Monday, April 19, 2010

Thought for the Day - 19th April 2010 (Monday)


Everyone who is engaged in repetition of the Holy Name, observes vows and has self-control and discipline is dear to the Lord. These people have faith, patience, warmth towards all, and are filled with kindness and joy. They have unalloyed love towards the Lord. The true devotees of the Lord are endowed with discrimination, filled with humility and wisdom, and are always immersed in contemplation of the Lord's sport. They dwell on the Lord's name at all times and conditions, and shed tears of love when they hear the Lord's Name on any lip. These are the characteristics of genuine devotees! Such devotees are very dear to the Lord.

Setiap orang yang disibukkan dengan pengulangan Nama Suci Tuhan, mematuhi nazar dan memiliki pengendalian diri serta disiplin adalah kekasih Tuhan. Orang-orang seperti ini, mempunyai keyakinan, kesabaran, keramahan pada semua orang, serta dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan. Mereka memiliki cinta-kasih yang murni pada Tuhan. Bhakta sejati diberkati dengan kemampuan membedakan, dipenuhi dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan, serta selalu merenungkan Tuhan. Mereka merenungkan Nama Tuhan setiap saat serta dalam berbagai keadaan, dan menitikkan air mata cinta-kasih ketika mereka mendengar Nama Tuhan dari mulut siapa saja. Inilah sifat Bhakta sejati! Bhakta yang demikian sangat sayang pada Tuhan.

-BABA

Saturday, April 17, 2010

Thought for the Day - 18th April 2010 (Sunday)


Work done with no concern or desire for the profit therefrom, purely out of love or from a sense of duty, is Yoga. Such work destroys your animal nature and will transform you into a Divine Being. Serve others, visualizing them as Divine Souls. That will help your progress and will save you from sliding down the spiritual stage you've attained. Service is far more salutary than even vows and worship. Service disintegrates the selfishness latent in you and opens your heart wide. It makes your heart blossom.

Pekerjaan yang dilakukan dengan tanpa memperhatikan atau menginginkan keuntungan yang didapat dari pekerjaan tsb, yang dilaksanakan dengan kemurnian hati karena cinta-kasih atau karena kewajiban, disebut dengan Yoga. Pekerjaan yang seperti ini dapat menghancurkan sifat hewaniah yang ada dalam dirimu dan akan mengubahmu menuju sifat ketuhanan. Layanilah orang lain, serta bayangkanlah mereka sebagai Tuhan dalam wujud manusia. Hal ini akan membantu kemajuan spiritualmu dan akan menyelamatkanmu dari kejatuhan spiritual. Memberikan pelayanan pada orang lain lebih baik daripada nazar ataupun pemujaan. Dengan melakukan pelayanan pada orang lain, dapat menghancurkan sifat mementingkan diri sendiri yang ada dalam dirimu dan membuka hatimu lebar-lebar sehingga membuat hatimu menjadi mekar.

-BABA

Thought for the Day - 17th April 2010


Those devoid of Pure Love are sub-humans. The holy quality of Love is that it is ever present; not something which manifests off and on. Love is one and indivisible. Those saturated with Love are incapable of spite, selfishness, injustice, wrong and misconduct. Those who trample on Love and consider inferior qualities as important should destroy their evil qualities. Bad conduct and habits distort your humanness. Hearts filled with the nectar of Love indicate genuineness. You must possess Love that is unsullied, unselfish, devoid of impurity and that which is demonstrated continuously.

Mereka yang tidak memiliki cinta-kasih yang murni adalah sub-manusia. Sifat dari cinta-kasih adalah bahwa cinta-kasih itu selalu ada, cinta-kasih bukanlah sesuatu yang ditunjukkan kadang-kadang. Cinta-kasih adalah satu dan tak terpisahkan. Mereka yang dipenuhi dengan cinta-kasih tidak memiliki sifat mementingkan diri sendiri, tidak memiliki sifat yang tidak adil, tidak melakukan kesalahan serta tidak akan berkelakuan yang buruk. Mereka yang mengabaikan cinta-kasih dan menganggapnya remeh harus menghancurkan sifat buruk yang ada dalam diri mereka. Kebiasaan dan kelakuan yang buruk dapat merusak sifat kemanusiaan yang kita miliki. Hati yang dipenuhi dengan nectar cinta-kasih menunjukkan ketulusan. Engkau harus memiliki cinta-kasih yang tak ternoda, tidak mementingkan diri sendiri, penuh dengan kemurnian dan ditunjukkan secara terus menerus.


-BABA

Friday, April 16, 2010

Thought for the Day - 16th April 2010 (Friday)


The real tapas or asceticism in life is to observe disciplines and restrictions as prescribed. The mind is the foremost of the three inner instruments in human beings. We must protect the mind so that attachment, passion and excitement do not enter. These extremes are natural to the mind. The waves that rise in fury in the mind are lust, anger, greed, attachment, pride and envy; these six are your inner foes. Lust and anger bring on the remaining four. To release ourselves from these inner foes and to proceed in our spiritual path, we must observe spiritual practices.

Pertapa sejati adalah mereka yang dalam hidupnya mematuhi aturan-aturan (disiplin) dan melakukan pembatasan keinginan seperti yang telah ditentukan. Pikiran adalah yang terpenting dari ketiga instrumen batin pada manusia. Kita harus melindungi pikiran agar kemelekatan, nafsu, serta kegembiraan yang berlebihan tidak masuk ke dalamnya. Ini adalah sifat yang alami dari pikiran. Gelombang dahsyat dalam pikiran adalah nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati; ini adalah enam musuh dalam diri kita. Nafsu dan amarah merupakan penyebab dari timbulnya keempat hal yang lainnya. Untuk melepaskan diri kita dari musuh-musuh yang ada dalam diri kita dan untuk menuju ke jalan spiritual, kita harus mempelajari praktek spiritual.

-BABA

Wednesday, April 14, 2010

Thought for the Day - 15th April 2010 (Thursday)


A 'manava' (human being) is soft, sweet and immortal, whereas 'danavas' (Demonic-natured persons) are merciless, lawless and have no sweetness in them. They may look like good people; however bereft of kindness and righteousness, how can they be called as human beings? Good human beings are those, who engage themselves in soft and sweet deeds of kindness, righteousness, and tread the path of love and truth. Their good nature is resplendent and reflects on their faces which beam with joy at all times.


‘Manava (manusia) memiliki sifat yang lembut, menarik, dan abadi, sedangkan ‘danava’ (orang yang memiliki sifat jahat) memiliki sifat yang tidak mengenal belas kasihan (kejam), tidak patuh pada hukum, dan tidak memiliki kelembutan sama sekali. Mereka mungkin terlihat seperti orang baik; namun mereka kehilangan kebaikan dan kebajikan, bagaimana mereka bisa disebut sebagai manusia? Manusia yang baik adalah mereka yang melibatkan diri mereka dalam perbuatan-perbuatan yang lembut dan manis dari kebaikan dan kebajikan, dan menapaki jalan cinta-kasih dan kebenaran. Sifat baik mereka bercahaya dan mencerminkan wajah mereka yang bercahaya dengan sukacita sepanjang waktu.

-BABA

Tuesday, April 13, 2010

Thought for the Day - 14th April 2010 (Wednesday)


The mind of man is apt to doze off after some spurt of spiritual activity. This is the reason festival days have been marked out on the calendar - to awaken the mind of man from sloth or complaisance. They are like alarm bells, which go off at intervals during the year, warning men of the journey ahead and the goal beyond the horizon. 'Be warned, be warned', say the sages, 'Awake, arise, stop not till the goal is attained.'


Pikiran manusia cenderung tertidur setelah melakukan aktivitas spiritual. Ini adalah alasan hari perayaan tertentu ditandai pada kalender – untuk membangkitkan pikiran manusia dari kemalasan atau kelambanan. Mereka seperti bel alarm, yang berbunyi dengan selang waktu sepanjang tahun, memperingatkan orang-orang dalam perjalanan selanjutnya dan sasaran di balik cakrawala. Orang bijak mengatakan, ‘berhati-hatilah’, ‘bangkitlah, bangunlah, jangan berhenti sampai tujuan tercapai.

-BABA

Thought for the Day - 13th April 2010 (Tuesday)


The advice given by Vedic teachers to young departing children, after their schooling are exalted are, "'Revere your mother as God', 'May your father be God' and 'May your Teacher be your God'; 'Speak the Truth and Act Righteously, Do not adopt other ways'." Engage yourselves in such activities, that will promote your progress. By devoted service to parents, and consistent adherence to Truth, several great souls, including Rama and Harishchandra have made themselves immortal. By means of right conduct, common people exalted themselves to the position of World Teachers. Hence, every bit of this advice, given to pupils, is highly powerful and relevant.

Nasehat yang telah diberikan oleh Guru Veda kepada anak-anak yang baru beranjak dewasa setelah mereka menyelesaikan pendidikannya adalah,”Hormatilah ibumu seperti Tuhan”, ‘Anggaplah ayahmu sebagai Tuhan’ dan Anggaplah gurumu sebagai Tuhan’; berkata-katalah yang benar dan bertindaklah dengan benar, jangan gunakan cara yang lain’.” Libatkanlah dirimu dalam kegiatan tersebut, yang akan mendorong kemajuan spiritualmu. Dengan pelayanan yang tulus kepada orang tua, serta patuh pada kebenaran, beberapa jiwa besar seperti Rama dan Harischandra telah mencapai keabadian. Dengan melakukan kebajikan, masyarakat umum memuliakan diri mereka pada posisi Guru Dunia (Tuhan). Oleh karena itu, setiap nasehat ini, yang diberikan kepada setiap siswa, adalah sangat berpengaruh dan relevan.

-BABA