Sunday, August 31, 2008

Thoughts for the Day - 1st September 2008 (Monday)


Dharma (righteousness) is the foundation for the welfare of humanity, it is the eternal truth. When the effulgence of Dharma fails to illumine human relationships, mankind will become enveloped in the darkness of sorrow. Man must dedicate himself to Dharma so that he may live in peace and the world may also enjoy peace. He cannot acquire lasting peace nor can he win the grace of God through any means other than by leading a Dharmic life.


Dharma (kebajikan) adalah fondasi bagi kesejahteraan hidup umat manusia, ia merupakan kebenaran abadi. Ketika cahaya cemerlang Dharma tidak berhasil menerangi hubungan antar manusia; maka sebagai akibatnya, umat manusia akan terselubung di dalam kegelapan penderitaan. Manusia hendaknya mendedikasikan dirinya untuk Dharma agar supaya ia dapat hidup damai dan dunia juga menikmati kedamaiannya. Tanpa menjalani kehidupan yang Dharmic, manusia tidak akan mungkin bisa memperoleh kedamaian maupun rahmat Ilahi.

-BABA

Saturday, August 30, 2008

Thoughts for the Day - 31st August 2008 (Sunday)



Man has not taken birth merely to satisfy his mundane desires; he has come to manifest the Divinity latent in him. That is why he is called Vyakthi (individual)- he who makes Vyaktha (manifest) the Shakthi (Divine power) that is in him. For this purpose he has come endowed with this body, and the intelligence needed to control it and divert it to useful channels of activity. Every man must achieve this goal by Dharmanishtta and Karmanishtta - the steady pursuit of morality and good deeds.


Manusia terlahir bukanlah hanya sekedar untuk memuaskan rasa dahaga atas keinginan-keinginannya (yang rendah/duniawi); melainkan ia terlahir guna memanifestasikan Divinity yang laten ada di dalam dirinya. Itulah sebabnya ia dijuluki sebagai Vyakthi (individu), yaitu ia yang membuat Vyaktha (termanifestasinya) Shakthi (Divine power) yang ada di dalam dirinya. Untuk tujuan itulah, ia telah dibekali dengan badan jasmani serta kepintaran untuk mengendalikannya serta mengarahkannya melalui berbagai saluran/channel kegiatan. Setiap orang harus mencapai tujuan itu melalui Dharmanishtta dan Karmanishtta – pelaksanaan nilai-nilai kemoralan dan kebajikan.

-BABA

Friday, August 29, 2008

Thoughts for the Day - 30th August 2008 (Saturday)


To realise God, it is not necessary to have wealth, gold, luxuries or scholarship. All that is needed is pure devotion. Without purity of thought, word and deed, it is impossible to experience the Divine. God cannot be realised through ostentation and conceit. The basic requisite is the shedding of selfishness and possessiveness so that one can engage oneself in actions in a disinterested spirit. Any person is entitled to embark on this quest irrespective of age, caste or gender.

Untuk mencapai kesadaran Ilahiah, engkau tidak perlu harus memiliki kekayaan, emas, perhiasan maupun gelar kesarjanaan. Satu-satunya yang dibutuhkan adalah bhakti (devotion) yang murni & luhur. Tanpa adanya kemurnian dalam pikiran, ucapan dan perbuatan, maka adalah tidak mungkin untuk mencapai Divine. Beliau tidak bisa direalisasikan melalui tindakan show-off (kepura-puraan) maupun kesombongan. Prasyarat utamanya adalah meninggalkan sikap selfishness (mementingkan diri sendiri) serta sikap kepemilikan agar engkau dapat melakukan tindakan dengan semangat tanpa kemelekatan. Setiap orang berhak untuk mencapai Divine Realisation, tanpa peduli usia, kasta maupun jenis-kelaminnya.

-BABA

Thursday, August 28, 2008

Thoughts for the Day - 29th August 2008 (Friday)


The questions that haunt us and while we live are - from where have we come? To where are we proceeding? How did the universe originate? All religions try to answer these questions. Man has set down in all lands certain rules and regulations in order to secure orderly and smooth running of his daily schedule of activities, directed to the actual process of living. Since they have become part of the code of conduct, they are also described as 'Discipline'.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering menghantui kita ketika masih hidup antara lain sebagai berikut: darimanakah kita berasal? kemanakah tujuan perjalanan/hidup kita? bagaimana asal-usul alam semesta? Semua agama mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Manusia telah menetapkan aturan dan regulasi dalam rangka untuk menciptakan keteraturan dan kelancaran jadwal kegiatan hariannya sebagai bagian dari proses kehidupan. Oleh karena aturan/regulasi tersebut adalah bagian dari kode-etik perilaku, maka ia juga disebut sebagai 'Disiplin'.
-BABA

Wednesday, August 27, 2008

Thoughts for the Day - 28th August 2008 (Thursday)


Never use foul words against another. Such words should never defile your tongue. Remember that there is God inside your heart, as well as in the hearts of everyone around you. He sees and hears everything. When you use harsh, angry and foul words against another, the God in you and the God in the other person is hurt. The tongue is a tool with which you can harm yourself and others too. So, be very careful; use it only for your good and for the good of others. The best way to use it is by speaking kind words, repeating the Name of God and singing His Glory.

Janganlah pernah menggunakan kata-kata yang kasar terhadap orang lain. Ucapan-ucapan seperti itu jangan pernah dibiarkan mengotori lidahmu. Ingatlah selalu bahwa Tuhan eksis di dalam hatimu dan demikian pula di dalam hati setiap orang di sekitarmu. Beliau melihat dan mendengarkan segalanya. Apabila engkau menggunakan kata-kata kasar yang penuh dengan amarah terhadap orang lain, maka itu berarti Tuhan yang ada di dalam dirimu dan juga di dalam diri orang lain akan 'terluka'. Lidah merupakan perangkat yang dapat mengakibatkan luka terhadap dirimu maupun terhadap orang lain. Oleh sebab itu, berhati-hatilah; pergunakanlah lidah hanya demi untuk kebaikanmu dan juga orang lain. Cara terbaik untuk mendaya-gunakannya adalah dengan mengucapkan tutur-kata yang baik, mengulangi nama Tuhan serta menyanyikan kemuliaan-Nya.
-BABA

Tuesday, August 26, 2008

Thoughts for the Day - 27th August 2008 (Wednesday)


Man does not live by food alone. In fact he lives by the power of the Atma. So you must use your strength of body and mind, wealth and education with intelligence, in order to realize the power of the soul. Without discrimination, what is the use of physical strength? Everyday, when you take food, you are offering eatables to the Fire that God has put in you to digest food. You have to eat in a prayerful mood, in profound gratitude. The Bhagavad Gita says that the fire that cooked the meal is God; the meal is God, the eater is God; the purpose of eating is to carry on the work entrusted by God, or pleasing to God; and the fruit of that work is progress towards God.

Kehidupan manusia tidaklah semata-mata hanya tergantung pada faktor makanan saja. Sebenarnya ia hidup berkat kekuatan Atma. Oleh sebab itu, hendaknya engkau mendaya-gunakan kekuatan jasmani dan rohani, kesejahteraan serta pendidikan dengan intellek (budhi), agar engkau dapat betul-betul memanfaatkan kekuatan jiwa (soul). Tanpa adanya diskriminasi (kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah), maka apalah gunanya mempunyai kekuatan fisik? Setiap hari ketika engkau bersantap, itu berarti engkau sedang mempersembahkan bahan makanan kepada Api yang telah diberikan oleh Tuhan di dalam dirimu guna mencerna makanan. Hendaknya proses mengkonsumsi makanan itu dijalankan dengan prayer mood dan perasaan bersyukur. Kitab Bhagavad Gita telah menyatakan bahwa api yang digunakan untuk memasak adalah Tuhan; makanan itu sendiri juga adalah Tuhan, yang memakan (manusia) adalah God; tujuan utama bersantap adalah untuk memiliki kekuatan agar dapat menjalankan tugas-tugas yang telah diberikan oleh-Nya atau untuk menyenangkan hati-Nya; agar buah hasil perbuatan tersebut dapat dijadikan sebagai tahapan untuk menuju kepada-Nya.
-BABA

Monday, August 25, 2008

Thoughts for the Day - 26th August 2008 (Tuesday)


One's actions decide one's destiny. It is of no avail to blame others for one's misfortune and misery. Nor is it correct to blame God as being partial or cruel. When one plants the seed of a bitter fruit, one can only expect a bitter fruit to grow. God is only a witness to the chain of causes and consequences. The way to escape this predicament is by dedicating every act to God in a spirit of detachment.

Perbuatanmu akan menentukan 'nasib'mu. Tak ada gunanya menyalahkan orang lain atas ketidak-beruntungan serta penderitaanmu. Demikian pula, tidaklah benar bila engkau mengatakan bahwa Tuhan bersikap tidak adil atau kejam. Ketika engkau menanam biji buah yang pahit, maka engkau hanya bisa menerima buah yang pahit kelak. Tuhan hanya bertindak sebagai saksi atas mata rantai sebab dan akibat. Jalan yang dapat ditempuh untuk meloloskan diri dari mata rantai ini dengan cara mendedikasikan setiap perbuatanmu kepada Tuhan dalam semangat ketidak-melekatan.
-BABA