Monday, June 25, 2012

Thought for the Day - 25th June 2012 (Monday)


The tongue may utter the Name of the Lord, the ear may be open when the glory of God is recited and the hand may shower flowers on the image of God - all this is of no avail, if carried out mechanically, bereft of yearning within. Reading scriptures or performing worship without relishing the sweetness is equivalent to being like the spoon which dips into sour and sweet with equal alacrity and insensitivity. The spoon does not refuse or relish any taste. True joy can be felt only when the heart of the devotee is aware of the Supreme; when the mind is thrilled with the recollections of the glory of God or the study of the scriptures.

Lidah kita bisa saja terus-menerus mengucapkan nama Tuhan, telinga mendengarkan kemuliaan-Nya dan tangan menaburkan bunga di hadapan gambar Tuhan, tetapi semuanya ini tidak akan ada faedahnya, jika dilakukan secara mekanis. Membaca kitab suci ataupun melakukan ibadah tanpa menikmati kemuliaannya dapat diibaratkan seperti sendok yang digunakan untuk mencicipi masakan yang manis dan asam tetapi sendok itu sendiri tidak sensitif dan tidak mengetahui rasa makanan tersebut. Kebahagiaan sejati hanya dapat dirasakan ketika hati para bhakta menyadari Yang Agung (Tuhan), ketika pikiran bergetar akan kemuliaan Tuhan ataupun ketika mempelajari kitab-kitab suci.
-BABA

Sunday, June 24, 2012

Thought for the Day - 24th June 2012 (Sunday)


You must use your intelligence to discover what is best under the circumstances and in the situation, considering the status and the profession which you have won. The barber should not treat all things equal and use his razor to peel vegetables, cut pencils and paper, bamboos and beards alike. Each instrument has its own special use and purpose; every individual has some skills and responsibilities. The king should be treated as a king and the farmer as a farmer. But make sure your activities leave no scar on your faith in Unity. Though in principle all is Brahmam, in dealing with them in day-to-day activity, you cannot follow the non-dual approach. There should be Bhaava-adhwaitha, not Karma-adhwaitha, that is to say, the underlying faith should be in the Unity of all, though the outer activity may be different for varied entities.

Engkau harus menggunakan kecerdasanmu untuk menemukan apa yang terbaik dalam segala situasi, dengan mempertimbangkan status dan profesi yang telah engkau dapatkan. Tukang cukur tidak akan memotong sayuran, atapun meraut pensil dan memotong kertas, ataupun memotong bambu dan jenggot dengan pisau cukur yang sama. Setiap instrumen memiliki kegunaan dan fungsi yang khusus; demikian pula setiap individu memiliki keterampilan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Raja harus diperlakukan sebagai seorang raja, demikian pula, petani diperlakukan sebagai seorang petani. Tetapi engkau hendaknya memastikan agar aktivitasmu tidak meninggalkan bekas luka pada keyakinanmu dalam Kesatuan. Meskipun pada prinsipnya semua adalah Brahmam, dalam berhadapan dengan mereka dari hari ke hari, engkau tidak dapat mengikuti pendekatan non-dualisme. Harus ada Bhaava-adhwaitha, bukan Karma-adhwaitha, yang mendasari keyakinan harus dalam Kesatuan untuk semuanya, meskipun aktivitasnya mungkin berbeda karena entitas yang bervariasi.
-BABA

Thought for the Day - 23rd June 2012 (Saturday)


Learn to acquire bliss and peace in your life by studying the scriptures, or from sages who have won them. Stick to the path assiduously, even if you received sharp criticism or callous condemnation. Never let cynical laughter or comments bother you; they can never harm a spiritual aspirant. Can a storm shake the Himalayan range? Let not your faith in the goal or the path, quake before trouble or trial, toil or travail, distress or despair. These are but passing clouds, casting temporary shadows, hiding for a little while, the glory of the sun or the moon. Do not get distracted by doubt or despondency. Build the mansion of your life on four firm pillars – virtue, wealth, desire and liberation (Dharma, Artha, Kama, Moksha) as laid down by the ancient sages, each pillar bound strong and safe with every other. Never allow these pillars to slant or tumble as some individuals, communities or nations are doing now.

Belajarlah untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupmu dengan mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajarinya dari para orang bijak yang telah mendapatkan pengetahuan dari kitab-kitab suci. Engkau hendaknya mempelajarinya dengan penuh perhatian, walaupun engkau menerima kritik tajam ataupun kecaman. Jangan biarkan tawa sinis atau komentar-komentar buruk mengganggumu, karena hal tersebut dapat membahayakan perjalanan spiritualmu. Dapatkah angin badai mengguncang Himalaya? Jangan biarkan keyakinanmu pada tujuan atau jalan spiritual, digoyahkan ketika berhadapan dengan godaan, kesulitan, penderitaan ataupun keputusasaan. Ini dapat diibaratkan seperti awan yang berlalu, hanya memberikan bayangan sementara, bersembunyi untuk sementara waktu, dari cahaya matahari ataupun bulan. Jangan terganggu oleh keragu-raguan atau kesedihan. Bangunlah rumah kehidupanmu dengan empat pilar yang kokoh yaitu kebajikan, kekayaan, keinginan, dan pembebasan (Dharma, Artha, Kama, Moksha) sebagaimana ditetapkan oleh para orang bijak zaman dahulu. Engkau hendaknya memastikan  setiap pilar terikat kuat dan aman satu dengan yang lainnya. Jangan pernah membiarkan pilar ini miring atau jatuh karena beberapa individu, masyarakat, atau bangsa, seperti saat ini.

-BABA

Friday, June 22, 2012

Thought for the Day - 22nd June 2012 (Friday)


It is want of faith that causes one to lose temper and fly into fits of anger; it is lack of faith in oneself and in others. If you really see yourself as the undefeatable Self (Atma) and others as reflections of yourself, as scriptures declare them to be, there can be no provocation to get angry. What you must resolve today, is to manifest your inherent Divinity more and more. Whatever else you may or may not do, do at least this: know the Lord that resides in you. Recognise Him, let Him manifest Himself in and through you. Fundamentally the fault lies in not understanding that this body and all things connected with it are impermanent.

Karena kurang memiliki keyakinan, yang menyebabkan seseorang kehilangan kendali lalu naik darah menuju pada kemarahan, hal ini karena kurang memiliki kepercayaan pada diri sendiri juga pada orang lain. Seperti yang disebutkan dalam kitab suci, jika engkau benar-benar melihat dirimu sebagai Atma dan yang lainnya sebagai refleksi/cerminan dari dirimu sendiri, maka tidak ada yang bisa memancing kemarahan. Apa yang harus engkau lakukan saat ini adalah untuk mewujudkan Divinity yang ada dalam dirimu. Apa pun yang mungkin tidak engkau lakukan, setidaknya lakukanlah hal ini: menyadari Tuhan yang bersemayam dalam dirimu. Engkau hendaknya menyadari kehadiran-Nya dan membiarkan beliau memanifestasikan diri-Nya melalui dirimu. Kesalahan dasar yang belum dipahami adalah karena engkau belum memahami bahwa badan jasmani ini dan segala sesuatu yang berhubungan dengan fisik (badan jasmani) bersifat sementara dan tidak kekal..
-BABA

Thursday, June 21, 2012

Thought for the Day - 21st June 2012 (Thursday)


In the Geetha, Krishna said to Arjuna, "You are able to use the weapons of offence and defence in the battle and win because you were taught the art of handling them over many years from childhood, is it not? Could you have used them with confidence, without preparation, on the spur of the moment? Similarly, whatever else one may not meet during life, one is certain to meet with death. So all must be trained to have at that time, the attitude and thought that are most beneficial to them. Will it not be wise, therefore, to strive for the end, in your own best interest? Hence, take earnest steps to secure the thought of God, from early on. Whoever in the last moment of life, thinks of Me, attains Me.” Through the discipline of constant practice, avoid other thoughts and concentrate on the Lord alone. This is a certain way to reach God.

Dalam Geetha, Krishna berkata kepada Arjuna, "Bukankah engkau mampu menggunakan senjata dalam pertempuran dan mampu mengalahkan mereka karena engkau telah diajarkan seni berperang selama bertahun-tahun sejak kecil? Bukankah engkau bisa menggunakannya dengan percaya diri, bahkan tanpa persiapan, dan mendadak? Demikian pula, apa pun yang mungkin tidak ditemui dalam kehidupan ini, kita pasti bertemu dengan kematian. Jadi semuanya harus dilatih untuk siap menghadapi waktu itu (kematian), sikap dan pemikiran yang paling bermanfaat bagi mereka. Bagaimanakah cara terbaik untuk menghadapi saat-saat terakhir tersebut? Oleh karena itu, sejak dini, engkau hendaknya mengambil langkah dengan sungguh-sungguh untuk menjamin agar pikiranmu senantiasa pada Tuhan. Siapa pun di saat-saat terakhir hidupnya, pikirkanlah Aku, Capai-lah Aku "Melalui praktek disiplin yang terus menerus, engkau hendaknya menghindari pikiran-pikiran lain dan hanya berkonsentrasi pada Tuhan saja. Ini adalah cara khusus untuk mencapai Tuhan.
-BABA