Wednesday, November 14, 2007

Thoughts for the Day - 15th November 2007 (Thursday)



Date:Thursday, November 15, 2007

THOUGHT FOR THE DAY

It is only God, the embodiment of love, who is always with you and in you. Bereft of love, man cannot exist. Love is your life. Love is the light that dispels the darkness of ignorance. One who does not cultivate love will be born again and again. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Whoever is born will die one day and whoever dies will be born again. Birth and death are the Prabhava (effect) of the objective world. As he is deluded by the Prabhava, man is subjecting himself to Pramada (danger).

Hanya Tuhan sajalah, sang perwujudan cinta-kasih, yang senantiasa bersamamu dan di dalam dirimu. Tanpa adanya cinta-kasih, eksistensi manusia tidak mungkin ada. Cinta-kasih adalah kehidupanmu. Cinta-kasih adalah cahaya yang mengusir kegelapan akibat kebodohan batin. Mereka yang tidak memupuk cinta-kasih akan mengalami kelahiran kembali secara berulang-kali. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Siapapun yang terlahir pasti akan mengalami kematian suatu hari kelak dan siapapun yang mati akan terlahir kembali. Kelahiran dan kematian adalah Prabhava (dampak) dari dunia objektif ini. Oleh karena dirinya terdelusi oleh Prabhava, maka manusia akan berhadapan dengan Pramada (mara-bahaya).

-BABA

Tuesday, November 13, 2007

Thoughts for the Day - 14th November 2007 (Wednesday)


The right attitude of the devotee should be one of total surrender. As one devotee declared, “I am offering to you the heart which you gave me. I have nothing I can call my very own. All are yours. I offer to you what is already yours.” As long as this spirit of total surrender is not developed, man will have to be born again and again. One should offer one's heart to the Divine and not be content with making offerings like flowers and fruits.

Sikap yang benar dari seorang bhakta adalah sikap pasrah diri secara menyeluruh. Seperti yang dikumandangkan oleh salah seorang bhakta, “Aku mempersembahkan hati yang telah Dikau berikan kepadaku. Aku tak mempunyai sesuatu yang dapat ku-sebut sebagai milik-ku. Segalanya adalah milik-Mu. Ku persembahkan kembali sesuatu yang sebenarnya adalah milik-Mu.” Selama semangat penyerahan diri total ini belum dikembangkan, maka manusia akan mengalami kelahiran kembali secara berulang-kali. Engkau harus menyerahkan hatimu kepada Divine dan tidak hanya sekedar berpuas diri dengan persembahan-persembahan seperti bunga-bungaan dan buah-buahan.

-BABA

Monday, November 12, 2007

Thoughts for the Day - 13th November 2007 (Tuesday)


Man is a part of the human community. Mankind is a part of nature. Nature is a limb of God. Man has not recognised these inter-relationships. Today men are forgetting their obligations. The Cosmos is an integral organism of interrelated parts. When each one performs his duty, the benefits are available to all. Man is entitled only to perform his duties and not to the fruits thereof. Man is a kind of stage-director of what goes on in Nature. But forgetting his responsibilities, man fights for rights. It is foolish to fight for rights without discharging one's duties. All the chaos and conflicts in the world are due to men forgetting their duties. If everyone discharge their duties diligently, the world will be peaceful and prosperous.

Manusia adalah bagian dari suatu komunitas kemanusiaan. Umat manusia adalah bagian dari alam, sedangkan alam adalah salah-satu organ Tuhan. Banyak orang yang sudah melupakan hubungan yang saling berketerkaitan ini. Sebagai akibatnya, manusia melupakan tugas dan tanggung-jawabnya. Alam semesta (kosmos) adalah ibarat suatu organisme yang terbentuk dari organ-organ tubuh yang saling terkait sama sama lainnya. Apabila masing-masing organ tersebut melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya secara benar, maka manfaat yang dihasilkan akan dinikmati bersama. Manusia adalah mahluk yang secara khusus berkewajiban untuk menunaikan tanggung-jawabnya dan bukannya menuntut hasil atau manfaatnya. Tetapi dalam kenyataannya, manusia malah melupakan kewajibannya tersebut; dan sebaliknya malahan hanya mau memperjuangkan haknya semata-mata. Sungguh bodoh sekali bila ada yang ngotot menuntut hak tanpa mau menunaikan tugas-tugasnya. Semua kekacauan dan konflik yang terjadi di dunia ini adalah buah akibat dari manusia yang telah melupakan tugas & tanggung-jawab masing-masing. Jikalau saja setiap orang melaksanakan kewajibannya dengan benar, maka dunia ini akan menjadi damai dan sejahtera.

-BABA

Saturday, November 10, 2007

Thoughts for the Day - 12th November 2007 (Monday)


Goodness, compassion, tolerance – through these virtues one can perceive the Divinity in oneself and in others. Softness of heart is often condemned as weakness, cowardice and want of intelligence; they say that the heart has to be hardened against pity and charity, but that way lies war, destruction and downfall. Love alone confers lasting happiness and peace. Sharing can alone reduce grief and multiply joy. People are born to share, to serve, to give and not to grab.

Kebajikan, sikap welas-asih, toleransi – semuanya ini adalah sifat-sifat luhur yang memungkinkan seseorang merealisasikan Divinity yang ada di dalam dirinya dan juga di dalam diri orang lain. Kelembutan hati sering kali disalah-tafsirkan sebagai kelemahan, sikap pengecut dan kurang intellek; orang-orang yang salah tafsir ini mengatakan bahwa hati nurani seharusnya dilatih untuk tidak gampang berbelas-kasihan dan juga tidak mudah berderma; padahal sebenarnya justru akibat hati yang sedemikian keraslah yang menimbulkan peperangan, kehancuran dan keambrukan. Hanya cinta-kasih saja yang bisa memberikan kebahagiaan dan kedamaian abadi. Sikap saling-berbagi akan mengurangi penderitaan dan menghasilkan keceriaan. Manusia dilahirkan untuk salilng berbagi, melayani, memberi dan bukannya merebut paksa.

-BABA

Thoughts for the Day - 11th November 2007 (Sunday)


All that you cannot see, hear or understand cannot be ruled out as non-existent. Even if you flash a powerful light in front of a blind man, he will only see darkness, because he does not have the eyes to see the light. Likewise, persons having no faith will not perceive God even if you show God to them. They do not have the eyes to see divinity and they proclaim that there is no divinity. A blind man can neither see his body nor describe his looks, but it does not follow that he has no body.

Apabila engkau tidak bisa melihat, mendengar atau memahami sesuatu, itu bukanlah berarti bahwa hal-hal tersebut tidak eksis sama sekali. Walaupun engkau menyalakan lampu senter yang sangat terang di hadapan seseorang yang buta, maka ia hanya akan melihat kegelapan saja, sebab yang bersangkutan memang tidak mempunyai mata untuk melihat cahaya tersebut. Nah, demikian pula, orang-orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan bisa menyadari eksistensi Tuhan walaupun engkau sanggup menghadirkan-Nya di hadapan mereka. Orang-orang itu tidak mempunyai mata (batin) untuk melihat divinity, dan alhasil mereka menyatakan bahwa divinity itu sama sekali tidak ada. Manusia yang buta tidak bisa melihat bentuk badannya sendiri dan juga tidak bisa mengambarkan rupa atau tampangnya sendiri, namun itu bukanlah berarti bahwa ia tidak mempunyai badan fisik.

-BABA

Friday, November 9, 2007

Thoughts for the Day - 10th November 2007 (Saturday - Global Akhanda Bhajan)


The spiritual vibrations produced by Bhajans confer great joy both on those who sing them and on those who listen to them. Bhajans remove all negative thoughts, soothe the nerves, purify the mind and fill the body and the heart with sweet love for the divine. As one sings Bhajans, the mind is saturated with God Consciousness and a great ecstasy wells up from within. No mental or intellectual effort is called for, as there is no need to understand anything while uttering the holy names of God and singing His glory. The singing and the atmosphere created by Bhajans takes one beyond the realms of the body, mind and intellect and helps to establish communion with the Higher Self (consciousness) within.

Getaran-getaran spiritual yang dihasilkan oleh bhajan memberikan keceriaan bagi mereka yang menyanyikan dan juga bagi yang mendengarkannya. Bhajan menyingkirkan pikiran-pikiran yang negatif, menenangkan urat-syaraf, memurnikan batin serta mengisi badan serta hati dengan manisnya cinta-kasih terhadap Divine. Ketika engkau menyanyikan bhajan, maka batinmu akan terselimuti oleh kesadaran Tuhan dan oleh sebab itu, di dalam dirimu akan muncul kebahagiaan. Mengucapkan nama suci Tuhan serta menyanyikan kemuliaan-Nya bisa dilakukan siapa saja tanpa harus bersusah-payah melakukan usaha-usaha secara mental maupun intellektual. Nyanyian dan atmosfir yang diciptakan oleh bhajan akan menghantarkanmu melampaui batasan-batasan badan jasmani, batin maupun intellect serta membantu untuk menjembatani persekutuan dengan Atma (kesadaran agung yang ada di dalam diri kita masing-masing).

-BABA

Thursday, November 8, 2007

Thoughts for the Day - 9th November 2007 (Friday - Deepavali)



From the very name of today's festival - Deepavali, it can be inferred that the Divine effulgence is manifest in it. Deepavali means "the array of lights." "Thamasomaa jyotirgamaya" (Lead me from darkness to light) is an Upanishadic prayer. This means that where there is darkness light is needed. What is this darkness? Sorrow is one form of darkness. Lack of peace is another. Disappointment is one form of darkness. Lack of enthusiasm is yet another. All these are different forms of darkness. To get rid of the darkness of sorrow, you have to light the lamp of happiness. To dispel the darkness of disease, you have to install the light of health. To get over the darkness of losses and failures, you have to usher in the light of prosperity.

Hari ini adalah Deepavali, dari namanya saja, kita bisa menduga bahwa festival ini mengandung makna yang berkaitan dengan kemuliaan Divine. Deepavali diartikan sebagai “berkas-berkas cahaya”. “Thamasomaa Jyotirgamaya” (tuntunlah aku dari kegelapan menuju cahaya terang), doa ini adalah salah-satu doa yang terdapat dalam kitab Upanishad. Artinya adalah dimana terdapat kegelapan, maka di situ dibutuhkan cahaya terang atau lentera. Apakah yang dimaksud dengan kegelapan? Pengertian kegelapan meliputi: kesedihan, tiadanya kedamaian, kekecewaan, kurangnya antusiasme dan lain-lain. Semuanya itu adalah beragam bentuk kegelapan. Nah, untuk mengatasi kegelapan oleh karena kesedihan, maka dibutuhkan lampu cahaya kebahagiaan. Untuk mengatasi penyakit, dibutuhkan lampu kesehatan dan untuk menyingkirkan kegelapan akibat kegagalan serta kemerosotan, maka kita harus mengundang masuk cahaya kesejahteraan.

-BABA