Saturday, May 31, 2025

Thought for the Day - 31st May 2025 (Saturday)



Firm faith is essential for realising the Self. Faith is the basis of self-confidence, without which nothing can be achieved. The word Manava (man) itself means one who has faith. When he acts up to his faith, he experiences peace and contentment. Love is the means through which faith is strengthened. People offer prayers to God. Prayers should not mean petitioning God for favours. The object of prayer should be to establish God firmly in one's heart. Aim at linking yourself to God and not at seeking favours. Aspire for earning the love of God. That is real penance. That is why it is said: Looking ahead is Tapas (penance); looking backward is Tamas (ignorance). Tapas does not mean giving up hearth and home and retiring to a forest. It means giving up all bad qualities and striving to live ceaselessly for God's grace. 


- Divine Discourse, Mar 06, 1989

Faith leads to truth; truth leads to peace; peace leads to happiness


Keyakinan yang teguh adalah mendasar untuk menyadari Diri sejati. Keyakinan adalah dasar dari kepercayaan diri, yang tanpanya tidak ada sesuatupun yang bisa tercapai. Kata dari Manava (manusia) itu sendiri berarti seseorang yang memiliki keyakinan. Ketika manusia bertindak sesuai dengan keyakinannya, maka dia mengalami kedamaian dan kepuasan. Kasih adalah sarana dimana keyakinan dikuatkan. Orang-orang mempersembahkan doa kepada Tuhan. Berdoa seharusnya tidak berarti memohon pertolongan kepada Tuhan. Tujuan dari doa seharusnya adalah untuk menempatkan Tuhan dengan mantap di dalam hati. Doa bertujuan menghubungkan dirimu dengan Tuhan dan bukan untuk mencari keuntungan. Miliki hasrat untuk mendapatkan kasih Tuhan. Itu adalah olah tapa yang sejati. Itulah sebabnya mengapa dikatakan: melihat ke depan adalah Tapas (olah tapa); melihat ke belakang adalah Tamas (ketidaktahuan). Tapas tidak berarti meninggalkan rumah dan tinggal di dalam hutan. Tapas berarti melepaskan semua sifat-sifat jahat dan berusaha untuk hidup dengan tanpa hentinya mendapatkan Rahmat Tuhan. 


- Divine Discourse, 6 Maret 1989

Keyakinan menuntun pada kebenaran; kebenaran menuntun pada kedamaian; kedamaian menuntun pada kebahagiaan.

Friday, May 30, 2025

Thought for the Day - 30th May 2025 (Friday)



Body is a combination of five elements, and the mind is merely a bundle of thoughts. One should neither be attached to the body nor follow the vagaries of the mind. Drive away the evil qualities of kama, krodha, lobha, moha, mada and matsarya (desire, anger, greed, infatuation, pride and jealousy) and manifest your inner peace and bliss. Instead of developing peace and bliss, man is destroying them. He is giving scope to unrest even in trivial matters. Neither ashanti (unrest) nor prashanti (supreme peace) are acquired from outside. People say, “I want peace.” Where is peace? Is it present outside? If peace were to be found outside, people would have bought it by spending any amount of money. But outside, we find only pieces! The real peace is within! Whether you boil it hard or dilute it with water, milk remains white. White symbolises purity. Like the consistency in milk, your heart should always remain pure, bright and peaceful in spite of trials and tribulations! 


- Divine Discourse, Jan 14, 2005

We should subdue sorrow, keep the evil qualities of anger, hatred and jealousy under check and manifest our innate bliss! 


Tubuh adalah gabungan dari lima unsur, dan pikiran hanyalah kumpulan dari ide atau gagasan. Seseorang harusnya tidak terikat pada tubuhnya dan tidak mengikuti gejolak pikiran. Usir sifat-sifat jahat seperti kama, krodha, lobha, moha, mada dan matsarya (keinginan, kemarahan, ketamakan, kegilaan, kesombongan dan iri hati) serta mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan batinmu. Bukannya mengembangkan kedamaian dan kebahagiaan, manusia saat sekarang sedang menghancurkan keduanya. Manusia memberikan ruang bagi kegelisahan bahkan untuk hal-hal yang bersifat sepele. Keduanya yaitu ashanti (kegelisahan) dan juga prashanti (kedamaian tertinggi) tidak diperoleh dari dunia luar diri. Orang-orang berkata, “aku ingin damai.” Dimana kedamaian itu? Apakah ada di luar diri? Jika kedamaian dapat ditemukan di luar diri, manusia akan membeli kedamaian dengan mengeluarkan banyak uang. Namun kita hanya menemukan kepingan di luar diri! Kedamaian sejati ada di dalam diri! Susu tetaplah putih, apakah engkau merebusnya atau mengencerkannya dengan air. Putih adalah lambang dari kesucian. Seperti halnya konsistensi pada susu, hatimu juga harus selalu tetap murni, cemerlang dan penuh kedamaian meskipun menghadapi cobaan dan penderitaan! 


- Divine Discourse, 14 Januari 2005

Kita harus mengatasi penderitaan, mengendalikan sifat-sifat jahat seperti amarah, benci, dan iri hati serta mewujudkan kebahagiaan dalam diri kita!  

Wednesday, May 28, 2025

Thought for the Day - 28th May 2025 (Wednesday)



The Vedanta declares that he who knows himself, knows all. You should make the right endeavour to know yourself. You can know yourself by developing inner vision rather than outward vision. All sensory activities like sound, smell, touch and taste are only external activities. We delude ourselves into thinking that these activities are real and ruin ourselves ultimately. It is by harnessing the mind that we will be able to realise the Divinity within. Mind is the cause for man’s life, sorrow, joy and liberation as well. It is the mind that makes us oblivious to Divinity and lures us to the enchantments of ‘Jagat’ (world). The very meaning of the word ‘Jagat’ signifies the transient nature of the world, for ‘Ja’ means going, and ‘Gat’ means coming. While the world changes, man remains changeless. The very word ‘Nara’ (man) means the ‘one who is imperishable’ for, ‘Na’ means ‘not’ and ‘Ra’ means perishable. It is the self in man which is imperishable, for man is the Self. 


- Divine Discourse, May 20, 1993

The man who does not realise his true nature is ensnared by the senses, though in reality he is the master of senses. 


Vedanta menyatakan bahwa dia yang mengetahui dirinya sejati maka dia mengetahui semuanya. Engkau harus membuat upaya yang benar untuk mengetahui dirimu sejati. Engkau dapat mengetahui dirimu sejati dengan mengembangkan pandangan batin daripada pandangan keluar diri. Semua aktifitas indria seperti suara, bau, sentuhan dan rasa hanyalah aktifitas di luar diri. Kita menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa aktifitas-aktifitas ini adalah sejati dan pada akhirnya merusak diri sendiri. Adalah dengan mengendalikan pikiran maka kita akan mampu untuk menyadari keilahian di dalam diri. Pikiran adalah penyebab dari hidup, penderitaan, suka cita dan pembebasan manusia. Adalah pikiran yang membuat kita lupa pada keilahian dan menggoda kita pada pesona dari dunia (Jagat). Makna dari kata ‘Jagat’ itu sendiri menandakan sifat dunia yang sementara, karena ‘Ja’ berarti pergi, dan ‘Gat’ berarti datang. Sementara dunia berubah, manusia tetap tidak berubah. Kata ‘Nara’ (manusia) berarti ‘seseorang yang tidak dapat hancur’ karena, ‘Na’ berarti ‘tidak’ dan ‘Ra’ berarti hancur. Adalah Atma atau diri sejati dalam diri manusia yang bersifat tidak hancur, karena manusia adalah Atma. 


- Divine Discourse, 20 Mei 1993

Manusia yang tidak menyadari sifat dirinya yang sejati akan dijerat oleh indria, walaupun dalam kenyataan dia adalah penguasa indria.  

Tuesday, May 27, 2025

Thought for the Day - 27th May 2025 (Tuesday)



Man is bound by action. Everyone has the responsibility to perform his duty. Therefore, man should put the body to proper use and perform righteous actions. But man indulges in mundane pleasures and wastes his life. Instead, he should realise the effulgent Divinity that is within him. This world is bound to decay; it is temporary and untrue. Therefore, man should develop devotion to God who is eternal and true. This only can lead him to the path of Self-realisation. The first requisite for Self-realisation is self-confidence. For all troubles in this world, the main reason is the absence of self-confidence. So, a man should have self-confidence first. Self-confidence confers self-satisfaction, and self-satisfaction leads to self-sacrifice. It is only through self-sacrifice that man attains Self-realisation. For this mansion of life, self-confidence is the foundation and self-satisfaction are the walls. On the walls only can we lay the roof of self-sacrifice. When there is a roof on the walls, we can live inside happily. That is Self-realisation. These are steps to liberation: self-confidence, self-satisfaction, self-sacrifice and Self-realisation. 


- Divine Discourse, Apr 14, 1993.

The cultivation of good qualities and virtuous conduct is the path which leads towards Self-realisation. 


Manusia terikat oleh perbuatan. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kewajibannya. Maka dari itu, manusia harus menggunakan badan selayaknya dan hanya melakukan perbuatan yang baik. Namun manusia tenggelam dalam kesenangan duniawi dan menyia-nyiakan hidupnya. Sebaliknya, manusia harus menyadari keilahian yang cemerlang di dalam dirinya. Dunia terikat mengalami pembusukan; dunia ini bersifat sementara dan tidak benar. Maka dari itu, manusia harus mengembangkan bhakti kepada Tuhan yang bersifat kekal dan benar. Hanya cara ini yang dapat menuntun manusia pada jalan kesadaran diri sejati. Syarat pertama untuk kesadaran diri sejati adalah kepercayaan pada diri. Untuk semua masalah di dunia ini, alasan utama adalah karena tidak adanya kepercayaan pada diri. Jadi, pertama-tama seseorang harus memiliki kepercayaan diri. Kepercayaan diri menganugerahkan kepuasan pada diri, dan kepuasan diri menuntun pada pengorbanan diri. Hanya melalui pengorbanan diri maka manusia bisa mendapatkan kesadaran diri sejati. Dalam rumah besar hidup ini, kepercayaan diri adalah pondasinya dan kepuasan diri adalah dindingnya. Hanya pada dinding kita bisa menaruh atap pengorbanan diri. Ketika atap sudah terpasang di atas dinding, maka kita bisa tinggal dengan tenang di dalam rumah. Itu adalah kesadaran diri sejati. Ini adalah langkah-langkah menuju pembebasan: kepercayaan diri, kepuasan diri, pengorbanan diri dan kesadaran diri sejati. 


- Divine Discourse, 14 April 1993.

Peningkatan sifat-sifat baik dan tingkah laku yang luhur adalah jalan yang menuntun pada kesadaran diri sejati. 

Monday, May 26, 2025

Thought for the Day - 26th May 2025 (Monday)



What the students need today are three things: The spirit of sacrifice, devotion to God, and love of the Motherland. Because people are filled with pride, selfishness and self-interest, they are ceasing to be human. It is supremely important that the qualities of devotion to God, patriotism and self-sacrifice should be developed among the people. For this, the first requisite is the elimination of “my” and “mine”. The readiness to sacrifice one’s pleasure and comforts for the sake of the nation should be promoted among the students. When there are many high-minded, spiritually-oriented students, the nation will achieve peace and security. Education should be for acquiring knowledge and for facing the challenges of life, not merely for getting a job. Students should not become servile seekers of posts in the Government. They should have faith in God and bow their heads only to the Divine. They must always be prepared to make any sacrifice for God and country. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1988

One has to learn the supreme value of sacrifice from one’s own parents who sacrifice so much for the sake of their children.

 

Apa yang pelajar butuhkan hari ini adalah tiga hal yaitu : semangat pengorbanan, bhakti pada Tuhan dan cinta pada ibu pertiwi. Karena orang-orang diliputi dengan kesombongan, mementingkan diri sendiri dan kepentingan pribadi, mereka berhenti menjadi manusia. Hal ini adalah sangatlah penting dimana kualitas seperti bhakti pada Tuhan, patriotisme dan pengorbanan diri harus dikembangkan diantara manusia. Untuk bisa mengembangkan kualitas ini maka syarat pertama adalah menghilangkan “milikku” dan “kepunyaanku”. Kesiapan untuk mengorbankan kesenangan dan kenyamanan diri untuk kepentingan bangsa harus dipupuk diantara para pelajar. Ketika ada banyak pelajar yang berpikiran tinggi, berorientasi spiritual, maka bangsa akan mencapai kedamaian dan keamanan. Pendidikan harus ditujukan untuk menuntut ilmu pengetahuan dan untuk menghadapi tantangan hidup, dan bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Para pelajar seharusnya tidak menjadi budak mencari jabatan dalam pemerintahan. Mereka harus memiliki keyakinan pada Tuhan dan menundukkan kepala mereka hanya pada Tuhan. Mereka harus selalu siap untuk melakukan pengorbanan apapun untuk Tuhan dan bangsa. 


- Divine Discourse, 14 Januari 1988

Seseorang harus belajar nilai yang tertinggi dari pengorbanan dari orang tua sendiri yang berkorban begitu besar untuk kepentingan anak-anak mereka. 

Sunday, May 25, 2025

Thought for the Day - 25th May 2025 (Sunday)



The nature of the mind is very peculiar. It has no qualities of its own. Here is a newspaper. A newspaper has no special qualities, no smell of its own. When you wrap jasmine flowers in it, it will get the fragrance of jasmine flowers. The newspaper, without any smell before, will acquire the smell of pakodas (a fried snack), if you wrap pakodas in it. Similarly, if you pack dry fish in it, the paper will also have the smell of dry fish. The paper has no separate smell of its own; it acquires the smell of items associated with it. Likewise, the human mind, which is pure and sacred by nature, becomes impure and unsacred due to body consciousness and material attachments. When you think of a material object, it will assume the form of that object. If you turn the mind towards the world, it binds you to the world. But if you turn the mind towards the life principle (prana), it will make your life sacred. When the same mind is diverted towards prajna (conscience), which is Brahman, you become Brahman! It is the mind of man which is responsible for his bondage as well as liberation. 


- Divine Discourse, Apr 14, 1993

Keep the Name of the Lord always radiant on your tongue and mind. That will keep the antics of the mind under control. 


Sifat alami dari pikiran adalah sangat aneh dan tidak memiliki kualitasnya sendiri. Ini adalah koran yang mana koran tidak memiliki kualitas yang khusus, tidak memiliki bau sendiri. Ketika engkau membungkus bunga melati dengan koran, maka koran itu akan memiliki bau bunga melati. Koran yang tidak memiliki bau sebelumnya akan berbau gorengan jika dipakai membungkus gorengan. Sama halnya, jika koran dipakai membungkus ikan kering maka kertas koran tersebut akan memiliki bau ikan kering. Kertas tidak memiliki bau tersendiri; kertas mendapatkan bau dari benda yang terhubung dengannya. Sama halnya dengan pikiran manusia yang mana bersifat murni dan suci secara alami, menjadi tidak murni dan tidak suci karena kesadaran badan serta keterikatan material. Ketika engkau memikirkan objek material, maka pikiran akan mengambil wujud dari objek tersebut. Jika engkau mengarahkan pikiran pada dunia maka pikiran mengikatmu pada dunia. Namun jika engkau mengarahkan pikiran pada prinsip hidup yaitu prana, maka pikiran akan membuat hidupmu suci. Ketika pikiran yang sama dialihkan pada hati Nurani yaitu prajna, yang merupakan Brahman, maka engkau menjadi Brahman! Adalah pikiran manusia yang bertanggung jawab pada perbudakan ini dan juga pembebasan. 


- Divine Discourse, 14 April 1993

Pastikan nama suci Tuhan selalu bersinar di lidah dan pikiranmu. Hal ini akan mengendalikan tingkah polah bodoh dari pikiranmu. 

Saturday, May 24, 2025

Thought for the Day - 24th May 2025 (Saturday)




To lead a happy life, man needs peace of mind. The mind is like the turbulent Ganga. It has to be restrained by the use of brakes, as in a fast-moving vehicle. Dhyana (meditation) is the brake devised for the control of the mind. Dhyana means one-pointed concentration. All the diseases which afflict man are the result of agitation in the mind. The enormous growth of disease in the world today is due to the loss of peace of mind. To get rid of illness and to lead a calm, healthy life, man has to cultivate mental peace. Man’s mind has three kinds of capabilities. One is Anekagrata (a wandering mind). Another is Shunyata (vacancy, emptiness). The third is Ekagrata (single-pointed concentration). What is Shunyata? It is the state in which the mind goes to sleep when something edifying is being said. The mind is unresponsive to what is good and beneficial. Such a state of mind is called Tamasic. It is the blindness of ignorance. Anekagrata (the wandering mind) is an equally undesirable mental state. It also degrades man. Then there is one-pointed concentration of mind (Ekagrata). This is what everyone needs most today. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1988

The sweetness of the experience of inner tranquillity is derived from the fruits of dhyana (Meditation). 


Untuk menjalani sebuah hidup yang bahagia, manusia membutuhkan kedamaian pikiran. Pikiran adalah seperti sungai Ganga yang bergolak. Pikiran harus dikendalikan dengan menggunakan rem seperti halnya kendaraan yang melaju kencang. Dhyana (meditasi) adalah rem yang dirancang untuk mengendalikan pikiran. Dhyana berarti konsentrasi pada satu titik. Semua penyakit yang menyerang manusia adalah akibat dari kegelisahan pikiran. Maraknya perkembangan penyakit di dunia pada hari ini disebabkan oleh hilangnya kedamaian pikiran. Untuk melenyapkan penyakit dan menjalani hidup yang tenang dan sehat maka manusia harus memupuk kedamaian batin. Pikiran manusia memiliki tiga kapabilitas. Pertama adalah Anekagrata (pikiran yang mengembara). Kedua adalah Shunyata (kekosongan). Ketiga adalah Ekagrata (kosentrasi pada satu titik). Apa itu Shunyata? Ini adalah keadaan dimana pikiran tertidur ketika sesuatu yang mendidik sedang dikatakan. Pikiran tidak memberikan respon terhadap apa yang baik dan bermanfaat. Keadaan pikiran seperti itu disebut dengan tamasik. Ini adalah kebutaan ketidaktahuan. Anekagrata (pikiran yang mengembara) adalah keadaan batin yang sama-sama tidak diinginkan. Hal ini juga merendahkan manusia. Kemudian ada pikiran yang konsentrasi pada satu titik (Ekagrata). Ini adalah bentuk pikiran yang dibutuhkan setiap orang hari ini. 


- Divine Discourse, 14 Januari 1988

Manisnya pengalaman ketenangan batin didapat dari hasil dhyana (meditasi).