Wednesday, November 7, 2007

Thoughts for the Day - 8th November 2007 (Thursday)


Do not give room for differences based on language, religion, caste or nationality. Develop the feeling that all are children of God. You may worship God in any form of your choice, but always bear in mind that God is one. Cultivate love towards all beings and promote unity and harmony.

Janganlah engkau melakukan diskriminasi berdasarkan bahasa, agama, kasta ataupun kebangsaan. Kembangkanlah keyakinan bahwa semua manusia adalah anak-anak Tuhan. Engkau boleh beribadah kepada Tuhan sesuai dengan wujud atau rupa yang engkau sukai, namun ingatlah bahwa Tuhan Maha Esa. Kembangkanlah cinta-kasih terhadap sesama mahluk dan perjuangkanlah unity dan harmony.

-BABA

Tuesday, November 6, 2007

Thoughts for the Day - 7th November 2007 (Wednesday)



Man strives to provide himself with food, clothing and housing for the sake of the body. He must also provide himself with something to keep the mind healthy and happy. It is the mind that conditions the body. The mind is an instrument by which one can liberate oneself or ruin oneself. The mind must become the servant of the intellect and not the slave of the senses.

Manusia berupaya untuk membekali dirinya dengan pangan, sandang dan papan demi untuk kepentingan badan fisiknya. Di samping itu, hendaknya ia juga melakukan usaha untuk menjaga kesehatan dan kebahagiaan batinnya sendiri, sebab kesehatan batin berpengaruh terhadap kebugaran raga (badan). Batin adalah instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai pembebasan atau sebaliknya bisa juga membawa manusia kepada kehancuran. Batin haruslah diperdaya sebagai pelayan bagi intellect (buddhi) dan janganlah membiarkannya menjadi budak kesenangan indriawi.

-BABA

Monday, November 5, 2007

Thoughts for the Day - 6th November 2007 (Tuesday)



Man is mortal and the Divine is immortal. In the mortal human being, there is the immortal Divine Spirit. In the field of the heart, there is a Kalpatharu (wish-fulfilling tree). The tree is surrounded by bushes and briars. When these are removed, the tree will become visible. This wish-fulfilling tree is within each person, but it is encompassed by the bad qualities in man. When these qualities are eliminated, the celestial tree will be recognised. This is the Sadhana (spiritual exercise) that each one has to perform. This is not the quest for something new. It is to experience what is yours. The entire cosmos is within you.

Manusia adalah mortal (mahluk yang mengalami kematian), sedangkan Divine adalah immortal (yang bersifat abadi). Di dalam diri mahluk yang mortal, terkandung Divine Spirit yang abadi. Di dalam hati kita yang diibaratkan seperti sebuah ladang, terdapat pohon Kalpatharu (pohon yang sanggup mengabulkan berbagai jenis permintaan yang diajukan kepadanya). Pohon Kalpatharu ini sedang dikelilingi oleh semak-belukar. Apabila semak-semak tersebut disingkirkan, maka pohon itupun akan tampak. Nah, pohon pengabul permintaan ini terdapat di dalam diri setiap orang, namun ia terselimuti oleh kualitas-kualitas diri yang negatif. Apabila manusia sanggup mengatasi kualitas dirinya yang negatif itu, maka pohon surgawi tersebut akan dapat dikenali. Inilah jenis latihan spiritual yang hendaknya dipraktekkan oleh setiap orang. Kita tidak sedang mencari sesuatu yang baru, melainkan justru untuk mengalami sesuatu yang sebenarnya adalah hak-milikmu. Keseluruhan kosmos (alam-semesta) berada di dalam dirimu sendiri.

-BABA

Saturday, November 3, 2007

Thoughts for the Day - 5th November 2007 (Monday)



Each one has come embodied into this world of joy and grief, of growth and decay in order to discover the way home, to get back to the source from which he has strayed into this wilderness. This has to be done within the allotted time of our life span. But, man is attracted by the phantom lights and he ignores the call of destiny. His senses lead him on and on, deeper and deeper into the maze until he dies with a moan instead of with a smile. The precious years between birth and death are wasted in worthless acquisitions and meaningless achievements.

Setiap orang terlahir di tengah-tengah dunia yang diliputi oleh dualisme kegembiraan dan kesedihan, tumbuh besar dan akhirnya menjadi tua guna mencari jalan untuk kembali ke ‘rumah’, yaitu ibarat orang yang sedang tersesat, manusia sedang mencari jalan untuk kembali lagi ke sumber yang merupakan tempat asal-muasalnya. Hal ini harus bisa terlaksana dalam jangka waktu kehidupan yang telah ditetapkan untuk kita. Ironisnya, ternyata manusia malahan menjadi tertarik dengan pernak-pernik kehidupan ini, sehingga akibatnya, ia melupakan tujuan utama kelahirannya. Sensasi indriawinya semakin menjerumuskan dan menyesatkan perjalanannya, sehingga ketika mendekati ajal, bukannya meninggal dengan sambil tersenyum, ia akan meninggal dengan rintihan & penyesalan. Tahun-tahun yang telah terlewatkan sejak kelahiran hingga kematian telah disia-siakan dalam mengumpulkan harta kekayaan serta pencapaian yang tiada artinya sama sekali.

-BABA

Thoughts for the Day - 4th November 2007 (Sunday)



From time to time, the Divine power assumes numerous forms. In devotees, it shines as the Jnana-Agni (fire of wisdom). In non-devotees, it burns as Krodha-Agni (the fire of anger) or the Kama-Agni (fire of desire). Man today has this fire (of anger, etc) in his heart and has become a victim of fear and delusions. All other types of fire subside in due course of time, but these fires (of anger, etc.) never completely cease. They may flare up at any moment. How, then, are these fires to be extinguished once for all? Vairagya (detachment) and Prema (love) are the two requisites to extinguish these fires. It is only through Prema (love) that man can acquire peace.

Dari waktu ke waktu, kekuatan Divine telah mengambil berbagai macam rupa/wujud. Di dalam diri para bhakta, kekuatan ini termanifestasikan sebagai Jnana-Agni (api kebijaksanaan). Sedangkan di dalam diri non-bhakta, kekuatan ini muncul sebagai Krodha-Agni (api kemarahan) ataupun Kama-Agni (api keinginan rendah). Manusia mempunyai semua api-api tersebut (kemarahan, dan sebagainya) di dalam hatinya, dan sebagai akibatnya, ia telah menjadi korban atas rasa takut maupun delusi (kebodohan batin). Semua jenis-jenis api lainnya pasti kelak akan padam, akan tetapi bara kemarahan dan negativitas lainnya tidak akan pernah padam secara total. Setiap saat ia bisa saja muncul & membakar lagi. Lalu, bagaimanakah caranya untuk memadamkan api-api tersebut untuk selamanya? Dua persyaratan utamanya adalah Vairagya (ketidak-melekatan) dan Prema (cinta-kasih). Hanya melalu Prema (cinta-kasih), maka kita akan memperoleh kedamaian.

-BABA

Friday, November 2, 2007

Thoughts for the Day - 3rd November 2007 (Saturday)

The sun derives its energy and effulgence from the same cosmic source that accounts for the power of the human mind and body. There is no greater power than this. This boundless power is being recognised and exercised by each according to the level of his development. Since man has the ability to manifest the latent divinity in himself, he is described as a manifestation of God. Humanness consists in manifestation of what is hidden and invisible to the eye.

Energi dan kecemerlangan matahari diperoleh dari sumber kosmik yang juga memberikan daya kekuatan kepada jiwa dan raga manusia. Tiada kekuatan lain yang melebihinya. Sumber daya yang tak terbatas ini dimanfaatkan oleh setiap orang sesuai dengan tingkat perkembangan (batin)-nya. Oleh karena manusia mempunyai kemampuan untuk memanifestasikan divinity yang laten di dalam dirinya, maka itulah sebabnya, ia juga dijuluki sebagai manifestasi Tuhan. Salah-satu maksud & tujuan kehidupan sebagai manusia adalah untuk memanifestasikan sumber daya kekuatan yang tersembunyi dan tak terlihat itu.

-BABA

Thursday, November 1, 2007

Thoughts for the Day - 2nd November 2007 (Friday)

Electricity is found everywhere in nature, but it can be tapped and put to use only through certain contrivances designed by man. The Atma Shakti (spiritual power) that is present everywhere is stored in the body and passes through the thin wires or nerves and illumines and directs activity. These activities have to be oriented towards Ananda (spiritual bliss) and not attachment to temporary pleasures. The life principle that flows as intelligence through every cell and nerve is also a reflection of the Atma.

Tenaga listrik terdapat di seantero alam semesta ini, namun ia hanya bisa dimanfaatkan apabila kita menggunakan alat-alat yang dirancang dan dibuat oleh manusia. Demikian pula, Atma Shakti (kekuatan spiritual) juga eksis dimana-mana serta tersimpan di dalam badan jasmani yang mengalir melalui kawat tipis atau urat nadi. Ia menerangi dan mengarahkan segenap aktivitas manusia. Seyogyanyalah kegiatan-kegiatan manusia diarahkan demi untuk tercapainya Ananda (spiritual bliss) dan bukan demi untuk mencapai kenikmatan sesaat. Prinsip kehidupan yang mengalir sebagai intellek melalui setiap sel dan urat nadi tersebut adalah juga merupakan refleksi Atma.

-BABA