Sunday, July 6, 2008

Thoughts for the Day - 7th July 2008 (Monday)


Man is enamoured of wealth, spouse and children. These obstruct him at each step and act as handicaps to spiritual advancement. Of course, money is essential for the process of living and labouring for it cannot be avoided. But, beyond a limit, riches foul the mind and breed arrogance. They must be used for good purposes, fostering Dharma (righteousness) and well-being, and fulfilling one's duties along the Divine path. If riches are spent for realizing fleeting desires, they can never be enough and the ego discovers newer and more heinous ways of earning and spending.

Manusia dibekali dengan kekayaan, istri dan anak. Sebenarnya semuanya itu merupakan penghalang dalam perjalanannya untuk mencapai kemajuan spiritual. Memang tidak dipungkiri bahwa uang diperlukan dalam proses kehidupan dan upaya untuk mencarinya tidaklah dapat dihindari. Namun yang perlu dicamkan adalah bahwa pemupukan uang yang melampaui batasan yang wajar (kekayaan yang berlebihan) akan meracuni mind dan membangkitkan kesombongan. Uang haruslah diberdaya-gunakan untuk maksud & tujuan yang baik, yaitu untuk memelihara Dharma dan kesejahteraan umat manusia, serta untuk memenuhi tanggung-jawab masing-masing dalam perjalanan spiritualnya. Apabila kekayaan dihambur-hamburkan demi untuk memuaskan keinginan duniawi, maka engkau tidak akan pernah merasa cukup dan sang ego akan selalu menemukan cara-cara baru untuk mencari serta menghabiskan kekayaan (bahkan dengan jalan yang terkeji sekalipun).
-BABA

Saturday, July 5, 2008

Thoughts for the Day - 6th July 2008


Grief is the feet and joy the head; both are part of the same entity. You cannot welcome joy and reject grief at the same time. You cannot have the obverse without the reverse. The diamond is at first just a dull piece of stone, a hard pebble. Only when it is cut by a skilled artisan does it shine brilliantly like a flame. Allow yourselves to be treated by the Master so that all your dullness will disappear and you will emerge effulgent as a resplendent diamond.

Penderitaan bagaikan kaki dan kesenangan adalah kepalanya; kedua-duanya adalah bagian dari satu entitas. Engkau tidak bisa menyambut kesenangan tetapi menolak penderitaan pada saat yang sama. Engkau tidak bisa memilih untuk mendapatkan bagian depan tanpa bagian belakangnya. Pada awalnya, permata hanyalah sebuah bongkahan batu yang keras. Namun setelah ditangani oleh ahlinya, maka batu itu berubah menjadi perhiasan yang bersinar terang. Biarkanlah dirimu ditangani oleh Sang Master agar kebodohanmu dapat disingkrikan dan engkau akan bersinar terang bagaikan permata indah.
-BABA

Friday, July 4, 2008

Thoughts for the Day - 5th July 2008 (Saturday)


Do not get attached to this evanescent body; utilize it as an instrument. Consider yourself as being separate from the body created out of the conjunction of the five elements. Know yourself to be the indestructible Atma. The body is the root cause of all grief and misery. Make the body obey your will. Contemplate on the truth that the body and the Atma are separate. This practice is indispensable for realizing the truth of one's Divinity.

Janganlah engkau melekat pada badan jasmani yang serba rentan ini; sebaliknya gunakanlah ia sebagai instrumen. Engkau perlu menganggap dirimu terpisah dari badan fisik yang terbentuk dari kelima unsur/elemen ini. Ketahuilah bahwa dirimu adalah Atma yang abadi. Badan jasmani merupakan akar penyebab penderitaan, pastikanlah bahwa engkau tidak diperbudak olehnya. Sadarilah kebenaran bahwa badan jasmani dan Atma adalah berbeda dan terpisah. Praktek perenungan seperti ini sangat diperlukan bagi seseorang dalam menyadari Divinity-nya.
-BABA

Thursday, July 3, 2008

Thoughts for the Day - 4th July 2008 (Friday)


Man has the choice of two paths - the Pravritti Marga (the outward path of involvement) or the Nivritti Marga (the inward path and non-involvement). When involved in the world, man is confronted with the six internal foes - lust, anger, greed, attachment, pride and hatred. When detached from the world, man is helped by six internal friends - sense and mind control, fortitude, contentment, faith and equanimity. The human body is deified as the temple of God; but the foes have to be evicted and the friends admitted before the Divine can establish itself there.

Manusia mempunyai dua macam jalan pilihan, yaitu: Pravritti Marga (jalan eksternal) atau Nivritti Marga (jalan internal yang tidak terlibat dengan hal-hal eksternal). Jikalau jalan yang dipilih adalah Pravritti Marga, maka manusia akan dikonfrontasi oleh enam musuh internalnya, yaitu: nafsu, kemarahan, keserakahan, kemelekatan, kesombongan dan kebencian. Namun apabila manusia tidak melekat kepada hal-hal yang bersifat duniawi, maka ia akan dibantu oleh enam sahabat internalnya, yaitu: kontrol panca indera dan mind, kesabaran, kepuasan hati, keyakinan dan keseimbangan batin. Badan jasmani manusia merupakan kuil bagi Tuhan; namun sebelumnya segala bentuk musuh-musuh internal haruslah dievakuasi dan diusir terlebih dahulu agar teman-teman yang baik diizinkan untuk masuk sehingga Divine mendapatkan tempat-Nya di sana.
-BABA

Wednesday, July 2, 2008

Thought s for the Day - 3rd July 2008 (Thursday)


Broaden your heart and make it as magnanimous as that of God Himself. If you look at a balloon, at first, it is flat. If you go on blowing air into it, it becomes bigger and bigger, and at one stage it will burst. Though beginning with the ideas of 'I' and 'mine', if you ultimately move on to the stage where you realize that "all are mine", "all are one"; gradually you will become broader in your vision and will merge in God who is omnipresent. You should recognise the truth that man's life consists of making the journey from the stage of 'I' to the stage of 'We'.

Lapangkanlah hatimu dan biarkanlah ia membesar sebagaimana Tuhan sendiri. Bila engkau melihat sebuah balon, maka pertama kali ia akan terlihat flat (datar). Tetapi ketika engkau terus-menerus menghembuskan angin ke dalamnya, maka ia menjadi semakin besar dan pada suatu saat ia akan meledak. Walaupun pada awalnya engkau memulainya dari 'I' dan 'mine', namun pada akhirnya engkau akan berlanjut ke tahapan berikutnya dimana engkau akan menyadari bahwa "semuanya adalah milikku", bahwa "semuanya adalah satu adanya"; dan secara perlahan engkau akan semakin lapang wawasan/cara pandangmu sehingga akhirnya bersatu dalam Tuhan omnipresent. Engkau harus menyadari kebenaran bahwa kehidupan sebagai manusia adalah untuk perjalanan dari tahapan 'I' ke tahapan 'We'.
-BABA

Tuesday, July 1, 2008

Thoughts for the Day - 2nd July 2008 (Wednesday)


Man should be the master of his behaviour; he should not be led away by the impulse of the moment; he must always be conscious of what is good for him. He should carry on his daily tasks such that he does not make others suffer or suffer himself. Be calm, unruffled and collected. The more you develop charity for all beings, contrition at your own faults, fear of sin and love of God, the more firmly established you will be in Shanti (peace).

Manusia haruslah menjadi master (tuan) bagi perilakunya sendiri; janganlah engkau terpancing oleh impuls/dorongan yang muncul sesaat; senantiasalah mawas diri dalam menentukan mana yang baik bagi dirimu. Lakukanlah tugasmu sehari-hari sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan kesusahan bagi orang lain maupun bagi dirimu sendiri. Tetaplah bersikap tenang. Apabila engkau mengembangkan charity (sikap kedermawanan), penyesalan atas kesalahanmu, takut berbuat dosa dan mencintai Tuhan, maka engkau akan semakin mantap di dalam Shanti (kedamaian).
-BABA

Thoughts for the Day - 1st July 2008 (Tuesday)


The spark of Love in you has to be cherished and nourished; then, every being will be God, every act will be Divine and every reaction you get from the outside world will be charged with love and sweetened with that nectar. When you love the God in all beings, He responds with love. Love God, though tribulation may be your lot, love Him though you are refused and rebuked; for, it is only in the crucible of travail that the metal is purified and cleared of blemish.

Percikan cinta-kasih yang ada di dalam dirimu haruslah dipelihara terus; sebab dengan demikian, maka engkau akan memperlakukan setiap mahluk hidup sebagai Tuhan, setiap tindakanmu akan bersifat Divine dan engkau juga akan mendapatkan cinta-kasih sebagai reaksi dari pihak luar. Apabila engkau mencintai Tuhan di dalam diri setiap mahluk, maka Beliau juga akan memberikan respons-Nya dengan cinta-kasih. Cintailah Dia, walaupun engkau mungkin harus menghadapi sekian banyak tantangan, ditolak dan sebagainya; karena pada prinsipnya semua hambatan itu tiada lain adalah bagian dari proses untuk memurnikan dirimu.

-BABA