Showing posts with label Karma. Show all posts
Showing posts with label Karma. Show all posts

Thursday, February 21, 2008

Thoughts for the Day - 23rd February 2008 (Saturday)



The sacred scriptures of Bharat loudly proclaim that the individual is the architect of his own fate. Whatever form the person craves for now while alive in this birth, that form he attains after death. Therefore, it is clear that Karma (consequences of one's actions) decides birth and wealth, the character and attitude, the level of intelligence. The joys and sorrows of this life are the earnings gathered during the previous life. The inference, therefore, is inevitable that the next life of the individual will be in consonance with the activities prompted by the level of Karma in this life.

Kitab-kitab suci Bharat secara nyata memproklamirkan bahwa setiap orang/individu adalah arsitek dari nasibnya sendiri. Apapun juga wujud/bentuk (kehidupan) yang digandrungi oleh seseorang semasa hidupnya, maka wujud/bentuk itulah yang akan ia peroleh setelah kematiannya. Oleh sebab itu, sudah jelas bahwa Karma (konsekuensi perbuatan seseorang) menentukan kelahiran dan kesejahteraan, karakter dan sikap serta tingkat intelligensianya kelak. Kegembiraan dan kesedihan dari kehidupan ini merupakan hasil atau buah-akibat dari perbuatan-perbuatan di kehidupan yang lampau. Kesimpulannya adalah bahwa kondisi kehidupan yang akan datang akan sesuai dengan kegiatan atau hasil perbuatan semasa kehidupan saat ini (Karma kehidupan sekarang).

-BABA

Monday, December 24, 2007

Thoughts for the Day - 27th December 2007 (Thursday)




In rendering service, one should have no thought of one’s self. One should only consider how well one can render the service as an offering to the Divine. One should note the difference between Karma (action) and Karma Yoga (action as spiritual discipline). Ordinary activity is motivated by self interest or the desire to achieve some objective. In Karma Yoga, the action is desireless. Ordinary Karma is the cause of birth, death and rebirth, whereas Karma Yoga leads to freedom from birth. You should regard all service as a form of Karma Yoga – rendering service without any expectation of reward, and without even the feeling that one is ‘serving’ others. Any service done to anyone is actually service to the Divine.

Dalam memberikan pelayanan, engkau perlu memastikan bahwa tidak ada unsur kepentingan pribadi. Satu-satunya hal yang perlu menjadi pertimbangan adalah seberapa baiknya pelayanan yang dapat diberikan sebagai bentuk persembahan kepada Divine. Engkau harus membedakan antara Karma (tindakan) dan Karma Yoga (tindakan sebagai disiplin spiritual). Kegiatan/tindakan (Karma) pada umumnya dimotivasi oleh kepentingan pribadi ataupun keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Sedangkan di dalam Karma Yoga, tindakan/kegiatan bersifat tanpa keinginan (desireless). Karma adalah sumber penyebab kelahiran, kematian dan kelahiran-kembali; sedangkan Karma Yoga justru menuntun kita menuju pembebasan dari kelahiran-kembali. Annggaplah setiap bentuk kegiatan pelayanan sebagai salah-satu wujud Karma Yoga – yaitu melayani tanpa harapan imbal-balik, dan bahkan tanpa disertai oleh perasaan bahwa seolah-olah engkau sedang ‘melayani’ orang lain. Pelayanan yang diberikan kepada siapapun pada hakekatnya adalah pelayanan kepada Divine.

- BABA