Thursday, February 28, 2008
Thoughts for the Day - 29th February 2008 (Friday)
Wednesday, February 27, 2008
Thoughts for the Day - 28th February 2008 (Thursday)
Tuesday, February 26, 2008
Thoughts for the Day - 27th February 2008 (Wednesday)
Monday, February 25, 2008
Thoughts for the Day - 26th February 2008 (Tuesday)
Thursday, February 21, 2008
Thoughts for the Day - 25th February 2008 (Monday)
The first step to direct knowledge of God is spiritual practice; the first step in spiritual practice is service to the Guru performed in total faith and surrender. At the same time, the responsibility of the Guru is to instruct the disciple on the nature of God, to instruct continuously and in simple ways. When the disciple grasps this instruction, it becomes indirect knowledge. This indirect knowledge can be transformed into direct knowledge by constant recapitulation and by constantly turning it over in the mind.
Langkah pertama untuk mendapatkan pengetahuan langsung tentang Tuhan adalah melalui praktek spiritual; dan langkah pertama dalam praktek spiritual adalah dengan melakukan tindakan pelayanan terhadap Guru yang dilaksanakan secara penuh keyakinan dan surrender (tulus ikhlas). Pada saat yang bersamaan, tanggung-jawab seorang Guru adalah memberikan instruksi kepada siswa-siswanya tentang aspek ke-Tuhanan, memberi arahan secara terus-menerus dan secara sederhana. Apabila sang siswa berhasil memahami dan menghayati arahan-arahan gurunya, maka pemahaman itu akan menjadi pengetahuan yang indirect (tidak langsung). Selanjutnya pengetahuan yang indirect tersebut akan ditransformasikan menjadi pengetahuan direct (langsung) dengan melalui serangkaian proses rekapitulasi dan perenungan di dalam batin.
-BABA
Thoughts for the Day - 24th February 2008 (Sunday)
Be always in the company of devotees of God. Through this Sathsang (good company), Viveka (discrimination) and Vairagya (detachment) will be inculcated in you. These qualities will strengthen the spirit and endow you with inner peace. If the mind is subdued, that alone is enough; it is not then necessary to conquer the external senses. If the mind has no attachment to the sense objects, the senses have nothing to cling on to and they become powerless; likes and dislikes are both starved out of existence. The bonds with the objective world are cut, though the senses may still be affected by it. For him who has been blessed by the awareness of the Atma, how can anything worldly bring grief or joy?
Senantiasalah berada di dalam persekutuan dengan para bhakta Tuhan, sebab melalui Sathsang ini, maka Viveka (kemampuan membedakan antara yang benar dan salah) dan Vairgaya (ketidak-melekatan) akan bersemi di dalam dirimu. Kualitas-kualitas (positif) ini akan memperkuat spirit dan membekalimu dengan inner peace (kedamaian batin). Jikalau mind sudah berhasil dijinakkan, maka itu saja sebenarnya sudah cukup; engkau tidak perlu lagi bersusah-payah menaklukkan indera-indera eksternal. Jikalau mind sudah tidak melekat lagi terhadap obyek-obyek indriawi, maka panca indera tidak akan bisa memperbudakmu lagi; semua perasaan suka dan tidak suka akan sirna. Hubungan dengan dunia obyektif sudah terputus, walaupun panca indera kita masih akan tetap terpengaruh olehnya. Bagi mereka yang telah diberkahi dengan kesadaran Atmic ini, maka ia sudah tidak akan terpengaruh lagi oleh hal-hal yang duniawi (kesenangan dan kesedihan).
-BABA
Thoughts for the Day - 23rd February 2008 (Saturday)
The sacred scriptures of Bharat loudly proclaim that the individual is the architect of his own fate. Whatever form the person craves for now while alive in this birth, that form he attains after death. Therefore, it is clear that Karma (consequences of one's actions) decides birth and wealth, the character and attitude, the level of intelligence. The joys and sorrows of this life are the earnings gathered during the previous life. The inference, therefore, is inevitable that the next life of the individual will be in consonance with the activities prompted by the level of Karma in this life.
Kitab-kitab suci Bharat secara nyata memproklamirkan bahwa setiap orang/individu adalah arsitek dari nasibnya sendiri. Apapun juga wujud/bentuk (kehidupan) yang digandrungi oleh seseorang semasa hidupnya, maka wujud/bentuk itulah yang akan ia peroleh setelah kematiannya. Oleh sebab itu, sudah jelas bahwa Karma (konsekuensi perbuatan seseorang) menentukan kelahiran dan kesejahteraan, karakter dan sikap serta tingkat intelligensianya kelak. Kegembiraan dan kesedihan dari kehidupan ini merupakan hasil atau buah-akibat dari perbuatan-perbuatan di kehidupan yang lampau. Kesimpulannya adalah bahwa kondisi kehidupan yang akan datang akan sesuai dengan kegiatan atau hasil perbuatan semasa kehidupan saat ini (Karma kehidupan sekarang).
-BABA