Thursday, December 6, 2007

Thoughts for the Day - 7th December 2007 (Friday)




When Bhaktas (devotees) pray to Bhagawan (God) sincerely making all their actions as offering to God, they will certainly receive appropriate grace from the Divine. There are nine types of devotion. Shravanam (listening to the glory of the Lord), Keerthanam (singing), Vishnusmaranam (remembering), Padasevanam (adoration), Vandanam (saluting), Archanam (worshipping), Dasyam (obedient service), Sneham (friendship) and Atmanivedanam (self-surrender). In whichever way you offer worship, God responds in the same way. When you surrender all your actions, you will surely receive His Grace.

Ketika para bhakta berdoa kepada Bhagawan (Tuhan) secara tulus sembari mempersembahkan setiap bentuk tindakan/perbuatan kepada-Nya, maka mereka pasti akan menerima rahmat yang setimpal dari Divine. Terdapat sembilan jenis bhakti atau devotion, yaitu: Shravanam (mendengarkan kemuliaan Tuhan), Keerthanam (bernyanyi), Vishnusmaranam (senantiasa ingat kepada-Nya), Padasevanam (memuja lotus Feet-Nya), Vandanam (penghormatan melalui pengkidungan nama-nama suci-Nya), Archanam (pemujaan terhadap aspek rupang-Nya), Dasyam (tindakan pelayanan), Sneham (persahabatan dengan-Nya) dan Atmanivedanam (penyerahan diri). Dengan cara bagaimanapun juga engkau beribadah, Tuhan akan memberikan response-Nya. Ketika engkau memasrahkan semua tindakanmu, maka engkau pasti akan menerima rahmat dari-Nya.

-BABA

Wednesday, December 5, 2007

Thoughts for the Day - 6th December 2007 (Thursday)




Bhakti (Devotion to God) is like a king who has two attendants called wisdom and detachment. Bhakti must be built upon the foundation of wisdom; it must blossom in to detachment from the world. Prema (Love) gives rise to Daya (compassion), Vairagya (detachment) and induces Dama (self-control) and finally leads us along the path of Dharma (righteousness).

Bhakti (devotion kepada Tuhan) adalah ibarat seorang raja yang mempunyai dua orang pengawal bernama: kebijaksanaan dan ketidak-melekatan. Bhakti haruslah dibangun di atas landasan kebijaksanaan; ia harus tumbuh mekar menjadi ketidak-melekatan atas hal-hal yang bersifat duniawi. Prema (cinta-kasih) menghasilkan Daya (welas-asih), Vairagya (ketidak-melekatan) dan selanjutnya membuahkan Dama (pengendalian diri); sehingga pada akhirnya akan menuntun kita di sepanjang jalan Dharma (kebajikan).

-BABA

Tuesday, December 4, 2007

Thoughts for the Day - 5th December 2007 (Wednesday)




Once the organs of the body like eyes, ears, limbs became jealous of the tongue, saying that they make all efforts for securing food, but the tongue enjoys this. They stopped working and never sent any food. Tongue is the one that tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by the internal organs into energy giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, the other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harm it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin.

Suatu ketika, organ-organ tubuh seperti mata, telinga, tangan dan kaki merasa cemburu terhadap lidah; mereka berargumentasi bahwa masing-masing dari mereka telah bersusah-payah untuk mencari makan tetapi yang menikmatinya justru hanya si lidah. Oleh karena kecemburuannya, organ-organ tubuh itupun mogok kerja dan tidak mau memberikan asupan makanan kepada lidah. Padahal sebenarnya, organ lidah hanya mencicipi makanan itu dan kemudian langsung meneruskan zat-zat bermanfaat untuk dikonversikan oleh organ-organ di dalam tubuh menjadi sumber energi di dalam darah. Sang lidah sama sekali tidak menyimpan makanan tersebut untuk dirinya sendiri. Tanpa fungsi vital yang diperankan oleh lidah, maka organ tubuh lainnya tidak akan bisa berfungsi sama sekali. Tindakan mogok kerja yang dilakukan oleh organ tubuh lainnya (sebagai akibat kecemburuan), justru akan bersifat merugikan bagi dirinya sendiri; sebab organ-organ tersebut tidak akan bisa berfungsi tanpa adanya asupan energi. Analogi ini menjelaskan bahwa kecemburuan berpotensi untuk mengakibatkan kehancuran bagi mereka yang memiliki sifat tersebut.

-BABA

Monday, December 3, 2007

Thoughts for the Day - 4th December 2007 (Tuesday)




Truth is one. It is beyond mind and speech. It transcends the limitations of time and space. Innumerable seekers have pursued different paths to recognise this Truth. There are notable differences among the seekers of Truth. These differences do not affect the nature of Reality. On the contrary, it is the existence of these differences that has spurred the continuous search for a unifying principle.
Kebenaran bersifat Tunggal. Ia berada di luar jangkauan pikiran dan kosa-kota, dan ia juga tidak terpengaruhi oleh ruang dan waktu. Sudah tak terhitung banyaknya para kaum aspiran yang menempuh berbagai macam cara untuk mengenali kebenaran hakiki ini. Antara satu aspiran dengan aspiran lainnya terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Namun di atas segalanya, perbedaan-perbedaan itu sama sekali tidak mempengaruhi realitas yang sebenarnya. Malahan, eksistensi dari keaneka-ragaman interpretasi itu justru semakin mendorong pencarian satu prinsip pemersatu (unifying principle).
-BABA

Saturday, December 1, 2007

Thoughts for the Day - 3rd December 2007 (Monday)



Man is burdened with the delusion that the temporary is eternal. Long identification has trained him so; so he has to be re-educated into the right vision. The absolute reality that persists unchanged is this ' I '. All else is unreal, appearing as real. The ' I ' in you is Paramatma (God) Himself. The waves play with the wind for a moment over the deep waters of the sea. It gives you the impression that it is separate from the ocean below, but it is just an appearance - a creation of the two ideas of Name and Form. Get rid of the two ideas and the wave disappears into the sea; its reality flashes upon you and you realise that God is present in man as Love.

Manusia memiliki pandangan keliru yang menganggap bahwa sesuatu yang temporer sebagai bersifat abadi. Identifikasi yang salah tersebut sudah berlangsung sejak lama; oleh sebab itu manusia harus dididik kembali dengan pandangan yang benar. Terdapat satu realitas absolut yang tidak mengalami perubahan, yaitu yang dikenal sebagai ‘I’, yaitu Sang Paramatma (Tuhan) yang ada di dalam dirimu. Segala hal lainnya adalah bersifat semu, hanya saja ia menampakkan dirinya seolah-olah real (asli). Riak gelombang samudera berinteraksi dengan hembusan angin. Gelombang-gelombang itu memberikan impresi seolah-olah ia terpisah dari samudera yang ada di bawahnya, namun ketahuilah bahwa hal tersebut hanya penampakkan luarnya saja, ibarat nama dan rupa. Apabila engkau dapat terlepas dari delusi itu (yang seolah-olah menganggap gelombang dan samudera saling terpisah), maka kebenaran akan terbersit di dalam dirimu dan engkau akan menyadari bahwa Tuhan eksis di dalam diri setiap insan sebagai cinta-kasih.

-BABA

Thoughts for the Day - 3rd December 2007 (Monday)



Man is burdened with the delusion that the temporary is eternal. Long identification has trained him so; so he has to be re-educated into the right vision. The absolute reality that persists unchanged is this ' I '. All else is unreal, appearing as real. The ' I ' in you is Paramatma (God) Himself. The waves play with the wind for a moment over the deep waters of the sea. It gives you the impression that it is separate from the ocean below, but it is just an appearance - a creation of the two ideas of Name and Form. Get rid of the two ideas and the wave disappears into the sea; its reality flashes upon you and you realise that God is present in man as Love.

Manusia memiliki pandangan keliru yang menganggap bahwa sesuatu yang temporer sebagai bersifat abadi. Identifikasi yang salah tersebut sudah berlangsung sejak lama; oleh sebab itu manusia harus dididik kembali dengan pandangan yang benar. Terdapat satu realitas absolut yang tidak mengalami perubahan, yaitu yang dikenal sebagai ‘I’, yaitu Sang Paramatma (Tuhan) yang ada di dalam dirimu. Segala hal lainnya adalah bersifat semu, hanya saja ia menampakkan dirinya seolah-olah real (asli). Riak gelombang samudera berinteraksi dengan hembusan angin. Gelombang-gelombang itu memberikan impresi seolah-olah ia terpisah dari samudera yang ada di bawahnya, namun ketahuilah bahwa hal tersebut hanya penampakkan luarnya saja, ibarat nama dan rupa. Apabila engkau dapat terlepas dari delusi itu (yang seolah-olah menganggap gelombang dan samudera saling terpisah), maka kebenaran akan terbersit di dalam dirimu dan engkau akan menyadari bahwa Tuhan eksis di dalam diri setiap insan sebagai cinta-kasih.

-BABA

Thoughts for the Day - 2nd December 2007 (Sunday)



When a severe pain torments you, the doctor gives you a morphine injection and then you do not suffer any more. In the same way, the grace of God acts to take away the element of suffering from the Karma (consequences of past actions) which you have to undergo. It is incorrect to say that one's fate is entirely determined. Nothing can stand in the way of the grace of the Almighty.

Ketika rasa sakit yang amat sangat sedang menggerogotimu, maka sang dokter akan memberikan injeksi morfin supaya engkau tidak merasakan sakit itu. Dengan cara yang sama, berkat rahmat Tuhan, maka penderitaan yang ditimbulkan oleh Karma (konsekuensi perbuatan di masa lampau) akan dapat diringankan. Oleh sebab itu, adalah tidak tepat bila ada yang mengatakan bahwa nasib adalah sesuatu yang sudah tidak bisa diganggu-gugat lagi. Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa merintangi rahmat Ilahi dari Tuhan.

-BABA