Monday, December 3, 2018

Thought for the Day - 3rd December 2018 (Monday)

Convince yourself that the Lord is in you, as your charioteer, holding the reins of the five horses (the senses) and giving you constant counsel, as He did when Arjuna prayed to Him to lead and guide. Then it becomes easy for you to convince yourself that the self-same charioteer is leading and guiding everyone else. When you are established in this faith firmly, you become free of hate and malice, greed and envy, anger and attachment. Pray to the Lord to strengthen this conviction and this faith; He will open your eyes to the Truth and reveal to you that He is the Sanathana Sarathi (Eternal Charioteer) in all. That revelation will confer on you incomparable bliss and grant you kinship with the creation's manifoldness. Know Him as your strength, your breath, your intelligence, your joy - He becomes all of this for you. He will direct all your senses, mind, consciousness and intelligence towards the highest Goal; His Grace will confer all you need.


Yakinkan dirimu bahwa Tuhan bersemayam di dalam dirimu, sebagai saismu, memegang tali kendali dari lima kuda (indera), dan memberikanmu nasihat tanpa henti, seperti yang Tuhan lakukan ketika Arjuna berdoa pada-Nya untuk menuntun serta membimbingnya. Kemudian akan menjadi mudah bagimu untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa sais yang sama juga sedang mengarahkan serta menuntun setiap orang yang lainnya. Ketika engkau memiliki keyakinan mantap seperti ini, engkau menjadi bebas dari kebencian dan kesombongan, ketamakan dan iri hati, amarah dan keterikatan. Berdoalah kepada Tuhan untuk menguatkan keyakinan ini; Tuhan akan membukakan matamu pada kebenaran dan mengungkapkanmu bahwa Tuhan adalah Sanathana Sarathi (Sais yang kekal) dalam semuanya. Pengungkapan ini akan memberikanmu kebahagiaan yang tiada bandingannya dan memberikanmu persaudaraan dengan bentuk ciptaan yang berbagai jenis. Sadarilah bahwa Tuhan sebagai kekuatan, nafas, kecerdasan, suka citamu - Tuhan menjadi semuanya ini untukmu. Tuhan akan mengarahkan semuan indera, pikiran, kesadaran, dan kecerdasanmu menuju pada tujuan yang tertinggi; karunia-Nya akan memberikanmu semua yang engkau butuhkan. (Divine Discourse, Jul 31, 1967)

-BABA

Thought for the Day - 2nd December 2018 (Sunday)

You must cultivate love towards everyone, however distinct the character and capacity of each may be. Though the same blood flows through the entire body, the eye cannot smell, the ear cannot taste, the nose cannot see, and so on. So, do not amplify the distinctions and quarrel with one another. Emphasize upon the basic brotherhood of mankind and the principle of love. Just like sugar that is fully dissolved in the cup of water is invisible, but patent to the tongue in every drop, so too the Divine is invisible but immanent; He is capable of being experienced in every individual, whether rich, poor, educated or illiterate. Repeat the names of the Lord (Namasmarana) incessantly. Dwell on His glory and compassion which those names reveal to you. Taste the sweetness that is in the heart of every one. Then, it will be easier for you to visualise Him in all, to love Him in all, and to adore Him in all.


Engkau harus meningkatkan kasih kepada setiap orang, betapapun berbeda karakter dan kapasitas yang mungkin ada. Walaupun darah yang sama mengalir di seluruh tubuh, mata tidak bisa mencium, telinga tidak bisa merasakan, hidung tidak bisa melihat, dsb. Jadi, jangan menguatkan perbedaan dan bertengkar satu dengan yang lainnya. Berikan penekanan pada persaudaraan manusia dan prinsip kasih. Seperti halnya gula yang  dilarutkan sepenuhnya dalam cangkir air dan tidak terlihat, namun sangat jelas bagi lidah merasakan gula dalam setiap tetesnya, begitu juga keilahian adalah tidak bisa dilihat namun tetap ada; Beliau dapat dialami oleh setiap individu, apakah kaya, miskin, berpendidikan atau buta huruf. Lantunkan nama Tuhan secara berulang-ulang (Namasmarana) secara terus menerus. Tetap memikirkan kemuliaan dan kasih sayang-Nya yang diungkapkan oleh nama-Nya padamu. Rasakan manisnya di dalam hati setiap orang. Kemudian, akan lebih mudah bagimu untuk membayangkan Tuhan dalam semuanya, untuk mencintai-Nya, dan memuja-Nya dalam semuanya. (Divine Discourse, Jul 31, 1967)

-BABA

Thought for the Day - 1st December 2018 (Saturday)

Embodiments of Divine! Different people today pursue different kinds of Sadhana. To realise the benefits of this Sadhana, they go to Ashrams, adore elders and worship them. As long as egoism remains in them, all these exercises are of no avail. Hence suppress your ego, bury the sense of possessiveness and develop attachment to the Atma to realise your true humanness. In Sai organisations, the primary requisite is unity and mutual trust. Only with unity can you promote the wellbeing of the world. If there is discord within the organisation, how can you serve others? Today, envy, hatred and anger are causing havoc amongst all people. At the outset, destroy your ego. Then anger will subside. Anger is described as incense offered to sin. Make forbearance your ornament. Through love, eliminate your bad traits. Do your duty without projecting your ego. Develop mutual helpfulness. Be friendly towards each other and carry on your work with joy and peace.


Perwujudan keilahian! Jenis orang yang berbeda mencari jenis sadhana yang berbeda hari ini. Untuk menyadari keuntungan dari sadhana yang dilakukan, mereka pergi ke ashram, menghormati yang lebih tua dan memuliakannya. Selama egoisme masih ada dalam diri mereka, semua latihan ini adalah tidak ada gunanya. Oleh karena itu tekan egomu, kubur rasa memiliki dan kembangkan keterikatan pada Atma untuk menyadari sifat manusiamu yang sejati. Dalam organisasi Sai, syarat utama adalah persatuan dan saling mempercayai. Hanya dengan persatuan engkau dapat meningkatkan kesejahteraan dunia. Jika ada perselisihan dalam organisasi, bagaimana engkau dapat melayani yang lainnya? Hari ini, iri hati, kebencian, dan kemarahan adalah penyebab malapetaka diantara semua orang. Pada permulaan, hancurkan egomu. Kemudian amarah akan surut. Kemarahan digambarkan sebagai dupa dipersembahkan pada dosa. Jadikanlah kesabaran sebagai perhiasanmu. Melalui kasih, singkirkan kebiasaan burukmu. Jalankan kewajibanmu tanpa egomu. Kembangkan saling membantu. Jadilah ramah kepada setiap orang dan jalankan pekerjaan dengan suka cita dan kedamaian. (Divine Discourse, 7-Oct-1993)

-BABA

Thought for the Day - 30th November 2018 (Friday)

Today spiritual exercises are confined to listening and not practising. Listening (Shravanam) has become so popular, and after listening, people brag that they know everything. This crazy boastfulness is deepening one's ignorance. You must ruminate over what you listen. After rumination, one should practice the lessons (do Nididhyasana). Only then you will achieve purity in thought, word and deed. To develop a spiritual outlook and to inspire it in others, you must possess purity of heart (Chitta shuddhi). Spiritual wisdom dawns only when there is purity of heart. Just as removal of weeds, tilling the land, sowing the seeds and watering the earth are required before the crop can be harvested, the field of the human heart has to be cleared of bad thoughts and feelings, the Divine Name sown, watered with love and tilled by spiritual practices. Only then you are entitled to reap the harvest of Divine Wisdom (Jnana).


Latihan spiritual hari ini hanya terbatas pada mendengarkan dan tidak menjalankannya. Mendengarkan (Shravanam) telah menjadi begitu populer, dan setelah mendengarkan, orang-orang menyombongkan diri bahwa mereka mengetahui segalanya. Kesombongan yang menggila ini adalah memperdalam kebodohan seseorang. Engkau harus merenungkan tentang apa yang telah engkau dengar. Setelah perenungan, seseorang seharusnya menjalankan hal itu (melakukan Nididhyasana). Hanya kemudian engkau akan mencapai kesucian dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Untuk mengembangkan pandangan spiritual dan menginspirasi yang lainnya, engkau harus memiliki kemurnian dalam hati (Chitta shuddhi). Kebijaksanaan spiritual menyingsing hanya ketika ada kemurnian hati. Sama halnya dengan mencabut rumput liar, membajak tanah, menaburkan benih, dan mengairi tanah diperlukan sebelum tanaman dapat dipanen, ladang hati manusia harus dibersihkan dari pikiran dan perasaan yang buruk, nama Tuhan ditabur, diairi dengan kasih, dan dibajak dengan latihan spiritual. Hanya dengan demikian engkau layak untuk memanen yang namanya kebijaksanaan ilahi (Jnana). (Divine Discourse, Oct 7, 1993)

-BABA

Thursday, November 29, 2018

Thought for the Day - 29th November 2018 (Thursday)

Adi Shankara stressed the importance of spending time in good company (Satsanga). He taught that for liberation, Satsanga is the first and important step. Here is a small example: if a piece of black charcoal is kept in the proximity of a bright red fire, the area along which this black charcoal is in contact with the bright fire, begins to glow. In this analogy, the black charcoal is your ignorance. The bright red fire is the good company. By the two coming together, only the portion of your ignorance that is exposed to the effects of good company will be dispelled. But if you employ sadhana or spiritual practice as a fan to increase the area of contact, then the entire region of ignorance will be illumined. It is thus not enough if you are merely in the company of good people. You should also develop the sadhana of love, and be loved by the good people. It is necessary to be near and dear to the good people.
Adi Shankara menekankan pentingnya menghabiskan waktu dalam pergaulan yang baik (Satsanga). Beliau mengajarkan bahwa untuk mendapatkan kebebasan, Satsanga adalah langkah pertama dan penting. Disini ada sebuah contoh sederhana: jika sebuah arang berwarna hitam disimpan dekat dengan api yang menyala berwarna merah, daerah dimana arang hitam bersinggungan dengan api yang menyala, akan mulai bersinar. Dalam analogi ini, arang hitam adalah kebodohanmu. Nyala api yang berwarna merah adalah pergaulan yang baik. Dengan keduanya hadir bersama-sama, hanya sebagian dari kebodohanmu yang dihilangkan karena terpapar oleh pengaruh dari pergaulan baik. Namun jika engkau melakukan sadhana atau latihan spiritual sebagai kipas untuk memperluas bidang pengaruhnya maka seluruh bagian dari kebodohan akan diterangi. Adalah tidak cukup jika engkau hanya dalam pergaulan yang baik saja. Engkau seharusnya juga mengembangkan sadhana kasih sayang, dan disayangi oleh orang-orang yang baik. Adalah perlu untuk disayang dan dicintai oleh orang-orang yang baik. (Summer Showers In Brindavan, May 24, 1973)

-BABA

Thought for the Day - 28th November 2018 (Wednesday)

Ahimsa (nonviolence) is not merely refraining from causing harm or injury to others. It also implies refraining from causing harm to oneself. How can you ensure this? By constantly examining whether your conduct is right or wrong. For instance, you must examine whether your words are causing pain to others or not. You must see that your looks are not tainted by evil intentions or thoughts. You should not listen to evil talk. All these cause harm first to yourself and then to others. How do you determine what is bad? By consulting your conscience. Whenever you act against the dictates of your conscience, bad results follow. Conscience within you is the form of the Divine within everyone. Whatever you do, your conscience tells you whether it is right or wrong. To ascertain the directive of conscience, you must wait for some time. Before you say something, practice thinking for a moment if it is proper or not and then speak.


Ahimsa (tanpa kekerasan) bukanlah hanya sebatas menahan diri dari menyakiti atau mencelakai yang lain. Ini juga menyatakan secara tidak langsung menahan diri dari menyakiti diri sendiri. Bagaimana engkau bisa memastikan hal ini? Dengan secara terus menerus memeriksa tingkah lakumu apakah benar atau salah. Sebagai contoh, engkau harus memeriksa apakah perkataanmu menyebabkan rasa sakit pada yang lain atau tidak. Engkau harus melihat bahwa pandanganmu tidak dinodai oleh maksud atau niat yang jahat. Engkau seharusnya tidak mendengarkan pembicaraan yang tidak baik. Semuanya ini pertama menyebabkan kerusakan pada dirimu sendiri dan kemudian pada yang lainnya. Bagaimana engkau menentukan apa yang tidak baik? Dengan menanyakannya pada suara hatimu. Kapanpun engkau berbuat bertentangan dengan arahan dari suara hatimu, maka hasil buruk akan mengikuti. Suara hati di dalam dirimu adalah bentuk dari keilahian di dalam diri setiap orang. Apapun yang engkau lakukan, suara hatimu mengatakan padamu apakah itu benar atau salah. Untuk menegaskan petunjuk dari suara hati, engkau harus menunggu untuk beberapa saat. Sebelum engkau mengatakan sesuatu, praktikkan untuk berpikir sebentar apakah hal itu layak atau tidak dan kemudian dikatakan. (Divine Discourse, Jan 18, 1996.)

-BABA

Thought for the Day - 27th November 2018 (Tuesday)

Every activity in the world today is centred around money. Request someone to sing a song or do some work for you, they will immediately start bargaining the amount you will pay for their services. Every activity has become a business today, so much so that business has entered the field of spirituality too. There is no necessity to purchase God with money which, of course, you cannot. In fact, you yourself are God. You are endowed with immense divine power. But you have to keep your mind steady. Let it not jump from one thought to another. If you write correct answers in your examination, you will get correct marks. If you have a good mind, everything will turn out to be good. But if there are bad thoughts in you, the result will also be bad. First and foremost, understand the nature of your mind. You can understand the secret of human life only when you understand your own mind. Be Good, Do Good, See Good. Then everything will become good in your life.


Setiap aktifitas di dunia hari ini dipusatkan sekitar uang. Meminta seseorang untuk bernyanyi sebuah lagu atau melakukan pekerjaan untukmu, mereka secara langsung akan mulai tawar menawar berapa banyak engkau akan membayarnya untuk jasa mereka. Setiap aktifitas telah menjadi sebuah bisnis hari ini, sampai-sampai bisnis telah memasuki dunia spiritual juga. Tidak perlu untuk membeli Tuhan dengan uang yang, tentu saja, engkau tidak bisa. Sejatinya, dirimu sendiri adalah Tuhan. Engkau diberkati dengan kekuatan Tuhan yang tidak terbatas. Namun engkau harus tetap menjaga pikiranmu tetap kokoh. Jangan biarkan pikiran melompat dari satu pemikiran ke pemikiran yang lainnya. Jika engkau menulis jawaban yang benar di dalam ujianmu, engkau akan mendapatkan nilai yang benar. Jika engkau memiliki pikiran yang baik, segala sesuatunya akan menjadi baik. Namun jika ada pikiran yang buruk dalam dirimu, hasilnya juga akan menjadi buruk. Pertama dan utama, pahami sifat alami pikiranmu. Engkau dapat mengerti rahasia hidup manusia hanya ketika engkau memahami pikiranmu sendiri. Jadilah baik, lakukan yang baik, lihat yang baik. Kemudian segala sesuatunya akan menjadi baik di dalam hidupmu. (Divine Discourse, May 2, 2006)

-BABA