal. Mereka harus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

-BABA

Thought for the Day - 29th August 2009 (Saturday)


Without unwavering faith in an all-knowing God, life becomes dry and drab, darkened by the ever-present shadow of despair and doom. Love for God and fear of sin are the two primary needs for a happy life. Without these two, man becomes a monster. Man must be ever ready to sacrifice his selfish needs for the sake of the larger community. There is nothing as glorious as renunciation. Be honest, be detached, and with God installed in your heart march forward to offer your talents and skills in discharging your duties. Do not strive for your happiness alone, but strive for the happiness of all.

Tanpa keyakinan yang teguh kepada Tuhan, hidup menjadi kering dan membosankan, digelapkan oleh bayangan keputusasaan dan malapetaka yang tidak berkesudahan. Cintai Tuhan dan takut berbuat dosa adalah dua hal utama yang diperlukan untuk hidup yang bahagia. Tanpa kedua hal ini, manusia diibaratkan menjadi monster. Manusia haruslah siap mengorbankan egonya demi kepentingan orang banyak. Tiada yang lebih mulia daripada tidak mementingkan diri sendiri. Jujurlah, lepaskan kemelekatan dan bersama Tuhan hidupkan dan gerakkan hatimu untuk mengabdikan bakat dan kemampuanmu dalam melaksanakan tugas-tugasmu. Jangan hanya berjuang untuk kebahagiaanmu sendiri tapi berjuanglah juga untuk kebahagiaan semuanya.

-BABA

Friday, August 28, 2009

Thought for the Day - 28th August 2009 (Friday)


Every object in creation has five aspects, namely, Sath, Chith, Ananda, Rupa and Nama, consciousness, bliss, form and name). The first three are eternal principles, whereas name and form are ephemeral. Sath, Chith and Ananda are the basis for name and form. People attribute various names and forms to God on the basis of their own feelings. They forget the three main principles of Sath, Chith and Ananda, and assume name and form to be the sole reality. In reality, name and form are not permanent. But people are overwhelmed by name and form, and ignore the eternal principles of Sath, Chith and Ananda. Consequently, they are deluded and tend to forget the mighty power of God behind the name and form.

Setiap objek dalam ciptaan memiliki 5 aspek yakni Sath, Cith, Ananda, Rupa, dan Nama (kehidupan, kesadaran, kebahagiaan, wujud dan nama). Tiga aspek pertama adalah prinsip yang kekal, sedangkan nama dan wujud bersifat sementara. Sath, Cith, dan Ananda adalah dasar dari nama dan wujud. Orang –orang menghubungkan berbagai nama dan wujud Tuhan berdasarkan pada perasaan mereka. Mereka lupa tiga prinsip utama dari Sath, Chith dan Ananda, dan menganggap nama dan wujud sebagai satu-satunya realitas. Pada kenyataannya, nama dan wujud tidaklah abadi. Tetapi orang-orang terlena akan nama dan wujud, dan mengabaikan prinsip kekal dari Sath, Cith, dan Ananda. Karena itulah, mereka disulap dan cenderung untuk melupakan kekuatan luar biasa Tuhan dibalik nama dan wujud.

-BABA