Wednesday, August 6, 2008

Thoughts for the Day - 7th August 2008 (Thursday)


Discrimination is very essential in life. One must always inquire, “Is it good or bad?” and “Is it right or wrong?” We must accept the good and discard the bad. It is not enough that discrimination be practiced only for physical objects. We must use discrimination in our vision – in what we see. We must show discrimination in our words, in what we listen to, in our thoughts and, of course, in our actions and in our behaviour. Only then will the word ‘discrimination’ acquire significance.

Kemampuan diskriminatif sangatlah penting dalam kehidupan ini. Dengan perkataan lain, engkau harus selalu bertanya, "Apakah ini baik atau buruk?" dan "Apakah ini benar atau salah?" Kita harus menerima yang baik dan benar serta menjauhkan diri dari yang buruk dan salah. Tidaklah cukup bila kita hanya mempraktekkan diskriminasi di level/obyek fisik/materi saja. Kita juga harus menerapkannya dalam ucapan, hal-hal yang kita dengar, pikirkan dan tentunya dalam perilaku serta tindakan kita. Hanya dengan demikian, barulah istilah 'discrimination' memperoleh makna yang sebenarnya.
-BABA

Tuesday, August 5, 2008

Thoughts for the Day - 6th August 2008 (Wednesday)

Whoever subdues his egoism, conquers his selfish desires, destroys his baser feelings and impulses and gives up the natural tendency to regard the body as the self, he is surely on the path of Dharma (righteousness). The goal of Dharma is the merging of the wave in the ocean, the merging of the self in the Higher self.

Siapapun juga yang berhasil mengatasi (menekan) egoismenya, maka itu berarti ia sudah berhasil mengatasi keinginan-keinginannya yang selfish (yang mementingkan diri sendiri), ia sudah menghancurkan perasaan serta dorongan batin (yang salah) yang menganggap seolah-olah badan jasmani ini sebagai diri (self). Dengan perkataan lain, ia sudah berada di jalan Dharma (kebenaran). Tujuan utama Dharma adalah untuk menyatukan kembali gelombang dengan samudera, yaitu penyatuan (merging) diri masing-masing (Atma) kepada Higher Self (Paramatma).
-BABA

Monday, August 4, 2008

Thoughts for the Day - 5th August 2008 (Tuesday)


The body, the sense organs, the mind and the intellect are the instruments for a human being. Only when one understands the secrets of these instruments will one be able to comprehend the Atmic Principle. If you cannot understand the vesture you are wearing, how can you understand the mystery of the infinite, indwelling Spirit? The body is the basic instrument for all the actions in life and for the acquisition of all knowledge and skills. The body should be regarded primarily as an instrument for the realization of the Divine. Attachment to the body for physical pleasures should be given up. It is essentially sacred and precious for it is the abode of the Atma and should be used only for sacred purposes.

Badan jasmani, panca indera, mind (batin) dan intellect (buddhi) adalah berbagai instrumen yang telah diberikan kepada setiap orang (manusia). Prinsip Atmic hanya bisa dipahami jikalau engkau mengerti rahasia dari instrumen-instrumen itu. Apabila engkau tidak mengerti vesture (apparel/pakaian) yang sedang engkau kenakan ini, maka bagaimanalah mungkin engkau bisa memahami rahasia Spirit yang tak terbatas (infinite)? Badan fisik merupakan instrumen dasar yang dibutuhkan oleh setiap bentuk tindakan dalam kehidupan serta untuk akuisisi pengetahuan dan ketrampilan. Badan jasmani hendaknya diperlakukan sebagai instrumen utama dalam mencapai realisasi Divinity. Kemelekatan terhadap kenikmatan indriawi hendaknya ditinggalkan. Badan (fisik) pada intinya merupakan wahana yang suci dan berharga, sebab ia merupakan tempat bersemayamnya Atma dan oleh sebab itu, gunakanlah badanmu ini hanya untuk melakukan hal-hal/maksud yang mulia.
-BABA

Sunday, August 3, 2008

Thoughts for the Day - 4th August 2008 (Monday)

Look at the clouds that wander across the sky. Note that they have no intimate lasting relationship with the sky, which they hide for a short while. Such is the relationship between your body and you; you who are of the nature of Paramatma (God) and the body which is but a temporary, passing cloud that hides the Truth.


Lihatlah kumpulan awan yang berkelana di atas langit. Perhatikanlah bahwa mereka tak memiliki hubungan yang langgeng dengan langit yang mereka sembunyikan sesaat. Demikianlah kondisi hubungan yang engkau miliki dengan badan jasmanimu; dirimu (yang sejati) adalah Paramatma sedangkan badan fisikmu bersifat temporer, bagaikan awan berlalu yang menyembunyikan kebenaran (absolut).

-BABA

Saturday, August 2, 2008

Thoughts for the Day - 3rd August 2008 (Sunday)

The fact that in every being there is the Supreme is an inescapable reality. God will not be released if denied or enter if invited. He is there, in the very 'Being' of every being. This is the truth and if you want to know it and experience it, develop the vision of the Jnani (wise person). Just as the telescope enables you to see things that are far away, the 'Jnanascope' is essential to see Brahman (divinity) immanent in everything.


Fakta bahwa di dalam diri setiap orang terdapat Divine merupakan realitas yang tak terelakkan. Beliau tidak akan pergi walaupun diingkari dan Ia juga tidak akan datang walaupun diundang. Beliau tetap ada di sana, sebagai inti yang hakiki. Inilah kebenaran, dan jikalau engkau ingin mengetahui dan merasakannya, maka engkau perlu mengembangkan Jnani vision (pandangan terang). Seperti halnya engkau membutuhkan perangkat teleskop untuk melihat benda-benda antariksa yang jauh; maka dalam hal ini, engkau membutuhkan 'Jnanascope' agar dapat melihat Brahman (divinity) yang ada di dalam segala-galanya.

-BABA

Friday, August 1, 2008

Thoughts for the Day - 2nd August 2008 (Saturday)


The impure impulses bind you to the wheel of Samsara (worldly existence) and tie you down to this earth. The giant tree called mind has two seeds: Vasana (impulses) and Prana (life breath). The seed grows in to the tree, the tree yields the seed. The Prana moves because of the Vasanas. The Vasanas operate because of the Prana. But if beneficent Vasanas are encouraged, they will not bind the mind. They are like seeds that are fried, which will not sprout. These Vasanas are characterised by such activities as the association with holy persons, reverence for the guru, charity, fortitude, love, patience, truth, courage, sense control, etc.

Impuls (dorongan batin) yang impure (tidak murni) cenderung akan mengikatmu sehingga engkau akan selalu terjerat dalam perputaran roda Samsara (tumimbal lahir). Pohon raksasa yang dinamakan batin (mind) mempunyai dua jenis benih/biji, yaitu: Vasana (impuls/dorongan batin) dan Prana (nafas kehidupan). Dari benih/biji akan tumbuh sebatang pohon, dan kemudian pohon itu menghasilkan benih/biji. Pergerakan Prana ditimbulkan oleh Vasanas, sedangkan Prana merupakan kekuatan pendorong bagi Vasanas. Walaupun begitu, apabila engkau sanggup mendorong timbulnya Vasanas yang beneficient (yang positif/yang baik), maka Vasanas itu tidak akan mengikat batinmu. Ibaratnya seperti benih/biji yang sudah dimasak, maka potensinya untuk berbuah sudah tidak ada lagi. Vasanas seperti ini ditandai oleh aktivitas-aktivitas seperti: pergaulan/persekutuan yang suci, penghormatan terhadap guru, sikap kedermawanan, kesabaran, cinta-kasih, tenggang-rasa, keberanian, pengendalian indera dan lain-lain.
-BABA

Thoughts for the Day - 1st August 2008 (Friday)


Only those who have filled themselves with love and have lived in the light of that love are called men. Those devoid of love are demons. Those saturated with love are incapable of spite, selfishness, injustice, wrong and misconduct. But in those who have no love, the above qualities are predominant. By love is meant love which is unsullied, unselfish, steadfast and devoid of impurity.

Hanya bagi mereka yang memiliki sifat-sifat seperti ini barulah layak untuk disebut sebagai manusia, yaitu ia yang mengisi hatinya dengan cinta-kasih dan hidup di bawah cahaya cinta-kasih. Tanpa adanya cinta-kasih, maka ia lebih cocok untuk disebut sebagai demons (setan). Mereka yang bernafaskan cinta-kasih tidak akan mudah terpengaruhi oleh sifat-sifat seperti: dengki, congkak, ketidak-adilan serta perilaku yang salah lainnya. Sebaliknya sifat-sifat seperti itu justru sangat dominan di dalam diri mereka yang hampa dalam cinta-kasih. Yang dimaksud dengan cinta-kasih di sini adalah cinta-kasih yang tak ternoda, yang tidak mementingkan dirinya sendiri, yang mantap serta bebas dari segala ketidak-murnian lainnya.
-BABA