Thursday, February 28, 2008

Thoughts for the Day - 29th February 2008 (Friday)



The cosmos does not exist. It is an illusion. It never is, has been or will be. The creation of the cosmos, the dissolution of the cosmos, these billions of individuals emerging and merging back, all this is but a dream. There is no separate individualised soul (Jivatma), how can there be billions of Jivatmas? There is only one Indivisible Complete Absolute. Like the one sun reflected as a billion suns in a billion lakes and other water bodies, the Jivatmas are but reflections of the One in the minds that it shines upon.
Kosmos (alam semesta) ini tidak eksis. Ia adalah ilusi belaka. Ia tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada. Penciptaan dan penghancuran alam semesta ini adalah mimpi saja. Demikian pula, milyaran individu yang lahir dan meninggal itu juga adalah mimpi. Oleh karena tidak mungkin ada Jivatma (individualised soul) yang berbeda-beda, maka mana mungkin terdapat milyaran Jivatma? Yang eksis adalah Indivisible Complete Absolut (Tuhan Yang Maha Esa/Paramatma). Sebagaimana halnya matahari dipantulkan sebagai jutaan matahari di jutaan danau dan permukaan air lainnya, maka demikian pula, Jivatma tiada lain adalah merupakan pantulan Paramatma di dalam batin masing-masing individu.
-BABA

Wednesday, February 27, 2008

Thoughts for the Day - 28th February 2008 (Thursday)



Virtues are more important than physical beauty. Observing the good and bad in the world, one should develop discrimination to choose the former. One should strive hard to cultivate virtues. Right from an early age, one should inculcate good qualities and develop good character. Wherever one may go, it is character that is of utmost importance. It is virtues that lend greatness to any person. If everyone develops good character, the whole country will become good.
Virtues (perilaku/karakter yang luhur/bajik) adalah jauh lebih penting daripada sekedar kecantikan fisik. Setelah mencermati kebajikan dan kejahatan yang ada di dunia ini, maka engkau sudah harus bisa mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah. Engkau harus berupaya untuk memupuk sifat-sifat yang luhur & bajik. Mulai dari sejak usia dini, kembangkanlah kualitas-kualitas (diri) yang positif dan juga karakter yang baik. Kemuliaan nama seseorang ditentukan oleh perilaku & karakternya yang luhur itu. Jikalau setiap orang mengembangkan karakter yang positif, maka negara ini akan berkembang menjadi baik.
-BABA

Tuesday, February 26, 2008

Thoughts for the Day - 27th February 2008 (Wednesday)



The five elements each have a characteristic that affects and attracts one of the five senses. The ether as sound fascinates the mind through the ear; air as touch draws the mind to itself through the skin; fire as form manipulates the mind in its favour through the eye; water as taste enslaves the mind through the tongue; and earth as smell intoxicates the mind through the nose. The senses interact with the external world and produce experiences which yield joy or grief. Falsely identifying himself with the senses, man suffers in the coils of attachment. He does not realize that he is neither the body nor the senses, that he is Brahman (Godhead) Himself.
Masing-masing unsur dari panca elemen memiliki karakteristik yang dapat mempengaruhi serta menarik bagi masing-masing panca indria kita. Sebagai contoh: elemen ether dalam wujudnya sebagai suara akan dapat mempengaruhi mind melalui indria telinga; elemen udara dalam bentuk sentuhan akan berpengaruh melalui indria kulit; elemen api sebagai wujud/rupa memanipulasi mind melalui indria mata; elemen air sebagai rasa membelenggu mind melalui kenikmatan di lidah; dan elemen tanah sebagai unsur aroma/wewangian sanggup membuai mind melalui indria hidung. Jadi, terlihat bahwa panca indria kita berinteraksi dengan dunia eksternal sehingga menghasilkan pengalaman senang atau sedih. Oleh karena manusia masih suka salah mengidentifikasikan dirinya dengan panca indrianya, maka alhasil ia mengalami penderitaan akibat masih terjeratnya dirinya dalam lingkaran kemelekatan. Ia belum menyadari bahwa dirinya sebenarnya bukanlah badan jasmani maupun panca indrianya itu! Sebenarnya identitas manusia yang sejati adalah Brahman (Tuhan)!
-BABA

Monday, February 25, 2008

Thoughts for the Day - 26th February 2008 (Tuesday)



Through activity, man attains purity of consciousness. In fact, man has to welcome activity with this end in view. And why strive for a pure consciousness? If a bucket is filled with polluted and muddy water, can you see its bottom? Similarly, within man's heart, deep down in his consciousness, we have the Atma. But it can be cognized only when the consciousness is clarified. Your imaginations, your inferences, your judgements and prejudices, your passions, emotions and egoistic desires, muddy the consciousness and make it opaque. How, then, can you become aware of the Atman, that is at the very base? Through Seva (selfless service) rendered without any desire to placate one's ego and with only the well-being of others in view, it is possible to cleanse the consciousness and have the Atman revealed.
Melalui serangkaian aktivitas/kegiatan, manusia akan mampu untuk mencapai purity of consciousness (pemurnian kesadaran). Setiap bentuk kegiatan yang engkau lakukan haruslah dilaksanakan dengan landasan pengertian ini. Lalu, pertanyaannya sekarang adalah: mengapa kita harus berupaya untuk mencapai kesadaran yang murni? Perumpamaannya adalah: seandainya air di dalam ember sangat kotor dan berlumpur, apakah engkau akan bisa melihat bagian bawah (dasar) dari ember itu? Nah, demikian pula, di dasar (hati/kesadaran) manusia, kita dapat menemukan Atma. Namun Sang Atma tersebut hanya bisa teridentifikasi jikalau kesadaran kita telah menjadi jernih. Selama ini kesadaranmu sering dikaburkan/dikecoh oleh imajinasimu, pandangan yang keliru, emosi dan keinginan-keinginan egoistis. Bila demikian halnya, bagaimana mungkin engkau bisa aware terhadap Atman yang tiada lain adalah jati-dirimu yang sebenarnya? Atma hanya bisa direalisasikan melalui upaya-upaya pemurnian yang dijalankan melalui tindakan seva (pelayanan tanpa pamrih) yang terbebas dari ego serta hanya mendambakan kebahagiaan & kesejahteraan orang lain.
-BABA

Thursday, February 21, 2008

Thoughts for the Day - 25th February 2008 (Monday)



The first step to direct knowledge of God is spiritual practice; the first step in spiritual practice is service to the Guru performed in total faith and surrender. At the same time, the responsibility of the Guru is to instruct the disciple on the nature of God, to instruct continuously and in simple ways. When the disciple grasps this instruction, it becomes indirect knowledge. This indirect knowledge can be transformed into direct knowledge by constant recapitulation and by constantly turning it over in the mind.

Langkah pertama untuk mendapatkan pengetahuan langsung tentang Tuhan adalah melalui praktek spiritual; dan langkah pertama dalam praktek spiritual adalah dengan melakukan tindakan pelayanan terhadap Guru yang dilaksanakan secara penuh keyakinan dan surrender (tulus ikhlas). Pada saat yang bersamaan, tanggung-jawab seorang Guru adalah memberikan instruksi kepada siswa-siswanya tentang aspek ke-Tuhanan, memberi arahan secara terus-menerus dan secara sederhana. Apabila sang siswa berhasil memahami dan menghayati arahan-arahan gurunya, maka pemahaman itu akan menjadi pengetahuan yang indirect (tidak langsung). Selanjutnya pengetahuan yang indirect tersebut akan ditransformasikan menjadi pengetahuan direct (langsung) dengan melalui serangkaian proses rekapitulasi dan perenungan di dalam batin.

-BABA

Thoughts for the Day - 24th February 2008 (Sunday)



Be always in the company of devotees of God. Through this Sathsang (good company), Viveka (discrimination) and Vairagya (detachment) will be inculcated in you. These qualities will strengthen the spirit and endow you with inner peace. If the mind is subdued, that alone is enough; it is not then necessary to conquer the external senses. If the mind has no attachment to the sense objects, the senses have nothing to cling on to and they become powerless; likes and dislikes are both starved out of existence. The bonds with the objective world are cut, though the senses may still be affected by it. For him who has been blessed by the awareness of the Atma, how can anything worldly bring grief or joy?

Senantiasalah berada di dalam persekutuan dengan para bhakta Tuhan, sebab melalui Sathsang ini, maka Viveka (kemampuan membedakan antara yang benar dan salah) dan Vairgaya (ketidak-melekatan) akan bersemi di dalam dirimu. Kualitas-kualitas (positif) ini akan memperkuat spirit dan membekalimu dengan inner peace (kedamaian batin). Jikalau mind sudah berhasil dijinakkan, maka itu saja sebenarnya sudah cukup; engkau tidak perlu lagi bersusah-payah menaklukkan indera-indera eksternal. Jikalau mind sudah tidak melekat lagi terhadap obyek-obyek indriawi, maka panca indera tidak akan bisa memperbudakmu lagi; semua perasaan suka dan tidak suka akan sirna. Hubungan dengan dunia obyektif sudah terputus, walaupun panca indera kita masih akan tetap terpengaruh olehnya. Bagi mereka yang telah diberkahi dengan kesadaran Atmic ini, maka ia sudah tidak akan terpengaruh lagi oleh hal-hal yang duniawi (kesenangan dan kesedihan).

-BABA

Thoughts for the Day - 23rd February 2008 (Saturday)



The sacred scriptures of Bharat loudly proclaim that the individual is the architect of his own fate. Whatever form the person craves for now while alive in this birth, that form he attains after death. Therefore, it is clear that Karma (consequences of one's actions) decides birth and wealth, the character and attitude, the level of intelligence. The joys and sorrows of this life are the earnings gathered during the previous life. The inference, therefore, is inevitable that the next life of the individual will be in consonance with the activities prompted by the level of Karma in this life.

Kitab-kitab suci Bharat secara nyata memproklamirkan bahwa setiap orang/individu adalah arsitek dari nasibnya sendiri. Apapun juga wujud/bentuk (kehidupan) yang digandrungi oleh seseorang semasa hidupnya, maka wujud/bentuk itulah yang akan ia peroleh setelah kematiannya. Oleh sebab itu, sudah jelas bahwa Karma (konsekuensi perbuatan seseorang) menentukan kelahiran dan kesejahteraan, karakter dan sikap serta tingkat intelligensianya kelak. Kegembiraan dan kesedihan dari kehidupan ini merupakan hasil atau buah-akibat dari perbuatan-perbuatan di kehidupan yang lampau. Kesimpulannya adalah bahwa kondisi kehidupan yang akan datang akan sesuai dengan kegiatan atau hasil perbuatan semasa kehidupan saat ini (Karma kehidupan sekarang).

-BABA