Sunday, December 7, 2008

Thoughts for the Day - 7th December 2008 (Sunday)


All religions have taught only what is good for humanity. Religion should be practised with this awareness. If the minds are pure, how can religion be bad? It is a mark of ignorance to consider one religion as superior and another as inferior and develop religious differences on this basis. The teachings of all religions are sacred. The basic doctrines are founded on truth. Atma-Tatwa (the truth of the Spirit) is the essence of all religions, the message of all the scriptures and the basis of all metaphysics.


Semua ajaran agama hanya mengajarkan hal-hal yang baik bagi umat manusia. Agama haruslah dipraktekkan dengan kesadaran seperti ini. Jikalau batin kita murni, bagaimana mungkin terdapat agama yang jelek? Jikalau ada orang yang menganggap agamanya lebih superior daripada agama lainnya atau jikalau ada yang mengembangkan fanatisme dengan dasar seperti ini, maka itu merupakan pertanda kebodohan batin yang sangat fatal. Semua ajaran agama adalah suci adanya. Semuanya berdasarkan kebenaran. Atma-Tatwa (kebenaran tentang Atma/Spirit/Jiwa) merupakan esensi dasar dari seluruh ajaran agama, pesan inti dari seluruh kitab suci dan dasar dari semua aspek metafisika.

-BABA


Friday, December 5, 2008

Thoughts for the Day - 6th December 2008 (Saturday)


The entire world is filled with love. The world is Love and Love is the world. In every human being, love is present as an effulgence which shines in his heart. Love is life and life is love. Love is an inborn quality in man. It is his very life-breath. Even as the power to burn is natural for fire, and the power to cool is natural for water, love is a natural trait for man. Without it, he ceases to be human.

Seisi dunia ini dilingkupi oleh cinta-kasih, sebab dunia adalah cinta-kasih dan cinta-kasih adalah dunia. Di dalam diri setiap insan, cinta-kasih eksis sebagai pelita yang bersinar di dalam hatinya. Cinta-kasih adalah kehidupan dan kehidupan adalah cinta-kasih. Cinta-kasih merupakan kualitas yang sudah laten ada di dalam diri manusia sejak lahir. Cinta-kasih merupakan nafas kehidupannya. Sebagaimana halnya kekuatan untuk membakar adalah sifat alamiah dari bara api, dan kekuatan untuk mendinginkan sebagai sifat alami dari air; maka demikianlah, cinta-kasih adalah sifat alami manusia. Tanpa cinta-kasih, maka yang bersangkutan tidaklah layak untuk disebut sebagai manusia.

-BABA

Thursday, December 4, 2008

Thoughts for the Day - 5th December 2008 (Friday)


Only a person who has the attitude of Kshama (forbearance) can be considered to be endowed with sacred love. This cannot be learned from textbooks; nor can it be acquired from preceptors. It is only when we face problems and difficulties that this quality of forbearance and forgiveness has scope for taking root. When one is confronted with problems and difficulties, one should not get upset and become a victim of depression, which is a sign of weakness. Instead, one must confront the situation with an attitude of tolerance and forgiveness, without getting agitated or giving rise to anger, hatred and revengeful thoughts.

Prasyarat seseorang untuk disebut sebagai orang yang memiliki cinta-kasih suci & murni adalah ia yang memiliki sikap Kshama (forbearance = kesabaran). Attitude seperti ini tidak bisa dipelajari dari buku-buku teks; dan ia juga tidak bisa diperoleh dari para preceptor (guru). Sikap seperti itu hanya bisa terlatih ketika engkau sedang menghadapi permasalahan dan kesulitan. Ketika engkau sedang berhadapan dengan persoalan hidup, maka janganlah engkau jengkel dan membiarkan dirimu menjadi korban depresi; sebab bila hal tersebut yang terjadi, maka itu adalah pertanda bahwa engkau masih lemah. Sebaliknya, hendaknya engkau menghadapi situasi yang ada dengan semangat toleransi dan siap untuk memaafkan. Engkau tidak perlu harus menjadi marah, benci maupun timbul keinginan untuk balas-dendam.
-BABA

Wednesday, December 3, 2008

Thoughts for the Day - 4th December 2008 (Thursday)


Where there is Love, there is Peace. Where there is Peace, there is Truth. Where there is Truth, there is Bliss. Where there is Bliss, there is God. To promote love, the first requisite is faith. It is only when you believe that one is your mother that you develop love towards her. If you do not regard her as your mother, you will not have that love for her. First of all, strengthen your faith. Without faith all kinds of worship and all spiritual disciplines are of no use; they are a waste of time. Then cultivate love. Everything grows out of love. That love will reveal to you your true self. That love will confer bliss on you. Therefore, eschew hatred; develop love.

Dimana terdapat cinta-kasih, maka di sana akan terdapat kedamaian. Dimana terdapat kedamaian, maka di situ terdapat kebenaran. Dimana terdapat kebenaran, maka di sana terdapat bliss. Dan apabila terdapat bliss, maka Tuhan akan terealisasikan. Untuk mempromosikan cinta-kasih, maka persyaratan pertama adalah keyakinan. Apabila engkau yakin bahwa seseorang adalah benar ibumu, maka barulah cinta-kasihmu akan dicurahkan terhadapnya. Namun sebaliknya, apabila engkau tidak menganggapnya sebagai ibumu, maka tentunya cinta-kasih seperti itu tidak akan ada. Jadi, sebagai langkah pertama, engkau harus memperkokoh keyakinamu. Tanpa adanya keyakinan, maka segala bentuk ibadah maupun praktek spiritual lainnya menjadi tak ada gunanya; semuanya itu hanya buang-buang waktu saja. Setelah adanya keyakinan, kembangkanlah cinta-kasih. Segala sesuatu tumbuh & berkembang berkat cinta-kasih. Jati dirimu yang sebenarnya akan dapat diketahui melalui cinta-kasih. Melalui cinta-kasih, bliss akan menjadi milikmu. Oleh sebab itu, hentikanlah kebencian dan kembangkanlah cinta-kasih.
-BABA

Tuesday, December 2, 2008

Thoughts for the Day - 3rd December 2008 (Wednesday)


Swimming up the river is a bit hard, but every stroke takes one nearer to the goal and not farther. For overcoming the strain, one must have the raft called Dhyana (meditation). Through Dhyana, the weaknesses of the physical frame can be overcome, the waywardness of the mind can be controlled and the progress towards the seat of the Grace is made easy. One can thus attain Divinity.

Berenang melawan arus sungai memang agak sulit, namun setiap kayuhan tanganmu akan membawamu semakin mendekati tujuan. Agar usahamu menjadi lebih ringan, maka engkau bisa menggunakan perahu yang disebut sebagai Dhyana (meditasi). Melalui Dhyana, kelemahan badan jasmani bisa diatasi; demikian pula, mind yang tidak stabil akan dapat dikendalikan. Dengan demikian, Rahmat Ilahi akan semakin dekat dan pada akhirnya engkau akan mencapai Divinity.
-BABA

Monday, December 1, 2008

Thoughts for the Day - 2nd December 2008 (Tuesday)


Realize that you have within you the source of power, wisdom and joy. Assert that you are unconquerable and free, that you cannot be tempted or frightened in to wrong. So long as a trace of body consciousness persists in you, the search for God must continue. Do not get caught in the sticky tangles of the external world. Do not harden your heart through greed and hate. Instead, soften it with love. Cleanse it through pure habits of living and thinking. Make it your shrine, wherein you install and worship God. Then, you can enter the sacred precincts of Moksha (Liberation).

Sadarilah bahwa di dalam dirimu terdapat sumber kekuatan, kebijaksanaan dan kebahagiaan. Milikilah pandangan yang teguh bahwa engkau tak bisa terkalahkan dan bebas, bahwa engkau tidak akan mudah dijebak untuk menyeleweng ke jalan yang salah. Selama kesadaran badan jasmaniah masih ada di dalam dirimu, maka selama itu pula engkau harus senantiasa berusaha untuk mencari Tuhan. Janganlah engkau terperosok ke dalam perangkap duniawi. Janganlah engkau membiarkan hatimu menjadi keras oleh karena faktor keserakahan dan kebencian. Melainkan, cobalah untuk membuatnya menjadi lunak melalui cinta-kasih. Bersihkanlah hatimu dengan cara mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup serta pikiran yang suci dan murni. Jadikanlah hatimu sebagai altar dimana engkau bisa menempatkan dan memuja Tuhan. Dengan demikian, maka engkau berhak untuk memasuki halaman Moksha.
-BABA

Thoughts for the Day - 1st December 2008 (Monday)


All that you speak is a reflection of inner thoughts. All that you do is a reflection of inner action. Hence, to act according to your inner impulse is Dharma (right conduct). To speak what you feel inside is Sathya (truth). To contemplate on what you experience in your heart is Shanti (peace). To understand properly the promptings of the heart is Ahimsa (non-violence). Consideration for all emanating from the heart is Prema (love). The five values are thus reflections of feelings emanating from the heart. Being truly human means having complete harmony between thought, word and deed. If there is divergence between thought, word and deed, what is the outcome? Fruitless action.

Segala sesuatu yang engkau ucapkan adalah refleksi dari inner thoughts. Segala sesuatu yang engkau lakukan adalah refleksi dari inner action. Dengan demikian, apabila engkau bertindak sesuai dengan inner impulse (dorongan hati nurani), maka perbuatan itu merupakan Dharma (kebajikan). Mengucapkan hal-hal yang engkau rasakan di dalam (hati) adalah Sathya (Kebenaran). Berkontemplasi terhadap hal-hal yang engkau rasakan adalah Shanti (kedamaian). Memahami secara benar dorongan hati nurani adalah Ahimsa (tanpa-kekerasan). Bertenggang-rasa terhadap segala sesuatu yang muncul dari dalam adalah Prema (cinta-kasih). Kelima nilai-nilai (kemanusiaan) tersebut merupakan refleksi dari perasaan yang muncul dari hati nurani. Manusia sejati adalah mereka yang memiliki keharmonisan dalam pikiran, ucapan dan perbuatannya. Apa jadinya jikalu terjadi penyimpangan antara pikiran, ucapan dan perbuatan? Tiada lain adalah fruitless action (perbuatan yang tak ada manfaat/faedahnya).
-BABA