Monday, September 5, 2011

Thought for the Day - 5th September 2011 (Monday)

Teachers! You must inspire your students by your example. You should combine practice with precept, like the physical instructor who demonstrates the exercises the students should perform. Impart to your students the teachings of great and noble souls. Education should be for elevation. It should not be to obtain degrees to earn a living, but should be a preparation for a good life. You should teach students: discipline, observance of humility and respect, and instill in them the spirit of service to society and the sense of fellowship. Make your children imbibe confidence and courage. Unify them through love. Let there be no room for anger, jealousy or hatred within you. Teach the children the three P’s: Purity, Patience, and Perseverance. Armed with these three qualities, your students can protect the nation better than any army or atom bombs. When Truth and Righteousness are protected, the nation will be secure.

Para Guru! Engkau harus menginspirasi murid-muridmu dengan contoh/ teladan. Engkau seharusnya menggabungkan antara praktek dengan teori, seperti para instruktur olahraga yang menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan oleh para siswanya. Tanamkanlah pada para siswa pelajaran tentang orang-orang mulia dan yang berjiwa besar. Pendidikan seharusnya untuk peningkatan diri. Pendidikan semata-mata bukanlah untuk mendapatkan gelar untuk mencari nafkah, tetapi seharusnya persiapan untuk kehidupan yang lebih baik. Engkau seharusnya mengajarkan para siswa ajaran-ajaran berikut: disiplin, kerendahan hati dan respek (menghormati), dan menanamkan dalam diri mereka semangat pelayanan kepada masyarakat dan rasa persahabatan. Buatlah para siswamu menyerap keyakinan dan keberanian. Satukanlah mereka dengan cinta-kasih. Janganlah ada ruang untuk kemarahan, iri hati atau kebencian dalam dirimu. Ajarkanlah anak-anak tiga P berikut: Purity (Kemurnian), Patience (Kesabaran), dan Perseverance (Ketekunan). Dengan berbekal tiga kualitas tersebut, para siswamu dapat melindungi bangsa lebih baik dari tentara atau bom atom. Ketika Kebenaran dan Kebajikan dilindungi, bangsa akan aman.

-BABA

Sunday, September 4, 2011

Thought for the Day - 4th September 2011 (Sunday)

The fulfilment of life consists in the realization of the Atma-sakshathkara (Divine Self). To get this realization, one should be entirely free from the Vasanas (impulses). Moksha (Liberation) is, in the true sense of the term, freedom from the bondage of these impulses. These tendencies are of two types: beneficent and maleficent. The beneficent tendencies are saturated with holiness; the maleficent ones feed the mind and make it more and more uncontrollable and unsteady; they spread and strengthen the desire for objective pleasure. If the Shubha Vasanas (beneficent impulses) are encouraged and cultivated, they will not go on multiplying and binding the mind indefinitely; they become like fried seeds, which will not sprout. If you stick to the beneficent impulses, you can easily acquire knowledge of the Divine. Illustrations of beneficent impulses are a result of activities such as association with Mahatmas (great souls), reverence for the great, conversation with them, following their advice and practicing charity, fortitude, love, patience, truth, courage, continence, non-violence, etc.

Pemenuhan hidup kita terletak pada kesadaran Atma-sakshathkara (Tuhan). Untuk mendapatkan kesadaran ini, seseorang sepenuhnya harus bebas dari Vasanas (dorongan/ keinginan). Moksha (kebebasan) dalam arti sebenarnya berarti bebas dari belenggu dorongan/ keinginan. Kecenderungan ini terdiri dari dua jenis: Yang bermanfaat dan yang merusak. Kecenderungan yang bermanfaat dipenuhi dengan kesucian; yang merusak, mempengaruhi pikiran dan membuatnya memiliki semakin banyak keinginan yang tidak terkendali dan membuat pikiran menjadi goyah, mereka menyebar dan memperkuat keinginan untuk kesenangan objektif. Jika Vasanas Shubha (dorongan yang bermanfaat) didorong dan dikembangkan, pikiran tidak akan pergi kemana-mana dan mengikat pikiran tanpa batas waktu, mereka menjadi seperti biji yang digoreng, yang tidak akan pernah bisa tumbuh. Jika engkau tetap berada pada dorongan yang bermanfaat ini, engkau dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan dari Tuhan. Ilustrasi dari dorongan yang bermanfaat adalah hasil dari kegiatan seperti hubungan dengan Mahatmas (jiwa besar), menghormati mereka, berkomunikasi dengan mereka, mengikuti nasihat mereka dan mempraktekkan beramal, ketabahan, cinta-kasih, kesabaran, kebenaran, keberanian, mengekang indera, tanpa-kekerasan , dll

-BABA

Saturday, September 3, 2011

Thought for the Day - 3rd September 2011

The word “Veda” originated from the root “Vid,” meaning “to know,” This originated from the phrase, “Vidam thu anena ithi Vedah,” meaning, “That which reveals and makes clear all knowledge is Veda.” The sacred Veda instructs everyone, all that is required for one’s spiritual advancement. It also instructs one in the means and methods to overcome all sorrows and grief, and attain peace. Since the spiritual quest was sincerely pursued along with material objectives, the sages of the past had the good fortune of receiving the Vedic message. Those ancient masters were so selfless and full of compassion and love that they shared what they had heard and enjoyed with all who approached them. Vedas are like the force of gravitation, present everywhere, at all times. Vedic Message can be received by anyone, as a result of their Sadhana (spiritual practices) as well as their capacity to concentrate and to experience the bliss resulting from practising it.

Kata "Veda" berasal dari akar kata "Vid," yang berarti "pengetahuan," berasal dari frasa, "Vidam thu anena ithi Vedah," yang berarti, "Veda adalah yang mengungkapkan dan menjelaskan semua pengetahuan." Kitab suci Veda memberikan instruksi kepada semua orang, semua yang diperlukan untuk kemajuan spiritual seseorang. Veda juga menginstruksikan bagaimana cara dan metode untuk mengatasi semua penderitaan dan kesedihan, dan mencapai kedamaian. Orang bijak di masa lalu sangat beruntung menerima pesan Veda. Para Master (Guru) jaman dahulu begitu tanpa pamrih dan penuh belas kasih dan penuh cinta-kasih mereka berbagi apa yang telah mereka dengar tersebut. Veda seperti gaya gravitasi, ada di mana-mana, setiap saat. Pesan Veda dapat diterima oleh siapa saja, sebagai hasil dari Sadhana (praktek spiritual) mereka serta sesuai dengan kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan mengalami kebahagiaan yang dihasilkan dari praktek tersebut.

-BABA

Friday, September 2, 2011

Thought for the Day - 2nd September 2011

Uttering the truth is easy. But indulging in falsehood is a tortuous process. One has to take a lot of trouble to cover up one lie with more lies. That is why it has been said: "Sathyam brooyath; Priyam brooyath; na brooyath Sathyam Apriyam" (Speak the truth, speak what is pleasing. Do not utter truth that is unpleasant). God is the embodiment of truth. Truth is the foundation of the universe. This truth transcends the mind and speech and is beyond the categories of time and space. You must live up to this truth. You must realise that the Divine is present in everything. Only when you can recognise the omnipresence of the Divine will you be able to experience the Divine.

Mengucapkan kebenaran adalah hal yang mudah, sementara berbohong akan menimbulkan banyak masalah. Seseorang telah mengambil banyak kesulitan untuk menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Itulah sebabnya dikatakan: "Satyam brooyath; Priyam brooyath; na brooyath Satyam Apriyam" (Berbicaralah yang benar, berbicaralah sesuatu yang menyenangkan. Jangan mengucapkan kebenaran yang tidak menyenangkan.). Tuhan adalah perwujudan dari kebenaran. Kebenaran adalah dasar dari alam semesta. Kebenaran ini melampaui pikiran dan perkataan dan berada jauh di luar ruang dan waktu. Engkau harus hidup dengan kebenaran ini. Engkau harus menyadari bahwa Tuhan hadir dalam segala hal. Hanya ketika engkau mengenali sifat Tuhan yang omnipresence (ada dimana-mana) engkau akan dapat mengalami Divine (Tuhan).

-BABA

Thursday, September 1, 2011

Thought for the Day - 1st September 2011 (Thursday)

Vinayaka is the embodiment of intelligence. You will be confronted with many Vighnas (obstacles) in the journey of life. Prayers offered to Ganapathi - who is better known as Vighneswara - will help you by removing such obstacles and minimising impediments. Love is the most important element in life. Through love alone you can unify the world. It is the absence of love that is the cause of hatred. It is this hatred that is undermining human nature. Despite the fact that it is difficult to nourish hatred, while it is easier to foster love, people are engaged in doing what is difficult. From today, give up Swaartha (selfishness); turn your mind towards the Parartha (Supreme), lead a life of Yadaartha (Truth) and sanctify your lives. Place your faith in God and do your duty to the best of your ability. Saturate yourself with love and share it with all. If you earn the love of God even to the slightest extent, you will experience infinite joy.

Vinaayaka adalah perwujudan kecerdasan. Engkau akan dihadapkan dengan banyak Vighnas (hambatan) dalam perjalanan kehidupan. Doa yang dipersembahkan kepada Ganapathi - yang lebih dikenal sebagai Vighneswara - akan membantumu menghilangkan hambatan tersebut dan meminimalkan masalahmu. Cinta-kasih adalah unsur paling penting dalam kehidupan. Hanya melalui cinta-kasih engkau akan dapat menyatukan dunia. Kebencian timbul karena tidak adanya cinta-kasih dan ini merusak sifat alami manusia. Meskipun kenyataannya lebih mudah untuk menumbuhkan cinta-kasih, orang-orang cenderung untuk mengembangkan kebencian yang dapat menimbulkan masalah, karena mereka melupakan jalan cinta-kasih yang sederhana. Mulai hari ini, buanglah jauh-jauh Swaartha (keegoisan); alihkan pikiranmu menuju Parartha (Keagungan), jalanilah kehidupan Yadaartha (Kebenaran) dan sucikanlah hidupmu. Tempatkan keyakinanmu pada Tuhan dan lakukan tugasmu dengan kemampuan terbaik yang engkau miliki. Penuhilah dirimu dengan cinta-kasih dan bagilah cinta-kasih tersebut dengan semua. Jika engkau mendapatkan cinta-kasih Tuhan walaupun sedikit, engkau akan mengalami sukacita yang tak terbatas.

-BABA