Monday, February 14, 2011

Thought for the Day - 14th February 2011 (Monday)

Everyone believes that there is undoubtedly One Transcendent Eternal Power, and that all this has originated from It, and that all this has to merge in It again. This belief is the hallmark of a true devotee. The question regarding the nature and characteristics of God that we believe in is irrelevant; it is not so important. Let us not dispute about the various points of view that divide people. It is enough for us if God is accepted and emphasized. This is the reason why God confers His grace on all those who preach any Name and any Form that can attract and inspire man, as sacred and valid. May this faith grow more. For, it brings more spiritual progress the more it is acted upon. Only, the aspiration must be related to God.

Semua orang percaya, pasti ada Satu Kekuatan yang Abadi, dan bahwa semua ini berasal dari Beliau, dan bahwa semuanya akan menyatu kembali dengan Beliau. Kepercayaan ini adalah ciri khas dari bhakta sejati. Pertanyaan mengenai sifat dan karakteristik Tuhan yang kita percaya adalah tidak relevan; itu tidaklah begitu penting. Marilah kita jangan memperdebatkan tentang berbagai pandangan yang memisahkan kita. Cukup bagi kita jika Tuhan diterima dan ditempatkan dengan baik. Inilah alasannya mengapa Tuhan menganugerahkan berkat-Nya pada mereka semua yang mengajarkan Nama dan Wujud apapun yang dapat menarik dan menginspirasi manusia, sebagai yang suci dan valid. Semoga keyakinan seperti ini berkembang lebih banyak lagi. Karena hal itu membawa kemajuan spiritual dan bertindak sesuai dengan hal tersebut. Hanya saja aspirasi harus dikaitkan dengan Tuhan.

-BABA

Thought for the Day - 13th February 2011 (Sunday)

Whatever the task one is engaged in, doing it with concentration will develop both self-confidence and self respect, for they are the result of the attitude of one’s mind. The mind may lean on either the bad or the good, and concentrated attention must be employed to keep the mind attached only to good promptings. Success or failure in the good task depends upon one-pointedness. One-pointedness will increase power and skill. But it cannot be won without conquering the worldly cravings that distract the mind. This one-pointedness, this conquest of the mind, is acquired through the exercise of meditation.

Apapun tugas yang dibebankan, lakukanlah dengan konsentrasi sehingga akan menimbulkan rasa percaya diri dan harga diri, karena hal itu merupakan hasil dari sikap pikiran seseorang. Pikiran dapat bersandar pada yang baik atau yang buruk, dan perhatian terkonsentrasi harus digunakan untuk menjaga pikiran melekat hanya untuk hal-hal yang baik. Keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan suatu tugas tergantung pada konsentrasi pikiran pada satu titik (tujuan). Konsentrasi pikiran pada satu titik ini akan meningkatkan kemampuan dan keterampilan. Tetapi itu tidak bisa dimenangkan tanpa menaklukkan hasrat duniawi yang mengganggu pikiran. Konsentrasi pikiran pada satu titik ini, yang bisa menaklukan pikiran, diperoleh melalui meditasi.

-BABA

Saturday, February 12, 2011

Thought for the Day - 12th February 2011 (Saturday)

When we shelter factionalism and fanaticism in our hearts in relation to our own specific faith or the faith of others, we are bringing disgrace on ourselves. You should not insist that everyone has to be bound to one attitude, or that everyone must abide by one interpretation or commentary only to the exclusion of other possible explanations or points of view, or that the way of life with all its implications has to be the one approved by some one individual or group. The Bharathiya (Indian) culture lays down that it is a heinous sin to exercise force upon anyone, especially in matters of the Spirit.

Ketika kita bersembunyi pada faksionalisme dan fanatisme di dalam hati kita dalam kaitannya dengan keyakinan kita sendiri yang spesifik atau keyakinan orang lain, kita menodai diri kita sendiri. Engkau tidak perlu menuntut bahwa setiap orang harus terikat pada satu sikap, atau bahwa setiap orang harus mematuhi satu interpretasi atau suatu penjelasan hanya dengan mengesampingkan penjelasan lain atau sudut pandang, atau bahwa cara hidup dengan segala implikasinya harus satu yang disetujui oleh beberapa individu atau kelompok. Budaya Bharathiya (India) menetapkan bahwa itu adalah dosa besar untuk memaksakan melakukan hal itu pada siapa saja, terutama dalam hal Spirit.

-BABA

Friday, February 11, 2011

Thought for the Day - 11th February 2011 (Friday)

Date: Friday, February 11, 2011

THOUGHT FOR THE DAY

Every minute, from inside and outside, promptings and temptations arise and accumulate in people. One cannot attend to all of them at the same time, so one fixes attention on only the most important one. This is called concentration (Avadhana). Concentration is needed to grasp any subject well. Purposefully directing one’s attention to a subject and fixing it there is called one-pointedness (Ekagratha). This is also a condition of the mind. Concentration and one-pointedness help to focus our effort on any selected task. Concentration is essential for all. It is the foundation of all successful endeavours.

Setiap menit, dari dalam dan dari luar, dorongan dan keinginan untuk melakukan sesuatu muncul dan selalu bertambah. Seseorang tidak bisa menghadiri semua hal pada saat yang sama, jadi seseorang memusatkan perhatiannya hanya pada yang paling penting. Inilah yang disebut konsentrasi (Avadhana). Konsentrasi diperlukan untuk memahami subjek dengan baik. Mengarahkan perhatian seseorang pada suatu subjek dan memusatkan perhatian pada hal tersebut disebut satu-kemanunggalan (Ekagratha). Ini juga merupakan kondisi pikiran. Konsentrasi dan satu-kemanunggalan membantu memfokuskan usaha kita pada setiap tugas yang dipilih. Konsentrasi sangat penting untuk semuanya. Inilah dasar dari semua keberhasilan.

-BABA

Thursday, February 10, 2011

Thought for the Day - 10th February 2011 (Thursday)

Diversities in attitudes and practices are natural and ought to be welcomed. There is no need for an ironclad hard faith. Rivalry among those following different paths cannot bring peace and prosperity to any country. Without the freedom to adopt faith, the world cannot progress. Bharath (India) taught that a small group can never command the inexhaustible resources of the world and that for the effective functioning of the community it is necessary to divide the work of the community among sections of the people, and allot the task of contributing its share of the common good to each section of the community. The key that the ancient sages visualized is the ONE that underlies the many. This is the most precious revelation: “Ekam sath, vipraah bahudha vadanthi” (The One alone exists; wise men describe that in manifold ways).

Keanekaragaman dalam sikap dan praktek adalah alami dan seharusnya diterima dengan senang hati. Tidak perlu untuk mengubah keyakinan yang kuat. Persaingan di jalan yang berbeda tidak dapat membawa perdamaian dan kemakmuran bagi negara manapun. Tanpa kebebasan untuk melaksanakan keyakinan, dunia tidak bisa maju. Bharata (India) beranggapan bahwa sebuah kelompok kecil tidak akan pernah mampu memiliki sumber daya dunia yang tidak terbatas dan untuk mengefektifkan fungsi masyarakat maka dianggap perlu untuk membedakan masyarakat berdasarkan pekerjaannya dan memberikan sumbangsih dari apa yang ia kerjakan demi kebaikan bersama untuk tiap-tiap bagian dalam masyarakat tersebut. Kuncinya divisualisasikan oleh para bijaksana zaman dahulu yaitu TUHAN-lah yang mendasari semuanya. Inilah wahyu yang paling berharga: "Ekam Sath, vipraah bahudha vadanthi" (Hanya ada satu Tuhan; namun orang bijaksana menggambarkannya dengan banyak Nama).

-BABA

Wednesday, February 9, 2011

Thought for the Day - 9th February 2011 (Wednesday)

The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; tributaries join at various stages, and the waters become turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs might happen at any moment during one’s life. No one can escape them. They may come at the beginning of life, at the end, or perhaps in the middle. So, one has to convince oneself firmly that life is necessarily full of ups and downs and that, far from being afraid and worried over them, one should welcome them as adding to one’s experience. One should not only feel like this, but one should be happy and glad whatever happens! Then all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quickly. For this, the temper of the mind is essential.

Anak sungai bergabung dengan berbagai tahap; air sungai berasal dari pegunungan, menuju ke lembah, dan berlalu menuju ngarai, dan air menjadi keruh dan kotor. Demikian juga, dalam kehidupan manusia, kecepatan dan kemampuan mengalami naik dan turun. Pasang surut ini bisa terjadi selama hidup seseorang. Tidak ada yang bisa meloloskan diri dari hal tersebut. Ia mungkin datang pada awal kehidupan, di akhir, atau mungkin di tengah. Jadi, kita harus meyakinkan diri sendiri bahwa hidup ini selalu penuh dengan pasang surut dan jauhkanlah diri dari ketakutan dan rasa khawatir darinya, kita harus menyambutnya untuk menambah pengalaman hidup kita. Seseorang tidak hanya harus merasa seperti ini, tetapi juga merasa bahagia dan senang, apapun yang terjadi! Maka semua masalah apapun, akan berlalu dengan ringan dan cepat. Untuk hal ini, emosi dari pikiran sangatlah penting.

-BABA

Tuesday, February 8, 2011

Thought for the Day - 8th February 2011 (Tuesday)

To help you to give up fear and doubt, keep the Name of the Lord always on your tongue and in your mind. Dwell on the endless forms of the Lord, His limitless glory, while you repeat the Name. Attach yourself to Him; then your attachment for these temporary objects will fall off or at least you will start seeing them in their proper proportion as having only relative reality. When the tiny little ego assumes enormous importance, it causes many problems! That is the root of all the travails and miseries.

Untuk membantumu meninggalkan ketakutan dan keragu-raguan, simpanlah selalu nama Tuhan di lidahmu dan dalam pikiranmu. Saat engkau mengulang-ulang nama Tuhan, renungkanlah wujud Tuhan dan kemuliaan-Nya yang tak terbatas. Ikatlah dirimu pada-Nya, selanjutnya keterikatanmu pada objek-objek duniawi yang bersifat sementara ini akan berkurang atau setidaknya engkau akan mulai melihatnya dalam proporsi yang tepat hanya sebagai realitas relatif. Ketika ego yang sangat kecil mengasumsikan arti yang penting, inilah yang menimbulkan banyak masalah. Itulah akar dari semua penderitaan dan kesengsaraan.

-BABA