Wednesday, August 13, 2008

Thoughts for the Day - 14th August 2008 (Thursday)


The blazing fire of Jnana (wisdom) which convinces you that all this is Brahman (God), will consume in to ashes all traces of your egoism and worldly attachment. You must become intoxicated with the nectar of union with Brahman. That is the ultimate goal of Dharma (righteousness) and Karma (action).

Bara api Jnana (kebijaksanaan) - yang meyakinkanmu bahwa semuanya adalah Brahman (Tuhan) - akan membakar habis semua jejak-jejak egoisme-mu serta kemelekatanmu terhadap dunia ini. Engkau akan terbius oleh nectar persekutuan dengan Brahman. Inilah tujuan akhir dari Dharma (kebajikan) dan Karma (tindakan).
-BABA

Tuesday, August 12, 2008

Thoughts for the Day - 13th August 2008 (Wednesday)


A devotee, filled with the love of the Lord, welcomes what may appear as punishing as something intended for his good. Even when the Lord appears to be angry, His compassion is evident. Even in punishment God's kindness will be seen. Hence no one should cherish grievance that he or she has been singled out for punishment. Even punishment is a means of leading one to God. The display of anger is for safeguarding the devotee. The true devotee is one who recognises this truth and welcomes whatever happens to him as intended for his good.

Seorang bhakta - yang mencintai Tuhan - akan siap untuk menerima segala bentuk 'cobaan' dalam kehidupan ini dengan pemikiran bahwa kejadian tersebut adalah demi untuk kebaikannya sendiri. Walaupun Tuhan mungkin tampak seolah-olah sedang "marah", namun welas-asih merupakan unsur landasannya. Oleh sebab itu, janganlah engkau justru merasa senang apabila engkau terbebaskan dari cobaan. Sebab cobaan tersebut juga merupakan jalan yang akan menuntunmu kepada-Nya. "Kemarahan"-Nya semata-mata bertujuan untuk melindungimu. Bhakta sejati menyadari kebenaran ini dan mereka siap untuk menerima apapun juga yang akan terjadi dalam kehidupannya demi untuk kebaikannya sendiri.

-BABA

Monday, August 11, 2008

Thoughts for the Day - 12th August 2008 (Tuesday)


Whatever the crisis, however deep the misery, do not allow your grip over the mind to get loose. Tighten it further, fixing your eyes on the higher values. Do not allow the mind to stray away from the tabernacle of the heart. Make it bow before the Atma within.

Apapun juga jenis krisis yang bakal engkau hadapi, tak peduli seberapa parahnya penderitaan itu, janganlah sekali-kali engkau membiarkan dirimu lengah dalam mengendalikan mind/batinmu. Sebaliknya engkau justru perlu semakin mengencangkan kendali dan fokuskan perhatianmu terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi. Janganlah membiarkan mind meloloskan dirinya dari altar hatimu. Didiklah ia agar tunduk kepada Atma yang ada di dalam dirimu.
-BABA

Sunday, August 10, 2008

Thoughts for the Day - 11th August 2008 (Monday)

Impure gold is melted in the crucible and it emerges shining and bright. The mind rendered impure by Rajas (passion) and Tamas (sloth), by anger and conceit, by the impressions of a thousand attachments and desires, can be made bright and resplendent if it is put in to the crucible of Vicahara (enquiry) and heated on the coals of Viveka (discrimination). The brightness is due to the light of Realization, the knowledge that you are the Atma.


Emas yang kemilau akan dihasilkan setelah bongkahan (emas) yang masih mentah (belum murni) dilumerkan di dalam crucible. Mind (batin) mengalami penodaan oleh Rajas (passion/nafsu) dan Tamas (kemalasan), kemarahan dan kecongkakan, kemelekatan dan keinginan. Namun walaupun begitu, engkau memiliki kemampuan untuk memurnikan batinmu apabila engkau meletakkannya di dalam crucible Vichara (perenungan diri) yang dihangatkan oleh kobaran bara api Viveka (kemampuan diskriminatif). Praktek pemurnian ini akan menghasilkan pencerahan batin bahwa dirimu sebenarnya adalah Atma.

-BABA

Saturday, August 9, 2008

Thoughts for the Day - 10th August 2008 (Sunday)

When you repeat the Name without feeling, it seldom reaches the mark. The Name of the Lord must be recited with awe and wonder, humility and reverence. The bow has to be drawn full before the arrow is released; then it will pierce the target. Feeling is the force that draws the strings taut and makes the Name reach the deity, the bearer of the Name.


Ketika engkau mengulang/mengucapkan nama (Tuhan) tanpa disertai oleh perasaan, maka doa-doamu itu jarang akan mencapai target/sasarannya. Nama-nama Tuhan hendaknya diucapkan dengan penuh khidmat, kerendahan hati dan hormat. Sebuah busur haruslah ditarik sekencang-kencangnya sebelum anak-panahnya dilepaskan; maka dengan demikian panah tersebut barulah bisa mengenai sasarannya. Perasaan adalah daya kekuatan yang menarik busur tersebut, agar nama-nama yang diucapkanmu dapat terdengar oleh sang dewata, si pemilik Nama.

-BABA

Friday, August 8, 2008

Thoughts for the Day - 9th August 2008 (Saturday)


Many feel that it is human to err and that Bhagawan should forgive their lapses. In fact, if they were truly human, they should not commit mistakes at all. Even if sometimes a mistake is committed, willingly or unwillingly, it should not be repeated. It is a grievous error to think that it is natural for a human being to err. To follow the directives of the senses is the mark of an animal. To be guided by the Atma is the sign of a human being. None should attempt to justify his or her weaknesses and lapses as natural to a human being. They should be regarded as signs of mental debility. When you have truly acquired sense-control, you will experience the power of the Divine in you.

Banyak orang yang beranggapan bahwa sudah lumrah apabila manusia berbuat kesalahan dan bahwa untuk itu, Bhagawan haruslah memaklumi dan memaafkan kesalahan tersebut. Padahal sebenarnya, jikalau engkau benar-benar seorang human (manusia), maka seharusnyalah engkau tidak berbuat salah sama sekali. Walaupun terkadang kala kesalahan itu terjadi juga, baik disengaja maupun tidak, maka hendaknya kesalahan serupa tidak terulang kembali. Sungguh salah untuk beranggapan bahwa kesalahan adalah hal yang lumrah. Apabila engkau mengikuti keinginan panca indera, maka itu adalah pertanda bahwa engkau mengikuti instinct kebinatanganmu. Sebaliknya, apabila engkau tunduk dan bersedia dituntun oleh Atma, maka barulah itu sebagai hal yang alami bagi seorang manusia. Oleh sebab itu, janganlah membuat pembenaran atas kelemahan dan kekuranganmu dengan beralasan bahwa hal tersebut bersifat manusiawi. Justru itu merupakan pertanda kelemahan mental. Apabila engkau berhasil menguasai pengendalian indera, maka engkau akan merasakan kekuatan Ilahiah di dalam dirimu.
-BABA

Thursday, August 7, 2008

Thoughts for the Day - 8th August 2008 (Friday)


Man seeks joy in far places and peace in quiet spots; but, the spring of joy is in his heart, the heaven of peace is in him. Even when he walks on the moon, man has to take with him his fears, his anxieties, his prejudices and his pet aversions. Have faith in God, and in the correctness of moral living. Then, you can have peace and joy, whatever may be the fare that fortune offers you.

Manusia mencari kebahagiaan di tempat yang nun jauh dan kedamaian di tempat yang sunyi-sepi; padahal sebenarnya mata-air kebahagiaan ada di dalam hatinya sendiri dan demikian pula halnya dengan surga kedamaian. Walaupun manusia sanggup menjejakkan kaki dan berjalan di permukaan bulan, namun ia tetap akan dirundung oleh ketakutan, kekhawatiran serta kebimbangan lainnya. Milikilah keyakinan terhadap Tuhan serta berpegang-teguh pada nilai-nilai kemoralan. Dengan demikian - di tengah pasang-surut kehidupan - kedamaian dan kebahagiaan tidak akan jauh darimu.
-BABA