Monday, March 31, 2008

Thoughts for the Day - 1st April 2008 (Tuesday)


If you allow the wind of doubt or the sun of despair to affect the pot of Ananda (bliss) that you have filled in your heart, it will evaporate quickly. But if you keep the pot in the cool waters of good company and good deeds, it can be preserved undiminished for ever. Ananda also grows when you dwell on it in silence and recapitulate the circumstances which yielded it. That is why Manana (rumination) is held so important a part of spiritual effort.

Jikalau engkau membiarkan angin keragu-raguan ataupun mentari keputus-asaan mempengaruhi Ananda yang telah secara susah-payah engkau isi di dalam hatimu, maka akibatnya adalah bahwa kandungan Ananda-mu tersebut akan menguap secara cepat. Akan tetapi, jikalau engkau menyimpannya di tengah-tengah air sejuk dalam wujud pergaulan yang saleh dan perbuatan bajik, maka Ananda yang engkau miliki akan bisa dijaga & awet untuk selamanya. Ketahuilah bahwa Ananda juga tumbuh (berkembang) apabila engkau berkontemplasi di tengah-tengah keheningan dan memelihara kondisi-kondisi yang melahirkannya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Manana (perenungan) adalah bagian penting dari upaya-upaya spiritual.
-BABA

Saturday, March 29, 2008

Thoughts for the Day - 31st March 2008 (Monday)


Seva (selfless service) brings out all that is great in man. It broadens the heart and widens one's vision. It fills one with joy. It promotes unity. It proclaims the truth of the spirit. It drives out all the evil qualities in man. It must be regarded as a great spiritual discipline. All relationships of husband and wife, mother and child, employer and the employee are based on mutual service. The world is progressing because of such mutual service. If the principle of service did not operate, the world would come to a halt. It is only when man is filled with the spirit of service that his divine nature is recalled. He then experiences the peace the passeth all understanding.

Seva (pelayanan tanpa pamrih) akan membangunkan kualitas-kualitas positif di dalam diri manusia. Ia akan semakin memperluas pandangan serta melapangkan hati. Ia akan menghasilkan keceriaan serta mempromosikan unity (persatuan). Seva memproklamirkan spirit (jiwa) dalam identitas sejatinya dan mengusir kualitas-kualitas negatif di dalam diri manusia. Hendaknya seva diperlakukan sebagai disiplin spiritual yang luar biasa. Setiap bentuk hubungan antar manusia, baik antara suami dan isteri, antara ibu dan anak, antara majikan dan karyawan - semua hubungan itu didasari oleh mutual service (pelayanan saling mutualistik - saling memberi manfaat). Dunia ini mengalami kemajuan sebagai akibat adanya mutual service tersebut. Jikalau saja prinsip tentang pelayanan ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka dunia ini akan berhenti total. Sifat Ilahiah di dalam diri manusia hanya akan terealisasi jikalau semangat pelayanan di dalam dirinya dibangkitkan. Pada saat itu, maka manusia akan mengalami kedamaian yang melampaui segala bentuk pemahaman.
-BABA

Thoughts for the Day - 30th March 2008 (Sunday)


To be born as a human being is a great fortune. For, man alone can attain the status of the Divine by recognising the reality of his being. No beast or bird can reach that height of realisation. But, it is tragic that instead of valuing the chance and utilising it, man fritters his years away and dies without attaining the goal. He is disgracing himself and denying his high destiny. A minute's reflection will reveal to him how far he is from attaining the stage of self-realisation. But, what a pity, he does not dedicate his life to the Divine, instead he is caught up in the vain pursuit of comforts and cosy living.

Kesempatan untuk terlahir sebagai manusia merupakan suatu keberuntungan yang tiada taranya. Sebab, hanya manusia sajalah yang memiliki kemampuan untuk mencapai status Keilahian melalui upaya identifikasi realitas sejatinya. Kawanan hewan atau burung tidak memiliki kemampuan untuk mencapai realisasi tersebut. Akan tetapi, ironisnya, alih-alih menghargai dan memanfaatkan kesempatan emas yang telah dimilikinya, manusia justru menyia-nyiakan kehidupannya dan akhirnya menemui ajalnya tanpa sempat mencapai tujuan hidupnya. Manusia telah menurunkan derajatnya dan mengingkari hak miliknya yang eksklusif itu. Bila saja ia melakukan kontemplasi barang selama satu menit saja, maka ia akan menyadari betapa masih sangat jauhnya dirinya dari pencapaian keadaan self-realisation. Sungguh amat disayangkan sekali, manusia tidak mendedikasikan kehidupannya kepada Divine; ia malahan masih terperangkap dalam upaya sia-sia untuk mengejar kemewahan hidup.
-BABA

Thoughts for the Day - 29th March 2008 (Saturday)


One's body is derived from the flesh and blood of the mother. The amount of sacrifice involved in giving birth to a child and rearing that child with continuous care and love is beyond description. The food you eat, the clothes you wear, the life you lead are all the gifts of your parents. If you do not honour your parents who are verily the 'creators' in human form, how can you learn to honour the Creator in Divine Form? One's primary duty, therefore, is to please one's parents – only thus can one's debt to them be discharged. Nor is that all, the debt to one's parents can also be fully discharged by rendering service to society.

Badan jasmanimu berasal dari darah dan daging sang ibu. Pengorbanan yang diberikan oleh sang ibu sungguhlah amat besar ketika melahirkanmu dan membesarkanmu secara penuh perhatian dan kasih-sayang. Makanan yang engkau makan, pakaian yang engkau kenakan, dan kehidupan yang sedang engkau jalani ini - semuanya adalah pemberian orang-tuamu. Jikalau engkau tidak menghormati orang-tuamu yang tiada lain adalah 'pencipta' wujud manusia, maka bagaimanalah mungkin engkau bisa belajar untuk menghormati Sang Pencipta dalam wujud Ilahiah? Oleh sebab itu, tugas utama yang engkau emban adalah menyenangkan orang-tuamu - sebab hanya dengan demikianlah hutang-hutangmu kepada mereka bisa dilunasi. Bukan itu saja, bahkan hutang-hutangmu kepada orang-tuamu akan lunas tuntas melalui tindakanmu memberikan pelayanan kepada masyarakat.
-BABA

Thoughts for the Day - 28th March 2008 (Friday)


Seva (service) opens the eyes of man to the comprehensive unity of creation. The easiest and most fruitful expression of Dharma (righteousness) today consists in doing service as worship of the Divine around you. Dedicate all your skills, talents, wealth and scholarship to the living embodiments of Divinity around you. That is the Dharmashakthi (power of right activity) which can draw grace upon you.

Seva (aktivitas pelayanan) akan membuka mata manusia tentang betapa komprehensifnya aspek unity dari seluruh alam ciptaan. Salah-satu cara yang paling mudah dan bermanfaat dalam mengkespresikan Dharma (kebajikan) dewasa sekarang ini adalah terletak dalam wujud pelayanan sebagai salah-satu bentuk ibadah kepada Sang Ilahi yang ada di sekelilingmu. Dedikasikanlah semua ketrampilan, talenta, kesejahteraan serta kesarjanaanmu bagi pengejawantahan Divinity di sekelilingmu. Inilah yang dikenal sebagai Dharmashakthi (kekuatan dari aktivitas kebajikan) yang akan membawakan rahmat & berkah bagimu.
-BABA

Thoughts for the Day - 27th March 2008 (Thursday)


Spirit can only be awakened, realized through individual discipline and the grace of God. These two can be won through love, purity and service to others. Individual effort and divine grace are interdependent; without effort, there will be no conferment of grace; without grace, there can be no taste in the effort. To win that grace, you need only have faith and virtue. You need not praise Him in order to win His favour. Faith in God is the best reinforcement for spiritual victory. When you revel in the contemplation of the splendour of the Lord, nothing material can attract you; all else will seem inferior; the company of the godly alone will be relished.

Spirit (jiwa) hanya bisa mengalami pencerahan melalui serangkaian disiplin spiritual dan rahmat Ilahi. Kedua-duanya hanya bisa diperoleh melalui jalan cinta-kasih, puritas dan pelayanan kepada sesama. Usaha-usaha individual dan rahmat Ilahi saling bergantungan; sebab tanpa usaha, maka tidak mungkin terdapat rahmat Ilahi; sebaliknya tanpa rahmat, maka engkau tidak akan bisa merasakan manisnya usaha-usahamu. Untuk memperoleh rahmat ilahi, maka engkau perlu memiliki keyakinan dan perilaku luhur. Untuk mendapatkan anugerah-Nya, engkau tidak perlu memuji-muji-Nya. Keyakinan kepada Tuhan merupakan senjata yang paling ampuh untuk mencapai kemenangan spiritual. Ketika engkau berkontemplasi atas kemuliaan Tuhan, maka tidak ada hal-hal yang berbau materialisits yang bisa memancingmu; semuanya akan terlihat seolah-olah inferior; hanya pergaulan dengan keilahian saja yang akan benar-benar dihargai.
-BABA

Tuesday, March 25, 2008

Thoughts for the Day - 26th March 2008 (Wednesday)


Worry or grief there will always be, of one type or the other, in the past, present or the future; while waking, dreaming, or sleeping. But place faith in the Lord and do your tasks in dedication to Him and the dualities of joy and sorrow will vanish. Grief is caused, as is joy, by the attachment of the senses to the objects. Once you know that you are not the senses or the mind, but He who operates the senses and wields the mind, you cross the bounds of pleasure and pain.

Kerisauan maupun penderitaan dalam berbagai bentuk selalu eksis baik di masa lalu, sekarang maupun di masa yang akan datang; dan ia juga dijumpai baik dalam keadaan sadar, mimpi maupun tertidur. Di atas segalanya, yang penting engkau lakukan adalah memupuk keyakinan kepada Tuhan dan lakukanlah tugas-tugasmu sebagai bentuk dedikasi bagi-Nya; sehingga dengan demikian dualisme antara sedih dan senang akan sirna dengan sendirinya. Rasa senang maupun sedih adalah diakibatkan oleh hal yang sama, yaitu adanya kemelekatan indriawi terhadap obyek-obyek materi. Apabila engkau sampai pada kesadaran bahwa dirimu bukanlah panca indera maupun mind (pikiran), melainkan adalah sang pengendalinya; maka pada saat itu, engkau sudah tidak akan terpengaruh lagi oleh rasa senang maupun sedih.
-BABA