Friday, September 4, 2015

Thought for the Day - 4th September 2015 (Friday)

Teachers should regard their vocation as a sacred duty. They have the responsibility to mould the future generations of young students by what they teach, referencing practical examples from the lives of illustrious leaders. Teachers should inspire, and be an example by the way they live outside the classroom. Educational institutions have the responsibility to give to society well educated persons who are competent, who possess integrity and who can be relied upon to serve society with devotion and competence. What gives education its true value and significance is its moral and spiritual content. If teachers dedicate themselves to this noble cause, students will not go astray. I hope teachers will devote themselves to their duties with greater vigour and enthusiasm, and bring about a transformation in the students so that they become useful and worthy citizens.


Para guru harus menghargai pekerjaan mereka sebagai kewajiban yang suci. Mereka memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi masa depan dari anak-anak muda dengan apa yang mereka ajarkan, dengan memberikan inspirasi dari contoh nyata kehidupan para pemimpin terkenal. Para guru harus menjadi inspirasi dan menjadi teladan dengan cara hidup mereka di luar kelas. Institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memberikan masyarakat orang-orang yang berpendidikan baik yang memiliki kompetensi, yang memiliki integritas dan yang dapat diandalkan untuk melayani masyarakat dengan rasa bhakti dan kompetensi yang mereka miliki. Apa yang diberikan oleh pendidikan adalah nilai dan maknanya yaitu nilai moral dan spiritual. Jika para guru mengabdikan diri mereka pada bagian ini maka para pelajar tidak akan tersesat. Aku berharap para guru akan mengabdikan diri mereka pada kewajiban mereka dengan tenaga dan semangat yang lebih besar dan membawa perubahan dalam diri anak-anak sehingga mereka menjadi warga Negara yang berguna. ( Divine Discourse, 15-Dec-1985)

-BABA

Thursday, September 3, 2015

Thought for the Day - 3rd September 2015 (Thursday)

True friends are those who help in uplifting your life by cleansing your ideals and emotions. Those who drag you into pomp, pedantry, paltry entertainment and petty pranks are enemies, not friends. True friends cannot be won by social status, external scintillation or verbal assertions. A friendship knit by monetary bonds is disrupted as soon as you ask the loan to be repaid. So, when you oblige your friend with a loan, the friendship too is broken at that very moment. How can friendship be cemented by words or by coins? The feeling of friendship must activate every nerve, permeate every blood-cell, and purify every emotional wave; it has no place for the slightest trace of egotism. The companionship which seeks to exploit or fleece for personal benefit cannot be elevated into the noble quality of friendship. Perhaps, the only friend who can pass this rigorous test, is God.


Teman yang sejati adalah mereka yang menolong untuk mengangkat hidupmu dengan membersihkan ide dan emosimu.  Sedangkan bagi mereka yang menyeretmu ke dalam kemegahan, menyombongkan diri, kegiatan yang sepele dan lelucon yang picik adalah musuh dan bukan temanmu. Teman yang sejati tidak bisa diperoleh dengan status sosial, kilaun luar atau pernyataan verbal. Sebuah persahabatan dirajut dengan ikatan keuangan akan mengalami gangguan ketika engkau meminta agar pinjamannya dikembalikan. Jadi, ketika membantu temanmu dengan pinjaman maka persahabatan itu juga akan hancur pada saat itu juga. Bagaimana mungkin persahabatan dapat dikuatkan dengan kata-kata dan uang? Perasaan yang ada dalam persahabatan harus aktif di dalam setiap syaraf, meresap di dalam setiap pembuluh darah dan menyucikan setiap gelombang emosi sehingga tidak ada jejak untuk ego. Persahabatan yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri tidak bisa terangkat pada nilai-nilai luhur persahabatan. Mungkin, satu-satunya teman yang dapat melewati ujian yang keras ini adalah Tuhan.  (Divine Discourse, 24-May-1973)

-BABA

Wednesday, September 2, 2015

Thought for the Day - 2nd September 2015 (Wednesday)

Virtues must be cultivated in each home; each member sharing in the joy with the rest, each one seeking for opportunities for helping others. This attitude must be stuck to, so that it may stay as character. How can a vessel kept with a closed lid be filled with water? It must be open to receive good impulses! In all your efforts, trust in a Higher Power which is ever ready to help you. Then your work is made easy. This comes out of devotion, and reliance on the Lord who is the source of all Power. When you travel by train, you only have to purchase the ticket, board the proper train and take a seat, you can leave the rest to the engine. Do you carry your luggage on your head? So too, trust in the Lord and march to the best of your ability. Have faith and earn the Lord’s grace by using the intelligence and the conscience He has endowed you with.


Kebajikan harus ditingkatkan di setiap rumah; setiap anggota berbagi suka cita dengan yang lainnya, setiap orang mencari kesempatan untuk dapat menolong yang lainnya. Sikap ini harus melekat sehingga sifat ini akan berubah menjadi karakter. Bagaimana bisa sebuah bejana yang masih tertutup bisa diisi dengan air? Bejana itu harus dibuka untuk bisa menerima getaran-getaran baik. Dalam semua usahamu, percayakan pada Kekuatan yang Lebih Tinggi yang selalu siap menolongmu. Kemudian pekerjaan akan menjadi mudah. Hal ini muncul dari sifat bhakti, dan kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber dari semua kekuatan. Ketika engkau bepergian dengan naik kereta api, engkau hanya perlu membeli tiket saja, naik pada kereta api yang sesuai dan silahkan duduk dan engkau dapat menyerahkan semuanya pada laju kereta api. Apakah engkau masih membawa kopermu di atas kepalamu? Begitu juga, percayalah kepada Tuhan dan melangkahlah dengan kemampuan terbaikmu. Milikilah keyakinan dan raihlah rahmat Tuhan dengan menggunakan kecerdasan dan suara hati yang Beliau telah berikan kepadamu. (Divine Discourse, 21-Sep-1960)

-BABA

Tuesday, September 1, 2015

Thought for the Day - 1st September 2015 (Tuesday)

Your heart should be like glass, with the spiritual light inside illuminating the world outside. The inner urges on interacting with the world outside should make one lean towards service, empathy and mutual help. Presently, people read and study all kinds of unintelligible Vedantic texts and struggle with commentaries and translations to grasp their sense. Knowledge is being poured down their throats; but the potion does not get down to soften their heart. The spiritual truths should not be put on for mere public exhibition, as in a drama, where appropriate dresses are worn on the stage but taken off when the actor moves off the stage. They must be adhered to all the time to derive the Atma ananda (Bliss of the Soul) which they genuinely confer. Bliss is easily attained by careful, well-timed and regulated discipline; it cannot be got by spurts and skips. You must take the effort to learn each lesson of virtue through systematic study and diligent application to attain success.
Hatimu harus seperti gelas yang mana cahaya spiritual yang ada di dalam menerangi dunia di luar. Dorongan dari dalam diri untuk berinteraksi dengan dunia luar harus membuat seseorang cenderung melakukan pelayanan, bersifat empati, dan saling menolong. Pada saat sekarang, orang-orang membaca dan belajar semua jenis teks naskah suci yang tidak dipahami dan berusaha dengan penjelasan dan terjemahan untuk mendapatkan pengertian. Pengetahuan sedang dituangkan ke dalam kerongkongan mereka; namun minumannya tidak sampai turun untuk melembutkan hati mereka. Kebenaran spiritual seharusnya tidak ditaruh hanya untuk pamer kepada khalayak umum seperti halnya pentas drama dimana sang pemain harus memakai pakaian ketika di atas pentas dan menanggalkan pakaiannya ketika meninggalkan pentas. Kebenaran spiritual harus ditaati sepanjang waktu yang sebenarnya dapat menganugerahkan kebahagiaan jiwa (Atma ananda). Kebahagiaan dengan mudah bisa diperoleh dengan ketelitian, ketepatan waktu, dan disiplin yang teratur; kebahagiaan tidak bisa diperoleh dengan tergesa-gesa. Engkau harus mengambil sebuah usaha untuk belajar setiap hikmah dari kebajikan melalui belajar yang bersifat sistematis dan dengan rajin menerapkannya untuk bisa meraih keberhasilan. (Divine Discourse, 21-Sep-1960)

-BABA

Monday, August 31, 2015

Thought for the Day - 31st August 2015 (Monday)

Practical dharma, or rules of the world? Bhagawan emphatically explains to us today. Practical dharma, or rules of good behaviour (achara-dharma), relates to temporary matters concerning our problems and physical needs, to our passing relationships with the objective world. The very instrument of those rules, the human body, is not permanent, so how can then these rules be eternal? How can their nature be true? The Eternal cannot be expressed by the evanescent; light cannot be revealed from darkness. The Eternal emerges only from the Eternal; truth emanates only from truth. Therefore, follow the objective codes of dharma relating to worldly activities and daily life, with the full knowledge and consciousness of the inner basic Atma-dharma. Then only can the internal and external urges cooperate and yield the bliss of harmonious progress. If in your daily avocations, you translate the real values of eternal dharma into love-filled acts, then your duty to the inner reality, the Atma-dharma, is also fulfilled. Always build your living on the Atmic base; then, your spiritual progress is assured.


Mempraktikkan dharma, atau aturan dunia? Bhagawan dengan tegas menjelaskan kepada kita mengenai hal ini. Mempraktikkan dharma, atau aturan perilaku yang baik (achara-dharma), berkaitan dengan hal-hal yang bersifat sementara mengenai masalah dan kebutuhan fisik, untuk melewati hubungan dengan dunia objektif. Instrumen aturan-aturan ini, badan manusia, tidaklah permanen, jadi bagaimana kemudian aturan ini menjadi abadi? Bagaimana sifat mereka menjadi benar? Abadi tidak bisa diungkapkan dengan hal-hal yang bersifat sementara; cahaya tidak dapat dimunculkan dari kegelapan. Abadi hanya muncul dari Abadi; kebenaran hanya berasal dari kebenaran. Oleh karena itu, ikutilah kode dharma yang berkaitan dengan kegiatan duniawi dan kehidupan sehari-hari, dengan pengetahuan penuh dan kesadaran batin berdasar pada Atma-dharma. Maka setelah itu dorongan internal dan eksternal bekerja sama dan menghasilkan kebahagiaan yang harmonis. Jika dalam menjalankan kehidupan harianmu, engkau menerjemahkan nilai-nilai sejati dari dharma yang abadi dalam tindakan  yang penuh cinta-kasih, maka kewajibanmu untuk realitas batin, Atma-dharma, juga terpenuhi. Engkau hendaknya selalu membangun hidupmu berdasarkan Atmic; maka, kemajuan spiritualmu terjamin. (Dharma Vahini, Ch 2)

-BABA

Sunday, August 30, 2015

Thought for the Day - 30th August 2015 (Sunday)

When you do not discriminate the process and purpose of every act, and go ahead doing them with no understanding, you reduce them to a funny fossilized routine. Once even Prahlada observed, “Since it is difficult to destroy egotism, people take the easier option to offer dumb animals at the altar. Animal sacrifice is the manifestation of the quality of inertia (tamo guna); it is the path of bondage. Sacrifice of the animal of egotism is the purest sacrifice (satwic yajna) on the Godward path of liberation.” Thus the highest goal (paramaartha) of the past is turned into the fool’s goal (paaramaartha) of these days! Similarly every one of the ancient practices, which were once full of meaning has grown wild beyond recognition. It is now impossible to pluck the tree by the roots and plant a new one. So the existing tree must be trimmed and trained to grow straight. Always remember the highest goal and never dilute it into the lowest.


Ketika engkau tidak menimbang-nimbang proses dan tujuan dari setiap tindakan, dan langsung melakukannya tanpa adanya pemahaman maka engkau menurunkan tindakan tersebut menjadi rutinitas kuno yang lucu. Sekali bahkan Prahlada mengamati, “Karena sulit untuk menghancurkan egoisme, orang-orang mengambil pilihan yang gampang dengan mengorbankan binatang yang dungu di atas altar. Pengorbanan binatang adalah perwujudan dari kualitas kemalasan (tamo guna); ini adalah jalan dari perbudakan. Mempersembahkan ego kebinatangan adalah pengorbanan yang paling suci (satwik yajna) pada jalan Tuhan menuju kebebasan.” Jadi tujuan yang tertinggi (paramaartha) pada zaman dahulu dirubah menjadi tujuan bodoh (paaramaartha) pada saat sekarang! Sama halnya setiap kegiatan di masa lalu yang memiliki makna yang mendalam telah berkembang menjadi tidak teratur tanpa kesadaran. Sekarang adalah tidak mungkin mencabut pohon ke akarnya dan menanam pohon baru. Jadi, pohon yang ada harus dipangkas dan diatur agar tumbuh dengan lurus. Selalulah ingat tujuan yang tertinggi dan jangan pernah menurunkannya pada tingkat yang paling rendah. (Dharma Vahini, Ch 1)

-BABA

Saturday, August 29, 2015

Thought for the Day - 29th August 2015 (Saturday)

Truth (Satya) sustains the cosmos, virtue (Dharma) protects and promotes the peace of mankind. All activities must be infused with the ideals of Satya and Dharma. Dharma never suffers decline; only its practice declines. So divine incarnations take place to restore faith in Dharma, to revitalise its practice and to demonstrate that the practice of Dharma confers peace, joy and prosperity. If Dharma is ignored, it amounts to sacrilege, for Dharma is God and God is Righteousness (Dharma). People see God in a picture, an icon, or a plaster of Paris figurine but God really is most manifest in a righteous action (Dharma). One may spend enormous sums for pilgrimages and for rituals and ceremonies but that will not take them anywhere nearer to God. What profit can one earn in the spiritual field, if they adore God and at the same time, insult and injure their fellowmen?


Kebenaran (Satya) menopang alam semesta ini, Kebaikan (Dharma) melindungi dan mengembangkan kedamaian pada umat manusia. Semua aktivitas harus dimasukkan dengan idealisme tentang kebenaran dan kebajikan. Dharma tidak pernah mengalami kemunduruan; hanya penerapannya yang mengalami kemunduran. Jadi inkarnasi Tuhan datang untuk memulihkan keyakinan pada Dharma, untuk menguatkan kembali penerapannya dan menunjukkan bahwa dengan menjalankan kebajikan akan dapat memberikan kedamaian, suka cita dan kesejahteraan. Jika Dharma diabaikan, maka itu adalah bentuk penistaan karena Dharma adalah Tuhan dan Tuhan adalah kebajikan (Dharma). Orang-orang melihat Tuhan dalam lukisan, patung orang suci, atau gambaran dari arca kecil namun Tuhan sejatinya paling besar mengejewantah dalam tindakan yang baik (Dharma). Seseorang mungkin menghabiskan banyak uang untuk berziarah dan juga untuk ritual dan upacara namun itu tidak akan membawa mereka dekat dengan Tuhan. Apa keuntungan yang seseorang bisa dapatkan dalam bidang spiritual jika mereka memuja Tuhan dan pada waktu yang bersamaan menghina dan menyakiti sesama mereka? (Divine Discourse, 21-Jun-1979)

-BABA